Memasak


Doni bergegas keluar dari kamar, dia menuju ke dapur untuk melihat Jean yang saat ini sedang memasak.

Jantung Doni hampir keluar dari dalam tubuhnya, saat Jean mengirimkan sebuah foto padanya kalau ia sedang berkutat memasak di dapur.

Bukan karena Doni lebay, tapi karena Doni sangat khawatir tentang kondisi Jean dan anak mereka.

Apalagi sebelumnya dokter telah memberi tahukan beberapa hal apa saja, yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang hamil.

Doni muncul terlambat, Jean telah selesai memasak karena kecepatan tangan yang dia miliki.

Jean juga sebenarnya memasak makanan yang sangat sederhana, Potato panggang, chicken goreng tanpa banyak minyak dan salad sebagai menu makanan mereka malam ini.


“Sayang...” ucap Doni.

“Duduk Mas, makanannya mau aku bawa ke meja...” balas Jean.

Doni hanya mengikuti saja keinginan Jean, dia tidak ingin sang pujaan hatinya itu merasa kesal ataupun tersinggung.

Dia kemudian duduk di Meja makan berukuran sedang, yang ada di dalam Apartment milik mereka.

Sebelumnya Jean sudah menata piring beserta sendok dan segelas air putih di meja. Dia benar-benar istri idaman, selain cantik ia juga pandai mengurus rumah.

Jean kemudian mengantarkan makanan yang sudah dia buatkan itu, dia meletakan makanannya di atas meja.

Saat sedang berdiri dan sibuk mengatur, Doni langsung menarik tubuh Jean agar duduk di pangkuannya.

“Mas..” ucap Jean.

“biarin aja, aku mau begini...” balas Doni.

Jean hanya bisa pasrah melihat sikap Doni yang saat ini sedang manja dengannya. Doni memeluk tubuh Jean dengan erat, Jean mengelus surai kepala milik Doni.

“Jean...” ucap Doni.

“iya Mas...” balas Jean.

“Tara minta aku buat ceraiin dia...” sambung Doni.

“Kenapa Mas ?” tanya Jean.

“Dia bilang gak mau hidup sama orang konyol ini, dia juga gak mau hidupnya di atur. Dia bilang dia gak suka hidup bareng sama aku...” jawab Doni.

“Siapa bilang kamu itu konyol, Mas dengerin aku. Kamu itu sangat berharga di mataku, kamu itu sempurna. kamu calon Daddy terbaik, kamu penyayang, kamu pengertian, kamu gak egois, kamu penuh kelembutan. hmm apalagi ya, oh kamu pinter masak, kamu bisa bantu ngurus rumah, dan kamu juga jago bikin anak...” ucap Jean tanpa henti.


Doni yang dari tadi menatap Jean sambil tersenyum akibat melihat Jean yang sedang berbicara tanpa jeda itu, langsung mencium singkat bibir Jean.

chup!

Tubuh Jean tiba-tiba mengeras, wajah dan telinganya memerah. Dia sangat malu, memang sih mereka sudah sering berciuman.

Tetapi Jean masih kadang di buat kaget dengan perlakuan Doni kepadanya.

“Mas..” ucap Jean dengan nada malunya.

“Kenapa malu, kan udah biasa...” balas Doni dengan kekehannya karena melihat tingkah gemas Jean.

“Mas, aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu...” ucap Jean.

“Apa itu...” balas Doni.

“Aku udah kirimin berkas perceraian ke Yuda, aku sama dia juga udah mau cerai. Aku gak mau hidup lagi sama dia, dia orang jahat...” sambung Jean.

“Jean lihat aku...” ucap Doni.

Jean kemudian menatap wajah tedu milik Doni itu, dia bahkan masih terkagum-kagum melihat ketampanan Doni.

“Apa Mas...” balas Jean.

“Kalau setelah ini, kita menikah kamu mau gak ?” tanya Doni.

“Aku mau, aku mau nikah sama kamu. Aku mau hidup bersama kamu dan anak kita...” sambung Jean.

“Makasih sayang, makasih mau menerima aku untuk hadir dalam hidup kalian...” ucap Doni.

“Makasih juga sayang, berkat kamu aku jadi tau. Mana orang yang benar-benar aku pantas untuk perjuangkan...” balas Jean. Setelah itu ia lalu mengecup bibir Doni

chup! chup! chup!

Jean memberikan kecupan pada bibir Doni sebanyak tiga kali, sebagai bentuk rasa sayang dan rasa terima kasihnya. Karena Doni mau memilihnya dan anak mereka.

“Adek, kamu sehat-sehat di dalam nak. Daddy sama Papi bakalan selalu ada untukmu, cepat keluar sayang biar kita bisa main bersama...” ucap Doni sambil mengelus perut milik Jean.

“Iya Daddy, sabar ya. tunggu aku lahir, nanti kita main bareng...” sambung Jean.


Doni yang senang mendengar jawaban dari Jean serta bahagia mengetahui Jean yang saat ini sedang mengandung anak mereka, memeluk tubuh Jean.

“Makasih sayang, ayo kita bangun keluarga kecil kita...” ucap Doni.

“Iya sayang, mari kita mulai hidup baru bersama dengan anak kita...” balas Jean.

Malam ini mereka sama-sama bahagia, tak ada raut wajah sedih yang mereka alami saat ingin berpisah dengan pasangan masing-masing.

Mereka berdua sangat menikmati hubungan mereka, Doni tidak akan membiarkan Jean meninggalkan dirinya bersama dengan anak mereka.

Doni berjanji di dalam hatinya, akan menjadikan Jean sebagai pelabuhan hati terakhirnya, dia juga sangat yakin dengan keputusan yang dia ambil. Karena melihat sikap Jean selama ini.

Jean juga sangat senang, akhirnya bisa menemukan kebahagiaan untuk dirinya. Doni merupakan sumber kebahagiaan Jean saat ini dan selamanya.

Keputusannya meninggalkan Yuda bukanlah suatu kesalahan. Melainkan suatu keputusan yang sangat amat tepat.

Tak ada air mata penyesalan mengiringi keputusan mereka untuk berpisah dengan orang yang menurut mereka salah.

Doni dan Jean kemudian menikmati makan malam yang Jean buat. Doni sendiri tidak membiarkan Jean turun dari pangkuannya, ia membiarkan posisi mereka tetap seperti itu.

Sambil Jean menyuapi makanan kedalam mulut Doni dan juga dirinya sendiri.

Mereka bahkan bercanda tawa menikmati makan malam sederhana mereka. Sambil membahas kehidupan mereka setelah ini.