Pekerjaan
Doni benar-benar tulus dengan Tara, sepulang dari kantor dia beristirahat sebentar.
Setelah itu dia mengemasi barang-barang yang akan di bawa oleh Tara.
Tara sendiri saat ini masih berkutat di kantor, dia belum bisa pulang ke rumah.
Karena harus mempersiapkan beberapa berkas untuk dia dan Tim mereka bawa ke lokasi.
Doni sudah hafal kebiasaan Tara, apa saja yang Tara sukai dan tidak, dia mulai mengambil sebuah koper lalu membukanya.
Doni memasukan beberapa pakaian yang akan Tara gunakan selama seminggu di luar kota, tak lupa dia juga memasukan poch kecil yang berisi perlengkapan mandi dan skincare yang biasa istrinya gunakan.
Doni juga memasukan beberapa obat-obatan untuk Tara bawa agar berjaga-jaga dalam perjalanan.
Setelah selesai mengemasi barang-barang milik istrinya. Doni mulai pergi ke dapur dan menyiapkan beberapa makanan untuk mereka makan malam ini.
Suasana pagi hari dan cahaya matahari menembus kamar sepasang suami istri itu.
Saat ini mereka masih bergulat sambil memeluk satu sama lain dalam keadaan tertidur.
Bunyi alarm membuat salah satu diantara mereka terbangun dari tidur yang nyenyak.
Doni adalah orang yang pertama kali bangun saat ini, sebenarnya ini bukan pertama kali baginya.
Setiap hari dia selalu bangun di pagi hari, kemudian membangunkan sang istri setelah itu membuat sarapan untuk mereka berdua, dan berangkat ke kantor.
“sayang bangun, katanya hari ini mau berangkat ke luar kota...” ucap Doni dengan lembut.
“bentar lagi Mas, masih ngantuk. sepuluh menit lagi...” balas Tara yang masih mengantuk.
Doni kemudian mengecup kening sang istri, setelah itu bergegas membersihkan dirinya dan pergi membuat sarapan untuk mereka berdua.
Sarapan telah siap di atas meja makan, Doni sangat terampil dalam hal memasak.
Banyak hal yang bisa Doni kerjakan, baginya pekerjaan itu bukan suatu kewajiban untuk istrinya.
Menurut Doni mengerjakan pekerjaan rumah seperti, membersihkan rumah, memasak dan mencuci semua orang harus tau.
Bagi dirinya itu adalah basic life skill yang semua orang harus wajib mengetahui hal tersebut.
Tara benar-benar beruntung memiliki pasangan hidup seperti Doni, dia tidak pernah menyusahkan Tara sedikitpun.
Bahkan Doni selalu mencoba memahami pasangannya dengan baik.
“Good morning, Mas...” ucap Tara sambil mencium pipi Doni.
“Morning, sweetheart...” balas Doni yang kembali mengecup singkat bibir Tara.
“Maaf, aku gak bantuin kamu buat sarapan...” ucap Tara yang merasa bersalah.
“udah ah, jangan ngomong gitu. Aku senang buatin kamu makanan...” balas Doni sambil memeluk Tara.
Doni dan Tara memulai untuk melanjutkan memakan sarapan yang di buat Doni, karena sebentar lagi jemputannya akan segera tiba.
Setelah selesai sarapan, Tara lalu bergegas mengambil kopernya. Untuk segera keluar karena dia tau bahwa saat ini seseorang sedang menunggunya.
Doni yang melihat Tara sedang memegangi kopernya, kemudian mengambil koper milik Tara itu. Dan membantunya untuk membawa barang milik Tara tersebut.
Saat ini mobil berukuran sedan dengan merk ternama sudah terparkir rapi di depan halaman milik rumah mereka.
Tara sudah tau, bahwa Bosnya akan menjemput dirinya untuk pergi bersama ke lokasi.
“siapa itu ?” tanya Doni.
“Bos aku...” jawab Tara.
“Kamu pergi sama dia, berdua doang...” ucap Doni.
“Gak Mas sama tim, kebetulan Aku yang memegang berkas untuk Proyek. Terus Bos juga mau lihat materinya, makanya dia suruh Aku buat bareng sama dia...” balas Tara.
“Ya sudah, kalau begitu. kamu hati-hati, ingat sampai disana jangan lupa makan, terus istirahat yang cukup. obat-obat juga udah aku siapin di dalam koper...” ucap Doni.
“Iya sayang, udah yaa aku pergi dulu...” balas Tara sambil memeluk suaminya.
Tara lalu bergegas mendekati mobil milik Bosnya itu, dan memasukan semua barangnya ke dalam bagasi mobil. Setelah itu dia masuk ke dalam mobil.
Mobil itu langsung melaju pergi meninggalkan Doni yang masih melihat kepergian istrinya.
[Di dalam mobil]
Suasana hening saat ini terasa di dalam mobil, tak ada sepata kata apapun yang di keluarkan Tara kepada Bosnya.
Sampai sang Bos mengawali pagi hari mereka dengan membuka percakapan.
“Mau sampai kapan kamu diam terus...” ucap Bos.
“Jangan mulai...” balas Tara yang ketus.
Sang Bos mulai memegangi serta menggenggam tangan milik Tara.
“Aku hanya merindukanmu, apa itu salah..” ucap Bos.
“Mas udah ya, aku pusing. kenapa sih kamu paksa aku buat ikut...” ucap Tara.
“Tara, aku itu kangen sama kamu. salah gitu aku ajak kamu pergi...” balas Bos.
“Salah Mas Dito, aku gak suka di paksa...” sambung Tara.
“Maaf, aku egois. tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku gak tau gimana caranya buat habisin waktu sama kamu. Di kantor kamu hanya sibuk sama pekerjaan...” ucap Dito.
“Aku kan harus profesional Mas, Aku harus bisa membedakan antara pekerjaan dan urusan pribadi. seperti katamu...” balas Tara.
“Sayang, tapi Aku gak suka kamu cuekin aku di kantor..” sambung Dito.
“Makanya Mas juga harus ngertiin aku. Kerjaan aku itu banyak, terus Mas nuntut perhatian dari aku. Gimana aku gak kesel coba...” ucap Tara.
“Iya, aku minta maaf. jangan marah lagi dong sayang...” balas Dito.
Kini Dito mencium tangan milik Tara, sambil menarik tubuh Tara agar bisa di peluknya.
Tara hanya diam, karena kekesalan yang dia rasakan saat ini pada Dito.
“Maaf ya, sayang. lain kali aku gak maksa kamu lagi deh...” ucap Dito.
“iya, Aku maafin kamu...” balas Tara.
“Aku sayang kamu Tara...” ucap Dito.
“Aku juga sayang kamu Mas..” balas Tara sambil memeluk Dito.
Dito sengaja memaksa Tara untuk ikut, agar dia bisa menghabiskan waktu bersama dengan sang kekasih.
Tanpa paksaan sebenarnya Tara bisa saja pergi mengikuti pacarnya itu, tetapi karena kecemburuan Dito pada Doni. Lantas membuat Dito harus sedikit memaksa Tara.
Mobil yang membawa Dito dan Tara kini melaju ke tempat lokasi yang akan mereka datangi selama seminggu.