The End Of Everything


Fran Lavigne, Elis Laurent, Marko, Harry dan Jerial mereka semua berangkat menuju Kota Annecy untuk melihat keadaan Aeril.

Perasaan mereka semua berkecamuk, terutama sang ibu Elis Laurent. Fran Lavigne berusaha tetap tenang, agar seluruh keluarganya tidak panik.

Marko juga berusaha menenangkan kedua adiknya, Jerial dan Harry. Jerial masih bisa berusaha untuk berpikiran baik mengenai kondisi Aeril.

Sedangkan Harry, dia hanya bisa mengeluarkan air mata tanpa ada suara. Hatinya sungguh sakit saat mengetahui bahwa Aeril mengalami kecelakaan.

Pesawat Pribadi milik Fran Lavigne saat ini telah mendarat di Geneva, mereka harus melanjutkan perjalanan menggunakan mobil untuk sampai ke Annecy.

Setelah beberapa menit kemudian mereka semua tiba di salah satu Rumah Sakit yang berada di Annecy.

Annecy sering disebut sebagai Mutiara dari Pegunungan Alpen Perancis, Banyak yang mengaggumi keindahan Annecy.

Itulah sebabnya Aeril memilih Kota Annecy sebagai tempat untuk dia menenangkan dirinya dari rasa duka pilu yang menggerogoti jiwanya.


Fran Lavigne, Elis Laurent, Marko, Harry dan Jerial saat ini berjalan masuk ke dalam Rumah Sakit. Kemunculan mereka di sambut oleh Gabriel.

“Bienvenue Monsieur..” ucap Gabriel sambil memberikan hormat.

“Gabriel, coba kau jelaskan pada kami, bagaimana Aeril bisa kecelakaan...” balas Fran.

“Tuan, saat tiba disini. Tuan Aeril memintaku untuk membiarkannya menggunakan mobil, dia ingin menyetir sendiri. Dia memintaku dan seluruh anak buah mengikutinya dari belakang...” ucap Gabriel.

“Puis ?” tanya Fran.

“Saat kami mengikutinya, mobil itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada hal yang mencurigakan dari mobil tersebut. sampai tiba-tiba, ada pengendara sepeda yang tidak menggunakan jalurnya. Dia menorobos menuju jalan utama, saat kemunculannya. Tuan Aeril kaget. Dan dia berusaha menghindar agar tidak menabrak orang tersebut. Tuan Aeril lebih memilih untuk menabrak tembok...” jawab Aeril.

Semua yang mendengar penjelasan kejadian dari Gabriel benar-benar kaget dan terpukul.

Terutama Elis Laurent dirinya jatuh tertunduk lemas saat mengetahui kejadian yang dialami oleh Anak semata wayangnya.

“Sayang....” ucap Fran yang kaget melihat kondisi istrinya.

“Tuan Fran, Maaf. Saya ingin memberitahu bahwa kondisi Tuan Aeril sampai saat ini belum sadar. Bahkan setelah melakukan operasi akibat benturan yang terjadi pada kepalanya....” sambung Gabriel.

Marko, Jerial berusaha kuat saat mengetahui kondisi terakhir Papi mereka.

Harry sendiri tak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun. Dia masih terlalu kaget mendengar berita ini.


Mereka semua berjalan menuju Ruangan tempat Aeril di rawat. Saat tiba, mereka semua tidak sanggup untuk masuk ke dalam ruangan. Mereka hanya mampu melihat Aeril dari balik kaca ruangan tersebut.

Aeril saat ini sedang berbaring di tempat tidur, beberapa alat medis terpasang di tubuh Aeril.

Fran Lavigne hanya bisa memeluk erat Elis Laurent, sungguh istrinya benar-benar tak kuat melihat kondisi sang anak.

Harry mendekat ke arah kaca sambil menyentuh kaca yang membatasi jarak diantara mereka semua.

“Papi bangun, Papi you promised not to leave us. Papi kita udah disini...” ucap Harry sambil meneteskan air mata.

“Har, Papi kita kuat dan hebat. Jeri yakin Papi bakalan bangun...” ucap Jerial yang berusaha menenangkan saudara kembarnya itu.

“Aeril, anaku. bangun sayang, kamu udah janji ke Mama bakalan jaga diri kamu sendiri...” ucap Elis yang saat ini dalam pelukan Fran.

“Papi ayo bertahan, Papi harus bisa sembuh. Papi, Daddy masih hidup. Papi harus bangun biar kita sama-sama cari Daddy...” ucap Marko di dalam hati.


Dokter yang menangani Aeril pun muncul untuk menjelaskan kondisi yang saat ini di alami Aeril.

“Bon après-midi Fran Lavigne...” ucap Dokter.

“Bon après-midi Docteur...” balas Fran.

“I would like to explain the condition of your son's health...” ucap Dokter.

“Yeah, sure...” balas Fran.

“We managed to perform an operation for your son, the accident he had caused his head hit and injuries. He made it through his critical period, it's just that he had (Stupor)...” ucap Dokter.

“Stupor..” balas Fran yang kaget.

“Stupor is a state like deep sleep, but there is a response to pain...” sambung Dokter.


Keluarga Aeril benar-benar terpukul saat mendengar Penjelasan dari Dokter mengenai kondisi Aeril.

Aeril telah berhasil melewati masa kritisnya, tetapi saat ini kondisinya belum bisa di katakan baik-baik saja.

Aeril mengalami Stupor, Stupor (sporo koma) merupakan suatu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri. Kondisi ini terjadi akibat mengalami cedera kepala akut.

Marko, Harry dan Jerial sangat sedih saat mengetahui kondisi yang di alami Aeril. Sungguh hati mereka benar-benar hancur saat ini.

Fran dan Elis bahkan hanya bisa pasrah pada keadaan, sungguh mereka juga bingung dan sedih saat ini. Hanya keajaibanlah yang bisa membantu Aeril untuk segera sadar.


Allen sudah tiba di Rumah sakit, dia datang dari Kanada saat mendapat kabar dari Fran bahwa menantu kesayangannya itu mengalami kecelakaan.

Allen berjalan mencari Ruangan yang Aeril gunakan untuk di rawat. Saat sedang berjalan menelusuri Rumah Sakit.

Allen tak sengaja melihat Seorang Pasien yang sedang berdiri menatap sebuah pohon yang berada di taman rumah sakit.

Allen penasaran dengan sosok yang berdiri itu, dia mencoba mendekati pasien tersebut.

Saat ingin mendekati pasien tersebut, tiba-tiba Allen di kejutkan dengan teriakan dari sang cucu tercinta yaitu Marko.

“Opa...” teriak Marko.

“Marko...” balas Allen.

Allen mulai berjalan mendekati Marko. Marko yang melihat kedatangan Allen lalu menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.

“Kak, bagaimana dengan kondisi Papimu ?” tanya Allen.

“Opa, Pap- Papi kondisinya sangat lemah...” jawab Marko.

“Kakak yang sabar ya, Opa tau Papi kalian Pasti kuat..” ucap Allen sambil memeluk Marko.


Marko mengajak Allen menuju ke ruang rawat inap Aeril, tetapi sebelum dia pergi.

Dia menoleh sebentar ke arah sosok yang ingin dia temui itu. Ternyata sosok tersebut sudah hilang.

Allen dan Marko kemudian berjalan masuk ke dalam, untuk menemui mereka semua yang sedang menunggu kedatangan Allen.

“Opa..” ucap Harry.

“Adek..” balas Allen.

“Opa, Papi Opa. lihat, Papi gak mau bangun. Opa tolong bangunin Papi Aku Opa....” ucap Harry sambil menangis.

“Sayang, cucuku. Jika Opa bisa membangunkan Papi kalian, Opa akan bangunkan. Tapi maaf Opa gak bisa...” sambung Allen.

Jerial mendekati Allen dan Harry yang sedang berpelukan, dia tau betul bahwa saat ini Harry benar-benar terpukul.

Kepergian dari Aeron membuat Harry mengalami trauma yang cukup mendalam.

Dan saat ini mereka harus menerima keadaan yang terjadi pada Papi mereka.

“Dimana, Grandpa dan Grandma kalian ?” tanya Allen.

“Grandpa saat ini membawa Grandma ke Mansion, karena kondisi Grandma yang masih syok, saat mengetahui kondisi Papi...” ucap Jerial.

“Kalian semua yang kuat ya, Opa yakin Papi kalian akan sembuh...” ucap Allen yang mencoba memberikan kekuatan.


Marko menyuruh Jerial membawa Harry untuk pulang ke Mansion mereka, agar mereka berdua bisa istirahat.

Terutama Harry, Marko takut kalau kondisi Harry memburuk jika berada di Rumah sakit.

Jerial berusaha tetap tenang, dengan membujuk Harry agar mau mengikutinya untuk pulang ke Mansion mereka yang berada di Kota Annecy.

Harry yang awalnya tidak ingin meninggalkan sang Papi, kini memilih untuk mengikuti perintah Marko dan Jerial.

Dia juga tidak sanggup sebenarnya jika berada di rumah sakit terlalu lama, Dia belum mampu menerima kenyataan ini semua.

Jerial dan Harry kini telah kembali ke Mansion pribadi milik keluarga mereka. Hanya tersisa Marko dan Allen yang berada di rumah sakit saat ini.

Marko masih setia menemani Aeril di rumah sakit, dia lebih memilih menunggu Aeril dengan harapan bahwa semoga Papinya cepat sadar.

Marko bahkan memberanikan dirinya, untuk masuk kedalam ruangan. Saat ini Marko sedang duduk dan berada di samping Aeril serta menggenggam tangan Aeril.

“Papi, ini Kakak...” ucap Marko

“Papi, Kakak masih belum percaya lihat keadaan Papi saat ini. Kakak masih gak nyangka kalau Papi terbaring lemah seperti ini...” ucap Marko yang berusaha tetap tegar.

Marko masih berusaha mengajak Aeril untuk berbicara, walau tak ada jawaban sama sekali. Tapi Marko tetap saja ingin berbicara.

“Papi, Kakak mohon. Papi harus kuat, Papi harus sembuh, Papi harus bangun. Papi kata Ace Daddy masih hidup, Ace bilang Daddy masih hidup. Dia yang nyelametin Daddy, tapi Daddy menghilang. Ace gak tau Daddy kemana, jadi Ayo Papi bangun. biar kita sama-sama cari keberadaan Daddy...” ucap Marko.

Marko memberitahukan kebenaran tentang Aeron yang masih hidup, pada Aeril. Marko berharap semoga setelah dia mengatakan keberadaan Aeron, Aeril jadi bisa bangun kembali.


Disisi lain, Allen masih penasaran dengan sosok yang dia lihat tadi di Taman. Seseorang yang berdiri tadi mengingatkan dirinya pada mendiang Putra tercintanya.

Di dalam lubuk hati Allen, dia masih menginginkan sebuah Keajaiban Aeron masih hidup. Karena sungguh banyak hal yang dia ingin sampaikan kepada Aeron.

Kondisi Rumah sakit saat ini sedang ramai, banyaknya Pasien membuat seluruh para Perawat maupun Dokter menjadi sibuk.

Allen kemudian berjalan-jalan sekitar Rumah sakit, sungguh dia ingin menenangkan pikirannya yang berkecamuk saat ini di kepalanya.

Banyak hal yang harus Allen cerna, mulai dari Kematian Aeron, Aeril yang kecelakaan dan orang-orang yang mencoba menghancurkan Keluarganya.

Saat berjalan, Allen melihat beberapa petugas kesehatan yang berlari masuk ke dalam satu Ruangan rawat inap lainnya.

Mereka membawa beberapa obat dan suntikan ke dalam Ruangan tersebut.

Allen yang penasaran, kemudian berjalan mendekati Ruangan tersebut. Saat mendekati Ruangan itu, Pintu kamar sedikit terbuka.

Allen melihat para Petugas Kesehatan yang sedang mencoba menenangkan seorang pasien yang berteriak menjerit menahan rasa sakit di kepalanya.

Allen kaget saat melihat sosok yang sedang berteriak itu.

“Aaa, sakit..” teriak sosok itu yang menahan rasa sakit di kepalanya.

“Aeron...” ucap Allen.

Allen lalu masuk ke dalam ruangan, dia mendorong pintu ruangan itu dan menerobos masuk ke dalam.

“Sir, please get out in here...” ucap salah satu petugas.

“He's my son, the one you treat is my son...” balas Allen.

“Sakit, kepalaku sakit. Aaa aaa., kepalaku mau pecah., Sakit..” teriak Aeron dengan keras.

“Aeron, Aeron., ini Papa nak. Apa yang sakit., kenapa denganmu..” ucap Allen yang berusahan menenangkan Anaknya itu.

“Tuan siapa, kenapa memanggilku dengan sebutan Aeron...” balas Aeron yang masih menahan rasa sakit di kepalanya.

“Aeron ini Papa sayang. Allen. Aku Papamu orang tua kandungmu, Ae ini Papa...” ucap Allen.

“Aa ah, Pap- Papa....” balas Aeron lalu kemudian pingsan.

“Aeron...” teriak Allen.


Para perawat mulai menangkat Aeron yang sedang pingsan itu. Dan kemudian menyuntikkan obat penenang untuk Aeron.

Allen masih bingung dengan situasi yang terjadi saat ini. Dia hanya bisa kebingungan melihat anaknya yang saat ini tak mengenali dirinya.

Setelah mendapatkan suntikan penenang, Aeron tertidur dengan tenang. Allen sendiri kemudian menyanyakan kepada para petugas mengenai kondisi anaknya.

“what happened to my son ?” tanya Allen.

“Your son, losing his memory...” balas perawat.

Petugas lalu menjelaskan kepada Allen, tentang penyakit yang di derita Aeron.

Aeron mengalami Amnesia Retrograde akibat benturan kecelakaan yang dia alami.

Amnesia Retrograde kondisi dimana, penderita tidak bisa mengingat informasi atau kejadian di masa lalu.

Gejala ini bisa di obati, hanya saja membutuhkan usaha untuk memulihkan kembali ingatan si penderita.

Setelah menjelaskan itu semua, petugas lalu meninggalkan Allen, kini hanya Allen dan Aeron yang berada di kamar inap tersebut.

Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam kamar milik Aeron, Allen pun sempat terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya.

“Kris..,” ucap Allen.

“Allen, long time no see...” balas Kris.

“Kenapa kau bisa di sini ?” tanya Allen

“Aku menjaga dia...” jawab Kris sambil menunjuk Aeron yang sedang tertidur.

“Maksudmu, kamu yang selama ini bersama dengan putraku...” balas Allen.

“Putra ?” tanya Kris.

“iya, dia anakku...” jawab Allen.

“Aku tidak menyangka, bahwa orang yang aku tolong ini adalah putramu, kawan...” ucap Kris.

“Kau menolongnya Kris...” ucap Allen.

“iya Aku menolongnya, dulu saat Aku mengunjungi Indonesia untuk keperluan bisnis. Aku masuk rumah sakit karena tubuhku yang sedang tidak sehat. Setelah Aku memeriksakan diri Aku ingin pulang, tetapi Aku melihatnya sedang terbaring di lorong rumah sakit. Aku tidak tau sebenarnya apa yang terjadi, Dia melihatku dan meminta tolong untuk menyelamatkannya....” ucap Kris

“Meminta tolong...” balas Allen.

“Dia meminta tolong untuk membawanya pergi, kata dia ada yang mencoba ingin membunuhnya. Dan setelah itu dia pingsan. Akhirnya aku memutuskan untuk membawanya pergi kesini. Karena Aku tidak tau harus menghubungi siapapun...” sambung Kris.

“Jadi kau yang membawanya kemari...” ucap Allen.

“Iya, Aku membawanya kesini. karena Aku tinggal disini. Allen, kondisi anakmu sedang tidak baik-baik saja, dia sudah lama di rawat disini. Dia hilang ingatan, Aku juga bingung apa yang terjadi sebelumnya pada anakmu...” ucap Kris.

“Dia kecelakaan karena perbuatan musuhnya, sebelum dia bertemu denganmu...” balas Allen.

“Jadi karena itu dia meminta bantuanku...” ucap Kris.


Kris kemudian menjelaskan kondisi Aeron pada Allen. Selama ini Aeron di rawat di rumah sakit Annecy.

Krislah yang menjadi sosok penyelamat Aeron selama ini, Kris merawat Aeron dengan setulus hati.

Dia bahkan sangat senang dengan kehadiran Aeron, karena Kris ini hidup sendirian.

Istrinya telah meninggal dan dia tidak memiliki anak, makanya saat melihat Aeron dia merasa seperti memiliki seorang putra.

Bahkan Aeron menyebut Kris dengan sebutan Papa, Kris merawat Aeron dengan sangat baik. meski Aeron sedang hilang ingatan.

“Kris Aku berterima kasih padamu, jika bukan karena bantuanmu. mungkin aku tidak akan pernah bisa melihat anakku lagi...” ucap Allen.

“Tenanglah Allen, ini mungkin sudah rencana Tuhan agar kita bisa bertemu kembali...” Balas Kris.


Kris lalu keluar dari kamar tersebut, dan membiarkan Aeron bersama dengan Allen.

Saat ini Allen sedang duduk di samping Aeron. Dia menunggu putranya itu agar bisa segera sadar.

Mata itu perlahan-lahan mulai terbuka, Aeron menggerakan matanya. Allen yang melihat hal itupun sadar.

“Ae.., Ae., Aeron anakku...” ucap Allen.

Aeron masih mengumpulkan kesadarannya.

“Aw, sssshhh...” gumam Aeron yang merasakan sedikit pusing.

“Nak, kau sudah sadar...” ucap Allen.

“Aku dimana ?” tanya Aeron.

“Kau di rumah sakit Ae...” jawab Allen.

“Papa, kepalaku sakit...” ucap Aeron sambil memegangi kepalanya.

“Papa, panggil dokter ya nak...” balas Allen.

“Gak perlu Papa, bentar lagi sakitnya hilang kok...” sambung Aeron.


Aeron saat ini sudah lumayan membaik, kepalanya yang sakit kini sudah sembuh. Aeron saat ini menantap Allen yang sedang duduk di sampingnya.

“Papa, Ae ada dimana ini ?” tanya Aeron.

“Saat ini kamu sedang di rawat di rumah sakit nak...” jawab Allen.

“Ae, kenapa papa...” ucap Aeron.

“Kamu mengalami amnesia...” balas Allen.

“Amnesia..” ucap Aeron yang kaget mendengar penyakit yang di deritanya.

“Iya nak...” balas Allen.

“Aku ingat, malam itu Aku kecelakaan. terus ada yang nolongin Aku Papa. Tapi wajahnya samar-samar gak jelas. Terus Aku di larikan ke rumah sakit. Setelah itu, saat Ae sudah sadar, ada seseorang yang muncul di ruangan Ae. Terus dia ingin membunuh Ae. Papa. Ae kabur, dan Ae di tolong sama seseorang...” tutur Aeron pada Allen.

“Kris, dia yang menolongmu dan membawa kamu kesini...” balas Allen.

“Papa Kris...” ucap Aeron.

“Iya, dia teman Papa. Dia gak tau kalau kamu anak papa. Papa bersyukur karena dia yang menolongmu...” balas Allen.

“Papa, dimana anak-anakku ?” tanya Aeron.

“Mereka baik-baik saja...” jawab Allen.

“Bagaimana dengan Aeril, Apa dia sudah di temukan...” sambung Aeron.

“Dia bersama dengan keluarganya saat ini...” ucap Allen.

“Boleh Aku menemuinya Papa, Aku ingin meminta maaf. Ae nyesel udah ngelakuin hal-hal yang bodoh selama ini ke dia...” balas Aeron.

“Tunggu kamu pulih dulu ya, baru kita ketemu sama dia...” ucap Allen.

“Gak Papa, Ae udah cukup lama menunggu. Ayo bawa Ae ketemu sama dia...” tutur Aeron.

“Saat ini Aeril gak bisa di temuin dulu...” sambung Allen.

“Kenapa, apa dia sudah menikah dengan Rey ?” ucap Aeron yang merasa khawatir saat ini.

“Tidak, dia tidak menikah dengan siapapun. saat ini dia masih menjadi pasanganmu...” lanjut Allen.

“Terus, kenapa Ae harus menunggu ?” tanya Aeron kembali.

“Saat ini dia sedang sakit, dia kecelakaan dan sedang di rawat. makanya kamu gak bisa nemuin dia dulu...” ucap Allen.


Aeron benar-benar terkejut saat mendengar kabar bahwa Aeril, orang yang dia sayangi mengalami kecelakaan.

“Papa bohongin Ae kan, Papa bercanda. Ae tau Ae jahat sama Aeril. tapi Papa gak perlu sampai ngomong begitu ke Ae. Ae cuma ingin minta maaf...” balas Aeron.

“Papa gak bercanda, saat ini dia sedang di rawat di rumah sakit ini. sama denganmu...” ucap Allen.

“Papa, Aeril dia orang yang baik. kenapa Tuhan tega menghukumnya. Kasihan dia Papa. Harusnya Ae saja yang di hukum. Harusnya Aeron saja yang celaka Papa, asal bukan dia...” balas Aeron dengan gelisah.

“Tenanglah nak, Kau harus tenang. Pikirkan juga kondisimu...” sambung Allen.

“Papa kenapa Tuhan gak ambil Ae aja, kenapa Tuhan nyakitin Aeril. Dia gak salah Papa. Kenapa Tuhan menghukumnya, kenapa Tuhan mengujinya. Selama ini dia gak pernah jahat sama orang lain...” ucap Aeron yang masih belum menerima dan mulai menunjukkan wajah sedihnya.

“Ae, Papa yakin Aeril bisa melewati masa kritisnya...” balas Allen yang mulai menenangkan Anaknya.


Allen berusaha menenangkan Aeron, dia ingin Aeron agar tenang. Aeron hanya bisa pasrah mendengar kondisi yang Aeril alami sambil berbaring di tempat tidur.

“Papa...” ucap Aeron

“iya...” balas Allen

“Papa Ae sayang sama dia, dia gak bakalan pergi ninggalin Ae kan...” sambung Aeron.

“Papa yakin, mantu Papa itu kuat. Ada satu hal yang harus kamu tau nak...” timpal Allen.

“Apa itu Papa...” ucap Aeron.

“Aeril itu sangat berjasa untuk keluarga kita...” balas Allen.

“Apa yang sudah dia lakukan sama kelurga kita Papa ?” tanya Aeron.

“Kalau bukan karena dia mungkin Perusahaan kita sudah lama bangkrut nak...” jawab Allen.

“Maksud Papa...” ucap Aeron.


Allen mulai menjelaskan ;

Allen dan mendiang istrinya yaitu Liora pernah memergoki Sheila jalan bersama Pria lain dan bercumbu di tempat umum.

Sheila merupakan kekasih dari Aeron Allen. Liora yang tidak menerima dengan perlakuan Sheila terhadap putranya lalu melabraknya langsung.

Liora menghinanya di depan umum dan bahkan mencaci maki habis Sheila. Liora tidak menyangka jika Sheila bisa bermain api di belakang Aeron.

Allen dan Liora menerima kehadiran Sheila dengan setulus hati, bahkan mereka tidak perduli dengan latar belakang yang dimiliki dari keluarga Sheila.

Mereka menerima Sheila karena Aeron. Putra semata wayang mereka, yang sangat amat mencintai Sheila. Bagi mereka asalkan Aeron bahagia mereka tentunya juga akan ikut bahagia.

Liora bahkan sempat bertanya apa yang menyebabkan Sheila memilih untuk berselingkuh.

Ternyata semua itu karena Aeron tidak pernah memiliki waktu lagi dengannya. Aeron hanya sibuk dengan pekerjaannya.

Perkelahian tersebut menjadi pemicu kambuhnya Penyakit Jantung yang di idap Liora, Allen panik dan membawa Liora ke Rumah sakit.

Sebelum Liora menghembuskan nafas terakhirnya Liora meminta kepada Allen agar jangan memberitahukan masalah ini pada Aeron.

Karena mereka takut anaknya akan terpuruk dan hancur. Setelah itu Liora pergi meninggalkan Allen dan Aeron untuk selama-lamanya.

Kepergian Liora menjadi pukulan terbesar dalam hidup Allen. Allen tidak sanggup menerima itu semua.

Allen tidak pernah membayangkan bahwa Istri tercintanya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Karena kepergian dari Liora membuat Allen sempat jatuh sakit, bahkan dia menjadi kacau dan tak bisa mengurus Perusahaan dengan baik.

Mereka harus kehilangan beberapa proyek dan investor dari Perusahaan. Hal inilah yang menjadi pemicu keluarga mereka hampir bangkrut.

Allen yang pusing kemudian menghubungi Smith, dia ingin menemui sahabatnya itu untuk meminta saran. Saat berkunjung ke rumah Smith, Allen bertemu dengan Aeril.

Allen sempat terpukau dengan Aeril, saat menatap Aeril. Allen benar-benar pangling di buatnya.

Kecantikan yang dimiliki Aeril benar-benar membuat siapapun akan terpesona dan jatuh cinta, meski Aeril adalah seorang laki-laki.

Setelah itu, Allen mulai menjelaskan masalahnya kepada Smith. Smith sebagai sahabat yang baik tentunya sangat sedih mendengar cerita itu semua.

Smith lalu mencoba memberikannya solusi pada Allen, solusinya yaitu dengan menjodohkan Aeril dan Aeron agar Perusahaan milik Allen bisa di bantu oleh Fran dan Elis.

Smith kemudian memanggil Aeril, dan langsung menjelaskan masalah Allen pada Aeril. Aeril awalnya menolak, tapi saat Allen berbicara dengannya. dia lalu menerima perjodohan itu.

Makanya Allen memberanikan dirinya untuk bertemu deng Fran Lavigne dan Elis Laurent, agar melamar Aeril untuk Aeron. Dan di bantu oleh Smith.

Lamaran Allen di terima berkat Aeril yang setuju, asal dengan syarat harus menutup identitas orang tua kandung dari Aeril. Dan juga membiarkan Aeril melakukan apapun yang dia mau.

Bantuan dari Fran dan Elis membuat Perusahaan Allen's Company menjadi kuat. Itu semua berkat dari Aeril yang meminta bantuan Orang tuanya.

Mengenai kebangkrutan yang mereka hampir alami, itu semua juga karena seseorang yang mencoba merusak Perusahaan mereka, dengan membuat Investor serta Proyek mereka gagal.

Allen baru mengetahui bahwa orang itu adalah Rey Muller. Dan dia juga baru ingat bahwa yang menjadi selingkuhan dari Sheila adalah Rey Muller. Bahkan, mereka berdua memiliki anak dari hasil perselingkuhan.

Semua itu baru terungkap, setelah kepindahan mereka ke Kanada dan menghilangnya Daren.

Daren adalah orang yang menutupi itu semua, Akibat rasa cinta yang dia miliki pada Rey sejak mereka berteman dari dulu.

Allen juga menjelaskan tentang perpisahan Aeron dan Aeril. Bahkan saat terakhir mereka berpisah, Aeril sempat hamil anak kalian.

Aeril keguguran saat mencari tau keberadaan Aeron dan anak-anak. Bahkan Aeril lebih sedih dan terpuruk saat memikirkan Aeron Allen.

Saat Aeril tau Aeron meninggal, Aeril seperti mayat hidup yang berjalan.

Aeril benar-benar rapuh. setiap hari Aeril hanya bisa bersedih, dan harus berpura-pura kuat di depan anak-anak mereka.

Ucap Allen yang selesai menjelaskan pada Aeron.


“Jadi karena itu, Sheila bunuh diri di saat hari jadian kami Papa ?” tanya Aeron.

“iya nak, Papa baru mengetahuinya setelah sekian lama. Ternyata Rey memiliki Dendam dengan kita, karena dia tidak menerima Sheila bunuh diri...” jawab Allen.

“Kenapa dia kembali lagi setelah sekian lama...” ucap Aeron.

“Papa gak tau, tapi yang jelas dia juga yang menyebabkan kamu kecelakaan dan terbakarnya Perusahaan...” balas Allen.

“Aeril...” ucap Aeron

“Kenapa dengan dia ?” tanya Allen.

“Dia menyukai Aeril, makanya dia melakukan itu semua padaku Papa. Dia sangat mencintai Aeril, semua cara dia lakukan agar bisa mendapatkan Aeril. Tapi Aeril gak pernah balas perasaannya, Aeril hanya menganggapnya sebagai seorang teman...” balas Aeron.

“Ae, kamu beruntung nak memiliki Aeril sebagai pasangan hidupmu. Dia orang yang benar-benar tulus mencintaimu...” ucap Allen.

“Papa, bawa Aku ketemu sama Aeril. Aku ingin melihatnya...” balas Aeron sambil meneteskan air matanya.


Mendengar permintaan dari Aeron, Allen lantas membantu sang anak menemui orang yang dia cintai.

Allen mendorong Aeron menggunakan kursi roda, menuju ke kamar yang Aeril tempati di rumah sakit.

Kini mereka sudah tiba di depan pintu kamar, Allen kemudian menarik pintu dan mendorong kursi roda tersebut untuk masuk kedalam ruangan.

Kaki Aeron mengalami masalah sedikit, akibat kecelakaan yang dia alami. itu sebabnya dia di bantu menggunakan kursi roda.

Allen mendorong Aeron untuk mendekat ke arah Aeril yang saat ini sedang berbaring di tempat tidur. Setelah itu Allen meninggalkan mereka berdua sendirian.

Aeron kini menggeggam tangan Aeril, dan melihat kondisi Aeril yang terbaring lemah saat ini dengan menggunakan berbagai macam alat di tubuhnya.


“Hai, Maaf ya lama membuatmu menunggu...” ucap Aeron.

Aeron saat ini berbicara sendirian tanpa ada balasan yang keluar dari mulut Aeril.

“Kenapa jadi begini, kenapa kamu yang harus menderita. kenapa bukan Aku, kenapa Tuhan gak matiin Aku terus gantinya buat kamu bahagia... ucap Aeron yang masih belum percaya melihat kondisi Aeril.

“Aeril bangun sayang, kamu harus bangun. ada banyak hal yang harus aku omongin sama kamu...” ucap Aeron sambil menggenggam tangan Aeril.


Aeron masih berusaha mengajak Aeril untuk berbicara ;

Aeril sayang, makasih kamu udah mau hadir dalam hidup aku, mau menerima lelaki brengsek ini dengan setulus hati menjadi pasangan hidup kamu.

Kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan kasih sama Aku.

Bangun dong sayang, jangan tinggalin Aku, Aku gak bisa hidup sendiri tanpa kamu. Maaf ya selama ini Aku udah ngelakuin hal-hal bodoh buat kamu.

Kamu inget gak, Tempat ini awal mula kita ketemu, waktu itu Aku lagi jalan-jalan disini.

Dan gak sengaja ketemu kamu, saat itu kamu mau di jahatin sama orang. Kamu bahkan hampir di perkosa sama mereka.

Aku gak nyesel waktu itu nolongin kamu. Aku bahkan udah suka sama kamu sejak awal.

Waktu pertama kali kita ketemu. Mata itu, Aku gak bisa lupa. Aku benar-benar jatuh dengan pesonamu.

Aku bingung, kenapa kamu menutupi semuanya dari Aku, kamu gak mau mencoba untuk terbuka sama Aku kamu gak mau ceritain apapun.

Aku gak peduli tentang penampilan kamu, Aku sayang sama kamu. Tapi kenapa, kenapa kamu gak mau jujur sama Aku. Kamu nutupin diri kamu sendiri dari Aku.

Selama ini aku berusaha menunggu kamu, buat jujur sama aku tentang diri kamu sendiri.

Tapi kamu gak mau ngasih tau ke Aku. Aku tau selama ini kamu berpura-pura berpenampilan jelek, tapi Aku bingung kenapa kamu melakukan itu semua.

Kamu inget dulu, waktu malam pertama kita. Malam itu aku mabuk, karena aku sedih mengingat kematian Sheila yang bunuh diri. karena alasan Aku gak pernah punya waktu sama dia.

Terus waktu Aku sampai di rumah kamu sambut kedatangan aku, setiap kali Aku lihat kamu rasa marah dan kecewaku langsung muncul. Aku tau kamu berpura-pura.

Malam itu Aku gak anggep kamu sebagai Sheila, aku tau sheila udah gak ada. Aeril, Aku tau malam itu Aku tidur sama Kamu. Karena kamu istri Aku.

Waktu tau kamu hamil Aku sangat senang, bahkan Aku ngasih tau ke Mama kamu mengandung anak kita.

Buah cinta kita, setiap hari Aku selalu memperhatikanmu, melihat perkembangan kamu dan anak kita. Maaf aku melakukannya secara diam-diam. Aku gak berani nunjukkin langsung ke kamu.

Aku selalu tanya ke Maid kamu pengen makan apa, kamu lagi apa, kamu ngidam apa, gimana kamu di rumah. Setiap hari aku selalu tanya sama mereka.

Pulang dari kantor Aku diam-diam masuk ke kamar kamu, untuk lihat kamu dan anak kita.

Kamu lucu kalau lagi tidur, Aku hanya bisa menyentuh perut kamu saat kamu tidur. Dan ngerasain tendangan anak kita, kamu pasti capek kan sayang.

Saat kamu ke rumah sakit untuk kontrol kandungan, Aku selalu diam-diam ikutin kamu.

Aku lihat kamu dari kejauhan sama anak kita. Aku juga pengen ada di dekat kamu, nemenin kamu buat cek perkembangan anak kita. tapi lagi-lagi Aku gak bisa. Keberanian aku gak ada.

Aeril saat kamu mau melahirkan terus di Operasi, aku benar-benar takut. Aku takut kamu pergi terus ninggalin Aku dan anak kita, Aku hanya bisa menunggu di depan ruang operasi sambil berdoa untuk keselamatan kalian.

Melihat kamu sadar Aku sangat senang dan sedih, tapi Aku gak bisa bilang ke kamu. Aku hanya bisa diam dan berpura-pura sibuk mengurus anak kita.

Aeril Aku tau mengenai si Kembar, Aku tau Jerial anak aku. Aku tau semuanya.

Aku hargai keputusan kamu buat misahin dia sama kita, tapi Aku sedih. Kenapa kamu takut Aku sakitin anak-anak padahal Aku menyayangi kalian semua.

Hatiku juga sakit, saat mengetahui Jerial itu sakit. Aku sedih, saat dia sakit aku gak ada di sampingnya.

Aku bersyukur selama ini Harry menjaga Jerial dengan baik. Anak-anak kita itu benar-benar kuat semuanya. Mereka persis denganmu.

Aku selama ini hanya memanfaatkan Audry agar kamu cemburu, terus jujur sama Aku tentang perasaanmu.

Karena Aku pernasaran apa kamu juga cinta sama Aku. Tapi nyatanya semua itu sia-sia, bahkan itu hanya merusak hubungan kita.

Aku gak setiap saat sama dia, hanya beberapa kali, kalau Aku tidur dengannya itu hanya karena Aku mabuk akibat memikirkanmu. terus Aku kelepasan.

Aku menghabiskan waktuku selama ini di Apartment, Aku gak ketemuan sama Audry. Aku hanya di Apartmet tempat terakhir kita membuat malaikat kecil kita.

Saat Aku tau bahwa Rey sedang berusaha mendekatimu, Aku marah dan cemburu. Bahkan saat kamu tidur dengannya hatiku merasakan sakit berkali-kali lipat.

Aku jadi membuat rencana setelah mengetahui hal itu, agar Aku bisa membersihkan jejaknya yang ada di tubuh kamu. Aku gak suka, kamu itu hanya milik Aku. sampai kapanpun milik Aku.

Aku sedih saat Papa ngasih tau kebenaran tentang kamu sama Aku. Aku benar-benar sakit. Aku juga sama rapuhnya denganmu.

Aeril kamu masih ingat kan dengan panggilan awal saat kita ketemu di Kota ini. Aku manggil kamu dengan sebutan iel, Aku suka dengan panggilan yang aku buat untuk kamu.

Ucap Aeron yang mengeluarkan seluruh isi hatinya pada Aeril.*


“iel bangun, iel kesayangan Ae. ayo bangun sayang. Iel jangan lama tidurnya. Ayo bantu Ae urus anak-anak, Ayo kita bangun keluarga kecil kita seperti impianmu selama ini sayang...” ucap Aeron.

Aeron yang tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya, kini Aeron menangis dan mencium tangan istrinya.

Dia bahkan menyandarkan kepalanya di samping Aeril.

Aeron hanya bisa menangis, dia tidak tau bagaimana caranya agar orang yang di cintainya sejak awal itu sadar kembali.

Aeron hanya bisa berbaring di samping Aeril dengan menyandarkan kepalanya dekat tubuh Aeril. Dia berharap Aeril bisa sadar dan mengelus kepalanya.


Fran, Elis, Marko, Harry dan Jerial yang mendapatkan kabar dari Allen bahwa Aeron masih hidup kemudian buru-buru kembali ke rumah sakit.

Saat ini mereka semua sudah berkumpul di dalam Ruangan tersebut, sambil menatap Aeron yang tertidur karena kelelahan akibat menangis melihat kondisi Aeril.

Allen juga sudah menceritakan kejadian yang Aeron alami pada mereka semua. Marko, Harry dan Jerial mulai mendekati Daddy mereka.

“Dad- Daddy bangun...” ucap Marko.

Aeron yang merasakan sentuhan pada tubuhnya mulai membuka matanya. Dia kaget saat melihat seluruh keluarganya berkumpul.

“Kalian...” ucap Aeron.

“Daddy, Daddy, Dad- hiks! maafin Adek. hiks Daddy maaf Dad jangan tinggalin Adek lagi ya...” suara tangisan Harry keluar sambil memeluk Aeron.

“Adek, maaf. udah ya jangan nangis lagi. Daddy di sini, Daddy gak bakalan kemana-mana lagi jangan nangis...” ucap Aeron sambil memeluk Harry.

“Daddy minta maaf sama kalian, karena kebodohan Daddy. Keluarga kita jadi terpisah...” ucap Aeron sambil menatap ketiga putranya.

“Daddy, Kakak senang. Akhirnya. Dad- kita bisa ketemu lagi sama Daddy...” ucap Marko yang tak kuasa menahan air matanya.

“Sini jagoan Daddy, peluk Daddy. sini nak...” ucap Aeron.

Marko berjalan mendekati Aeron dan memeluknya, Marko mendekap erat tubuh sang Daddy.

Marko benar-benar merindukan Aeron, setiap malam dia selalu berdoa agar keajaiban datang untuk keluarganya. Dan inilah jawaban dari doa-doanya.

“Jeri, mau sampai kapan berdiri di situ. Jeri gak pengen peluk Daddy ?” tanya Aeron untuk Jerial.


Jerial senang tapi juga bingung, selama ini dia pikir Aeron tidak mengetahui keberadaannya.

Ternyata dia salah, Aeron mengetahui dirinya. Jerial lalu mendekat ke arah Aeron dan memeluknya.

“Maaf sayang, Maafin Daddy. Daddy selama ini gak bisa nemenin kamu saat kamu sakit. Maafin juga waktu itu, Daddy gak sengaja buat Jeri terluka...” ucap Aeron sambil mendekap erat tubuh Jerial.

“Daddy., Daddy. Jeri sayang sama Daddy. Jeri bersyukur sama Tuhan. Daddy masih diberikan kesempatan hidup. Jeri gak marah kok, Jeri gak dendam sama Daddy. Jeri malahan mau berterima kasih sama Daddy. Berkat Daddy, Jeri gak jadi bunuh perempuan itu...” ucap Jerial sambil meneteskan Air mata.

Aeron mengecup pucuk kepala sang anak berkali-kali, Dia sedih sekaligus bahagia.

Bahwa Jerial tidak pernah membencinya, Aeron tidak tau lagi harus berbuat apa. Dia hanya mendekap erat tubuh Jerial.

Jerial yang selama ini diam-diam merindukan pelukan hangat dari Aeron. Seperti yang selama ini dia lihat Aeron berpelukan dengan Harry.

Membuatnya juga merasakan rasa ingin, dia ingin merasakan bagaimana rasanya di peluk oleh Daddynya sendiri.

Kini rasanya terjawab sudah, saat ini Aeron memeluknya dengan erat. Aeron bahkan meminta maaf berulang-ulang kali pada Jerial.


Allen, Fran dan Elis tentu merasakan rasa haru saat menyaksikan berkumpulnya kembali keluarga mereka.

Mereka bahkan menitihkan Air mata rasa bahagia.

“Papi, Papi ayo bangun, lihat. Ini ada Daddy. Dad- Dad- hiks. Dad- Daddy masih hidup. Papi selama ini rindu kan sama Daddy. Ayoo Papi bangun. Adek tau, Papi denger kan...” isakan suara raungan tangisan Harry sambil menggoyangkan tubuh Aeril.

Semuanya hanya bisa menangis, saat Melihat Harry yang memaksa Aeril untuk bangun dari tidurnya.

“Daddy, Daddy ayo suruh Papi bangun Daddy. hiks- Dad- Daddy ayoo. Ayo bilang ke Papi bangun. Adek gak mau Papi pergi Daddy...” rengekan Harry sambil menatap Aeron.

“Adek, jangan gitu. Kasihan Papi., ayo lepasin...” bujuk Marko yang menenangkan Harry.

“Kakak diam, Adek lagi ngebangunin Papi tau. iyakan Papi, Ayo Papi. buka mata Papi. Kita semua udah ngumpul disini. Papi lihat ini, Ada Kakak, Ada Jeri, Ada Daddy. Ada Opa, Ada Grandpa dan Grandma...” Ucap Harry sambil menunjuk semua anggota keluarganya.


Elis hanya bisa menahan suara tangisannya, dia tidak tega melihat Harry yang saat ini sedang menangisi Papinya.

“Harry, ayo lepasin Papi., kasihan Papi. jangan di gituin. Harry sayang kan sama Papi...” ucap Jerial yang mencoba menenangkan Harry.

“Jeri, Papi harus bangun. Papi harus ngerasain kebahagiaan. Ini yang Papi mau selama ini, Papi mau kita semua ngumpul bareng. Papi gak boleh tidur...” ucap Harry sambil mencium kening Aeril.

Harry benar-benar hancur, dia merasakan kesedihan mendalam. Dia sangat ingat dengan janji yang di ucapkan oleh Aeril.

Bahwa Aeril akan pulang ke rumah dan bertemu kembali dengan mereka semua.

“Papi, sayang. Papi janji kan sama Adek. kalau Papi bakalan pulang ketemu sama kita. Ayo dong buka matanya cantik...” ucap Harry sambil membelai rambut Aeril.

“Adek, Papi gak bakalan ninggalin kita. Papi kuat, sekarang lepasin dulu Papi...” ucap Marko.

“Iya, Papi kita Kuat. Papi kita hebat, makanya Papi harus buka matanya...” balas Harry.


Jerial kemudian mendekat ke arah Harry dan memeluknya, Tangisan Harry semakin meledak.

Harry benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan Aeril, sungguh Harry masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Aeril.

“Jeri, Jer- Papi, suruh Papi bangun. Papi selama ini banyak menderita, Kita belum ngebahagiaan Papi. Ayo Jeri suruh Papi bangun. Papi pasti mau kalau Jeri yang suruh...” ucap Harry sambil memeluk saudara kembarnya.

“Jeri tau, Jeri tau pasti Papi bangun., sabar yaa. Papi kuat Harr. Jeri percaya Papi kita kuat...” balas Jerial sambil mengusap-ngusap punggung Harry.


Aeron menitihkan Air matanya, dia tidak sanggup melihat anak-anaknya yang menangis saat ini, karena melihat kondisi Aeril yang terbaring lemah.

Aeron hanya bisa menggenggam tangan itu, tangan yang selama ini dia rindukan untuk dia genggam...

“Sayang, lihat. kita semua disini, anak-anak, Mama sama Papa semuanya disini. Kita semua nungguin kamu bangun. Ayo sayang buka mata kamu, Aku mau habisin sisa umur aku sama kamu dan anak-anak...” ucap Aeron yang menyeka air matanya.

Aeron bahkan mencium tangan Aeril berulang-ulang kali, bahkan mengelus lembut tangan cantik itu.


Tangan Aeril mulai bergerak secara perlahan-perlahan.

Aeron yang melihat pergerakan dari Aeril di buat kaget saat melihat Tangan dan Mata itu mulai bergerak.

“Iel, Kamu sadar sayang. Papa Mama Aeril sadar...” ucap Aeron yang mulai berteriak.

Allen, Fran, Elis dan Ketiga putranya di buat kaget. Mereka semua mendekat untuk melihat Aeril.

Mata itu perlahan-lahan mulai bergerak, Aeril membuka mata itu secara pelan-pelan.

“Nak, sayang. Aeril ini Mama...” ucap Elis.

“Jeri Papi bangun, Papi bangun...” ucap Harry yang masih memeluk Jeri.

“Papi ini Kakak, Kita semua ada disini...” ucap Marko.

“Aeril Papa sama Papa mertuamu ada disini...” ucap Fran.

“Aeril terima kasih, sudah mau bertahan nak...” ucap Allen.

“Papi, Jeri senang Papi bangun...” ucap Jerial.

Aeril melihat keluarganya satu persatu-satu tanpa berbicara dan hanya menetaskan Air mata. Aeron menghapus air mata yang menetes pada wajah Aeril.

“Maaf sayang, jangan sedih lagi. Aku disini sama kalian semua, bantu Aku buat rawat ketiga jagoan kita iel. Aku sayang kalian...” ucap Aeron sambil menggenggam tangan Aeril.

Aeril tidak bisa berbicara, dia hanya bisa mengeluarkan air matanya.

Sebagai bentuk ungkapan rasa syukurnya, karena perjuangannya selama ini tidak sia-sia.

Aeril berusaha membalas menggenggam tangan Aeron dengan tenaga yang dia miliki.

“Ae makasih sudah mau kembali, maaf membuat kalian semua khawatir. Ae kita rawat anak-anak bersama, sampai salah satu di antara kita meninggalkan dunia ini...” ucap Aeril di dalam hatinya.

Akhir penantian dari Aeril berbuah manis, semua harapannya menjadi kenyataan.

Alasan Aeril berpenampilan jelek adalah, dia hanya ingin membuat Aeron ingat pertemuan awal mereka.

Tapi karena Aeron tidak memberikan respon yang baik, sesuai harapannya.

Aeril lalu membiarkan sandiwara yang dia lakukan itu berjalan. Tanpa dia ketahui sebenarnya Aeron tau semua itu.

Keluarga Aeron dan Aeril di berikan kesempatan kedua dari Tuhan untuk memperbaiki semuanya dari awal.

Tuhan mendengar jeritan hati dari ketiga putra Aeron dan Aeril.

Aeron sendiri setelah melihat Aeril sadar, dia selalu sabar menemani Aeril dalam pengobatan.

Bahkan mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu berdua di Kota indah itu.

Banyak hal yang ingin Aeron lakukan untuk Aeril, agar bisa menebus segala dosa-dosanya.

Aeron dan Aeril kini mencoba untuk mulai saling terbuka satu sama lain. dengan harapan, agar kesalahan-kesalahan ini tidak terjadi di masa depan.

THE END