Periksa Kandungan
Doni melajukan mobilnya menuju ke rumah Jean, untuk menjemput Jean dan anak mereka.
Saat ini suasana hati Doni begitu sangat bahagia, akhirnya salah satu keinginannya terwujud. Yaitu memiliki anak dengan orang yang dia sayangi.
Jean adalah seseorang yang ia cintai dan sayangi saat ini, awalnya Doni pikir itu hanya perasaan yang kebetulan lewat saja.
Tetapi saat Jean meninggalkan dirinya dan kembali ke rumah, dia merasakan ada kekosongan yang tak biasa ia rasakan.
Doni bahkan menjadi uring-uringan di dalam Apartment miliknya setiap hari, dia sering membuka pintu kamar miliknya dan berharap Jean ada di dalam.
Doni juga kadang duduk di ruang televisi sambil memainkan remot televisi, dengan harapan semoga Jean tiba-tiba muncul di hadapannya.
Entah hal apa yang telah dilakukan oleh Jean, membuat Doni begitu sangat merindukannya.
Doni bahkan tidak pernah mengalami hal ini, saat Tara pergi meninggalkannya. Dia biasa saja, dan tidak terlalu perduli. Tetapi ini sedikit berbeda dengan Jean.
Mobil kini sudah berada di halaman depan rumah, Jean sejak tadi sudah berdiri di depan rumah menunggu kedatangan Doni.
Jean juga mengikuti perintah dari Doni, saat ini dia menggunakan Sweater besar miliknya berwarna hitam, serta menggunakan baju kaos di dalamnya, dan memakai celana jeans biru muda dan juga sepatu putih.
Doni memberikan kode dengan membunyikan klakson mobil, agar Jean segera masuk ke dalam mobil.
Jean yang sadar dengan kedatangan Doni itu, kemudian buru-buru berjalan mendekati mobil, dia langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Saat di dalam mobil Jean menggosok-gosok telapak tangannya, karena dia merasakan kedinginan. Cuaca hari ini sedikit mendung dan udara sangat dingin.
Doni yang melihat Jean kedinginan itu. Lalu menarik tangan Jean dan meniup-niup tangan Jean agar tangan itu merasakan kehangatan.
Jean hanya menatap perlakuan yang diberikan Doni untuknya, lagi-lagi debaran jantung ia rasakan.
“Mas... ucap Jean sambil menatap Doni.
“hmm, kamu udah gak kedinginan lagi ?” tanya Doni yang kemudian balik menatap Jean.
“iya, udah gak...” jawab Jean.
“Maaf, aku buat kalian lama menunggu...” ucap Doni.
“gak Mas, ayo kita pergi...” balas Jean.
“iya...” sambung Doni.
Sebelum menginjakkan pedal gas mobil miliknya, Doni memperbaiki posisi kursi mobil yang Jean duduki.
Agar Jean bisa merasakan duduk dengan nyaman, tak lupa dia juga memasangkan seat belt untuk jean.
Doni juga merapikan topi sweater milik Jean yang dia kenakan itu, dengan cara mengikat sedikit tali sweater agar Jean tidak merasakan kedinginan.
Setelah dia rasa cukup, dia lalu bergegas menginjak pedal gas mobil. Kini mobil itu telah melaju meninggalkan pekarangan rumah.
[Di Rumah Sakit]
Doni saat ini berjalan menggandeng tangan Jean dengan erat, menuju ke bagian Ruang Pemeriksaan Kandungan. Sebelumnya dia telah mendaftarkan Jean terlebih dahulu.
Jean sendiri hanya bisa mengikuti Doni dari belakang, saat ini perasaannya campur aduk.
Antara senang dan takut, Jean senang karena Doni mau bertanggung jawab dengan kehamilannya, tetapi dia juga takut kalau Yuda mengetahui ini semua.
Saat ini mereka berdua sedang duduk sambil menunggu panggilan nomor antrian mereka, Jean dari tadi gelisah bulir-bulir keringat membahasi dahinya.
Doni yang menyadari hal itu, kemudian mengusap keringat yang keluar dari dahi Jean. Ia juga mengelus punggung Jean dan menggenggam tangan Jean dengan erat.
“Jangan takut, Aku ada disini bersama kalian...” ucap Doni.
“Iya Mas, Aku tau...” balas Jean sambil menyandarkan tubuhnya pada pundak Doni.
Hari ini banyak orang yang mengunjungi rumah sakit, melihat banyaknya pasangan yang menunggu antrian nomor mereka. Membuat Jean semakin deg-degan.
Tak lama kemudian, seorang petugas memanggil Jean untuk masuk ke dalam. Doni dan Jean kemudian berdiri dari bangku yang mereka duduki itu, untuk masuk ke dalam ruangan.
“Selamat siang Pak...” ucap Dokter.
“Siang Dok...” balas Doni.
“Mari silahkan duduk...” ucap Dokter yang menyambut mereka dengan ramah.
Doni dan Jean kemudian duduk di kursi, saat ini mereka sedang saling berhadapan dengan dokter tersebut.
“Ada yang bisa saya bantu...” ucap Dokter.
“Begini dok, saya kemarin melakukan testpack dan hasilnya positif dok. Saya ingin tau apa benar saya hamil...” balas Jean.
“Baik, kalau begitu kita periksa dulu sebentar. silahkan berbaring di atas tempat tidur...” ucap Dokter.
Salah satu perawat yang menemani dokter bekerja di dalam ruangan, membantu Jean untuk berbaring di tempat tidur.
Perawat tersebut membantu Jean dengan mengangkat bajunya sedikit ke atas, agar bisa di periksa oleh Dokter. Perawat itu juga tidak lupa menutupi setengah bagian bawah Jean dengan selimut.
Dokter mulai menarik kursi duduknya untuk ia pakai duduk, setelah itu Dokter mengambil gel yang akan dia berikan diatas perut Jean.
Doni saat ini berdiri di samping Jean, dan menggenggam tangan Jean dengan erat. Dokter juga sedang fokus melihat di layar monitor USG agar bisa mengetahui apa benar Jean ini sedang hamil.
“Kalian bisa lihat di layar monitor, itu ada kantung kecil, disitu ada bayi kalian..” ucap dokter sambil menggerakan alat usg.
“Mas, lihat ada anak kita...” ucap Jean dengan semangat.
“Iya sayang, halo adek. selamat datang...” balas Doni.
Doni dan Jean tak bisa membendung rasa haru yang keluar dari diri mereka, Doni dan Jean bahkan tak sadar mereka berdua sama-sama meneteskan sedikit air mata.
Doni dan Jean memang sama-sama menginginkan anak, mereka berdua memiliki satu kesamaan yaitu menyukai anak-anak. Makanya tidak heran jika mereka bisa sangat bahagia seperti itu.
Setelah Dokter selesai memeriksa, kini Jean turun dari tempat tidur. Di bantu oleh Doni. Dokter kemudian menyuruh mereka untuk duduk kembali.
“Pak tolong lebih sering di perhatikan istrinya, saat ini usia kehamilannya masih dua minggu. jadi sangat rentan sekali untuk keguguran, jangan sampai dia stress. jangan biarkan dia terlalu banyak bekerja di rumah, saya akan memberikan resep obat untuk minum di rumah...” ucap Dokter.
“Baik dok, saya mengerti...” balas Doni.
“Dok, boleh saya bertanya...” ucap Jean.
“iya silahkan...” balas dokter.
“Dulu ketika waktu saya kuliah, saya pernah pergi memeriksakan kandungan saya. waktu itu saya di diagnosa akan sulit memiliki keturunan, bagaimana itu dok ?” tanya Jean.
“Memang benar, saat saya periksa tadi, saya bisa melihat bahwa anda sedikit sulit untuk mendapatkan keturunan. Tapi perlu anda ketahui semua itu terjadi karena berbagai macam faktor, entah dari anda atau pasangan anda sendiri. Kemudian dari cara pola hidup anda dan pasangan, dan yang terakhir karena memang kalian tidak bisa saling membuahi. Ada beberapa kasus, dimana ada pasangan yang memang sangat sulit untuk memiliki anak, tetapi setelah mereka berpisah dan memiliki pasangan lain. Mereka bisa memiliki keturunan....” jawab dokter yang memberikan penjelasan.
“Saya mengerti dok...” sambung Jean.
“Nanti, jangan lupa kembali lagi. anda harus sering melakukan kontrol..” ucap Dokter.
“Baik dokter...” balas Doni.
Doni dan Jean kemudian keluar dari ruangan tersebut, saat ini mereka menuju ke tempat Apotik untuk menebus resep obat yang diberikan.
“Jean, kamu tunggu disini ya. Aku ke depan dulu buat beli obat untuk kalian...” ucap Doni.
“iya Mas...” balas Jean.
Sebelum Doni pergi dia membantu Jean untuk duduk di kursi terlebih dahulu, agar Jean tidak kelelahan menunggunya. Setelah itu dia pergi meninggalkan Jean sebentar.
Saat menunggu Doni, Jean melihat sosok yang tidak asing sedang berjalan menggendong seorang anak kecil, dan menggandeng tangan seseorang.
Jean lalu berdiri dan berjalan mengikuti mereka secara diam-diam dari kejauhan. Dia melihat saat ini mereka sedang masuk di Ruangan Dokter anak. Jean kemudian memutuskan untuk menunggu sebentar.
Tak lama kemudian, mereka bertiga keluar dari ruangan tersebut. Jean kaget melihat sosok yang ia kenali itu, dia hanya bisa diam dan menguping pembicaraan mereka.
“Seana udah denger kan apa kata dokter, gak boleh banyak makan es krim ya nak...” ucap Yuda
“iya Papa...” balas Seana
“Mas, kamu sih manjain anak gitu banget. aku kan udah bilang jangan keseringan ngasih dia es krim...” ucap Wira.
“Sayang, aku gak tega lihat anak kita nangis. Kamu kan tau aku gak bisa...” balas Yuda.
“Kamu kalau masih suka manjain anak, aku gak mau kabulin keinginan kamu. buat Seana punya adik lagi...” sambung Wira.
“Jangan sayang, Seana kan udah gede. dia pasti butuh teman main...” ucap Yuda sambil merangkul tubuh Wira.
Jean benar-benar tidak percaya mendengar itu semua, dia kemudian berjalan meninggalkan mereka.
Doni yang dari tadi mencari keberadaan Jean di buat kaget saat melihat dia sedang berjalan menunduk...
“Jean, kamu dari mana. Aku nyariin kamu dari tadi...” ucap Doni yang merasa khawatir.
“Mas, bawa aku tinggal di Apart kamu. Bawa aku pergi jauh dari Yuda. Aku gak mau hidup sama dia lagi, Aku mau tinggal sama kamu dan anak kita...” balas Jean yang menahan rasa sesak di dada.
Tanpa menunggu lama, Doni merangkul Jean lalu membawanya keluar dari rumah sakit. Menuju tempat parkir mobil, agar mereka segera pulang ke Apartment Doni.
Di dalam perjalanan pun, Jean hanya diam. Doni gelisah dan bingung melihat Jean, dia hanya bisa menggenggam tangan Jean agar dia bisa merasakan ketenangan.
Mereka kini sudah sampai di Apartment milik Doni, Jean berjalan masuk ke dalam kamar pelan-pelan. Dia lalu berbaring dan diam.
Doni tak tinggal diam, dia kemudian masuk ke dalam kamar mengikuti Jean, dia takut terjadi apa-apa dengan Jean.
“Jean, kamu kenapa ?” ucap Doni.
Jean berusaha menarik nafas dalam-dalam kemudian membalikan badannya dan menatap ke arah Doni. Jean berusaha bangkit untuk duduk kembali.
“Mas...” ucap Jean.
“Kenapa Jean, ada apa ?” balas Doni.
“Mas yuda, Mas- Mas- yuda. hiks, hiks., dia bohongin Ak- Aku selama ini. Aku tadi lihat dia sama selingkuhan dan anaknya di rumah sakit Mas., hiks sak- sakit hat- hati aku mm- Mas.. Aku gak masalah kalau mau di ceraikan, tap- tapi Ak- hiks, gak- mm- u, mau di bohongin. Aku gak bisa Mas...” suara isakan tangis keluar dari mulut Jean.
“Jean...” sambung Doni yang langung memeluk Jean dengan erat.
“Mas, bawa aku pergi. Aku gak mau sama dia lagi. hiks- bawa aku dan anak kita pergi...” ucap Jean yang masih menangis itu.
“iya, Aku bakalan bawa kalian pergi. hanya ada kita., udah ya berhenti nangisnya. nanti Adeknya juga sedih..” balas Doni yang sedang membujuk Jean agar berhenti menangis.
Jean menangis karena merasa di khianati selama ini oleh Yuda, selama ini Yuda telah menduakan dirinya.
Dia baru sadar ternyata alasan Yuda berubah karena Yuda memiliki orang lain.
Kini Jean sudah berhenti menangis, mereka berdua saat ini sedang berbaring di tempat tidur. Posisi Doni sedikit lebih tinggi dari pada Jean.
“Mas...” ucap Jean.
“Kenapa Jean...” balas Doni.
“Aku bodoh banget, selama ini gak pernah cari tau tentang dia...” sambung Jean.
“Kamu gak bodoh, memang dia aja yang brengsek. Sebenarnya aku pernah melihat mereka di Mall sekali, itu juga karena kebetulan. Aku minta maaf Jean karena gak bisa ngasih tau kamu, aku gak punya hak untuk itu...” ucap Doni.
“Kamu gak perlu minta maaf Mas, tanpa perlu kamu kasih tau, aku juga udah tau sendiri...” balas Jean.
“Kamu jangan sedih lagi Jean, aku gak bisa lihat kamu sedih...” sambung Doni.
“iya, aku gak sedih lagi...” ucap Jean.
Doni kemudian mengelus lembut perut Jean, saat di rumah sakit dia sangat ingin memegang perut itu. Doni ingin menyentuh anaknya.
“Adek lagi apa...” ucap Doni yang berbicara dengan perut Jean.
“Lagi lihatin Daddy sama Papi...” balas Jean.
“Adek, kalau Papi sedih lagi marahin aja Papinya. biar berhenti sedihnya...” ucap Doni.
“Iya, Daddy...” balas Jean.
“Adek nanti jangan nyusahin Papi ya nak, kalau mau apa-apa kasih tau aja ke Daddy. Tumbuh dengan sehat kesayangan Daddy sama Papi, biar kita semua cepat kumpul bersama...” ucap Doni yang kemudian mencium perut milik Jean yang masih rata itu.
Jean hanya bisa tersenyum melihat tingkah Doni yang sedang berbicara dengan anak mereka itu.
Jean bersyukur meski hatinya sedang di patahkan saat ini, tetapi Tuhan masih baik dengan dirinya. Menghadirkan Doni di sampingnya.
“Jean...” ucap Doni.
“iya Mas...” balas Jean.
“Apapun yang terjadi, kita harus tetap bersama. Aku gak mau jauh dari kalian berdua. Aku sayang dan cinta kalian berdua. Kalian adalah rumah yang selama ini aku cari...” sambung Doni.
“Mas, makasih juga udah mau jadi rumah untuk aku dan anak kita...” ucap Jean yang menetaskan air mata.
“Kamu jangan nangis, Aku sayang sama kamu...” balas Doni sambil menghapus air mata milik Jean.
“Aku juga Mas sayang sama kamu...” sambung Jean.
Doni kemudian mencium kening Jean dan bibir Jean dengan lembut. Ciuman itu penuh dengan makna, dia ingin memberitahukan kepada Jean. Bahwa dia ingin bersama selalu dengan mereka berdua.
Jean memeluk tubuh Doni dengan erat, sebagai bentuk ungkapan bahwa dia juga sama, tidak ingin kehilangan Doni.
Mereka memutuskan untuk tinggal bersama dan membesarkan anak mereka. Pertemuan tak sengaja antara Jean dan Yuda, bisa mengantarkan Jean untuk datang ke arah Doni dengan mudah.
Doni sangat bahagia, kini impian yang dia pikir hanya angan belaka dahulu, saat ini menjadi nyata. Jean dan anak mereka adalah orang yang dicintai Doni.