Sadar
Dua minggu dalam masa perawatan pemulihan, membuat Mark kini kembali siuman. Mendapatkan kabar dari Hwang bahwa sang kakak sudah sadar, membuat Haechan dengan cepat menuju ke rumah sakit saat mengadakan rapat.
Jaehyun telah lebih dulu berada di ruangan Mark, ketika mendengar perkembangan kabar baik dari anak bungsunya. Bahwa Mark sang putra sulung kini telah siuman,
“Nak, sayang. Buka mata kamu, papi disini nak..” ucap Jaehyun dengan lembut.
Merasakan sentuhan lembut dari Jaehyun, membuat Mark kembali membuka matanya secara perlahan-lahan.
“Pi..” ucap Mark yang melihat sosok Jaehyun tengah menunggunya.
“Iya kak, ini papi sayang. Papi disini..” balas Jaehyun sambil menggenggam erat tangan putranya.
“Daddy dimana?” tanya Mark.
Mendapat pertanyaan dari sang anak membuat Jaehyun meneteskan air matanya, Haechan sudah tiba. Ia masuk ke dalam ruang rawat VIP dengan tergesa-gesa.
“Kakak..” teriak Haechan.
Mendengar suara dari Haechan, membuat Jaehyun dengan cepat mengusap air matanya. Haechan mendekat pada Mark. Dia senang akhirnya sang kakak kembali sadar setelah peristiwa memilukan tempo hari.
“Dek.,” ucap Mark.
Haechan langsung memeluk Mark, dia benar-benar tak kuasa menahan rasa harunya. Ketika mendapat kabar bahwa Mark telah sadar dari kesakitannya, Saat itu Haechan sedang melakukan rapat penting dengan seluruh tim yang ada di perusahaan, mereka membahas tentang masa depan Perusahaan keluarga mereka yaitu J.Cor.
Hwang yang menerima laporan dari rumah sakit, memilih masuk ke ruang rapat lalu melaporkannya kepada Haechan, mendengar hal tersebut membuat Haechan langsung menutup pertemuan rapat penting mereka.
“Adek, Daddy dimana?” tanya Mark.
Mendengar pertanyaan dari sang kakak membuatnya kembali terdiam, Haechan mencoba sebisa mungkin menghindar dari pertanyaan Mark.
“Kakak gimana perasaannya..” ucap Haechan.
“Gue mimpi Daddy, Daddy jelasin semua sama gue. Daddy mana..” balas Mark
Mark masih terus berusaha bertanya kepada Haechan, sebab Jaehyun sendiri tak mampu membuka mulutnya untuk kembali menjelaskan apa yang sedang terjadi pada keluarga mereka.
Jaehyun memilih menghindar, Jaehyun tak mampu. Mendengar Mark yang terus menerus menyebut sang Ayah, membuat Haechan mengambil alih untuk bercerita.
“Kak, are you okay with that..” ucap Haechan yang sedang memberi peringatan pada Mark.
“Kenapa, Daddy dimana? Papi Daddy kemana? Daddy masih sakit..” ucap Mark yang tak henti-hentinya.
Johnny POV
Mendapatkan pukulan dari Mark tak lantas membuatnya diam, Jo memilih untuk mengejar sang putra sulungnya. Dia harus menjelaskan kondisi yang sebenarnya terjadi.
Mark tak peduli, bahkan untuk berbalik arah melihat Jo saja ia pun tak sudi. Yang dia inginkan, yaitu segera pergi membawa sang Papi dan adiknya dari rumah mewah mereka.
Jo memanggil salah satu pegawainya itu ke ruangan, sebab ia ingin memberikan peringatan keras kepada salah satu pegawainya tersebut. Yang diam-diam telah lancang membuat keributan untuk keluarganya.
Pegawai Jo yang ingin menghancurkan keluarganya adalah seorang wanita, wanita tersebut sangat menyukai Jo. Bahkan ia selalu mencari celah agar bisa dapat mendekati Jo. Namun ia tak pernah berhasil, niat busuknya mendapatkan jalan ketika ia berhasil menggoda sang manager untuk masuk ke dalam tim proyek baru.
Alasan foto-foto itu, foto tersebut merupakan hasil jepretan dari orang suruhan wanita tersebut. Ketika Jo bersama para kawayawannya sedang merayakan kemenangan Perusahaan mereka di salah satu bar. Sebenarnya foto tersebut biasa saja, hanya cara pengambilan gambarnya terlihat luar biasa, sehingga terkesan adanya keintiman dari foto tersebut.
Jo adalah pria yang sangat setia, bertanggung jawab, penuh cinta dan memiliki harta yang banyak. Akan tetapi menurutnya Jaehyun lebih dari segalanya, semua orang-orang terdekat nya pun tau betul bagaimana Jo mencintai Jaehyun selama hidupnya.
Jaehyun begitu di istimewakan oleh suami dan anak-anaknya, ketiga jagoannya selalu menjaga dan melindungi dirinya. Membuat siapapun ingin berada di posisi Jaehyun. Jaehyun mudah sekali terhasut, tak banyak yang tau akan sisi kelemahan lain dari Jaehyun. Bukan mudah namun, hanya saja pikirannya mudah berubah. Apalagi tentang keluarga terutama pasangan hidupnya yaitu Jo.
Jo tak tahu, bahwa karyawannya ini benar-benar sudah melampaui batas. Entah dari mana ia mendapatkan foto-foto Jo, setiap hari selama seminggu dia mengirimkan pesan yang seakan-akan Jo tengah bersama dengannya. Namun nyatanya, Jo sedang sendirian. Dan tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi dengan wanita atau pria lain, jika itu bukan masalah kerjaan. Jo benar-benar sangat profesional.
Jaehyun sendiri tidak pernah bertanya mengenai foto-foto tersebut, dia hanya memilih bungkam. Jo juga tak mengetahui hal tersebut, puncaknya ketika Jo mendapati informasi dari pegawai, bahwa seorang tim bagian dari tender mereka diam-diam telah melakukan hal keji padanya. Mendengar hal tersebut Jo langsung memanggilnya ke ruangan.
Bukannya menjelaskan, karyawantersebut malah berani terang-terangan membuka kancingan pakaian atas miliknya, supaya Jo menjadi tergoda. Belum sempat Jo memberikan peringatan, kedatangan Mark membuatnya menjadi semakin kaget.
Mark langsung memukuli Jo saat melihat wanita tersebut yang hampir menanggalkan pakaiannya demi menggoda Jo, Mark memukuli Jo meski itu adalah ayah nya sendiri. Jo tak mengerti, namun saat Mark menyebut nama sang Papi membuat Jo langsung tersadar seketika.
Merasa puas menyalurkan rasa sakit Jaehyun kepada Jo, Mark memilih pergi. Sebelumnya ia telah mengatakan satu hal kepada Jo, Mark kini memilih untuk menyangkal Jo sebagai ayah kandungnya. Berkat kesalah- pahaman yang terjadi, tak sampai disitu Mark juga berniat membawa pergi adik beserta papinya. Meski ia masih seorang remaja.
Mark tak menampik rasa kekecawaan yang menjalar di hatinya, ia sama dengan Jaehyun merasakan kesakitan. Mark betul-betul menghargai sang Ayah, dan bahkan Mark sangat membanggakan sosok Jo pada teman-temannya.
Ketika Jo mencoba mengikuti Mark, tanpa sepengatahuan Mark. Mobil yang Mark gunakan melaju di jalan raya tanpa memperdulikan sekitarnya. Yang membuatnya menabrak pembatas jalan dengan keras. Melihat sang anak mengalami kecelakaan secara langsung, membuat Jo tak mampu berucap. Ia menangis dan segera membawa Mark ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Jo langsung meminta dokter segera menangani putranya. Kecelakaan Mark terbilang parah, menyebabkan salah satu fungsi organ tubuhnya menjadi rusak. Akibat tekanan hantaman yang terjadi pada perutnya. Ginjal milik Mark rusak, mendengar itu membuat intuisi seorang Ayah bergetar.
Jo memilih untuk menyerahkan salah satu ginjalnya kepada sang putra, bagi Jo masa depan Mark masih sangatlah panjang. Jaehyun belum mengetahui keadaan Mark dan Jo yang berada di rumah sakit.
Jo meminta dengan cepat untuk melakukan operasi. Sebelumnya mereka harus melewati prosedur ketentuan dalam tindakan operasi, beruntung ginjal mereka cocok. Meski Jo bisa saja mencari pengganti donor yang lain. Namun Jo tak ingin membiarkan anggota tubuh orang lain masuk ke dalam tubuh anaknya.
Tanpa persetujuan dari Jaehyun, diam-diam Jo meminta perlakuan tindakan operasi. Meski membahayakan dirinya sendiri. Jo tak perduli, asal putra kandungnya bersama Jaehyun bisa selamat, apapun itu akan tetap ia lakukan. Jaehyun mengetahui operasi tersebut, ketika ia berada di rumah sakit.
Jaehyun dengan sabar menunggu Jo siuman, untuk berbicara dengannya. Progres penyembuhan Jo terbilang cepat, karena Jo sangat perduli serta menjaga kesehatan dirinya. Semua bisa terjadi berkat Jaehyun yang begitu peduli dengan kesehatan suaminya.
Setelah sadar dan dalam keadaan proses pemulihan, Jo menceritakan semuanya pada Jaehyun. Awalnya Jaehyun telah mengurus gugatan perceraian dia dan Jo. Namun perkara tersebut ia tarik kembali, ketika Jaehyun mengetahui kebenaran yang terjadi. Jaehyun menyesal tidak memberitahukan masalah tersebut sejak awal, andai ia tahu mungkin sejak itu dia telah melaporkannya kepada Jo.
Mendapatkan bantuan dari Jo, dan perlakuan tindakan tepat dari dokter untuk menyelamatkan hidupnya, membuat Mark berhasil melewati masa kritisnya. Akan tetapi, karena benturan kuat yang menghantam kepalanya, Mark mengalami Amnesia Lakunar dimana Pengidap amnesia ini akan mengalami hilangnya ingatan mengenai suatu peristiwa secara acak.
Mark tidak mengenali Jo ayahnya, hanya Jaehyun dan Haechan saja yang dikenal olehnya. Hal itu membuat Jo menjadi sedih, padahal ia ingin agar Mark dapat mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Jaehyun memberikan penguatan kepada Jo suaminya, agar nanti saja untuk menceritakan semuanya. Hal tersebut di peringati oleh dokter, sebab bisa membahayakan untuk Mark nanti kedepannya, jika mereka mencoba untuk memaksa Mark supaya mengingat kejadian buruk akhir yang menimpanya. Maka bisa di pastikan Mark akan benar-benar kehilangan seluruh ingatan nya bahkan memori ingatan masa kecilnya.
Mendengar penjelasan dari dokter membuat Jo kembali mengurunkan niatnya, siang dan malam Jo terus memikirkan cara agar kesehatan Mark baik-baik saja, ia pun mengambil sebuah keputusan secara sepihak. Tanpa memikirkan perasaanya sendiri, dan terlebih lagi perasaan Jaehyun serta Haechan.
Jo memilih untuk tidak bersama dengan keluarganya hidup serumah. Agar memori ingatan Mark tidak terus berputar di kepala.
Dia lebih memilih mengasingkan diri dari keluarga kecilnya, keluarga yang selama ini ia cintai dan sayangi setulus hatinya. Keputusan sepihak tersebut membuat Jaehyun menjadi murka, Jo memberikan alasan penguatan nya kenapa ia nekat memilih jalan seperti itu. Semua semata-mata demi kebaikan Mark.
Jo lebih memilih memiliki jarak di antara keluarganya, dari pada ia harus kehilangan Mark putra pertamanya. Jaehyun yang semula menentang kini akhirnya memilih untuk mengalah.
Tak hanya sampai disitu. Jo bahkan mengatur sebaik mungkin kehidupan awal baru keluarga mereka, Jo memilih untuk menutupi semua berita tentang keluarganya di Seoul dengan membayar biaya yang sangat mahal, asal tak ada satupun berita di media sosial yang membahasa keluarganya. Setelah itu Jo mengatur proses kepindahan Perusahaan mereka ke Amerika, lalu memulai awal kehidupan disana bersama dengan keluarganya, dengan niat serta tujuan awalnya supaya Mark tetap baik-baik saja.
Jaehyun bahkan harus mulai terbiasa jauh dari suaminya, yang bahkan selama ini tak pernah dibayangkan olehnya. Menjauh dari Johnny adalah sesuatu yang gila menurutnya, sehari saja tak melihat atau mendapatkan pelukan beserta ciuman manis dari suaminya, membuatnya bisa menjadi uring-uringan.
Jaehyun berusaha sabar, semua karena kondisi putra mereka. Bahkan tak jarang mereka harus mengendap-ngendap untuk saling bertemu dan menyalurkan rasa cinta mereka.
Haechan tentu tau dengan ini semua, sebab Jo dan Jaehyun mencoba memberikan pengertian kepada Haechan. Awalnya Haechan tak mau, namun mendengar kondisi kesehatan Mark, membuatnya harus berpura-pura selayaknya tak saling mengenal. Padahal Haechan juga sangat dekat dengan Ayahnya, bahkan terkadang masih ingin bermanja dengan Jo.
Sebaik mungkin Jo berusaha untuk selalu berada pada keluarganya, meski ia sendiri juga harus merasakan luka yang cukup dalam. Sebab ia di anggap pengawal oleh anak sendiri, yang sebenarnya tak tahu sosok pendamping yang berada di dekatnya selama ini. Jo bahkan rela mengubah semua asetnya beratas namakan Jaehyun Jung, asalkan Mark baik-baik saja. Meski begitu ia selalu mengontrol kondisi perusahaan keluarga mereka.
Dua tahun pertama sangat sulit bagi keluarga mereka, akan tetapi Jo mencoba meyakinkan keluarga kecilnya. Sekali lagi semuanya demi Mark. Bahkan Jo harus mengatur kematiannya yang pura-pura, semata-mata demi Mark, Jo bahkan tak memikirkan perasaanya sendiri meski ia merasakan kesakitan saat Mark menyebutnya dengan sebutan pengawal.
Haechan menjelaskan semuanya secara pelan-pelan, agar kondisi Mark tidak kembali menjadi buruk. Jaehyun hanya mampu membalikkan badannya agar tak melihat Mark dan Haechan yang sedang berbicara.
“Where is my Dad?” tanya Mark kembali.
“Kak, Daddy udah nggak ada..” jawab Haechan secara pelan.
“Dek, lo jangan bohongin gue. Daddy masih di rawat kan disini, Daddy masih ada kan..!” seru Mark yang masih belum percaya.
Haechan menitihkan air matanya, kepergian sang Ayah seminggu yang lalu menjadi pukulan keras di hatinya. Jo telah pergi selama-lamanya, Haechan sendiri tak mampu menggambarkan hari kesakitannya itu dengan baik. Hari ini pun masih sama, ia masih belum mampu menerima kepergian Jo selama-lamanya dari mereka. Jaehyun hanya mampu menahan suara isak tangisnya, ia benar-benar merasakan hal yang sama dengan Haechan.
Seharusnya Haechanlah yang terpuruk, sebab secara mental ia masih terlalu muda untuk menerima semuanya. Namun, dengan cepat ia berusaha tegar semampunya meski itu sangat sulit. Pada minggu kedua, dia memilih mengambil alih Perusahaan J.Cor si kecil yang awalnya sempat di ragukan sesaat oleh Jo dan Jaehyun kini menunjukkan sisi taringnya. Dia bahkan menghabisi Luke menggunakan tangannya sendiri, sebab ia begitu dendam dengan perbuatan laknat yang dilakukan Luke kepada keluarganya.
“Pi, yang di omongin sama adek nggak bener kan papi. Daddy masih hidup kan, Daddy masih di rawat disini sama kakak kan pi..” ucap Mark yang berusaha bangkit dari pembaringannya.
“Kak..” Haechan mencoba menenangkan sang kakak.
Mendengar suara Haechan, membuat Jaehyyun berbalik. Linangan air mata membasahi pipinya. Ia pun langsung memeluk Mark.
“Papi, minta maaf. Maaf, tapi Daddy kalian harus pergi. Dokter nggak mampu nyembuhin Daddy kalian..” ucap Jaehyun dengan isakan tangis.
“Papi bohong, Daddy nggak mungkin pergi. Daddy itu kuat, selama ini Daddy udah jagain aku. Jagain kita semua, ini bohong kan pi..” balas Mark dengan nada yang tak terima.
Jaehyun tak mampu berucap, ia hanya bisa memeluk sang anak. Sebab saat ini yang ia masih miliki adalah Mark dan Haechan, kepergian Jo adalah titik terberat di dalam hidupnya.
“Daddy, why you leave me alone. Daddy kenapa nggak hubungin kakak. DADDY..” teriak Mark dalam pelukan Jaehyun.
Mark menangis sejadi-jadinya dengan perasaan yang tak mampu ia gambarkan. Sakit baginya, ketika mengetahui kebaikan dari Ayahnya yang selama ini rela berjuang demi kesembuhannya. Bahkan rela menjadi pembantu untuk anak sendiri, selama Mark berada dalam keadaan aman.
“DADDY.., PULANG. JADI INI YANG DADDY OMONGIN DALAM MIMPI KAKAK, DADDY SURUH KAKAK BALIK SUAPAYA BISA JAGAIN PAPI SAMA ADEK..” ucap Mark yang masih belum percaya.
Mark menangis sambil memukuli dirinya sendiri, dia meronta-ronta dalam pelukan Jaehyun. Haechan hanya bisa menagis. Dokter yang semula ingin memeriksa kondisi Mark kembali, mengurungkan niat saat melihat kekacauan yang terjadi.
“Papi minta maaf sayang, maafin Papi kakak..” tutur Jaehyun yang masih berusaha keras memeluk Mark, agar tak menyakiti dirinya.
“Papi pulangin da- daddy pi- hiksh, kak- kakak- mau lihat daddy, kakak pengen meluk daddy pi..” ucap Mark yang sedang menangis.
[Flashback]
Selesai menghubungi Jaehyun, Jo pun mematikan panggilan telfon dari istrinya, dan berusaha kembali menghubungi Mark. Namun ternyata tak ada jawaban dari bunyi dering tersebut.
Jo masih tak berputus asa, ia masih terus mencoba. Ketika ingin melakukan panggilan kembali, nomor yang tak memiliki nama tertera di layar ponselnya. Dia pun memilih untuk menjawabnya.
“Bagaimana, apa kau suka permainanku Tuan Johnny Suh..” ledek Luke melalui panggilan telfon. Mendengar suara yang tak asing membuat Jo kembali geram.
“BEDEBAH SIALAN, APA MAUMU..” teriak Jo.
“Santai saja Tuan, nikmati permainan yang aku buat. Sebentar lagi kau akan melihat dan bahkan mendengar kabar kematian dari putramu..” ujar Luke.
“DASAR KEPARAT, AKU BERUMPAH AKAN MEMBUNUHMU. JIKA KAU BERANI MENYENTUH PUTRAKU..” balas Jo.
“Coba saja jika kau bisa, tapi sebelum kau menyelamatkan putramu. Maka pastikan dulu, apa kau mampu lari dari perangkapku..” ucap Luke lalu mematikan panggilannya.
“BANGSAT..” teriak Jo.
Jo melihat ke arah kaca mobil, ada beberapa mobil dan motor yang sedang mencoba mengikutinya dari belakang. Itu adalah suruhan dari Luke, anak buah miliknya telah ia kerahkan untuk menghabisi Jo, Jo tak tinggal diam. Ia menambah kecepatan mobilnya, mobil yang di tumpangi Jo di tembakki.
Jo harus menghindar, sebab ia tak memiliki senjata untuk memberikan perlawanan, dua motor yang semula jauh kini mendekat. mencoba memainkan kecepatan mobil yang digunakan Jo, merasa ada yang tak beres dengan mobil tersebut. Membuat Jo mati-matian berusaha bertahan.
Jo pun berusaha, untuk menabrak kedua motor yang berada berbeda sisi darinya, satu motor terjatuh. Dan satunya lagi masih bisa menghindar. Sedangkan di belakang, mobil lain masih terus menembakki ban mobilnya.
Jo memikirkan cara, bagaimana ia bisa lolos dari perangkap sialan milik Luke, menambah kecepatan mobil dan memainkan tempo mobil hanya itu yang bisa dilakukan Jo. Motor yang bermain-main dengan mobil yang ditumpangi Jo pun akhirnya lumpuh juga. Kini tersisa dua mobil, Jo masih terus berusaha. Lokasi yang jauh membuatnya kesulitan, mereka berusaha menghalau rencana dari Jo.
Disisi lain Mark sedang berusaha melumpuhkan bom yang ada di perusahaannya, ketika itu seorang anak buah dari Jo ingin bersantai sejenak di rooftop perusahaan. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang menurutnya terasa aneh, itu adalah sebuah bom peledak super yang mampu meruntuhkan perusahaan cabang J.Cor, berutungnya Mark sangat tanggap, ia meminta untuk semua para pegawai dan wartawan yang masih tersisa untuk segera meninggalkan gedung mereka.
Kehebohan pun terjadi, Hwang yang kala itu sedang mematai kondisi kericuhan yang terjadi. Membuatnya memilih ikut turun tangan, Hwang adalah salah satu anggota pasukan khsusus yang memiliki banyak kelebihan. Dia pun dengan cepat menjelaskan kepada para bawahan Jo yang sedang bertugas bagaimana cara menjinakkan bom yang memiliki ledakan besar tersebut.
Mark melupakan ponsel di meja ruang kerjanya, puluhan pesan dan panggilan dari Jo terlihat dilayar ponselnya. Namun Mark tak tahu, ia sendiri masih sibuk berjuang untuk melumpuhkan Bom yang terpasang. Berkat pengajaran dari Hwang, Mark dan lainnya dapat mengatasi masalah tersebut. Mark pun menghubungi polisi setempat, sebelum itu Mark ingin bertemu dengan Hwang. Akan tetapi Hwang telah pergi meninggalkan perusahaan.
Jo masih terus berjuang, dia berhasil melumpuhkan satu mobil dan satu mobil lainnya masih terus mengejarnya. Mereka mengeluarkan senapan khusus untuk menembaki Jo, namun berhasil di hindar oleh Jo. Anak buah suruhan Luke tak berhenti sampai disana. Mereka masih terus mengejar, sampai dimana mobil tersebut kini sejajar dengan mobil yang dikemudikan oleh Jo.
Kaca mobil penjahat pun diturunkan, lalu mengeluarkan senjata untuk menembak Jo, saat ingin menembak Jo. Seseorang melepaskan tembakan dari kejauhan. Senjata tersebut pun jatuh dari tangannya. Jo yang melihat situasi tersebut lalu memanfaatkan keadaan dengan menghantam bagian mobil dari sisi kiri mobil. Mobil tersebut keluar dari jalan dan menabrak pohon.
Jo kembali melihat ke arah belakang, motor tersebut pun melaju disamping Jo, ia pun mengangkat helmnya. Itu adalah Hwang, Jo senang saat Hwang datang dengan cepat membantunya, mengetahui kekacuan yang terjadi membuat Hwang langsung bergerak. Beruntungnya ia bisa melacak keberadaan Jo dimana lokasi Jo sudah mendekat dengan kota. Hwang pun menambah kecepatan untuk meninggalkan Jo, karena tugasnya selesai.
Jo mengenali Hwang, begitu juga dengan Hwang. Sebenarnya Hwang bekerja pada Jo bukan untuk Haechan. Jo lah yang lebih dulu menemui Hwang, ketika Hwang dalam keadaan lapar dan tak memiliki uang sepeserpun. Melihat kondisi Hwang yang begitu memprihatinkan membuat Jo menjadi ibah lalu mengajaknya untuk makan.
Dari situlah mereka saling mengenal, mereka pertama kali bertemu saat Jo dan Mark baru saja tiba di kota seoul. Penilaian Jo terbaik, Jo mencari tahu menggunakan koneksi yang ia punya ketika melihat Hwang.
Jo dengan cepat mengetahui identitas Hwang, dimana Hwang merupakan pasukan khusus yang tak diperdulikan oleh organisasinya. Sebab memiliki masalah internal, percintaan bodohnya membuat ia harus terpaksa dikeluarkan dari sana. Karena berani menjalin hubungan asmara dengan ketua timnya. Sedangkan sang ketua merupakan anak petinggi Jenderal pasukan khusus.
Jo pun memberikan penawaran yang sangat menggiurkan kepada Hwang, akan tetapi Hwang tak memberikan jawaban. Jo pun meninggalkan kartu nama, jika sewaktu-waktu Hwang menjadi berubah pikiran. Tak hanya itu, Jo bahkan meninggalkan uang agar Hwang bisa membeli makanan.
Hwang menggunakan uang tersebut untuk ke warnet umum dia juga ingin mencari tahu sosok Jo. Namun sayang, ia tak menemukan sama sekali jawaban yang ia inginkan. Akhirnya dia pun meyerah, lalu ketika sedang sibuk. Hwang tanpa sengaja mendengar seseorang yang melakukan panggilan suara, dia melaporkan kepada seseorang melalui tindakan mata-matanya. Membuat Hwang menjadi tergiur. Lalu memutuskan mengikuti jejaknya. Tak menunggu waktu yang lama, Hwang membuka jasanya. Dan saaat itu Haechan sedang sibuk mencari jasa mata-mata di seoul dan langsung ia menghubungi Hwang.
Awal mula yang menarik untuk mereka, setelah mendapatkan informasi dari Haechan, Hwang pun tersadar ketika melihat infomasi yang diberikan. Orang itu adalah Jo dan Mark, ia pun mencari tahu tentang sosok Jo lewat Haechan. Namun Haechan enggan untuk membuka identitas Ayahnya, yang ia perintahkan hanya Hwang harus melaporkan semua kegiatan Mark dan Jo. Hwang pun menerima.
Setelah itu, Hwang pergi menemui Jo. Ia memperlihatkan semuanya kepada Jo, bagaimana Haechan dan juga alasan gemasnya meminta Hwang memantau Daddy dan Kakaknya. Jo pun menwarkan pekerjaan itu kepada Hwang dengan tawaran akan membersihkan namanya dari media yang menjelakkan kehidupannya. Merasa ada bantuan Hwang pun mengiyakan semua perintah dari Jo.
Laporan-laporan yang diberikan Hwang, sebenanrnya merupakan laporan dari Jo kepada Hwang. Ia sengaja berbagi kegiatan informasi kepada Hwang alu Hwang meneruskan kepada Haechan. Haechan memaang terlampau rindu dengan ayah dan juga kakanya. Bahkan sesekali, Haechan mengeluh kepada Hwang. Jo seperti memberikan penjaga kepada Haechan. Selain itu, Jo juga melihat potensi yang dimiliki Hwang. Membuatnya semakin yakin untuk merekrut Hwang di masa mendatang.
Hwang memang bekerja untuk keluarga Jo, namun ia bekerja secara terpisah. Dia tak ingin bekerja bersama dengan orang-orang lain yang ia tak tahu kemampuan mereka. Dan ia juga cukup berhati-hati sebab tak ingin mengulang kesalahan untuk kedua kali ketika bekerja dengan tim.
Jo melaju dan tanpa sadar, mobilnya kehabisan minyak rem. Membuatnya sulit untuk mengentikan laju mobil miliknya. Ia berusaha mencari cara, namun belum sempat berpikir. Sebuah Mobil yang berisi keluarga kecil membuatnya menjadi kaget, Jo memilih menghantam badan jalan dari pada membiarkan keluarga kecil tersebut terluka. Sebab ia mengingat istri dan kedua anaknya di masa lalu. Jo, Jaehyun, Mark dan Haechan sering berpergian menggunakan mobil klasik, hal tersebut menjadikannya memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Mobil pun terbalik, tangki penampungan bensin pun tertumpah. dan membuat mobil menjadi meledak. Ledakan tersebut membuat Hwang kembali dengan kecepatan penuh. Letak kondisi kecelakaan Jo, berdekatan dengan tempat pemadam kebakaran. dengan cepat bantuan pun berdatangan. Hwang mengantarkan Tuannya untuk segera mendapatkan bantuan.
Dia lebih memilih mengurus Jo, sebelum mengabari Haechan. Kondisi Jo sangat parh, luka bakar dengan tingkat parah di alaminya. Dia memang diberikan perawatn khusus, bahkan dokter pun sudah memberi penjelasan tentang kemungkinan buruk lainnya. Mendengar itu, membuat Hwang segera menghubungi Haechan.
“Papi, Daddy pi, Daddy..” keluh Mark yang sudah kehabisan tenaga, Haechan pun memanggil dokter untuk menolong kakaknya.
Dokter memberikan dosis penenang kepada Mark agar ia bisa kembali beritirahat, setelah itu dokter pergi. Dan tersisa hanya Haechan dan Jaehyun.
“Papi..” tutur Haechan.
Haechan akui dunianya benar-benar runtuh, kepergian Jo membuat sebagian jiwa darinya Hilang, Jo selama ini mengajari banyak hal kepada Haechan meski mereka tak serumah. Haechan selalu mencari cara agar bisa mengobrol dengan Ayahnya, hari ini Haechan menumpahkan kesedihannya kepada Jaehyun, Jaehyun hanya bisa memeluk putra bungsunya. Sebab dirinya sendiri tak mampu untuk kembali menangis, air matanya telah kering menangisi kepergian suami yang ia cintai.
“Papi, daddy janji sama adek. Kalau adek wisuda nanti Daddy sama kakak bakalan balik secepatnya. Tapi dad- dad- daddy jahat nggak nepatin janjinya Papi..” ucap Haechan berlinang air mata.
Jaehyun hanya bisa memeluk putranya, ia mengerti Haechan benar-benar rapuh, Haechan kecilnya tak pernah mampu untuk bisa berdiri sendiri di kakinya tanpa bantuan darinya ataupun Johnny suaminya.
“Adek yang kuat, papi minta maaf. Karna Papi keluarga kita jadi pisah dan Daddy jadi ninggalin kita selama-lamanya..” balas Jaehyun.
Hari ketiga dimana Jo tengah di rawat seluruh fungsi oragan tubuhnya melemah. Luka yang dalam akibat pertarungan, dan belum lagi ia harus hidup dengan satu ginjal. Kecelakaan yang parah membuatnya sulit untuk bertahan.
Jaehyun tak pernah mau meninggalkan suaminya pada detik-detik kepergian Jo, Jaehyun bahkan menangis sejadi-jadinya ketika dokter menyatakan bahwa Jo telah pergi selama-lamanya. Jo mengalami serangan jantung, membuatnya harus pergi meninggalkan dunia ini.
Jaehyun rapuh serapuh-rapuhnya, setiap hari ia menangis sambil memeluk foto Jo. Ia menangisi kepergian Jo, seandainya dia berhasil membujuk Mark untuk tidak membuka cabang perusahaan di kota seoul, suaminya mungkin tak akan mengalami nasib tragis seperti ini.
Jaehyun setiap hari menangis, ia bahkan tak ingin makan. Jaehyun bahkan tak perduli dengan kesehatannya sendiri. Haechan pun kebingungan, ia tidak tahu harus seperti apa. Dia juga sama kehilangan sosok Jo dalam kehidupan mereka, akan tetapi Mark juga sedang dalam kondisi tak baik-baik saja.
Hwang lah yang memberikan penguatan kepada Haechan, semula Haechan yang bersedih pun kembali bangkit. Ketika memperlihatkan bukti-bukti kepada Haechan tentang cara Jo bekerja membantunya selama ini. Dan ulah musuh yang mengganggu keluarganya. Rapat dadakan pun terjadi, Haechan menyatakan diri untuk mengambil alih perusahaan sementara di karenakan sang kakak mengalami masalah kesehatan.
Haechan tentunya juga memiliki kepintaran, alasan lain mengapa Haechan memilih masuk ke dunia musik. sebab Jo sangat mencintai musik, setiap kali ia berkunjung ke rumah Jo yang tak jauh dari tempat tinggal mereka, ia akan mendengar semua koleksi ayahnya. Itu sebabnya dia memilih untuk masuk sekolah musik, walau awalnya sempat menjadi kontra dengan Jaehyun.
Jo pun memberikan pemahaman kepada Jaehyun, semula Jaehyun merasa kesal. Namun karena bujuk rayu suaminya, ia pun memilih untuk mengikuti keinginan putranya. Walau begitu, Haechan tetap kuliah di jurusan bisnis sebagaimana yang dinginkan Jaehyun.
Haechan berkuliah di dua tempat, dia pun tak keberatan menjalankan semuanya, sebab alasannya memang hanya untuk orang tuanya. Mengadakan rapat dan tentunya mengeluarkan semua keahliannya membuat perusahaan kembali stabil. Sempat mengalami masalah, karena berita beredar membuat Haechan tak tinggal diam.
Haechan memanfaatkan keadaan, dengan menjatuhkan Luke serta perusahaannya yang mengganggu keluarga Haechan. Haechan mencari informasi latar belakang keluarga Luke. Dimana ia mendapati bahwa ibunyalah wanita penyebab kehancuran keluarga Haechan di masa lalu.
Hal ini menambah rasa amarah di dalam diri Haechan, dengan sekali pukulan Haechan membuat kehancuran di Perusahaan Luke. Luke yang tak terima mendatangi Haechan. Haechan memang sengaja untuk membuat Luke jatuh ke dalam perangkapnya. Luke datang sendirian, sebab ia telah kehilangan semuanya. Dia bahkan menyuruh Hwang menembak Luke dari kejauhan bila Luke mendekatinya. Dan benar saja, Kaki Luke tertembak.
Luke yang kesal lalu menghina keluarga Haechan, Haechan yang semula baik-baik saja, tak bisa mngontrol rasa emosi di dalam dirinya. Ia pun memukul Luke secara membabi buta, dia menyerang Luke tanpa ampun. Sampai Luke sendiri yang membuat timah panas menembus ke kepalanya. Sebab ialah dalang di balik kematian Jo dan hampir membuat Mark kakanya celaka. Tak ada rasa belas ampun dari Haechan, setelah menmbaki kepalanya berulang kali, ia pun langsung membakar jasad Luke yang penuh lumuran darah.
“Papi, kenapa Daddy ninggalin kita. Bahkan disaat hari kematiannya, Daddy nggak bisa jelasin ke kakak, kalo Daddy adalah Daddy kita.Kenapa pi..” ucap Haechan.
“Maafin papi, papi nggak bisa ngembaliin Daddy kalian..” balas Jaehyun yang memeluk Haechan yang sedang keletihan akibat menangis.
Jaehyun hanya bisa memeluk Haechan, ia pun sama belum mampu menerima kepergian Jo dari mereka.
“Mas, jika memang ini akhir dari segalanya. Aku terima, meski ini sulit dan sakit. Bantu aku jaga anak-anak kita dari atas sana..” gumam Jaehyun di dalam hati.