Tara yang Pergi


Ibu Tara memberitahukan kepergian Tara pada Doni sang mantan suami, Doni yang mengetahui hal tersebut meminta izin dari kantor agar bisa pergi melihat Tara untuk terakhir kalinya.

Doni bergegegas menuju rumah orang tua Tara, dia mengendarai mobil miliknya dengan cepat agar bisa menyapa Tara untuk terakhir kalinya.


[Rumah Duka]

Doni sudah tiba di rumah milik orang tua Tara, saat ini kondisi rumah begitu ramai di penuhi banyak orang yang datang ingin melayat ke tempat Tara untuk terakhir kalinya.

Doni turun dan berjalan masuk ke dalam rumah, saat di dalam rumah dia melihat jenazah Tara yang sudah tertutupi dengan peti.

“Doni...” ucap Mama Tara.

“Mama..” balas Doni.

“Nak, maf- maf- maafin Tara ya, dia udah jahat sama kamu selama ini. Maafin Papa sama Mama juga yang gak bisa berbuat apapun, hiks..!” ucap Mama Tara.

“Iya, Doni udah maafin Tara...” sambung Doni.

Doni tak tega melihat ibu Tara yang sedang sedih itu, akibat kehilangan Putranya secara tragis. Ia lalu memeluk mantan ibu mertua agar supaya dia bisa merasa tenang.

Tak menunggu waktu lama, kini Tara yang sudah terbujur kaku itu di bawah ke tempat Makam.

Suara tangisan mengiringi kepergian Tara, banyaknya kerabat dan sahabat yang tak bisa menerima dia pergi dengan cara cepat dan tragis.

Doni tidak mengikuti ke tempat makam, dia masih terlalu syok mendengar kabar kematian Tara dengan begitu cepat.


“Nak Doni...” ucap Mama Tara.

“iya Ma...” balas Doni.

“ini surat untukmu yang di tulis terakhir kali, sebelum Tara bunuh diri...” sambung Mama Tara.

Doni lalu menerima sepucuk surat dari ibunya Tara, dan langsung bergegas pergi meninggalkan rumah itu.

Doni masuk ke dalam mobilnya, dan mulai membuka serta membaca surat terakhir untuk dirinya itu.


Dear Mas Doni ❤️

Mas Doni, jika kamu membaca surat ini, itu artinya Mama telah memberikan surat ini padamu.

Mas Doni, aku hanya ingin meminta maaf untuk terakhir kali. Aku terlalu jahat padamu selama ini, aku minta maaf.

Aku bodoh Mas, telah menyianyiakan orang sebaik dirimu dari hidupku, Aku sangat menyesal. Andai waktuku bisa di putar kembali, aku akan mengikuti semua kemauanmu.

Mas Doni maaf selama beberapa tahun ini aku sangat terobsesi dengan karirku, aku bahkan tidak pernah ingin mendengarkanmu.

Maaf juga aku selama ini diam-diam berselingkuh dengan BOS aku yang brengsek itu. Aku juga menghalalkan segala cara agar bisa berada di posisi sekarang.

Aku baru tau, selama ini dia hanya menginginkan tubuhku saja. Dia juga telah mencampakkanku dan memilih menikah dengan orang lain.

Hatiku sakit, sungguh aku sangat bodoh. Menerima tawaran yang dia berikan, andai saja aku tidak tergiur.

oh, iya Mas. saat ini Aku sedang hamil, tetapi ini bukan anakmu Mas. Maaf ya, aku sengaja menggunakan dia agar kamu bisa kembali denganku lagi.

Dulu aku ingat waktu awal kita bertemu, waktu itu kamu menjadi teman sekelompokku di sekolah, kamu sangat baik makanya aku menyukaimu. Aku sangat bahagia mengenal dirimu Mas.

Maaf juga aku selalu egois, dan tak memperdulikanmu. Aku bahkan tak melayanimu dengan baik, malah kamu yang melayaniku dengan penuh perhatian dan juga kasih sayang.

Aku benar-benar malu saat ini, aku bahkan tak memberitahukan alasan sebenarnya ke orang tuaku, apa yang menyebabkan kita bercerai.

Aku menyesal telah melepaskanmu pergi, aku benar-benar mencintaimu. maaf lagi-lagi aku masih egois. Semoga kamu menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Aku menyayangimu Mas Doni.

Doni telah selesai membaca surat itu


Doni meremas surat itu kuat-kuat, dia tidak menyangka bukan hanya perselingkuhan saja. Tetapi hubungan mereka juga menghasilkan kehadiran seorang anak.

Doni sangat kecewa dengan Tara, kenapa dia bisa melakukan hal serendah dan sehina itu. Andai Tara tidak serakah dengan obsesinya itu, mungkin ini akan menjadi lain cerita untuk mereka.

Tak ada air mata kesedihan yang membasahi pipi Doni, ia sudah mengikhlaskan Tara pergi meninggalkan dunia ini.

Doni kemudian melajukan mobil miliknya untuk kembali ke rumah. Karena dia ingin bertemu dengan keluarga kecil tercintanya.