Kembali Ke Rumah
Doni menginjakkan pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin cepat sampai ke Apartment miliknya.
Doni bahkan tak perduli dengan banyaknya kendaraan yang memenuhi jalanan hari ini, yang ia inginkan adalah sampai di rumah dengan cepat.
Bunyi klakson Mobil tak pernah berhenti dia bunyikan. Doni saat ini benar-benar ketegangan, ia takut kondisi buruk menimpa Istri dan Anaknya.
Jean saat ini sedang ketakutan, dia benar-benar takut. Yuda dari tadi tak berhenti memanggil namanya. Andai Jean tidak hamil, mungkin dia akan dengan mudah bisa melawan Yuda.
Tetapi saat ini, dia benar-benar tidak bisa melakukan hal itu. Karena kondisi bayi yang ada di dalam perutnya.
“Buka pintunya Jean. Aku tau kamu di dalam. ayo buka pintunya sayang...” teriak Yuda.
Bukkk Bukkk Bukkk
Jean hanya menutup mulutnya rapat-rapat, sungguh dia benar-benar takut saat ini.
Dia bahkan menteskan air mata, Jean tidak ingin bayi yang ada di dalam perutnya terluka.
“Jean sayang, ayolah. buka pintunya.. Ayo kita bicara...” teriak Yuda.
Yuda menggila, dia menggedor pintu Apartment Jean dengan brutal. ia bahkan menendang pintu Apart itu, agar bisa terbuka.
“JEAN BUKA ATAU AKU DOBRAK PINTU INI...” ucap Yuda yang mulai kesal.
Jean hanya menutup telinganya, dan bersembunyi di dalam kamar. Sesuai perintah Doni, dia hanya mengurung diri dan mengunci pintu.
Braakkkkkkkk
Pintu Apart berhasil di rusak oleh Yuda, dia kemudian berjalan masuk dan mencari-cari keberadaan Jean.
“Jean sayang, ini Mas dateng loh...” ucap Yuda
Jean mengusap-ngusap perutnya, agar bayinya juga tidak takut. Jean hanya bisa berdoa semoga Doni segera tiba.
Yuda berjalan mengelilingi Apartment milik Jean dan Doni, dia berteriak meminta Jean untuk segera keluar.
Yuda berjalan mendekati pintu kamar tempat Jean bersembunyi saat ini.
tok! tok! tokkk!
“Jean sayang buka pintunya, Mas mau ketemu...” ucap Yuda.
“Pergi, Pergi, Pergi Kamu...” balas Jean yang sedang ketakutan.
“Jean sayang, ayo kita bicara. buka dulu pintunya, ayo sayang...” ucap Yuda.
“Aku gak mau ketemu sama kamu, sekarang kamu pergi dari sini atau aku akan melaporkanmu pada polisi...” balas Jean yang mengancam yuda.
“Ayolah sayang, untuk apa menelpon polisi. mereka gak ada hubungannya sama kita...” sambung Yuda.
“Ku mohon jangan ganggu aku, pergilah...” ucap Jean dengan nada ketakutan.
Brakkkkk
Pintu kamar berhasil di buka paksa oleh Yuda. Jean kemudian memundurkan tubuhnya ke bagian sudut kamar. Yuda berjalan mendekati Jean.
“Sayang, aku kan cuma mau ngomong...” ucap Yuda.
Jean hanya memejamkan matanya dan menutup telinganya menggunakan kedua tangannya.
Sungguh saat ini dia benar-benar ketakutan melihat sosok Yuda yang berdiri di hadapannya. Yuda mulai mengangkat tubuh itu agar berdiri.
“Sayang, kamu hamil. apa ini anak kita, kamu berhasil program ?” ucap Yuda.
“Aku gak pernah program anak denganmu...” balas Jean yang memberanikan dirinya untuk berbicara.
“Lalu kalau bukan anakku, ini anak siapa...” ucap Yuda.
“Ini Anakku dengan Mas Doni...” balas Jean.
Plakkkkk
Bunyi tamparan keras mendarat di pipi putih mulus milik Jean. Yuda sangat emosi mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jean.
“Kamu apa-apan sih Mas...” ucap Jean sambil memegang pipinya.
“Kamu Murahan, kamu jalang. beraninya kau berselingkuh di belakangku...” balas Yuda dengan nada emosi.
“Hahaha, Mas kau lucu. Apa hakmu mengataiku berselingkuh, bukannya kamu duluan yang bermain api di belakangku...” ucap Jean yang mulai kesal.
“Pantas saja, kau ingin menceraikanku. ternyata kau sudah memiliki anak hasil hubungan gelapmu dengan Doni...” balas Yuda.
“Mas, kau tidak lupa berkaca. lihat di kamarku ini banyak kaca. lihat dirimu yang menyedihkan itu, kau yang selama ini bermain api di belakangku, kau diam-diam berselingkuh dariku dan bahkan menghasilkan anak...” ucap Jean.
“Aku punya alasan, kenapa aku melakukan itu...” sambung Yuda sambil mencengkram bahu milik Jean.
“Aku gak butuh alasanmu...” ucap Jean yang menahan rasa sakit.
“Anak, aku butuh anak. makanya aku melakukan itu...” balas Yuda.
“Anak, kau bilang Anak, dasar konyol. Dari awal aku sudah memberitahukan kondisiku padamu bukan. Aku sulit mengandung, kau saja yang memaksa untuk menikahiku, sekarang lihat apa yang sudah kau lakukan...” ucap Jean.
“Kau bilang sulit mengandung, lalu ini apa ? ini yang kau maksud sulit mengandung hah..” balas Yuda sambil menunjuk perut besar milik Jean.
“Ayolah Mas, Apa kau sungguh ingin mengetahui rahasia ranjangku dan suamiku...” suara kekehan keluar dari mulut Jean.
“Apa, suami...” ucap Yuda yang tak percaya.
“Iya, Suami. Aku dan Mas Doni sudah menikah, kau tidak perlu kaget seperti itu. Aku juga sudah berpisah denganmu, jadi aku berhak mendapatkan lelaki yang jauh berkali-kali lipat lebih baik, dari orang brengsek sepertimu...” sindiran tegas dan keras keluar dari mulut Jean.
“Kenapa harus Doni, kenapa harus sahabatku...” ucap Yuda yang tak menerima itu.
“Salahkan Takdirmu yang membawaku ke dia. Kau bodoh, kau yang membuat kami jadi bisa saling mengenal dekat satu sama lain...” balas Jean.
Yuda mendorong tubuh Jean ke tembok, dia sangat kesal mendengar ucapan Jean kepadanya.
Jean hanya bisa menahan rasa sakit akibat benturan yang dia rasakan, sembari ia mengelus perut besar miliknya.
“Aku akan Memaafkanmu, anggap saja kita impas dan gak pernah punya masalah. Ayo sekarang kembali padaku, aku akan merawatmu dan juga anak Doni...” ucap Yuda.
“Aku tidak sudi, balik dengan lelaki brengsek sepertimu. Aku lebih memilih mati dari pada harus hidup denganmu...” balas Jean.
Yuda semakin Emosi, dia berjalan mendekat kemudian mencekek leher Jean. Dia kesal karena Jean lebih memilih Doni dari pada kembali bersamanya.
Leher milik Jean di cengkram erat, tubuhnya di angkat sedikit oleh Yuda. Yuda bahkan tak perduli dengan kondisi Jean yang hamil besar itu.
Jean sulit bernafas, lidahnya tercekat tak bisa berbicara. Hanya ada air mata yang keluar membasahi pipinya, dia berharap semoga suaminya segera tiba dan menolong mereka.
Doni yang sudah tiba, dan berlari masuk ke dalam Apartmentnya kemudian menuju kamar milik mereka. Dia melihat Yuda yang saat ini sedang menyakiti Istrinya.
“BEDEBAH SIALAN, LEPASKAN ISTRIKU...” ucap Doni sambil menarik tubuh Yuda.
Yuda terlempar, dia jatuh ke lantai akibat tarikan keras dan dorongan kuat yang dimiliki Doni.
Doni menghajar Yuda secara membabi buta, dia sangat emosi melihat Yuda menyakiti istri dan anaknya.
“BANGSAT, SIALAN, KEPARAT, MATI KAU. BRENGSEK. JANGAN PERNAH MENYENTUH ISTRIKU DAN JUGA ANAKKU...” ucap Doni.
Doni benar-benar meluapkan kekesalannya saat ini pada Yuda, meski Yuda sahabatnya sendiri. Ia tidak perduli yang dia inginkan saat ini menghabisi Yuda.
Sudah terlalu lama Doni menahan rasa sabar yang ada di dalam dirinya, ia sangat kesal selama ini dengan sikap Yuda yang sering menyakiti Jean.
Sejak awal pertemuan Doni dan Jean pertama kali di kantor milik mereka, diam-diam Doni sudah jatuh hati kepada Jean.
Saat itu Jean sedang sibuk mencari keberadaan Yuda, dan tak sengaja berpapasan dengan Doni.
Doni menjadi teman kantor dan sekaligus sahabat Yuda. Alasan Jean sendirian ke kantor, karena ia ingin mencari Yuda.
Yuda tidak pulang ke rumah mereka selama tiga hari, dengan alasannya yaitu sibuk bekerja.
Padahal diam-diam Yuda tinggal di tempat milik Wira, dia pergi karena masalah anak.
Dia tidak sanggup mendengar permintaan Orang Tuanya, yang menuntut dan memaksanya untuk segera memberikan mereka cucu atau menceraikan Jean.
Doni sendiri tidak tau mengenai hal tersebut, yang dia tau selama ini Yuda sering pulang setelah bekerja.
Setelah berpapasan, Doni mengajak Jean untuk duduk sebentar ke kantin kantor, dan berbincang sedikit dengan Jean.
Jean bertanya pada Doni, mengapa mantan suaminya itu tidak pulang selama tiga hari, apa kantor benar-benar sibuk.
Doni kemudian menjelaskan pada Jean dengan hati-hati. Karena dia takut hubungan Yuda dan Jean menjadi berantakan, akibat ucapan yang keluar dari mulutnya.
Jean terpesona dengan cara berbicara serta perlakuan Doni kepadanya, saat itu dia merasakan seperti menemukan sesuatu yang baru. Jean saat itu juga suda tertarik dan langsung menyukai Doni.
Mereka tak sadar sejak awal pertemuan mereka, mereka sudah saling menyukai satu sama lain. Tetapi semua itu mereka tepis, karena mereka sama-sama memiliki pasangan.
Permainan Takdir tidak ada yang bisa tahu, awalnya mereka memiliki pasangan. Kini mereka berdua di jadikan sebagai pasangan.
Apakah memang sejak awal Takdir sedang memperkenalkan mereka berdua, sebelum Takdir menyatukan mereka ? entahlah semua itu hanya rahasia Takdir. Manusia tidak perlu tahu, cukup hanya menjalani garis Takdir yang sudah di tetapkan.
Wajah Yuda kini babak belur dan penuh dengan darah, Doni menghajarnya tanpa memberikan belas ampunan untuknya.
Jika polisi tidak segera datang, mungkin Yuda sudah tewas saat ini juga di tangan Doni.
“Angkat tangan, jangan bergerak...” ucap Polisi.
Doni yang mendengar suara polisi akhirnya berhenti memukul Yuda, Polisi mulai maju dan memborgol tangan Yuda.
“Saudara Yuda, Anda kami tahan dengan kasus kekerasan, pembobolan rumah, dan Pembunuhan terhadap saudara Hero...” ucap Polisi yang menyebutkan berbagai macam tindakan yang dilakukan Yuda.
Polisi lalu menarik Yuda dan membawanya pergi dari Apartment milik Doni dan Jean.
Yuda saat ini dibawa ke kantor polisi untuk dimintai pertanggung jawaban atas segala perbuatannya yang telah dia lakukan.
Sebelum Yuda ke Apartment milik Doni dan Jean, dia lebih dulu pergi menemui Hero, dan menikam Hero secara langsung.
Yuda tak terima dengan perbuatan yang dilakukan Hero untuknya. Saat ini Hero mengalami kondisi kritis di rumah sakit.
“Jean, sayang. kamu gakpapa kan...” ucap Doni yang mendekat ke arah Jean.
“Mas, kau datang...” balas Jean, sambil menyentuh wajah suaminya.
“Iya sayang, aku datang. Maaf aku terlambat, aku harus lapor polisi dulu...” sambung Doni.
Doni memeluk tubuh Jean dengan erat, dia mendekap tubuh itu dan mengucapkan maaf berkali-kali pada sang istri.
Jika Doni terlambat sedikit saja, bisa di pastikan ia akan kehilangan Jean dan anak mereka.
Jean memeluk Doni dengan erat, dia sangat ketakutan saat ini. Doni mencium seluruh wajah istrinya itu, dan memeluk erat orang terkasihnya.
“Aww. Mas, sakit...” ucap Jean sambil merasakan sakit pada bagian perutnya.
“Kenapa sayang...” balas Doni.
“Perutku sakit...” sambung Jean sambil memegangi perutnya.
Doni lalu melihat ke arah bagian perut Jean, ternyata air ketuban Jean sudah keluar, di sertai dengan darah.
Doni panik, lalu buru-buru menggendong istrinya itu, dan membawanya segera menuju ke rumah sakit.
[Rumah Sakit]
Doni dan Jean sudah tiba, saat ini Doni menggendong Jean dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit, untuk meminta pertolongan.
“Suster, istri saya. bantu istri saya suster dia mau melahirkan...” ucap Doni.
“Pak, baringkan dulu istrinya disini...” balas Suster sambil menunjukkan tempat tidur yang kosong.
Suster lalu memberikan tindakan berupa pemasangan infus, kemudian mengukur tanda-tanda vital, dan melakukan berbagai macam pemeriksaan lainnya.
Doni takut, kakinya lemas pikirannya kacau, hari ini sangat mengejutkan bagi dirinya. Dimana hari ini adalah hari yang di nantikannya selama ini.
Dokter pun muncul, karena di kabari oleh suster yang saat ini sedang bertugas di ruang Unit Gawat Darurat. Dokter lalu menanyakan hasil pada suster dan memeriksa kembali kondisi Jean.
“Pak, istri anda harus segera di lakukan tindakan operasi. Air ketubannya telah menipis, kita harus segera menolong mereka. Jika tidak mereka berdua dalam keadaan bahaya...” ucap Dokter yang memberikan penjelasan itu.
“Lakukan apapun itu dokter, asalkan mereka berdua selamat...” balas Doni.
“Pak, sebelumnya anda harus menandatangani surat persetujuan terlebih dahulu, sebelum dilakukan operasi...” sambung suster.
Doni kemudian bergegas mengikuti suster untuk melengkapi berbagai macam persayaratan, sebelum Jean diberikan tindakan.
[Ruang Operasi]
Saat ini semua orang sudah berada di ruang operasi, beberapa Dokter dan Perawat telah siap untuk melakukan tindakan Cesarean Section. Doni juga sudah meminta izin agar bisa menemani Jean di dalam ruang operasi.
Jean diberikan obat bius saat ini, Doni duduk pada bagian atas kepalanya Jean. Jean masih bisa sadar dan melihat tindakan yang di lakukan dokter padanya.
Pembedahan mulai di lakukan, para pertugas medis mulai bekerja. Perut milik Jean di belah, semua orang sedang sibuk melakukan pekerjaan masing-masing.
Doni dan Jean sama-sama tegang, saat ini mereka sedang menyaksikan langsung kehadiran seseorang dalam kehidupan mereka.
“Mas...” ucap Jean yang mulai membuka percakapan.
“iya, sayang...” balas Doni.
“Kamu harus tau, salah satu impianku selama ini...” sambung Jean.
“Apa itu ?” tanya Doni
“Aku dulu membayangkan, bagaimana rasanya suatu hari nanti melahirkan di temani suami seperti saat ini...” jawab Jean.
“Ini, salah satu keinginanmu sudah terwujud sayang. Aku disini bersamamu dan menemanimu menunggu anak kita lahir...” ucap Doni.
“iya, aku tau. makanya aku sangat bahagia sekali...” balas Jean.
Doni kemudian mencium kening Jean, sungguh mereka berdua saat ini sama-sama merasakan kebahagiaan sekaligus ketegangan dalam kehidupan mereka.
Tak lama setelah itu, suara tangisan bayi memenuhi ruangan operasi itu.
Uweekkk 👶🏻👶🏻👶🏻
Dokter memperlihatkan bayi itu kepada Doni dan Jean, mereka selama sembilan bulan sabar menunggu dan menanti anak itu lahir.
“Selamat, bayinya berjenis kelamin laki-laki, dia sehat dan sempurna...” ucap Dokter.
Dokter kemudian meletakkan bayi itu di atas Dada Jean, bayi itu mulai bergerak sendiri mencari air susu. Air mata Jean menetes membasahi pipinya, sungguh dia benar-benar bahagia.
Bayi itu sangat Tampan, kulitnya putih, rambut hitam lembat, hidung mancung, bibir tipis, alis yang bagus dan bulu mata lentik. Semua itu terlihat jelas oleh Doni dan Jean.
“Mas, lihat, Anak kita bergerak Mas...” ucap Jean sambil meneteskan air mata.
“Iya sayang, Halo Anakku, ini Daddy sama Papi...” balas Doni.
Doni kemudian mencium dan menggenggam tangan anaknya yang sedang meminum asi.
Sungguh ia benar-benar terharu saat ini. Melihat Jagoan kecilnya telah lahir dengan selamat ke dunia.
“Sayang, Makasih. Kamu sudah mau mengandung dan melahirkan anak kita, yang tampan serta semenggemaskan ini, makasih sayang...” ucap Doni sambil mencium kening Jean.
Operasi pun telah selesai di lakukan semuanya. Jean kemudian di pindahkan ke ruang rawat inap.
Mereka di antar kesana, tetapi bayi mereka sementara di ruang NICU terlebih dahulu, agar bisa di pantau sebentar. Setelah itu baru di pindahkan kembali ke ruangan mereka.
Saat ini Doni dan Jean sedang berada di salah satu Ruang VIP rumah sakit, dia sengaja memesan kamar itu agar istri dan anaknya bisa merasakan kenyamanan.
Jean juga saat ini sedang tertidur akibat efek dari obat bius yang diberikan kepadanya.
Doni masih setia berada di samping Jean, sampai dia lupa untuk makan dan beristirahat seharian.
Beruntung ada layanan service yang bisa memesan dan mengantarkan makanan, jadi dia bisa mengisi tenaganya sedikit.
Tak lama kemudian, suster membawa masuk bayi mereka ke dalam ruangan. Doni tersenyum bahagia melihat bayi mereka, ia lalu menggendong anaknya dan duduk di samping Jean.
Jean telah sadar, kini rasa kantuknya telah hilang. Dia membuka matanya, dan melihat Suami dan anaknya yang saat ini sedang menunggunya.
“Sayang lihat, dia persis denganmu...” ucap Doni sambil memperlihatkan anak mereka pada Jean.
“Iya, tapi dia juga mirip denganmu Mas...” balas Jean sambil tersenyum.
“Halo Malven, Selamat datang ke dunia ini. Ini Daddy nak, Daddy harap kamu menjadi anak yang hebat dan kuat, jangan pernah merasa sendiri karena kamu punya Daddy sama Papi yang akan selalu menyayangimu dan melindungimu...” ucap Doni.
“Nama yang bagus Mas, Malven anak Daddy sama Papi. Selamat datang sayang, kamu anugerah terindah yang kami punya...” balas Jean sambil membelai rambut anaknya.
Suara tangisan Malven memberikan tanda bahwa dia sangat senang hadir di tengah kedua orang tuanya.
Jika Malven bisa berbicara, mungkin Malven akan berkata kepada mereka berdua. Sungguh dia amat sangat beruntung memiliki Doni dan Jean sebagai orang tuanya.
Tuhan memang baik, segala sesuatu atas kehendak dan kuasanya. Kehidupan seseorang bisa di ubah atas kuasanya.
Seperti halnya kehidupan Doni dan Jean, mereka yang sebelumnya memiliki kepahitan dalam menjalani sebuah bahtera rumah tangga.
Kini di pertemukan oleh Takdir yang merubah hubungan pahit mereka dulu, menjadi moment Manis dan Indah seperti sekarang.
Doni dan Jean adalah bentuk wujud nyata, bagaimana perubahan kehidupan seseorang bisa di ubah dengan kehendak dan kuasa Tuhan.
“Jean, Makasih karena kamu sudah memilihku menjadi pasanganmu. Sayang, Aku mencintai kalian berdua...” ucap Doni sambil mencium kening Jean.
“iya Mas, Makasih juga karena telah menerimaku dan anak kita untuk mewarnai hidupmu, Aku menyangimu dan anak kita...” balas Jean.
Doni dan Jean berpelukan bersama dengan Putra mereka, kini tidak adalagi yang menjadi penghalang untuk keluarga kecil mereka.
Doni dan Jean mereka berdua kembali fokus untuk membangun keluarga kecil yang bahagia, lembaran-lembaran kehidupan akan menghiasi kegiatan mereka setiap harinya.
Tak akan ada lagi rasa penyesalan dalam memilih pasangan, karena saat ini mereka adalah pasangan yang sesungguhnya.