Terlambat
Mike saat ini sedang sibuk bekerja, banyak hal yang harus dia urus kembali. setelah seminggu melewati masa pahit yang dia alami.
Tumpukan pekerjaan memenuhi meja kerja pribadinya, sebenarnya ia ingin beristirahat lebih lama.
Tetapi banyaknya jumlah karyawan yang menggantungkan harapan hidup padanya, membuatnya harus kembali memaksakan dirinya untuk bekerja.
Siang ini dia harus melakukan rapat penting, dengan beberapa karyawan yang bekerja di perusahaannya. Mereka semua harus mengevaluasi kembali, beberapa proyek yang sedang di tangani perusahaan.
Mike memperhatikan salah satu bawahannya. yang sedang serius mempresentasikan hasil kerja mereka, bekerja sambil melamun? hal itu yang saat ini Mike rasakan.
Keributan terdengar jelas di luar ruangan rapat, ada orang-orang yang mencoba ingin berusaha masuk ke dalam ruang rapat.
“Pak, anda tidak bisa melakukan ini. Anda harus membuat janji terlebih dahulu.” ucap Sekertaris Mike.
“Saya tidak perduli, suruh dia keluar sekarang juga, atau saya akan menerobos masuk ke dalam ruangan.” balas Lelaki itu dengan suara lantang.
“Tidak bisa pak, pak Mike sedang sibuk saat ini, anda harus segera pergi dari sini sekarang juga.” sambung Sekertaris Mike
Mendengar keributan di luar ruangan membuat Mike menjadi enggan untuk melanjutkan rapat bersama dengan para bawahannya. Mike menghentikan rapat yang sedang berlangsung, dia kemudian berdiri dan membuka pintu ruang rapat.
“Ada apa ini? kenapa kalian semua berisik sekali. Kalian pikir ini di hutan.” ucap Mike dengan suara jengkelnya.
“Maaf pak Mike, saya tidak bermaksud mengacaukan rapat anda hari ini. Tuan ini dari tadi berusaha ingin menemui anda, padahal saya sudah melarangnya.” balas Sekertaris.
Mike mulai menatap tajam dua orang yang berdiri di hadapannya itu, ia menaikkan salah satu alisnya sambil melihat mereka berdua dengan suara kekehan.
“Kembalikan dia kepada kami.” ucap salah satu lelaki yang berdiri di hadapan Mike.
“Ikut keruanganku sekarang.” balas Mike.
Mike kemudian melangkahkan kakinya, dia bergegas jalan menuju ke ruang kerja pribadinya. dan pergi meninggalkan semua orang yang menonton keributan mereka, kedua orang itu berjalan mengikuti Mike dari arah belakang, salah satu di antaranya sudah emosi sejak tadi.
Mike membuka pintu ruangannya dan langsung duduk pada kursi sofa tamu yang berada di dalam ruangan tersebut. Mike duduk sembari menyilangkan salah satu kakinya, dan menaruh kedua tangannya di lengan sofa.
“Mike, waktuku sudah habis. Kembalikan dia sekarang juga, sudah seminggu dia tidak kembali ke rumah.” ucap lelaki itu.
“Dia siapa yang kau maksud John?” tanya Mike.
“Ayolah Mike kau jangan bermain-main denganku. Kau pikir dia yang ku maksud siapa lagi, kalau bukan HARSA.” jawab John.
“Untuk apa kau mencarinya?.” sambung Mike.
“Kau tidak perlu tau, sekarang kembalikan saja dia pada kami.” timpal John.
Suara tertawa terbahak-bahak memenuhi ruang kerja Mike, dia tertawa karena mendengar ucapan yang keluar dari mulut John.
“Maaf, aku terlalu banyak tertawa. lelucon kalian benar-benar lucu. aku jadi merasa terhibur kembali.” ucap Mike sambil menyeka air mata yang keluar.
“Mike, cukup. Kembalikan dia sekarang juga pada kami.” balas Jae.
“Ada apa dengan kalian berdua?, kenapa kalian sibuk sekali mencari Harsa. Bukankah kalian seharusnya senang kalau dia tidak ada.” sambung Mike.
“Sudah ku bilang itu bukan urusanmu. Kenapa kau masih belum mengerti juga.” ucap John dengan nada tingginya.
“Mike, aku masih menghargaimu sebagai sahabatku. Tapi kau juga harus tau batasanmu. Kau terlalu lancang mencampuri urusan keluarga kami.” balas Jae dengan nada sinisnya.
“Keluarga? keluarga yang mana kau maksud Jae!. KAU, JOHN DAN MILO itu yang kau sebut KELUARGA.” sambung Mike.
“BRENGSEK KEMBALIKAN HARSA KEPADA KAMI SEKARANG JUGA.” timpal John.
“Kau tidak perlu membentakku John.” ucap Mike sambil bersmrik.
“Mike, kau tidak perlu berusaha untuk membohongi kami. cepat segera kembalikan anakmu itu kepada kami.” balas Jae.
“Dia tidak berada disini Jae.” sambung Mike sambil menatap tajam ke arah Jae.
“KEPARAT, KAU SUNGGUH TIDAK TAU MALU. BELUM PUAS KAU MENYAKITI KAMI.” timpal John.
John berdiri dari tempat duduknya, dan memukul Mike yang sedang duduk di kursinya, dia menghajar Mike. Mike sendiri, tentunya tidak bisa menerima pukulan yang di berikan John begitu saja kepadanya.
Mike kemudian membalas pukulan itu, mereka berdua berkelahi di dalam ruangan kerja milik Mike. Jae yang melihat pun, mencoba untuk melerai perkelahian yang terjadi di antara mereka. Namun karena kekuatan yang mereka miliki sungguh lebih besar darinya, ia jadi tidak bisa menghentikan perkelahian John dan Mike, Jae sendiri hanya bisa terhempas duduk di sofa kembali.
“JOHN, MIKE. KU BILANG BERHENTI KALIAN.” teriakan lantang dari Jae.
John dan Mike berhenti saat mendengar teriakan dari Jae. Deru nafas John dan Mike memburu, mereka berdua saling menatap satu sama lain. Wajah memar akibat perkelahian singkat itu, nampak terlihat jelas pada wajah masing-masing.
“Cih.” John meludah karena bibirnya berdarah.
“Sialan, dasar manusia tak tau diri.” ucap Mike yang sedang berusaha mengembalikan deru nafasnya menjadi normal kembali.
“BRENGSEK KAU MIKE, KAU TELAH MELUKAI SUAMIKU. BAJINGAN SIALAN.” balas Jae sambil melihat kondisi wajah suaminya John.
Pandangan elang milik John kembali menatap Mike, deru nafasnya juga saat ini begitu cepat akibat perkelahiannya dengan Mike.
“Silahkan kalian berdua angkat kaki dari sini.” ucap Mike sambil menarik dasinya.
“Brengsek, sudah ku bilang bukan. Untuk mengembalikannya.” balas John.
“Mike, kau itu kenapa tidak tau diri sekali. Kembalikan dia sekarang juga kepada kami, atau kami akan membuat anakmu semakin sengsara.” sambung Jae.
“AKU AKAN LEBIH BERSYUKUR LAGI JIKA HARSA ITU DARAH DAGINGKU.” teriak Mike kembali.
“Turunkan nada suaramu kepada istriku brengsek, jika kau tidak ingin perusahaanmu ini ku buat hancur dalam sekejap.” ucap John.
“Silahkan jika kau mampu John, sebelum kau sendiri yang akan menghancurkan hidupmu.” balas Mike.
“Mike tutup mulutmu yang lancang itu, apa kau masih belum puas menghancurkan kebahagiaan keluargaku, apa kau belum puas meniduriku?. Selama ini aku selalu berusaha keras untuk memulihkan jiwaku, aku berusaha untuk mengembalikan kesehatanku. Bahkan suamiku sendiri, dia berjuang agar bisa membantuku untuk mengembalikan kesehatan mentalku. Kau BRENGSEK kau BAJINGAN, aku menyesal berteman baik denganmu selama puluhan tahun.” sambung Jae menatap Mike sambil mengepal kuat tangannya.
Mendengar ucapan Jae membuat Mike menjadi geram, dia tidak menyangka jika Jae sahabatnya bisa menyalahkan dirinya.
“Dengarkan aku baik-baik Jae. Yang pertama, selama ini kau hanya salah paham denganku, dan yang kedua. Kita berdua sama-sama di jebak, dan yang terakhir kau tidak pernah membiarkanku mendekati dirimu dan menjelaskan semuanya. Kau sendiri yang menjauhkan dirimu dariku, BRENGSEK. Aku memang menyukaimu sejak dulu, tapi itu dulu, sebelum kejadian bodoh itu merusak pertemanan kita.” ucap Mike dengan wajah serius.
“Apa maksudmu Mike.” balas John.
Mike lalu berdiri dari tempat duduknya, dan menarik laci meja kerja-nya. Serta mengambil sebuah amplop kertas berwarna putih, dia melempari amplop putih itu pada wajah John, ia sungguh muak saat melihat kehadiran mereka berdua.
John melihat amplop kertas yang di lempari Mike pada dirinya, dia lalu mengambil dan melihat amplop kertas itu. Ada tulisan di bagian depan amplop surat. Hasil Laboratorium Rumah Sakit Elisabeth Seoul
“Apa ini?” tanya John dengan wajah kebingungan.
“Matamu masih berfungsi dengan baik bukan. kau baca saja itu sendiri.” jawab Mike dengan emosi.
John dan Jae lalu membaca isi surat yang berada di dalam amplop kertas tersebut, surat itu berisikan tentang hasil DNA Harsa. Pasangan suami istri itu membaca isi keterangan yang menjelaskan tentang hasil DNA dengan teliti.
Di dalam surat itu menjelaskan tentang hasil DNA Harsa secara keseluruhan, bahwa ternyata selama ini Harsa merupakan anak kandung dari John dan Jae.
John dan Jae kaget, saat melihat isi surat tersebut. mereka bahkan berulang kali membaca hasil itu. Mereka juga masih belum percaya, dengan apa yang mereka baca itu.
“Apa maksud ini semua Mike.” ucap Jae.
“Apa kau masih belum mengerti juga Jae, tentang hasil pemeriksaan itu.” balas Mike.
“Surat ini, pasti kau sendiri mengada-ngada bukan?. Aku tau ini surat palsu yang kau buat agar kami berdua bisa ibah dengan anakmu.” sambung John yang membuang kertas di tangannya itu.
“Aku akan berterima kasih, jika Harsa memang anakku. Kalau kalian berdua masih belum percaya juga, silahkan kalian datangi rumah sakit secara langsung.” timpal Mike.
“Mike, tidak mungkin. Dia pasti bukan anak kami. Malam itu, kita berdua terakhir kali bertemu, aku yakin kau sendiri yang meniduriku. Aku juga yakin dia bukan anak John, dia pasti anakmu.” ucap Jae yang masih belum percaya.
“Sudah ku bilang bukan, kalau ini semua hanya salah paham saja. Aku tidak pernah menyentuh dirimu, aku sangat menghargai dirimu Jae. bagaimana bisa aku melakukan hal keji denganmu? Malam itu. kita berdua di Jebak oleh Miranda, kau tau sendiri bukan siapa itu Miranda.” balas Mike.
“Kalau bukan kau yang tidur dengannya, lantas siapa? HAH. Aku sudah cukup sabar membiarkanmu selama ini untuk hidup, malam itu aku sendiri yang melihatmu berjalan keluar dari kamar hotel. BEDEBAH SIALAN.” sambung John.
“Kau yang SIALAN JOHN, kau brengsek. Aku memang keluar malam itu dari kamar hotel, karena obat yang miranda kasih padaku dosisnya sangat sedikit, malam itu kau sendiri yang menyetubuhi istrimu akibat dari obat perangsang dosis tinggi yang dia terima. Miranda sahabatmu yang menjebak kami, wanita gila bodoh yang terobsesi ingin menjadi pasangan hidupmu.” ucap Mike dengan nada tingginya.
“Jadi, malam itu. Aku tidur dengannya, bukan denganmu?.” tanya Jae sambil melihat John.
“Kau yang harusnya lebih tau, bukan aku.” jawab Mike.
“Jadi Miranda penyebab kekacauan ini semua.” sambung John.
“Iya, Sahabat brengsekmu itu telah berhasil membuat kekacuan ini.” timpal Mike.
“Mike jelaskan kepadaku secara detail.” ucap Jae.
Mike lalu menjelaskan semuanya kepada John dan Jae walau terpaksa.
Mike menceritakan tentang kebenaran yang selama ini tidak ingin di ketahui mereka.
Penjelasan Mike;
Miranda merupakan sahabat John sejak masih kecil, mereka berdua sudah berteman sejak saat itu.
Miranda adalah sahabat wanita yang John miliki satu-satunya, jadi tidak heran. jika perlakuan John terhadapnya bisa di bilang sangat istimewa.
Dan bisa membuat siapa saja salah dalam mengartikan kebaikan yang John berikan padanya.
Miranda berpikir bahwa ialah wanita satu-satunya yang pantas menjadi pasangan hidup John, siapapun tidak akan pernah cocok dengan sahabatnya itu.
John menyukai Miranda, tetapi dia hanya menganggap Miranda itu hanya sebatas sahabat. Bahkan menurut John, Miranda sudah seperti adik kecil baginya.
John memiliki ketertarikan kepada sesama jenis, ia tidak pernah memberitahukan hal itu kepada Miranda, karena dia pikir Miranda tidak perlu mengetahui orientasi seksualnya.
Semua berubah semenjak John masuk SMA, saat dia bertemu dan berteman dekat dengan Jae. Jae adalah cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya, dia sangat menyukai Jae dan mencintainya.
John sendiri tidak pernah sama sekali menceritakan tentang keberadaan Jae kepada Miranda. Miranda dan John juga saat itu berbeda sekolah.
Miranda melanjutkan sekolah SMA-nya di USA, makanya ia tidak tau tentang hubungan John dan Jae.
Hubungan mereka terungkap saat John memposting kekasihnya itu di salah satu media sosial miliknya,
Miranda yang melihat postingan itu benar-benar kesal. Karena John memposting foto orang lain, selain dirinya. Dia bahkan tak menyangka John lebih memilih pria lain dari pada sahabatnya sendiri.
Dari situlah Miranda mulai marah dan bertekad untuk merebut John dari Jae, tetapi semua hanya sia-sia.
John tidak tertarik kepada Miranda, segala cara telah Miranda lakukan. Mulai dari mengirimkan foto-foto seksinya, sampai mengajak John untuk berhubungan intim dengannya.
John tidak perduli dengan itu semua, John sendiri bahkan menceritakan tentang keberadaan Miranda kepada Jae kekasihnya.
Jae tidak terlalu perduli dengan kehadiran Miranda, dia sangat percaya dengan kekasihnya John.
Miranda bukanlah sosok pertama yang mengganggu hubungan mereka, banyak orang yang ingin berusaha memisahkan mereka berdua. Tetapi semuanya sia-sia, cinta John dan Jae sangatlah kuat.
John melamar Jae setelah 7 tahun lamanya mereka berpacaran, saat mendengar kabar mereka berdua akan Menikah.
Miranda kembali ke USA, hatinya hancur. selama 2 tahun, Miranda pergi mencoba mencari ketenangan di dalam dirinya. Tetapi tidak bisa.
Miranda benar-benar jatuh hati pada John, hatinya masih saja belum sanggup dan menerima kehadiran orang lain di dalam hidupnya.
Dia lalu memutuskan kembali untuk memisahkan mereka berdua, jika ia tidak bisa memiliki John maka orang lain pun tidak boleh memilikinya.
Miranda kemudian mencari tau latar belakang tentang Jae, fakta yang ia temukan ternyata Jae bersahabat baik dengan Mike.
Mike dan Jae sama seperti John dan Miranda, mereka berdua bersahabat sejak masih kecil.
Mike diam-diam menyukai Jae, tetapi Jae tidak. Mike lebih memilih untuk memendam rasa cintanya itu sendiri. Apalagi saat itu ia mengetahui bahwa Jae telah memiliki seorang kekasih yaitu John.
Miranda merencanakan untuk bekerja sama dengan Mike, agar bisa menghancurkan Jae dan John sekaligus. Diam-diam Miranda telah mengajukan kerja sama antara perusahaannya dengan Mike.
Mike tidak tau-menahu tentang Miranda, karena selama ini Jae tidak pernah menceritakan sosok Miranda kepadanya.
Makanya saat perusahaan milik Miranda mengajukan permohonan kerja sama. Dia langsung menerima saja, tanpa mencari tau apapun terlebih dahulu.
Miranda membuat sebuah pesta kerja sama mereka, di sebuah hotel ternama. Dia mengundang seluruh partner bisnisnya, untuk hadir di acara kerja sama milik mereka. Termasuk sahabat sekaligus orang yang di cintainya John.
John menyampaikan undangan Miranda kepada Jae, saat ia pulang dari Kantor. Jae yang selama ini tidak pernah perduli, akhirnya ingin mengetahui juga tentang Miranda.
Saat itu Jae telah melahirkan putra pertama mereka, yaitu Milo. John dan Jae termasuk orang yang beruntung.
Setelah menikah mereka berdua langsung di karuniai seorang putra yang sangat tampan. Padahal tidak semua pasangan yang baru menikah bisa seberuntung mereka.
Jae memang seorang laki-laki, tetapi dia adalah sosok laki-laki yang spesial, tidak semua orang sepertinya. Jae memiliki rahim, sehingga ia bisa hamil dan melahirkan Milo.
Jae meminta izin pada John. Agar bisa menggantikan John untuk menghadiri acara Pesta yang di adakan Miranda.
John awalnya tidak ingin. Retapi karena itu permintaan dari istri tercintanya, ia memutuskan untuk mengiyakan saja permintaan Jae.
Jae pergi ke Acara Pesta tersebut, Miranda yang melihat kehadiran Jae tentunya bersuka cita. Akhirnya keinginan yang dia pendam selama ini bisa segera terwujud.
Ia memanggil Jae dan berkenalan, Mike yang merupakan rekan bisnis Miranda tentunya juga hadir di acara tersebut.
Mike tidak mengetahui hubungan persahabatan John dengan Miranda.
Mike tak menyangka bahwa sahabatnya Jae akan datang, ia pikir John yang akan hadir pada malam Pesta perusahaannya.
Darimana Mike bisa tahu?, ia mengetahui semua itu saat melihat daftar tamu yang hadir.
Akhirnya mereka bertukar cerita, sampai Jae lupa tujuan utamanya ke Acara Pesta tersebut.
Miranda yang melihat mereka berdua yang sedang asyik mengobrol itu, memiliki ide licik.
Miranda memanggil salah satu pelayan yang bertugas malam itu, kemudian Miranda menyuruh sang pelayan untuk menaruh obat perangsang ke dalam minuman mereka.
Pelayan lalu mengikuti perintah Miranda, karena dia di bayar sangat mahal. Dia mengambil obat yang di berikan Miranda kepadanya, obat itu tidak terlalu banyak.
Pelayan tidak bisa membagi obat itu dengan benar, salah satu minuman Champagne ada yang kelebihan obat.
Pelayan tentu tidak perduli dengan itu semua, yang dia lakukan hanya mengikuti perintah saja.
Dia kemudian memberikan mereka minuman tersebut, Jae dan Mike tentunya tak menaruh rasa curiga dengan minuman Champagne yang di berikan.
Obat bereaksi dengan cepat, Jae pusing. ia kelimpungan, kepalanya seperti berputar-putar. Mike yang melihat Jae hampir pingsan lalu menahannya.
Miranda merekam itu semua, dengan ponsel pribadinya. Miranda mendekat ke arah mereka berdua dan menawarkan sebuah kamar yang sudah ia pasangi CCTV.
Sebenarnya kamar itu Miranda buat, untuk dirinya dan juga John. agar Miranda bisa bersenang-senang dengan John malam ini.
Mike membawa Jae ke kamar yang sudah di siapkan khusus Miranda.
Miranda diam-diam berjalan mengikuti mereka, untuk melihat serta memastikan apakah mereka benar-benar masuk ke kamar itu atau tidak.
Mereka kemudian masuk ke dalam kamar, Mike membaringkan Jae. tetapi Jae malah mencium Mike dengan sangat buas karena pengaruh obat perangsang.
Mike hampir saja kelepasan. Foto-foto serta video ciuman mereka Miranda kirimkan kepada John menggunakan nomor lain.
John yang saat itu sedang lembur di kantornya, di buat kaget ketika melihat isi pesan chat dari nomor asing.
Miranda mengirimkan foto dan video ciuman istrinya dengan Pria lain. John lalu beranjak pergi dari kantor, untuk melihat kebenaran tersebut.
John sudah tiba di hotel, dia lalu menuju ke kamar hotel yang mereka berdua tempati, belum sempat masuk. Dari kejauhan John bisa melihat seseorang yang keluar dari kamar tersebut, orang itu adalah Mike.
Dengan cepat John masuk ke dalam kamar, dia melihat kondisi Jae dengan baju yang acak-acakan, dan juga ada bekas kiss mark di lehernya. John berpikir bahwa Jae sudah habis bercinta dengan Mike.
Jae masih di bawah pengaruh obat, ia menarik suaminya untuk mengajaknya bercinta, John sadar saat melihat istirnya yang sedang di pengaruhi obat perangsang.
John mengabulkan keinginan istrinya, akhirnya pada malam pesta itu. Mereka berdua melakukan hubungan badan.
Jae hanya bisa mengingat orang terakhir yang berada bersamanya, John sendiri tidak bisa bertanya kepada Jae. Tentang kejadian yang sebenarnya terjadi.
Jae menggila dan frustrasi, dia hanya ingat siapa orang yang terakhir bersamanya, orang itu adalah Mike.
Dia depresi, saat bangun dan melihat bahwa John di sampingnya, ia bahkan memukul-mukul dirinya sendiri, dan bahkan menyakiti dirinya.
Miranda merasa senang saat mendengar kabar bahwa Jae mengalami gangguan mental.
Itu artinya. Tinggal selangkah lagi, Miranda bisa dengan mudah untuk menghancurkan Keluarga kecil John.
John memahami kondisi mental istrinya, ia berusaha memulihkan kesehatan jiwa orang yang dia cintai itu. John juga berpikir, bahwa Mike adalah dalang di balik gangguan mental istrinya.
Jae bahkan sebulan lebih tidak ingin melihat John dan Milo, dia benar-benar depresi.
John bingung harus berbuat apa, yang ia lakukan adalah menerima semua cobaan itu sebisanya.
John berusaha meyakinkan Jae, bahwa cinta yang dia miliki tidak akan pernah luntur kepadanya. Ia bahkan berjanji akan mengubur kenangan buruk yang Jae alami.
Jae yang tadinya merasa tidak ada harapan hidup, kembali merasakan adanya harapan hidup. Ketika Jae mendengar ucapan yang keluar dari mulut John, dan melihat Milo buah cinta mereka.
Jae mencoba berusaha untuk bangkit kembali, dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan persahabatannya dengan Mike.
Agar rasa sakit yang dia alami bisa segera terobati. Jae ingin kembali membangun kebahagiaan bersama dengan keluarga kecilnya.
Awal yang mereka pikir sudah kembali membaik, tiba-tiba jadi buruk kembali. Saat mereka mengetahui bahwa Jae kini mengalami kondisi sedang berbadan dua.
Depresi kini muncul kembali pada Jae, dia bahkan nekat untuk bunuh diri. Beruntung saat itu John pulang kantor lebih cepat, jika terlambat mungkin Jae sudah tidak bernyawa lagi.
John di buat pusing saat melihat kondisi Jae, setelah beberapa bulan pengobatan istrinya. Kini mereka harus kembali menerima satu kenyataan lagi.
Agar Jae harus tetap hidup, John menawarkan satu solusi kepada Jae untuk menggugurkan bayi itu.
Jae awalnya menerima, tapi saat berada di salah satu klinik aborsi. Hati kecil miliknya menyuruh dia untuk segera pergi dari sana, John hanya mengikuti kemauan istrinya.
Jae mengurung dirinya kembali selama seminggu di dalam kamar, John pun tidak tega jika terus membiarkan istrinya harus hidup dalam tekanan.
John memberikan Jae solusi yang kedua, dia menyuruh istrinya agar membiarkan bayi itu hidup tetapi dalam pengasingan.
Walau bayi itu lahir ke dunia, dia tidak akan membiarkan bayi itu terus berada di dekat mereka. Apalagi sampai masuk ke dalam kehidupan keluarga mereka.
Jae menerima tawaran suaminya, ia berpikir langkah itu lebih baik. dari pada dia harus membunuh bayi yang ada di dalam perutnya.
Jae lalu membiarkan dirinya untuk tetap hamil. Dia melakukan itu semua meski terpaksa.
Milo yang saat itu masih belum mengetahui apapun, hanya bisa tertawa dan memeluk perut besar milik Jae.
Bahkan terkadang Milo mengajak bayi itu berbicara menggunakan bahasa anak yang hanya bisa di mengerti olehnya.
Hal itu lantas membuat hati kecil Jae teriris, sayatan di hatinya terasa sakit saat melihat interaksi mereka.
Jae lalu meminta izin kepada John, agar tetap membiarkan anak itu berada dalam pengawasan mereka, karena rasa sayang Milo terhadap bayi yang ada di dalam perutnya. John mengabulkan keinginan Jae.
John membuat sebuah Pavilion pada bagian tanah kosong belakang rumah mereka, halaman yang luas dan tempat yang sunyi bisa menjadi tempat yang cocok untuk bayi itu.
Hari kelahiran Jae pun tiba, Jae melahirkan dengan cara di operasi. Jae tidak perduli saat mendengar tangisan bayi yang telah lahir, dia tidak sudi melihat dan bahkan menggendong bayi yang ia benci itu.
Harsa adalah nama dari bayi kecil mungil dan tampan yang di lahirkan Jae. Sebuah nama pemberian dari mereka berdua.
Sebenarnya nama itu terpaksa John berikan. Nama itu adalah nama persiapan untuk anak kedua mereka, jika Tuhan mengijinkan mereka memiliki anak kembali.
Saat bayi itu lahir, Milo tidak ingin menjauh dari Harsa, Milo bahkan tak segan-segan untuk merengek dengan suara yang keras.
Jika Bayi itu tidak ada, Milo akan terus bertanya-tanya kepada Jae. Milo bahkan menangis jika Harsa kecil sedang menangis.
Kejadian itu membuat Jae pusing, akhirnya Jae meminta izin kembali kepada John, agar membiarkan Harsa tinggal bersama dengan mereka terlebih dahulu. Sampai Milo sendiri yang menjauhkan dirinya dari Harsa.
Milo tidak pernah bosan dengan adik kecilnya, sampai Milo sekolah dasar pun. Harsa masih menjadi orang favorite di dalam rumah.
Meski Harsa hidup dan tinggal bersama dengan mereka, tetapi perlakuan John dan Jae tidak pernah baik terhadapnya.
Bagi mereka Harsa itu adalah kesalahan yang tak seharusnya ada di dalam kehidupan keluarga kecil mereka.
John dan Jae bahkan tak segan-segan untuk membentak Harsa kecil atau bahkan memarahinya.
Semua semakin berubah, saat Milo beranjak di bangku SMP. Jadwal yang padat membuat hubungan intensitas kedekatan mereka semakin berkurang.
Jae dan John pun menyuruh Harsa untuk pindah ke Pavilion buatan John.
Harsa yang awalanya tidak ingin pindah dari rumah ke Pavilion itu tidak mau. Tetapi karena dia di ancam oleh John dan Jae, mau tidak mau ia harus tetap pindah.
Harsa di berikan ancaman oleh mereka berdua, dengan ancaman bahwa Harsa dan Milo akan di pisahkan.
Mendengar ucapan jahat dari pasangan suami istri itu. Membuat Harsa kecil tak sanggup dan takut, akhirnya dia memilih mengikuti perintah Daddy dan Papinya.
Milo yang masih anak-anak hanya bisa diam saja. ia juga tidak berani bertanya kenapa adik kecilnya di pindahkan.
Dia kemudian berpikir bagaimana caranya agar ia masih bisa melihat adiknya Harsa.
Milo pun akhirnya memutuskan, untuk memantau perkembangan adiknya dengan cara lain.
Milo secara diam-diam membeli teropong dan juga alat CCTV, untuk dia pasang di Pavilion milik Harsa. Milo menggunakan seluruh uang saku miliknya yang dia simpan selama ini.
Mike berusaha mencari tau semua kebenaran yang terjadi malam itu, Mike bingung saat melihat Jae memblokir semua kontak bahkan sosial media yang Mike punya.
Jae terkesan menghindar dan menjauh, padahal Mike ingin menjelaskan kondisi yang terjadi. Jae bahkan mencoba untuk selalu mengabaikan Mike jika mereka tak sengaja bertemu.
Mike tak bisa terus memaksa kehendaknya, ia memaklumi perlakuan Jae kepadanya. Dia mencoba mencari waktu yang pas agar dia bisa berbicara dengan Jae.
John membatasi kegiatan Jae, agar dia masih bisa terus memantau kondisi kesehatan istrinya. Apalagi Harsa hidup bersama dengan mereka.
Mike bertemu dengan Harsa saat Harsa sedang menangis di pinggir jalan.
Waktu itu Harsa di tinggalkan oleh Jae. Karena Jae marah dan muak saat Harsa mencoba memeluk dirinya.
Mike sendiri tidak mengetahui akan hal itu, bahwa Jae telah melahirkan Harsa.
Harsa yang awalnya sedih kini ceria kembali, saat bertemu dengan Mike. Mike bahkan bertanya banyak hal pada anak berusia 8 tahun itu.
Harsa anak yang pandai, dia dengan pintarnya menjelaskan dan memberitahukan asal usul dirinya, serta nama orang tuanya kepada Mike.
Tubuh Mike kaku saat mendengar itu semua. Akhirnya Mike memiliki alasan kembali, untuk bisa bertemu dengan Jae.
Mike tidak mengetahui tentang perbuatan yang di lakukan John dan Jae terhadap Harsa.
Mike membawa kembali pulang Harsa ke rumahnya, tetapi mereka di sambut buruk oleh John dan Jae.
John dan Jae, bahkan tak segan-segan untuk mendorong Harsa di depan Mike.
Mereka tidak memukul Harsa secara fisik, mereka hanya melakukan tindakan yang bisa merusak mental Harsa.
Mike geram, saat melihat sikap mereka. Bahkan Mike di tuduh yang bukan-bukan oleh mereka, John menunduh bahwa Harsa adalah anak dari Mike.
Harsa kecil tidak memahami situasi yang terjadi saat itu, Harsa hanya bisa menangis sambil melihat pertengkaran orang dewasa yang terjadi di depan matanya langsung.
Mike bertekad dalam dirinya, dia harus bisa membuktikan kepada John dan Jae, bahwa Harsa bukanlah anak hasil hubungannya dengan Jae.
Perusahaan Miranda di buat bangkrut akibat ulah Mike. Mike emosi karena Miranda orang yang telah membuat keributan besar, dan juga kekacauan dalam hubungan pertemanannya.
Miranda di buat gila oleh Mike, bagi Mike itu balasan yang setimpal atas perlakuan buruknya.
Mike diam-diam juga selalu tetap berusaha untuk menjaga hubungan komunikasinya dengan Harsa, tanpa sepengetahuan dari John dan Jae.
Mike mengajari Harsa tentang banyak hal, yang tidak Harsa dapati dari kedua orang tuanya.
Mike Uncle kesayangan Harsa, bahkan apapun yang menjadi kebiasaan Harsa, Mike bisa tahu dan mengingatnya dengan mudah.
Pernah satu kejadian, saat Harsa di larikan ke rumah sakit. Akibat ia meminum segelas susu putih, yang ternyata hal itu sangat fatal untuk kesehatan Harsa.
Harsa alergi terhadap susu putih, tubuhnya menolak keras susu putih. Sebab Harsa mengalami masalah pada tubuhnya.
Mike panik dan takut saat melihat Harsa sakit, ketakutannya sangat besar saat sesuatu yang buruk terjadi kepada Harsa.
Mike sudah terlanjur menyayangi Harsa, dia bahkan sudah menganggap Harsa sebagai putranya sendiri.
Karena hal itulah Mike terkadang menjadi sangat protektif terhadap Harsa.
Dia selalu memperhatikan Harsa dengan sungguh-sungguh. Bahkan tak jarang, ada beberapa larangan yang harus dia berikan kepada Harsa.
Harsa sendiri mengikuti segala perintah Mike, karena hanya Mike seorang saja selama ini yang peduli dan bahkan menyayangi Harsa dengan tulus. Harsa tidak pernah mendapatkan itu semua dari John dan Jae.
Harsa anak yang sangat ceria, dia berusaha menutupi kesedihannya dengan keceriaan yang dia miliki.
Harsa bukanlah seorang anak yang nakal di sekolah, dia sangat pandai dan rajin saat bersekolah. Semua guru di sekolah sangat menyukai Harsa, siapapun ingin menjadi temannya.
Harsa dan Milo bersekolah di tempat yang berbeda, John dan Jae sengaja untuk tidak membiarkan Harsa mendekati Milo.
Mike sudah seperti orang tua Harsa, Mike yang sangat perduli dengan Harsa. Bahkan Mike sendiri yang sibuk mencarikan sekolah terbaik untuk Harsa.
Mike berhasil mendidik dan membuat kepribadian Harsa menjadi anak yang sempurna.
Hanya satu hal yang Harsa tidak bisa miliki, kasih sayang dan bentuk perhatian dari orang tua kandungnya.
Mike selalu sebisa mungkin untuk menjawab segala pertanyaan Harsa, saat Harsa bertanya tentang sikap John dan Jae terhadapnya.
Hati Mike sungguh mulia, dia tidak pernah menjelek-jelekkan John dan Jae di hadapan Harsa.
Mike tidak akan membiarkan Harsa untuk mengetahui hal buruk yang sedang terjadi, bagi Mike kejadian itu tidak perlu Harsa ketahui.
Mike pernah beberapa kali mengajak Harsa untuk tinggal bersama dengannya di Penthouse mewah miliknya, tetapi Harsa tidak mau dan tidak ingin.
Alasan Harsa sangat sederhana, dia tidak ingin pergi meninggalkan keluarganya. Dan juga Istana kesendirian yang di bangun John untuknya.
John dan Jae kejam, mereka telah salah selama ini bersikap buruk dengan Harsa.
Putra mereka Harsa harus menanggung dan juga merasakan kepahitan yang mereka lakukan.
John dan Jae mereka berdua lebih memilih menutup mata, dari sebuah kebenaran yang seharusnya sudah mereka ketahui sejak dulu.
John dan Jae tidak pernah perduli dengan putra bungsu mereka. Mereka selalu mengabaikan dan tak pernah menganggap Harsa ada di dunia ini.
Mereka bahkan sama sekali tak pernah mencari tau apapun tentang Harsa. Selama ini Mike yang sibuk mengurus Harsa dengan baik.
Karena sikap buruk mereka kepada Harsa, membuat Mike yang sudah berhasil bisa membuktikan kebenaran itu, memendam segala rasa keinginannya untuk memberitahukan hal tersebut kepada John dan Jae.
Semua terjadi saat Mike mendapatkan informasi dari salah satu anak buahnya, bahwa John mempermalukan Harsa di acara ulang tahun Milo.
John meneriaki Harsa di depan umum sebagai aib dan juga anak haram, Jae tidak perduli dengan kejadian yang terjadi. Dia tidak pernah menganggap Harsa anaknya, meski Harsa sendiri lahir dari rahimnya.
Mike murka, amarah Mike tidak bisa di bendung lagi. Sudah cukup selama ini dia berdiam diri melihat sikap jahat orang tua kandung Harsa.
Mike bahkan sudah menyiapkan beberapa dokumen penting beserta beberapa bukti, untuk menjadikan Harsa sebagai putra sahnya secara hukum,
Mike sudah tidak perduli tentang kebenaran yang ada. Yang Mike inginkan hanyalah melindungi Harsa.
Mike diam-diam sudah memilih negara yang akan menjadi tujuan tempat untuk ia tinggali bersama dengan Harsa, dia bahkan sudah tidak perduli tentang pasangan hidup untuknya.
Mike hanya ingin Harsa tetap berada dalam pengawasannya, karena bagi dirinya. Penderitaan yang Harsa alami itu akibat ulah dari mereka semua.
John dan Jae lalu mengetahui hubungan Mike dengan Harsa, tetapi mereka sama sekali tidak perduli. Yang mereka lakukan hanyalah menghabiskan waktu dengan Milo.
John dan Jae tidak pernah berpikir tentang Harsa, karena mereka berdua tau masih ada Mike yang akan mengurusi Harsa anak yang mereka pikir adalah putra kandung Mike.
John dan Jae bahkan tidak perduli saat mendengar kabar dari salah satu Maid yang bekerja, bahwa Harsa sedang sakit di Pavilion.
Milo adalah saudara sekaligus Abang yang sangat baik, diam-diam dia melakukan banyak hal untuk Harsa. Harsa tidak pernah di berikan fasilitas di dalam Pavilion.
Milo sendiri yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan itu semua dari kedua orang tuanya, dia melakukan berbagai macam cara agar adiknya itu bisa mendapatkan fasilitas yang lengkap seperti dirinya.
Milo selalu meminta barang yang ia inginkan dengan jumlah dua, dia akan memberikan alasan kepada orang tuanya.
Bahwa dia akan memberikan salah satu barangnya, kepada seorang teman yang tidak mampu dan sangat miskin di sekolah.
John dan Jae tidak masalah mendengar hal itu, bahkan mereka juga tidak pernah bertanya tentang kebenaran tersebut. Bagi mereka asalkan Milo senang dan bahagia, mereka pasti juga akan ikut senang.
Milo merasa beruntung, setiap ia mendapatkan barang keinginannya. Milo juga harus memikirkan cara bagaimana dia menyelundupkan barang itu ke Pavilion milik adiknya.
Milo bahkan mengancam semua Maid yang bekerja disana untuk merahasiakan itu semua.
Jika perbuatan yang ia lakukan sampai ketahuan John dan Jae. Maka dia tidak akan segan-segan untuk memecat mereka semua yang sedang bekerja.
Setiap barang yang ia kasih kepada Harsa, dia akan menuliskan note kecil dengan kalimat. ini pemberian dari Daddy dan Papi, pakailah dan jangan pernah bertanya apapun kepada kami
Milo mengatur seakan-akan itu pemberian dari John dan Jae kepada Harsa, agar Harsa bisa terus bahagia. Padahal kenyataannya John dan Jae tidak pernah memikirkan Harsa.
Harsa menjadi salah paham, akibat perlakuan baik sang Kakak. Harsa berpikir orang tuanya sayang kepadanya, cuma cara mereka berbeda dalam menyayanginya seperti itu.
John dan Jae tidak tau tentang fasilitas yang ada di dalam Pavilion, karena mereka tidak pernah melihat keadaan Harsa disana. Bahkan jalan yang di lewati Harsa di buatkan khusus agar mereka tidak bisa melihat wajah Harsa.
Harsa tidak pernah membenci kedua orang tuanya, Mike berhasil mendidik Harsa agar tidak menjadi seorang pembenci, banyak hal yang ingin Harsa tanyakan. Tetapi ia terlalu takut.
Tentang grup keluarga, itu semua berkat Milo. Milo mengajukan permintaan kepada John dan Jae agar menambahkan Harsa di dalam grup keluarga.
Milo berjanji akan selalu menjadi juara, asalkan adiknya itu berada di dalam grup chatting keluarga. Milo bahkan akan mematuhi segala aturan dan perintah yang di buat John dan Jae.
Awalnya mungkin itu terdengar berat bagi mereka, tetapi karena itu permintaan Milo dan mereka tak tega melihat wajah sedih Milo, akhirnya mereka membiarkan itu semua.
Mereka bahkan mengijinkan Harsa memanggil John dan Jae dengan sebutan Daddy dan Papi. Walau mereka tidak menyukai itu, tetapi semua karena Milo putra mereka.
Milo sangat menyayangi Harsa, dia bahkan setiap saat memberikan pesan cinta kepada adiknya, semua hal yang Harsa lakukan harus di ketahui Milo.
Bagi Milo dengan cara seperti itulah, mereka bisa menjadi tetap dekat. Milo tidak bisa bertanya kepada orang tuanya, karena dia juga takut. Milo takut jika terlalu banyak tanya, adiknya mungkin yang menjadi korban amarah orang tuanya.
Ucap Mike sambil berlinang air mata:
“Harsa, dimana dia sekarang?” tanya John.
“Sudah ku bilang dia tidak ada.” jawab Mike sambil mengusap air matanya.
“Mike, Mike. Ku mohon ampuni aku, aku mohon maafkan segala kesalahanku. Kasih tau aku dimana putraku berada, dimana anakku. dimana dia Mike? aku harus meminta maaf kepadanya secara langsung. Aku mohon Mike. Tolong bantu aku, tolong bantu sahabatmu ini.” sambung Jae sambil bersimpuh di depan kaki Mike.
“SUDAH KU BILANG ANAKKU HARSA SUDAH TIDAK ADA JAE.” teriak Mike sambil berdiri.
“Mike kenapa kau terus mengatakan Harsa sudah tidak ada. Dimana dia.” ucap John.
“HARSA ANAKKU SUDAH PERGI, DIA SUDAH TENANG DI SURGA. DIA SUDAH MENINGGALKANKU. ANAKKU HARSA- AN-”
Mike tidak bisa melanjutkan ucapannya, Mike menangis. Mike sedih. Sudah seminggu ia berusaha keras untuk menerima kenyataan pahit yang harus dia terima. John lemas, saat mendengar ucapan Mike. Jae pun hanya bisa terisak mendengar ucapan Mike.
“Harsa sudah tiada, dia sudah meninggal sejak seminggu yang lalu. Anakku Harsa, putraku. Harus pergi karena keinginannya sendiri, dia memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan menegak minuman beracun.” ucap Mike.
Kematian Harsa seminggu lalu membuat Mike berduka, alasan dia tidak ingin pergi ke kantor karena dia telah kehilangan sumber semangatnya. Setiap hari Harsa akan selalu mengirimkan pesan kepadanya, entah menanyakan tentang Mike yang sudah makan, atau kabar. bahkan lelucon aneh akan Harsa kirimkan.
“KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKANNYA KEPADA KAMI MIKE. KENAPA.” balas John dengan teriak
“Aku sudah menghubungi kalian, aku mencoba banyak hal untuk meminta kalian kembali. Tetapi kalian tidak perduli dengan Harsa. kalian bahkan mengabaikan seluruh pesanku, dan malah memilih liburan bersama.” sambung Mike.
“INI SEMUA GARA-GARA KAU MIKE ANAKKU, PUTRAKU HARSA HARUS MATI. SEANDAINYA KAU MEMBERITAHUKAN ITU SEMUA, MUNGKIN KEJADIANNYA TIDAK AKAN SEPERTI INI.” ucap John yang kembali emosi.
John masih belum bisa menerima kenyataan yang terungkap saat ini, tentang Harsa yang merupakan anak kandung dari mereka dan juga kabar kematian Harsa. Perdebatan antara John dan Mike masih saja dilakukan. Jae lalu berdiri kembali dari posisinya, dan menampar suami yang dia cintai itu.
“Diamlah John, itu semua salahku. Salahku JOHN, penyebabnya karena aku. Jika aku tidak memaksa untuk pergi malam itu. Mungkin Har- an- ku. Hiks! bay-bayiku- akan tetap hidup.” suara isakan tangisan keluar dari mulut Jae.
Jae jatuh tersungkur, dia sungguh menyesali kebodohan yang sudah dia lakukan kepada mendiang putra bungsunya.
Harsa, anak yang seharusnya dia sayangi dan cintai itu kini telah pergi, meninggalkan orang tua yang kejam. Tanpa memberikan alasan yang jelas kenapa ia selalu di benci.
John hanya bisa menundukkan kepala sambil menangis, dia juga bingung harus melakukan apa. Dia telah gagal sebagai suami, dan juga Daddy kepada putra kandungnya sendiri.
“HARSA, KEMBALI NAK. AYO PULANG, KEMBALILAH INI PAPI. PAPI DATANG MENJEMPUTMU, HARSAAA- MAAFKAN PAPI. HARSA KEMBALI NAK, ANAKKU. PUTRAKU, MAAFKAN PAPI. KEMBALILAH SAYANG, MAAFKAN PAPIMU YANG BODOH INI, HARSA SELAMA INI INGIN KAN DI PELUK SAMA PAPI, AYO KEMBALI. PAPI JUGA AKAN MEMELUK HARSA, PAPI BAKALAN BIARIN HARSA NGELAKUIN APAPUN NAK, ASALKAN KAMU KEMBALI. PAPI JA-JAHAT YA NAK. PAPI SUDAH BUAT KAMU MENDERITA SELAMA INI. HIKS! HARSA PULANG SAYANG. KEMBALI NAK. PAPI SAYANG SAMA HARSA, MAAF PAPI SUDAH JAHATIN HARSA. HARSA ANAKKU, PUTRAKU YANG MALANG. KENAPA HARSA HARUS PERGI.” ucap Jae yang menangis dengan histeris.
Jae menangisi kebodohannya, Jae menghardik dirinya sendiri dengan berbagai ucapan sumpah serapah kepada dirinya.
John hanya bisa memeluk Jae dan menangis, melihat kepahitan serta penderitaan yang harus mereka alami.
Mike meninggalkan mereka berdua di ruangannya, ia harus segera pergi. sebelum rasa sakit di hatinya kembali muncul.
“Jae cukup, jangan seperti ini.” ucap John sambil memegangi wajah Jae.
“Mas- hiks! Har- Har- Harsa putra kita. Kenapa kita berdua bodoh Mas. Kenapa kita tidak sadar selama ini. Ak-Ak- Aku yang tidak sadar selama ini, harusnya aku sadar dengan ikatan batin yang kami miliki. tap-tapi semua itu tertutupi dengan rasa amarah bodohku.” balas Jae yang masih menangis.
“Bukan salahmu, ini juga salahku. Aku yang membuat ini semua menjadi semakin rumit. Anakku harus menerima kejahatan yang aku berikan.” sambung John yang memeluk Jae.
Hanya ada air mata penyesalan yang akan mengisi hari-hari mereka, Tuhan memberikan balasan yang sangat setimpal untuk perbuatan mereka berdua.
Mereka terlalu jahat kepada Harsa, semasa dia hidup. Keberadaannya sering kali di tolak oleh mereka berdua.
Tuhan lebih memilih mengambil anak baik itu kembali, waktu Harsa menunggu telah usai. Tuhan tidak ingin membiarkan Harsa lebih lama menunggu kebenaran yang sedang terungkap itu.
Jika John dan Jae saat itu mau mendengar ucapan penjelasan dari Mike, mungkin akhir cerita pahit tidak akan pernah mereka rasakan.
Rasa benci dan amarah bodoh yang mereka ciptakan, hanya menjadi kenangan buruk di semasa hidup Harsa.
Harsa tidak pernah bisa merasakan cinta dan kasih sayang dari orang tua kandungnya, selain Mike. Mike adalah malaikat yang di berikan Tuhan untuk Harsa.
Harsa kecil yang dulu merasa sendiri, sejak kehadiran Mike membuat hidupnya sedikit lebih berwarna.
Mike menyayangi Harsa dengan tulus, tanpa ada embel-embel bahwa Harsa adalah anak dari orang yang ia cintai sewaktu dulu.
Mike lebih merasakan kehilangan berkali-kali lipat, dari pada John dan Jae yang di tinggalkan dengan sebuah rasa penyesalan.
Mike lebih hancur, saat menemani Harsa di waktu detik-detik terakhir hidupnya. Harsa meminta kepada Mike agar tetap selalu berada di sampingnya, meski dia telah tiada.
Harsa juga memberikan sepucuk surat terakhir untuk kedua orang tuanya, dia meminta Mike untuk memberikan kepada mereka berdua. Sebelum nafas terakhirnya.
Harsa memilih meninggalkan dunia kejam yang di buat oleh kedua orang tuanya, karena dirinya sudah tidak sanggup berada di dunia ini sendiri. Tidak ada alasan untuk dirinya bertahan hidup.
Harsa lebih memilih pergi, agar dia tidak terus-terusan mendapatkan perlakuan buruk dari kedua orang tuanya.
Harsa si anak kecil remaja yang harus meregang nyawa akibat ulah dari kebodohan orang tuanya. 🥀