Kesal
Jevear kembali kesal, alasan ia kesal karena sang nenek selama seminggu ini sudah jarang menghubunginya.
Biasanya neneknya akan mengabarinya setiap hari, namun akhir-akhir ini berbeda. Membuat Jevear menjadi marah, meski terkadang ia bosan, Jevear tak menampik bahwa suara sosok wanita tua itu kini ia rindukan.
Duduk di pinggir tepi kolam, sambil tangan halusnya memainkan air berkaporit kini Jevear lakukan.
Jevear menyerah, panggilan serta beberapa pesannya di abaikan oleh sang nenek, membuatnya kembali gusar.
Seseorang dari belakang berjalan mendekat, membuat Jevear yang tengah sibuk menjadi kaget sekejap.
“Oma” panggil Jevear
Elisabeth kembali tersenyum, ia merasa lucu saat menatap tingkah Jevear yang terkejut melihat kedatangannya.
“Oma kok ketawa” protes Jevear.
“Oma lihatin kamu gini, jadi ingat Katy. Dia persis kamu, saat menyendiri suka main air” ujar Elisabeth dengan kelembutan.
Jevear memperbaiki posisinya, ia kemudian mendekati Elisabeth yang memilih duduk pada kursi yang disediakan tepat di sekitar kolam.
“Kamu kenapa cemberut gitu hmm?” tanya Elisabeth.
“Aku kesel, tapi nggak kesel banget. Tapi kesel oma” ucap Jevear.
Elisabeth pun tertawa melihat tingkah lucu, cucu dari sahabat baiknya itu.
“Omaa” protes Jevear yang memegangi lengan tangan Elisabeth dengan manja.
“Maaf sayang” balas Elisabeth sambil mengusap pelan rambut halus Jevear.
“Aku kangen oma aku oma” Jevear kembali sendu.
“Oma tau, kamu kangen banget sama Katy bukan”
Jevear hanya mampu menganggukan kepala, dia benar-benar sangat merindukan Katy sang nenek.
Jevear tidak pernah seperti ini, jika ia bermain dia seperti biasa saja. Dia tak pernah memikirkan neneknya saat dirinya sedang bermain.
Elisabeth yang mengerti akan perasaan Jevear mencoba untuk menghiburnya, meski Jevear nampak terlihat cuek dengan Katy. Sesungguhnya hati kecilnya benar-benar peduli akan sosok orang yang ia cintai.