Pagi Hari
Kekesalan benar-benar dirasakan oleh Jevear, sejak tadi malam dan sampai saat ini membuatnya ingin sekali memberi pelajaran kepada Jordi. Setelah insiden penjemputan secara paksa, yang diarahkan oleh Katy kepada Jordi. Tanpa sepengetahuan dari Jevear, sukses membuat Jevear bertekuk lutut.
Jevear belum sempat mengganti pajama yang ia kenakan, berjalan menuruni anak tangga dengan malas membuat semua orang para pekerja di rumah Jordi menyapanya dengan senyuman.
Tak perduli, Jevear terus berjalan ke ruang makan, dimana keluarga inti Jordi sudah berkumpul. Dari mulai Elisabeth, Jordi, Om, Tante, dan dua orang sepupunya.
“Good morning princess” sapa Elisabeth kepada Jevear.
Wajah yang kesal mendadak berubah menjadi senyuman palsu,
“Good morning Oma” balas Jevear.
“Sini sayang, duduk dulu. Kita sarapan bareng” Ajak Elisabeth kepada Jevear.
Jevear beranjak mendekat, meski kesal ia tetap berusaha sabar. Kursinya bersebalahan dengan Jordan, sebenarnya dia tak mau. Akan tetapi, gerakan dari Jordi membuatnya mau tak mau harus mengikuti perintah Jordi.
Pelayan pun melayani keluarga mereka, sarapan bersama adalah kebiasaan yang dilakukan keluarga Jordi. Neneknya sangat ingin keluarga mereka untuk bisa bertemu di pagi hari, makanya sarapan tak akan pernah terlewatkan oleh mereka.
“Jeve, nanti siang pergi sama oma yuk”
“Mau kemana kita oma?”
“Belanja baju-baju baru untuk kamu, kamu kan nggak punya baju”
“Nggak perlu oma, nanti aku bakalan ambil ke tempat temen aku oma”
“Loh, jangan dong sayang. Kita beli aja, oma tau tempat-tempat yang cocok buat kamu”
“Oma, biarin aja. Biarin dia ambil sendiri bajunya ke tempat temannya, kita jadi bisa hemat nggak perlu ngeluarin banyak uang untuk baju baru dia” celah Jordi.
“Jordi” tegur Elish.
Jevear menggelengkan kepalanya, sedikit tak percaya mendengarkan ucapan dari Jordi.
Jevear sebenarnya gemar sekali berbelanja, namun ia tidak bisa langsung menerima ajakan begitu saja.
Setidaknya menurut Jevear ia harus berpura-pura menolak, dengan begitu nampak tak terlihat keinginannya. Lagipula saat datang ke seoul, ia sama sekali belum berbelanja. Sebab, dia tak memiliki waktu.
“Jeve maafin Jordi sayang”
“Nggakpapa kok oma” Jevear memberikan senyum.
“Ma, yang di ucapin Jordi ada benernya. Kita nggak perlu menghamburkan uang demi beberapa design baju” potong Angelina.
Elisabeth yang semula tengah menikmati hidangan santapan paginya, mendadak berhenti.
“Oma” sapa Jordi
“Oma mendadak kenyang”
“Jordi panggil dokter ya”
“Nggak usah sayang, oma ke kamar aja. Oma butuh istirahat sebentar”
“Jordi anter ya”
“Enggak perlu Jordi, kamu temenin Jeve aja. Oma bisa sama Maid kok”
Elisabeth beranjak dari tempat duduknya, belum sempat melangkah. Jevear mencegat Elisabeth terlebih dahulu.
“Oma, Jeve aja yang nganterin Oma. Jeve udah selesai makannya”
Elisabeth melirik sebentar ke piring makan Jevear, piring yang berisikan omlet ludes di santap dengan nikmat oleh Jevear.
“Yaudah, sini bantu Oma”
Jevear dengan cepat memundurkan kursi, lalu mendekati Elisabeth. Dia dengan segera mengantarkan Elisabeth menuju ke kamarnya. Selain itu, Jevear juga ingin menghindari Jordi.
Melihat kepergian mereka membuat seseorang kembali mendengus.
“Oma masih judes aja sama mama, mau sampai kapan oma gitu terus”
Ucapan dari seseorang membuat Jordi kembali menatap tajam pembuat suara.
“Aku selesai” ucap Jordi setelah itu pergi meninggalkan mereka semua.
Merasa dihina membuat Angelina membanting sendok dan garpu yang ada di tangannya.