Pengorbanan



Haechan berlarian sepanjang koridor rumah sakit, dirinya kini telah tiba di salah satu rumah sakit. Tempat dimana Jaehyun saat ini sedang ditangani. Jaehyun mengalami kecelakaan, ia terjatuh dari atas tangga ketika dirinya sedang berjalan menuruni anak tangga di rumah. Kakinya tak sengaja terpeleset, membuat dia tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri.

Mark-lah orang yang menemukan Jaehyun, ketika dia sedang kembali sementara ke rumahnya. Mark panik melihat Jaehyun tergeletak di lantai sambil berlumuran darah, kepalanya Jaehyun terbentur dengan keras mengenai salah satu anak tangga. Membuat ia mengalami luka robeka pada pelipis kepalanya. Mark menghubungi Johnny karena ia tak tau harus berbuat apa, kepanikan Mark membuat dirinya sulit untuk berpikir jernih. Johnny-lah yang mengarahkan Mark untuk segera pergi menuju ke rumah sakit, supaya membawa Jaehyun agar bisa mendapatkan penanganan pertama segera.

Haechan masih terus berlarian, bahkan dia tak sengaja menabrak salah satu petugas rumah sakit. Yang sedang membawa beberapa tumpukan seprei untuk pasien.,

“Maaf sus, aku gak sengaja”

Haechan tak sempat membantu pegawai tersebut, dikarenakan dia begitu terburu-buru ingin segera menuju ke ruang operasi. Tibanya di rumah sakit, Haechan langsung ke bagian tempat informasi yang ada di rumah sakit. Haechan bertanya ruangan dimana Jaehyun berada kini,

“Jangan pergi uncle, please jangan pergi”

Ucap Haechan berulang kali sambil berlarian, ukuran rumah sakit yang besar dan begitu sangat luas. Membuat Haechan harus berjuang untuk bisa menuju kesana, ruang operasi yang akan Haechan datangi berada pada salah gedung bagian belakang rumah sakit, Haechan berlarian seperti orang kesetanan. Haechan sungguh tak dapat menyangka, jika pesan semangat dari Jaehyun di pagi hari untuk ujian hari terakhir, membuatnya akan kembali mendapatkan pesan buruk setelahnya.


Deru nafas yang tak beraturan sudah tidak diperdulikan oleh Haechan, ia berjalan lalu mendekat ke arah Johnny dan Mark.

“Kak, uncle. Dimana?”

“Udah di dalam ruangan, sebentar lagi operasinya akan segera di mulai”

Haechan terlambat sepuluh menit, Jaehyun telah lebih dulu di dorong masuk ke dalam ruang operasi. Padahal dirinya ingin sekali melihat Jaehyun. Johnny sendiri masih serius berbicara dengan salah satu dokter yang akan menangani Jaehyun, Johnny tidak menggubris kedatangan dari Haechan.

Lampu menyala, tanda operasi kini telah di mulai. Mark masih belum mampu mencerna kejadian yang mendadak terjadi hari ini padanya. Dia terduduk lemas di bangku tunggu depan ruang operasi, bajunya penuh dengan lumuran darah.

“Kakak, kamu pulang ke rumah ganti baju. Biarin daddy yang tungguin papi disini”

“Kakak gak mau dad, kalau kakak pergi. Kakak gak bisa lihatin operasinya papi”

Mark tak ingin pergi, tapi Johnny memaksanya untuk segera kembali pulang ke rumah. Karena ia sudah seharian menemani Jaehyun, Mark berada di rumah sakit dengan keadaan bajunya yang penuh bercak darah. Saat memberikan pertolongan kepada Jaehyun.

“Kamu mau papi kamu bangun terus lihat kamu kotor begini!”

“Gak dad, iya kakak pulang. Tapi nanti kakak balik lagi”

“Kalau operasi papi sudah selesai, daddy bakalan kabarin kamu. Sekarang kamu balik dulu ke rumah”

Mark mengalah, dia lebih memilih untuk mengikuti perintah Johnny dari pada ia harus beradu argumen dengan Johnny. Disaat genting seperti ini, Haechan hanya bisa menatap kepergian Mark yang sedang berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. Johnny beralih untuk duduk di salah satu bangku kosong, sambil merapalkan tangannya. dan berharap semoga keajaiban datang kepada istri tercintanya.,

“God please don't take him from me, cuma dia yang aku punya”

Kalimat yang terus berulang kali Johnny keluarkan dari mulutnya, dirinya bahkan tak perduli jika ada yang mendengar ucapannya. Termasuk sang anak, yang kini sedang duduk bersebelahan dengan-nya. Haechan menunduk, ia mengikuti Johnny memejamkan matanya.

“Uncle you have to be strong, kita lagi nungguin uncle disini”

Haechan melakukan hal yang sama di dalam hatinya, seperti hal yang dilakukan Johnny. Ia juga meminta agar Jaehyun untuk kuat saat menjalani operasi di dalam sana, punggung Johnny bergetar hebat.

“Dad”

Haechan mendekat, ia menyentuh punggung yang sedang bergetar itu. Dia bisa melihat Johnny tengah menunduk sambil menahan suara isak tangis.,

“Aku yakin, uncle jeje bisa lewatin masa-masa kritisnya”

Haechan memberikan kekuatan kepada Johnny, ia tahu bahwa ayahnya kini sedang rapuh. Melihat orang yang dia cintai sedang terbaring lemah diatas meja operasi.

Haechan bisa melihat sorot mata dari Johnny, rasa ketakutan tergambar jelas lebih besar dari pada saat Johnny kehilangan mendiang bundanya.

“Adek”

Haechan kembali tertegun, panggilan yang sudah lama tidak pernah di dengar olehnya. Malam ini bisa kembali di dengar olehnya lagi, ada rasa kerinduan yang menjalar pada hatinya. Ia begitu merindukan panggilan dari sang ayah, Johnny sudah lama sekali tidak memanggil Haechan dengan panggilan kecilnya adek. Sebuah panggilan yang tak pernah dilakukan Johnny, semenjak Haechan memperlihatkan sikapnya secara terang-terangan kepada Jaehyun, bahwa dia sungguh tidak menyukai sosok Jaehyun, meski ia membiarkan Johnny dan Jaehyun menikah.

Johnny akan memanggil Haechan kembali dengan panggilannya, jika dia sudah bisa dapat menerima kedatangan Jaehyun Suh di dalam keluarga mereka. Salah satu ucapan bodoh keluar dari mulutnya saat Johnny sedang tersulut sebuah emosi, kebodohan yang dilakukan Johnny pun sama-sama membuat mereka berdua saling tersiksa.

Haechan tentu hanya berpura-pura cuek di depan mereka semua, dia menunjukan kalau panggilan tersebut bukanlah apa-apa bagi dirinya. Padahal sesungguhnya, dia begitu teramat merindukan panggilan kecilnya dari sang ayah tercinta.

“Papi harus sehat kembali, daddy belum lakuin banyak hal buat dia. Dia telah banyak berjasa untuk keluarga kita, terutama buat bunda kamu nak”

“Maksud daddy apa?”


Johnny menarik nafasnya, ia mencoba memperbaiki deru nafasnya kembali. Johnny kemudian beralih menatap sang putra kecilnya dengan sangat serius.,

“Papi Jaehyun selama ini sudah banyak berkorban untuk keluarga kita, untuk daddy, untuk mendiang bunda, dan terutama untuk kamu”

Johnny kembali mempertegas ucapannya kepada Haechan.

“Berkorban!, untuk apa uncle jeje berkorban dad?”

Haechan bertanya, ia sangat penasaran kala mendengar ucapan dari Johnny.

“Dulu papi Jaehyun adalah salah satu manajer pada perusahaan daddy, karena alasan keluarga dia milih untuk resign dari perusahaan. Pada waktu itu, setelah dia mengurus semua keperluannya di perusahaan. Dia ingin pergi, tapi sebelum meninggalkan perusahaan, dia ingin lihat perusahaan untuk terakhir kali, sebelum dia benar-benar pergi ninggalin perusahaan. Saat papi sedang asyik lihat gedung dari luar kantor, matanya gak sengaja lihat kamu lagi ingin nyebrangin jalan lewat kaca dan hampir kena tabrak. Kalau dia gak cepat buat nyelametin kamu, kamu mungkin gak bisa ketolong adek. Adek saat itu lagi main di kantor daddy, karena daddy terlalu sibuk dengan kerjaan. Daddy jadi lupa sama kamu, salah satu sekertaris daddy datang ke ruangan untuk ngasih tau ke daddy. Kalau kamu hampir kecelakaan dibawah, daddy panik terus lari buat lihat keadaan kamu. Daddy senang, lihat kalau kondisi adek baik-baik aja, daddy lebih milih fokus buat ngurus kamu dan bawa kamu kembali ke ruang kerja daddy. Daddy juga gak mikirin untuk nanya sama pegawai, gimana kejadian yang sebenarnya. Papi Jaehyun kecelakaan setelah dia nolongin kamu, Bunda adalah orang pertama yang mencari tau sosoknya. Dia di rawat di rumah sakit, bunda cerita semuanya sama daddy. Daddy mikir cukup ngasih uang aja sebagai bentuk ucapan makasih. Tapi bunda marah besar sama daddy, karena pertolongannya dia jadi mencelakai dirinya sendiri. Efek samping dari kecelakaan adalah, rahimnya juga ikutan bermasalah. Dia juga akan sulit punya anak, akibat benturan keras yang mengenai perutnya, saat nyelametin kamu. Daddy gak terlalu ngerti, sama kondisinya. Bunda maksain daddy buat ketemu sama dia, daddy yang sibuk sama kerjaan cuma iyain permintaan bunda aja. Setiap hari, bunda kamu selalu ke rumah sakit untuk ngerawat dia, bunda sangat berterima kasih sama dia. Kalau bukan karena bantuan dari dia. Kamu yang bakalan celaka nak, sebab itu mereka berdua jadi dekat lalu menjalin pertemanan. Daddy pernah berpikir bahwa mereka berdua berselingkuh, tapi ternyata enggak. Sebelum bunda jelasin semua kebenaran yang enggak diketahui sama daddy, daddy berterima kasih. Tapi daddy juga marah sama bunda, karena kepedulian bunda. Bunda jadi lupa buat jaga kesehatan dirinya sendiri, dimana dia juga lagi sakit kanker rahim saat itu. Kanker yang di derita sama bunda kalian sudah stadium akhir, setelah ngelahirin kamu. Mendengar diagnosa dari dokter nggak buat bunda jadi sedih, tapi bunda malahan jadi semakin berusaha untuk kuat, bunda kalian ngelakuin semua perintah dari dokter. Supaya bisa hidup lebih lama dan kumpul bersama kita, adek sendiri udah nggak ingat tentang kejadian itu. Karena daddy sama bunda langsung bawa kamu ke tempat hipnoterapi, supaya kamu gak ingat kejadian buruk itu. Daddy sama bunda gak ingin karena kejadian tersebut, sampai jadi trauma buat kamu, pertemuan bunda dan papi semakin sering sampai dimana sebelum bunda pergi, bunda minta sama papi buat nikah sama daddy. Supaya papi yang gantiin bunda ngurusin kita semua, awalnya daddy marah dan nggak mau menerima itu semua. Tapi bunda kamu terus maksain daddy untuk coba kenal papi lebih dalam, daddy gak perduli. Papi juga sama seperti daddy, terpaksa ngelakuin itu semua demi bunda. Karena papi juga ngerasain hal apa yang dirasain sama bunda. Semenjak bunda sakit, papi orang yang selalu nemenin bunda di rumah sakit. Dia gantiin daddy buat ngerawat bunda, kalau daddy lagi sibuk sama kerjaan. Peran dia sangat banyak untuk keluarga kita adek, Sampai akhirnya daddy coba buat dekat sama dia, karena kebaikan dia buat bunda kalian. Dan nggak lama setelah itu bunda pergi, kepergian bunda ngebuat jiwa daddy hancur. Tapi daddy berusaha kuat demi kalian berdua. Daddy nggak ingin kalian ngerasain kehilangan lagi, setahun bunda pergi daddy nggak perduli sama wasiat bunda. Daddy hanya fokus ngurusin kalian, daddy juga sudah lupain permintaan itu. Tapi daddy masih ingat papi, sebelum bunda pergi kami juga dipaksa untuk menikah. Daddy tentu menolak, bunda masih berusaha ngerayu daddy saat kondisinya lagi kritis. Karna itu semua permintaan terakhir bunda jadi daddy wujudin keinganannya. Daddy nggak perduli sama pernikahan yang sudah dilakuin, setelah menikah kita pisah. Selama dua tahun daddy sama papi sibuk sama urusan masing-masing, tapi papi selalu ngasih perhatian buat keluarga kita. Setiap hari dia akan menyuruh sekertaris daddy untuk membawakan bekal yang telah ia siapkan, dia selalu memantau keluarga kita dari jauh nak. Sampai suatu hari daddy lihat dia kembali, dia datang ke rumah buat ngerawat kakak yang lagi sakit. Daddy kaget, dari situ juga daddy coba buat ngebangun semuanya dari awal, satu tahun daddy kenal baik sama dia. Dan tahun ke empat daddy resmikan hubungan pernikahan kita, tahun kebencian buat kamu. Adek selama ini nggak pernah mau ngebuka hati adek supaya kenal sama papi, padahal setiap hari dia selalu mikirin kamu. Dia nggak pernah ingat dirinya sendiri, yang selalu dia pikirin cuma kamu, dia bahkan tau semua kebiasaan kita. Semua di ceritain sama bunda semasa bunda masih hidup, Dia selalu nungguin kamu kalau kamu pulang telat ke rumah. Papi juga yang ngasih tau sama daddy semua perkembangan kamu di sekolah, dia selalu mantau kamu dan kadang sesekali ngintipin kamu di sekolah. Papi bilang dia suka lihat senyum kamu, karena mirip sama bunda. Dia nggak pernah marah sama sikap kamu ke dia, dia bahkan bakalan marah balik sama daddy kalau daddy marah atau ngebentak kamu di depan dia. Dia nggak suka, semua dia lakuin karena permintaan bunda. Bunda minta sama papi buat perhatiin kamu selalu, sebab adek yang paling rapuh di antara daddy sama kakak. Papi selalu ingat setiap hari ulang tahunnya sama dengan kepergian bunda, dulu sebelum bunda mengehmbuskan nafas terakhir saat dimana hari ulang tahun papi. Bunda ingin ngasih dia kejutan, kejutan itu hadiah pernikahan buat dia. Dia dulu sering cerita ingin punya keluarga dan anak, tapi mendengar masalah yang dia alami. Buat dia jadi nggak ingin menikah, dia ingin sebuah pernikahan yang menghasilkan keturunan. Tetapi karna dia nggak bisa, dia jadi buang angan-angan salah satu impian-nya itu, bunda yang makasain dia buat hidup sama kita supaya bisa ngerasain itu semua. Daddy bahkan nggak bisa ngebayarin jasa-jasa dia buat keluarga kita adek”

Haechan tidak pernah berpikir, bahwa kehadiran Jaehyun telah di atur oleh bundanya. Jaehyun yang selama ini ia tolak kehadirannya, memil- iki peranan yang cukup penting di dalam keluarganya, Jaehyun orang yang selama ini diam-diam merawat Haechan, Johnny, Mark dan Ibunya.

Rasa penyeselan muncul seketika ketika Haechan mendengar cerita tentang lika-liku perjalanan tragis yang dialami oleh Jaehyun, sejak awal Jaehyun telah banyak berkorban untuk mereka semua.

Jaehyun membiarkan dirinya tak bisa memiliki keturunan demi menyelamatkan Haechan, dirinya juga mengorbankan semua waktu yang ia punya demi untuk mengurus Johnny dan Mark, Jaehyun juga sama sulitnya dengan Haechan.

Haechan hanya bisa melihat pintu ruang operasi dari luar bersama dengan Johnny, dia hanya bisa berharap semoga Jaehyun segera cepat sadar. Sebab yang Haechan inginkan sekarang adalah untuk bertemu langsung dengan Jaehyun.