Kesedihan Harry

“Kehilangan membuat kita belajar untuk menerima dan mensyukuri dengan apa yang masih kita miliki.”

Marko pusing melihat kondisi Adik kecilnya tercinta. Harry yang biasanya ceria sudah tidak ada lagi.

Jiwa ceria yang Harry milik sudah hilang dan pergi, semua itu karena kepergian Aeron dan Aeril. Harry seperti mayat hidup yang berjalan.

Setiap hari dia harus diberikan perawatan khusus oleh Dokter ahli untuk menyembuhkan jiwanya yang sakit. Mental Harry benar-benar hancur. Harry tidak pernah siap kehilangan kedua orang tuanya.

Harry selalu terlihat murung di dalam kamarnya, lampunya selalu mati. Setiap Harry dia selalu menangis, dia menangisi kepergian kedua orang tuanya.

Marko tidak tau harus berbuat apalagi, semua cara sudah coba dia lakukan untuk Adiknya. tapi tidak berhasil, Harry masih saja tetap murung.

Marko juga merasakan sakit, bahkan lebih berkali-kali lipat sakit. Kehilangan orang tua sekaligus kehilangan keceriaan Adiknya.

Marko benar-benar terpukul, dia juga tidak siap. tapi jika dia terpuruk, siapa lagi yang akan menguatkan Adik kecilnya itu.

Marko hanya bisa menangis dan mengeluh pada Allen, untungnya mereka masih memiliki Allen. Jadi kasih sayang masih tetap mereka berdua rasakan.

Setiap hari Marko harus melayani Adik kecilnya, memberikan makan, menyuruhnya minum obat dan bahkan memaksanya untuk mandi.

Jika tidak, maka Harry tidak akan pernah melakukannya. Seperti saat ini, dia harus memaksa Harry melakukan kegiatannya setiap hari.

Marko berjalan membawa makanan serta obat milik Harry di nampan, dia membawa dengan hati-hati. Marko lalu masuk ke dalam kamar Harry.

“Adek, Tebak. Kakak bawa makanan apa hari ini..” ucap Marko yang mengajak Harry untuk berbicara.

Harry tak menjawab, saat ini Harry sedang duduk diam melihat ke arah jendela kamarnya. Suasana musim hujan menemani kisah pilu Kakak beradik ini.

“Adek, hey.., Kakak bawa makanan kesukaanmu..” ucap Marko.

Marko lalu berjalan mendekat ke arah Harry, dia mulai duduk di samping Harry dan meletakan nampan yang berisikan makanan di meja.

Harry masih tetap diam, dia tidak memperdulikan ucapan Marko. bahkan untuk melihat Marko saja dia tidak melakukannya.

“Adek, Kakak suapin yaa. kamu makan dulu, setelah itu minum obat..,” ucap Marko yang masih berusaha membujuk Adiknya.

Marko lalu mengambil makanan yang ada di atas meja, kemudian mencoba menyuapi Harry.

“Aaaaa, ayo buka mulutnya Adek..” ucap Marko yang mulai menyendokkan makanan ke dalam mulut Harry.

Mulut Harry tertutup, dia tetap diam. Marko terus berusaha membuat Adiknya makan. Tapi makanan itu jatuh mengenai baju milik Harry.

“Bajunya kotor, jangan. ini gak boleh kotor, baju ini gak boleh kotor. ini baju Daddy sama Papi., baju ini gak boleh kotor. jangan sampai kotor...” ucap Harry yang panik melihat baju kesayangannya itu kotor.

“Adek, tenang dulu. bajunya gak kotor, nanti Kakak bantu bersihin..” balas Marko yang mulai berusaha menenangkan kepanikan adiknya.

“Gak, baju ini gak boleh kotor, jangan. gak boleh kotor. ini baju Daddy sama Papi, baju ini gak boleh kotor..” ucap Harry.

“ADEK, KAKAK UDAH BILANG BAJU ITU GAK KOTOR. KAKAK BANTUIN BERSIHIN..” teriak Marko dengan keras untuk menyadarkan Harry.

Harry kaget mendengar teriakan Marko, dia benar-benar takut. Harry menutup telinganya, penyakitnya mulai kambuh, kepanikan mulai datang padanya.

Marko panik melihat penyakit Harry yang kambuh, dia mulai berusaha menenangkan Harry.

“Maaf, Maaf.., Kakak minta maaf, Kakak gak bermaksud buat marahin kamu. Maaf..” ucap Marko yang mengelus punggung Harry.

“Kakak jahat., Kakak jahat., Kakak Jahat., Daddy, Papi, Kakak marahin Adek..” gumam Harry dengan suara kecilnya.

“Gak, Kakak sayang sama kamu. Kakak gak marah, Kakak sayang sama Harry. Harry adik manis Kakak, kesayangan Kakak..” ucap Marko sambil memeluk tubuh Harry.

“Kakak jahat, Daddy pulang. Papi pulang, Daddy, Papi lihat Kakak, Kakak marahin Adek..” suara tangisan keluar dari mulut Harry.

“Kakak sayang kamu, Kamu kuat, Kamu bisa. Kita berdua bisa, Daddy udah tenang disana, Papi masih kita cari. Adek ini Kakak. Adek sadar, ini Kakak. Adek punya Kakak sama Opa..” Marko mulai menangis sambil menenangkan Adiknya.

“Kakak, mana Daddy sama Papi ? suruh mereka pulang. Daddy, Daddy.., Hiks ! Hiks ! Daddy jahat pergi ninggalin Aku., hiks..! Pap., Pap..,Papi., Papi dimana, Papi pulang., Daddy udah gak ada., hiks! hiks! Papi. Adek kangen kalian..” suara histeris keluar dari mulut Harry.

“Adek, kamu lihat Kakak. lihat, Kamu masih punya Kakak. Kamu masih punya Opa., Walau Daddy sama Papi udah gak ada. kamu masih punya kita..” ucap Marko sambil memegang wajah Harry.

“Kakak., Kakak., jangan tinggalin Adek., hiks! Adek gak punya siapa-siapa lagi. Adek cuma punya Kakak..” balas Harry yang memeluk tubuh Marko dengan erat.

“Kakak gak bakalan ninggalin kamu, kamu punya Kakak. Kakak punya kamu, Kakak sayang sama Kamu..” ucap Marko sambil memeluk erat tubuh Harry dan mencium pucuk kepala Harry.

Kisah pilu mereka berdua rasakan, kehilangan orang tua secara mendadak membuat mereka bingung. Mereka hanya bisa Pasrah dengan keadaan, mereka harus tetap melanjutkan kehidupan mereka.

Satu jam mereka saling berbagi kesedihan yang mereka rasakan, mereka sama-sama tidak sanggup menerima keadaan.

Mereka butuh banyak kekuatan, kepergian orang yang mereka sayangi membuat mereka kehilangan arah.

Biarkanlah mereka saling mengisi satu sama lain, karena sejatinya kekuatan dari masing-masinglah yang bisa membuat mereka bertahan.

Setelah berbagi kesedihan, Marko lalu lanjut menyuapi Harry dia memberikan makan dan juga memberikan obat. Marko juga membersihkan kotoran yang mengenai baju milik kedua orang tuanya.

Sehabis mengurusi Harry, Marko lalu menyuruh Harry istirahat dan menemaninya sampai tertidur lelap. Terkadang Marko juga tidur di Kamarnya Harry agar bisa mengawasi adik kecilnya itu.