Pelukan


Hari ini Doni menghabiskan waktu setengah hari di kantor. Dia memilih pulang ke rumah setelah mendapatkan balasan pesan singkat yang menyakitkan dari Tara.

Doni buru-buru menginjakkan pedal gas mobilnya saat ini, dia ingin sampai di Apartment miliknya dan melihat Jean. Menurutnya hanya Jean yang bisa mengobati rasa pilu di hatinya.

Tak membutuhkan waktu lama, kini Doni sudah berada di depan pintu Apartment miliknya, sebelum dia menekan bel. Pintu apartment itu tiba-tiba terbuka.

Seperti memiliki ikatan batin, ternyata Jean yang membuka pintu itu. Doni yang melihat Jean saat ini berdiri di hadapannya langsung memeluk Jean.

“Mas, kamu kenapa ?” ucap Jean yang merasa bingung itu.

“Ak- ak- ak- ..” balas Doni yang tak bisa melanjutkan ucapannya.

Jean kemudian menarik Doni masuk ke dalam Apartment dan menutup pintu kembali, dia tau bahwa Doni saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ada rasa takut serta khawatir yang di rasakan Jean pada Doni saat ini.


Jean menuntun Doni untuk ke kamar, karena dia yakin. Hal yang pertama Doni inginkan adalah istirahat. Saat ini Doni sudah berbaring di tempat tidur, dia hanya diam dan memejamkan matanya.

Jean masih bingung melihat sikap Doni yang tak ingin berbicara saat ini, dia berpikir Doni hanya ingin istirahat saja.

Jean lalu berdiri, untuk pergi meninggalkan Doni agar bisa berada sendirian di dalam kamar. Tetapi sebelum pergi, tangan itu sudah di pegang erat oleh Doni.

“Jangan pergi, jangan tinggalin aku...” ucap Doni.

“Kamu kenapa Mas, bilang sama aku. ada apa...” balas Jean.

Jean kemudian duduk kembali di samping Doni, sungguh saat ini Jean begitu gelisah melihat sikap Doni.

Jean bahkan mengusap lembut punggung Doni, agar Doni bisa merasakan ketenangan.


“Aku lelah dengan sikap Tara...” satu ungkapan kesedihan keluar dari mulut Doni.

“Kenapa dengan dia ?” tanya Jean.

“Dia lebih memilih pekerjaannya, di banding denganku. Aku sudah coba bersabar selama ini mengikuti semua keinginannya. Aku berusaha mengerti keadaannya, tapi saat aku meminta dia untuk berhenti bekerja, dan diam dirumah saja untuk menungguku pulang dari tempat kerja dia tidak ingin Jean. Aku bahkan bilang ke Dia kalau dia tidak perlu pikirkan tentang membereskan rumah, biar aku saja yang akan mengurusnya. Yang aku inginkan hanya melihat dia saja menyambutku dengan hangat sepulang kerja. Apa itu terkesan egois Jean...” jawab Doni.

“Kamu dan Tara tidak ada yang salah dan tidak ada juga yang benar, Kamu ingin dia seperti itu, tetapi dia tidak bisa mengikuti keinginanmu. Tara juga sebaliknya. Disini kalian sama-sama terlihat egois, jika masih seperti ini, kalian tidak akan pernah bisa menemukan jalan keluar dari masalah kalian...” ucap Jean.


Doni menetaskan air matanya, sungguh bukan hal seperti ini yang dia inginkan dalam kehidupan rumah tangganya.

Doni sangat mencintai Tara, yang dia inginkanlah adalah membangun rumah tangga bahagia seperti yang dia idamkan selama ini bersama dengan orang yang dicintainya.

Doni benar-benar menghargai arti kehadiran seseorang dalam hidupnya. Andai saja Tara mau menurunkan keegoisannya sedikit saja. Mungkin Doni akan menjadi lelaki yang beruntung di Dunia ini.

Doni bahkan sudah menyiapkan beberapa hal, jika Tara ingin berada di rumah. Diam-diam Doni sudah membeli sebuah Toko besar untuk dia berikan kepada Tara, agar Tara masih bisa bekerja dan menunggunya di rumah.

Tetapi semua itu terasa seperti sia-sia. Karena Tara lebih memilih Perusahaan di bandingkan berada di rumah dan menyambut Doni pulang kerja dengan kehangatan.

Doni bahkan sudah menyiapkan tabungan masa depan anak-anaknya, selama ini dia mengambil banyak pekerjaan untuk mendapatkan uang lebih banyak. Apapun Doni akan lakukan asalkan keluarganya bisa hidup serba kecukupan dan bahagia.

Lagi dan lagi semua itu hanya bayangan semu untuk Doni, saat mengetahui bahwa Tara ingin menunda memiliki anak dengannya karena sebuah karir besar yang diinginkan Tara.

Doni hanya bisa menerima keputusan sepihak itu, walau hatinya merasakan sakit akibat keputusan yang dia buat sendiri.


Bagaimana dengan Jean, tentunya Jean merasakan kesedihan mendalam melihat kondisi Doni saat ini.

Dia bisa merasakan dengan baik, apa yang Doni rasakan. Dia dan Doni sama, mereka berdua hanya ingin memiliki keluarga yang bahagia dalam sebuah pernikahan.

Jean sendiri sebenarnya orang yang tidak terlalu banyak menuntut pada pasangan, dia bisa memahami pasangannya dengan baik. Asalkan pasangannya itu juga bisa memahami dirinya.

Tetapi semua itu, tidak lagi dia rasakan dari sang suami yaitu Yuda. Dulu Jean berpikir bahwa Yuda adalah orang yang sangat tepat untuknya, ketika mereka berdua masih berpacaran.

Jean ini anak yang hidup sebatang kara, orang tuanya telah tiada saat dia masih kecil. Dia harus berjuang sedari kecil untuk dirinya sendiri. Beruntung dulu dia sempat dirawat di sebuah Panti Asuhan, sehingga dia bisa menjadi sosok yang kuat seperti sekarang.

Saat di Panti Asuhan dia merasa kasihan melihat keadaan anak-anak panti yang membutuhkan kehadiran sosok Orang Tua Asuh. Agar bisa memberikan mereka kasih sayang yang tak bisa mereka rasakan dari orang tua kandung mereka, dari situlah Jean bertekad di dalam hatinya.

Jika dia memiliki anak suatu hari nanti, dia akan memberikan kasih sayang yang tulus dan juga cinta sepanjang hidupnya. Karena Jean tidak ingin hal yang dia rasakan menimpa anak-anaknya di masa depan.

Saat itu Yuda sangat memahami kondisi Jean dengan baik. Yuda selalu menghibur Jean dan menyemangati Jean setiap hari, bahkan Yuda selalu berada disaat kondisi terpuruknya Jean.

Salah satu moment terpuruknya Jean yaitu, dimana dokter mendiagnosa dirinya, kalau dia akan sulit hamil meskipun dia sudah berulang kali berhubungan badan.

Waktu Jean mendengarkan hal itu dunianya seakan-akan runtuh. Jean benar-benar terpuruk, keinginannya untuk memiliki anak setelah menikah adalah sebuah angan-angan belaka.

Jean sendiri bahkan harus menangis setiap hari di kosan miliknya, karena mengetahui kondisi yang di deritanya dari dokter.

Dia selalu berpikir, apa benar dia bisa menikah, jika pada akhirnya hidupnya tidak akan pernah di hiasi oleh kehadiran anak-anak yang akan mewarnai hidupnya.

Yuda yang mengetahui itu semua akhirnya berjanji pada Jean, bahwa jika mereka menikah suatu hari nanti. Dia tidak akan pernah mengeluh bahkan membahas tentang masalah anak dalam hubungan mereka. Yang Yuda inginkan adalah kehadiran Jean dalam hidupnya. Maka dari itu Jean mau menikah dengan Yuda.

Bahkan Jean juga sudah menyiapkan beberapa hal jika memang Tuhan menakdirkan dirinya untuk tidak memiliki anak bersama dengan orang yang dicintainya.

Mungkin dengan cara mengadopsi anak-anak di panti asuhan akan mampu mendatangkan kebahagiaan tersendiri untuk keluarga kecilnya.

Jean juga sudah menyiapkan beberapa hal untuk keluarga kecilnya di masa depan. Nama anak, tempat-tempat apa saja yang harus dia kunjungi bersama keluarga kecilnya, cara menjadi orang tua yang baik untuk anak, dan lain-lain sebagainya.

Doni dan Jean ini sama, mereka hanya ingin memberikan cinta yang tulus untuk orang yang mereka sayangi. Apapun akan mereka lalukan, asalkan mereka bisa hidup bahagia bersama dengan pasangan mereka.


Doni hanya bisa bersedih, melihat sikap yang diberikan Tara untuknya.

Jean sendiri entah kenapa, dia menjadi tidak tega melihat Air mata yang mengalir terus di Pipi Doni.

Doni saat ini sedang menangis tanpa bersuara, hanya ada air mata yang mengalir membasahi Pipinya.

“Jangan nangis Mas...” ucap Jean sambil menghapus air mata yang mengalir di Pipi Doni.

“Aku lelah Jean....” balas Doni.

Jean yang merasakan nyeri di dadanya itu langsung memeluk Doni, sambil mengusap lembut punggung Doni. Sungguh dia sedih melihat kondisi Doni saat ini.

Doni membalas pelukan Jean itu dan menenggelamkan wajahnya pada dada Jean. Mereka berpelukan dengan posisi Jean setengah duduk dan Doni yang berbaring.

“Jangan pergi dariku Jean, cukup Tara saja yang meninggalkanku...” ucap Doni.

“Tenanglah, Aku disini...” balas Jean sambil mengusap pelan punggung Doni.

Jean tidak tega meninggalkan Doni sendirian di dalam kamar, akhirnya dia memutuskan untuk menemani Doni di kamar.

Doni saat ini sudah terlelap akibat terlalu banyak memikirkan Tara dan menangis. Jean kemudian memperbaiki Posisi Doni agar tidur lebih nyaman.

Jean menyelimuti Doni dan juga ikut berbaring di sampingnya. Jean memutuskan untuk berisirahat hari ini di kamar milik Doni.