Kepedihan
Elis Laurent saat ini sedang bersama dengan Putra semata wayangnya yaitu Aeril, dia menemani sang anak di dalam Kamar Besar milik Aeril.
Elis mendekap tubuh Anaknya itu di tempat tidur, tepukan kecil dia berikan untuk menenangkan Aeril. Tangan halus itu juga membelai rambut Anak tercinta.
Elis sungguh tak tega melihat kondisi Aeril saat ini, dia lebih rapuh dari pada sebelum-sebelumnya. Aeril yang dulu selalu membela mendiang suaminya, di depan dirinya kini sudah tidak ada lagi.
Jika Elis Laurent bisa memilih, Dia akan lebih memilih menantunya Aeron untuk hidup kembali. Meski perlakuan Aeron pada Aeril terkadang jahat.
Ibu adalah seorang ibu, hatinya juga bisa merasakan kepedihan saat melihat Anak tercinta mengalami kesakitan berkali-kali lipat.
Seperti saat ini, Elis harus menyaksikan Aeril yang merasakan sakit seperti tertikam belati.
Hm! hm! hm! hm! hm, hm! hm.
Suara nada-nada kecil menjadi musik penenang untuk Aeril, irama itu bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
Elis menepuk-nepuk kecil tubuh Aeril untuk menenangkannya, Aeril hanya diam mendengar irama nyanyian kecil dari sang ibu.
“Ma, dulu bagaimana cara Mama mencintai Papa..” suara Aeril membuka percakapan diantara mereka berdua.
“Mama sama Papa itu dulu, Awalnya di jodohkan. Mama dan Papa hanya bisa menerima keputusan dari Kakek dan Nenek. Karena kami pikir jika melawan pun tak ada gunanya..” jawab Elis.
“Terus, Mama dan Papa langsung saling cinta ?” tanya Aeril kembali.
“Tidak sayang, kita berdua butuh waktu. itu juga hanya sebulan. dan setelah itu kamu hadir melengkapi kebahagiaan Papa dan Mama..” jawab Elis.
“Satu bulan ya..” ucap Aeril.
“Iya sayang..” sambung Elis.
“Kenapa nasibku berbeda dengan Mama dan Papa, Aku harus menunggu belasan tahun agar mendiang suamiku mencintai diriku..” lenguh Aeril yang mulai merapatkan tubuhnya pada Elis.
“Siapa yang bilang sayang, Dia mencintaimu setelah belasan tahun ?” tanya Elis.
“Maksud mama ?” tanya Aeril.
“Sayang dengar, Jika suamimu itu baru mencintaimu. kenapa dari awal dia tidak melepaskanmu, bukankah cinta itu tidak bisa di paksakan...” jawab Elis.
“Jadi menurut mama, Mas Aeron sudah mencintaiku sejak lama begitu..” ucap Aeril
“Lebih tepatnya sejak awal kalian bertemu, Anakku..” balas Elis.
“Jadi cinta aku itu gak bertepuk sebelah tangan ya Ma, Mas Aeron juga cinta sama Aku..” gumam Aeril.
“Iya, jika dia tidak mencintaimu, maka dari awal Aeron sudah melepaskanmu. tapi kamu lihat kan, Aeron tidak membiarkanmu pergi dari kehidupannya. Walau perilakunya kadang buruk terhadapmu, tapi percayalah dia sungguh mencintaimu..” sambung Elis.
Aeril yang mendengar ucapan dari sang Mama membuat air matanya jatuh menetes. Aeril langsung memeluk Elis dan menangis.
“Mama, Aku sayang dia. Aku cinta sama Mas Aeron. Ak- Ak- hiks! gak sanggup kehilangannya, Mama tolong. buat Suamiku hidup lagi, bantu Aku Mama. ini sakit, hatiku sakit waktu tau Mas Aeron udah gak ada..” suara isakan terdengar dari mulut Aeril.
“Anakku, andai Mama dan Papa bisa menghidupkan menantu kami kembali. Mungkin sudah dari awal kami buat dia muncul disini, bersama denganmu dan juga anak-anak kalian..” balas Elis yang juga memeluk anaknya.
“Mama, Mas Aeron. kenapa dia ninggalin Aku. Kenapa dia pergi meninggalkanku dan anak-anak. Kami gak bisa hidup tanpa dia, Siapa yang akan melindungi kami. Siapa lagi yang akan membantu kami. Aeril gak tau cara buat lindungin anak-anak kami, Aeril bingung mama. Aeril gak kuat buat ngebesarin anak-anak...” suara tangisan pilu serta putus asa keluar dari mulut Aeril.
“Kamu pasti bisa nak, Mama yakin anak mama ini pasti bisa. Ingat, suamimu juga pasti melindungi kalian dari atas sana. Jangan takut sayang, Kamu masih memiliki Orang tua. Kami semua akan bantu kamu dan juga anak-anak kalian..” suara penguatan keluar dari mulut Elis.
Aeril hanya bisa menangis di depan sang ibu, dia harus menyembunyikan kesedihannya dari anak-anak.
Dia ingin terlihat baik-baik saja di depan mereka. Makanya dia hanya bisa mengadu pada Orang tuanya, terutama sang ibunda tercinta.
Elis juga menangis, Air matanya mengalir. Rasa sakit yang Aeril rasakan, sama juga dia rasakan. Kehilangan orang yang di cintai membuat Aeril merasakan rasa sakit dan luka pilu yang mendalam.
Aeril hanya butuh mengeluarkan kesedihan yang dia rasakan dalam hatinya, supaya dia bisa lebih baik.
Elis yang takut melihat kondisi anaknya saat ini, kemudian memberikan obat penenang agar Aeril bisa merasakan ketenangan.
Setelah meminum obat, kini Aeril tertidur pulas. obat itu memberikan efek yang sangat bagus untuk Aeril. Aeril memang harus rutin meminum obat, agar kesedihannya tidak berlarut-larut.
Elis tidak sadar dengan kehadiran ketiga putra dari Aeron dan Aeril. Mereka sedang berdiri memandangi Elis yang sedang merawat Aeril saat ini di kamar.
Marko, Harry dan Jerial juga merasakan kehilangan Sosok Aeron. Mereka bertiga juga merasakan rasa sakit dan duka yang pilu saat mengetahui bahwa Daddy mereka meninggalkan mereka semua selama-lamanya.
Saat Elis ingin meninggalkan kamar Aeril, dia kaget melihat cucu-cucunya yang sedang berdiri melihatnya dan Aeril. Dia lalu memberikan kode kepada mereka, agar segera keluar dari kamar Aeril.
[Ruang Keluarga]
Elis dan ketiga cucu-cucunya saat ini duduk bersama di Ruang Keluarga. Ruang Keluarga yang luas dan mewah dengan desain eropa kini mereka tempati untuk berbincang bersama.
“Kalian sudah lihat kan, kondisi Papi kalian..” ucap Elis
“Sudah..” balas mereka secara kompak.
“Kalian mau tau, kenapa bisa Papi kalian terpuruk seperti itu..” ucap Elis.
Marko, Harry dan Jerial menjawab dengan anggukan kepala. bahwa mereka ingin tau.
Penjelasan Elis ;
Daddy kalian adalah cinta pertama Papi kalian dan sekaligus cinta terakhirnya.
Dulu banyak lelaki dan perempuan diluar sana, ingin menjadi pasangan hidup dari Papi kalian.
Tapi dia tidak tertarik, bahkan melirik mereka saja. Papi kalian tidak melakukannya sama sekali.
Papi kalian itu tidak pernah pacaran, bahkan berhubungan dekat dengan orang lain saja, dia tidak pernah melakukannya. Dia lebih suka menyendiri dan melakukan kegiatan yang dia sukai sendiri.
Grandpa dan Grandma sempat khawatir, karena Papi kalian itu tidak pernah membahas seseorang yang spesial menurutnya pada kami. Kami bahkan berpikir bahwa, mungkin dia ingin hidup sendiri sampai mati.
Kecurigaan kami terbantahkan saat, Opa kalian datang kemari untuk meminang Papi kalian buat Daddy kalian.
Grandpa dan Grandma tentu kaget, saat mengetahui Opa kalian ingin meminta anak kami untuk menjadi menantunya.
Kami menolak lamaran mereka, dengan alasan pasti Papi kalian tidak mau. Jadi kami memberikan jawaban langsung hari itu juga.
Grandpa dan Grandma tak menyangka, Papi kalian muncul dan mengatakan mau menerima lamaran dari Opa kalian.
Kami bingung mendengar jawaban dari Papi kalian, karena sepengetahuan Grandpa dan Grandma jika kami menolak itu artinya Papi kalian juga menolak.
Mendengar jawaban dari Papi kalian, Grandpa dan Grandma hanya mengikuti saja keinginannya.
Akhirnya pernikahan pun terjadi, Tapi Daddy kalian tidak mengetahui Keberadaan Grandpa dan Grandma. Itu merupakan salah satu syarat yang kami berikan untuk Opa kalian.
Karena syarat itulah, Grandpa dan Grandma bisa mengetahui seberapa besar cinta Papi kalian kepada Daddy kalian.
Kami tidak tau, apa yang Daddy kalian lakukan sampai Papi kalian mau menjadi istrinya. sampai sekarang itu masih menjadi misteri bagi kami.
ucap Elis yang telah selesai menjelaskan kisah cinta dari orang tua mereka bertiga.
“Grandma, Kakak menyesal sudah memisahkan Papi dan Daddy waktu itu. Andai Kakak gak ajak Papi, mungkin Papi masih bisa bersama dengan Daddy sampai akhir hidupnya..” ucap Marko yang sedih mendengar penuturan Elis.
“Grandma, andai saja Aku tau seberapa besar cinta Papi ke Daddy. mungkin Aku bakalan paksa Papi pulang ke rumah..” ucap Harry yang mulai menyesal.
“Kakak dan Adek, kalian tidak perlu menyesali sesuatu yang telah terjadi. ingat itu bukan salah kalian. mungkin itu sudah menjadi jalan agar mereka berpisah..” balas Elis.
“benar kata Grandma. Kak Marko dan Harry jangan nyalahin diri sendiri yaa..” ucap Jerial.
Jerial mencoba meyakinkan kedua saudaranya agar jangan menyesali kejadian yang telah terjadi.
Jerial bahkan tidak menyalahkan kedua saudaranya yang menyebabkan orang tua mereka berpisah.
Karena Jerial mengetahui kejadian sebenarnya dari Allen, Allen selalu memberikan informasi apapun yang terjadi pada Aeril. makanya dia selalu berada di saat keluarganya mengalami keterpurukan.
“Grandma ingin memberitahukan satu hal penting lagi untuk kalian..” ucap Elis.
“Apa itu Grandma ?” tanya Jerial.
“Kalian itu masih punya satu saudara lagi..” ucap Elis.
“Maksud Grandma apa ?” tanya Marko.
“Terakhir sebelum Papi dan Daddy kalian berpisah, Papi kalian hamil adik kecil kalian...” jawab Elis.
“Jadi, yang waktu itu Papi muntah-muntah. itu karena Papi hamil ya Grandma..” ucap Harry.
“Iya sayang, Tapi. Adik kalian harus pergi mengikuti Daddy kalian. Papi kalian keguguran akibat terlalu stress mencari keberadaan kalian semua, di tambah lagi memikirkan kesembuhan Jerial..” sambung Elis.
“Grandma Adik kami cowok atau cewek ?” tanya Jerial.
“Adik kalian itu perempuan, Grandma yakin kalau dia masih hidup. dia pasti cantik seperti Papi kalian..” jawab Elis.
“Dimana makamnya ?” tanya Marko.
“Kalau itu Grandma gak bisa ngasih tau, biar Papi kalian sendiri yang ngasih tau. Grandma juga minta tolong, jangan sampai rahasia yang Grandma ceritakan ini Papi kalian tau. Tunggu dia sendiri yang akan memberitahukan pada kalian..” ucap Elis.
Marko, Harry dan Jerial mengerti dengan penjelasan dari Elis. Mereka tau, bahwa keberadaan Adik kecil mereka tidak boleh mereka ketahui sebelum Aeril sendiri yang menceritakan kepada Mereka.