Kecelakaan
Jean yang mendapat kabar dari pihak rumah sakit, bahwa Doni mengalami kecelakaan lalu buru-buru pergi menemui Doni di rumah sakit.
Dia memesan taksi agar menjemputnya, setelah taksi tiba. Ia lalu masuk ke dalam taksi tersebut, dan menunjukkan alamat rumah sakit tempat Doni di rawat.
Di dalam perjalanan, air mata Jean terus mengalir tanpa henti. Jean sangat sedih dan terpukul saat mengetahui orang yang ia cintai terluka.
Jean bahkan merapalkan tangannya, sembari berdoa kepada sang pencipta. Semoga orang yang dia sayangi itu baik-baik saja.
“Tuhan, Aku tidak pernah menuntut dan bahkan meminta banyak hal darimu. Tapi kali ini aku membutuhkan bantuanmu. Sembuhkanlah Daddy dari bayi yang di kandungku ini. Selamatkanlah cintaku, dia orang yang satu-satunya ku miliki...” ucap Jean dengan tulus.
Air mata masih membanjiri pipi mulusnya itu, dia bahkan mencoba menarik nafas dalam agar perutnya tidak sakit.
Jean hanya bisa mengelus perutnya yang sudah membesar itu. Dia mengusap-ngusap perutnya dengan lembut, agar memberikan kekuatan juga kepada sang anak yang berada di dalam.
“Nak, semoga Daddy kita baik-baik saja ya sayang...” ucap Jean sambil menangis.
[Rumah Sakit]
Taksi kini sudah berhenti di depan rumah sakit, Jean lalu memberikan uang kepada supir taksi tersebut. dan langsung turun dari taksi.
Sebenarnya Jean ingin berlari masuk ke dalam rumah sakit, tetapi mengingat kondisi perutnya yang sudah membesar itu. Dia mencoba berjalan dengan perlahan.
Jean berjalan sambil memegang erat bajunya dengan kuat, sebenarnya ia sudah tidak kuat. Tetapi dia harus melihat kondisi Doni saat ini.
Jean melangkahkan kakinya menelusuri lorong-lorong rumah sakit, dia berusaha untuk tetap tegar agar anak yang ada di dalam kandungannya itu juga bisa tegar.
Kini Jean sudah menginjakkan kaki di ruang unit gawat darurat rumah sakit, dia berjalan menuju salah satu tempat tidur yang sudah di beritahukan salah satu perawat.
Jean mulai berjalan mendekati tempat tidur tersebut, saat mendekat dia melihat tempat tidur itu kosong.
“Suster, pasien yang disini ada dimana ?” ucap Jean yang berusaha menahan isakan tangisnya.
“Pasiennya sudah di pindahkan ke ruang mayat...” balas Suster.
“Ruang mayat...” ucap Jean yang kaget.
“iya, maaf saya permisi dulu...” balas Suster.
Jean tersungkur dan tertunduk lemas, dia tidak menyangka Doni akan meninggalkan Jean dan anak mereka begitu saja.
“Mas, kamu jahat. hiks! kam-kamu kenapa ninggalin aku sama dedek bayi. kita bahkan belm- um- siapin di-di aa nama...” ucap Jean yang tak bisa membendung rasa sedihnya lagi.
Jean meraung-raung sambil menangis, dia tak kuasa melihat keadaan yang dia alami sekarang. Dia tidak sanggup untuk bangkit.
“Pak, kenapa balik lagi kesini. Anda itu terluka...” ucap Perawat yang berusaha menghentikan Doni untuk berjalan.
“Minggir, itu istri saya udah nangis-nangis. dia pikir saya sudah mati...” balas Doni.
Jean masih menangis di depan tempat tidur yang kosong itu. Dia masih belum percaya dengan keadaan yang dia alami.
“Sayang., Jean...” ucap Doni.
“Mas...” balas Jean sambil berteriak.
Jean lalu berdiri dari tempatnya, dan berlari memeluk Doni. Dia lupa kalau saat ini sedang hamil.
“Mas, hiks! hiks! Mas, ini kamu kan ?” tanya Jean.
“Iya sayang, ini aku..” balas Doni sambil memeluk Jean.
“Emm-mereka bilang kam-kam u, kecelakaan Mas...” sambung Jean.
“iya, aku memang kecelakaan. tapi aku baik-baik aja...” ucap Doni.
“syukurlah...” balas Jean.
Jean kemudian memeluk erat tubuh Doni, ia benar-benar ketakutan saat ini. Dia takut jika Doni meninggalkan mereka.
Doni hanya bisa memeluk Jean, dia tau saat ini Jean benar-benar ketakutan. Dia mencium pucuk kepala Jean dan juga mengelus lembut punggung orang yang dicintainya itu.
Seseorang tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua. Dia dari tadi mencari Doni.
“Heh, anak setan..” ucap Maxim.
“Apa, ini semua gara-gara lu ya Maxim. lihat istri gue hampir pingsan. kalau terjadi sesuatu ama dia gimana ?” balas Doni.
“yee, gue kan panik. habisnya kita kan lagi persiapan. terus lihat lu jatuh dari tangga, gue paniklah...” sambung Maxim.
“tapi gak perlu ngasih tau juga ke dia kan...” balas Doni.
“iya deh, sorry...” ucap Maxim.
Jean masih memeluk dan mendekap erat tubuh Doni. dia masih takut, kalau semu ini mimpi baginya.
“Sayang, lepasin dulu. kasihan anak kita, kejepit...” ucap Doni.
“Gak mau, nanti kamu pergi...” balas Jean.
“Sayang lihat aku dulu, ini aku gak bakalan kemana-mana...” ucap Doni.
Jean mulai melepaskan pelukannya, dan menatap Doni dengan sungguh-sungguh.
Dia melihat dengan baik, bahwa orang yang di depannya ini bukan Arwah Doni.
“Udah ya, berhenti nangisnya. aku baik-baik aja..” ucap Doni sambil menahan rasa sakit di kakinya.
“iya, Mas..” balas Jean.
“Halo Jean...” ucap Maxim.
“iya, Halo...” balas Jean.
“Heh, gak usah genit ama istri gue...” sambung Doni.
“ih, masih calon istri ya, lu kan belum sah di mata tuhan sama dia...” balas Maxim.
“lu, gue tampol ya...” balas Doni.
“lah, kan emang bener. masih calon istri. baru mau nikah kan...” ledek Maxim.
“Mas, dia ngomongin apa sih ?” ucap Jean yang berbisik dengan Doni.
“gak tau, orang stress dia mah. udah yuk kita pulang...” balas Doni.
“HEH, DONI GUE MASIH BISA DENGER YA...” sambung Maxim.
Doni lalu menarik tangan Jean agar segera pergi meninggalkan rumah sakit.
Dia membawa Jean menggunakan taksi, karena saat ini mobilnya masih berada di kantor.
[Tiba di suatu tempat]
Doni menarik tangan Jean dan membantunya untuk turun dari taksi, dan masuk ke suatu gedung.
Doni menggenggam tangan itu, lalu berjalan masuk kedalam bangunan tua tersebut.
Pintu lalu terbuka, nampak terlihat beberapa orang yang Doni undang khusus untuk hadir ke acara mereka. Hanya ada kerabat dan beberapa keluarga yang ada disitu...
“Mas, ini ada apa ?” tanya Jean.
“Kita mau nikah...” jawab Doni.
“Hah, Mas becanda...” ucap Jean.
“Gak sayang, Aku gak pernah bercanda dalam hubungan. Aku sudah bilang kan akan menikahimu...” balas Doni.
“Tapi, kamu lihat, penampilanku ini..” sambung Jean yang menatap dirinya.
“Kamu tenang saja, semuanya sudah aku siapkan...” ucap Doni.
Beberapa orang datang mengahampiri mereka, Jean mulai di bawa ke satu ruangan yang sudah di siapkan. Di situ mereka akan mendandani Jean selayakanya pengantin.
Jean sudah cantik, perias wajah tidak perlu banyak bekerja untuk membuat dia terlihat sempurna. Sedikit polesan membuat semua orang bisa terpana.
Tuxedo berwarna putih di gunakan untuk hari bahagia mereka berdua. Doni sengaja memesan warna putih, agar terkesan lebih sakral untuk hari pernikahan mereka.
Setelah selesai di dandan, Jean di antar keluar, beberapa orang membantu Jean untuk berjalan. Karena dia sedikit kesulitan.
Doni sedang berdiri bersama dengan seorang pendeta, saat ini ia tengah merasakan debaran jantung yang luar biasa.
Ini bukanlah pernikahan pertama bagi mereka berdua, tetapi jiwa mereka merasakan seperti baru pertama kali.
Jean kemudian berjalan menuju altar, tempat mereka akan mengucapkan janji sehidup semati.
Doni sangat terpesona dengan calonnya itu, matanya tak berhenti berkedip melihat kesempurnaan yang dimiliki Jean. Kehamilannya membuat dia menjadi cantik berkali-kali lipat.
Jean yang melihat Doni menatapnya itu, berjalan tersipu malu. Sungguh dia tidak menyangka bahwa hari ini menjadi hari pernikahan mereka.
Doni dan Jean sudah berdiri di depan, kini saatnya telah tiba. Pendeta mengucapkan janji suci dan mereka berdua harus mengikutinya.
Ucapan Janji Suci :
Pendeta : Apa kalian berdua telah siap, menjadi sepasang suami istri, menjadi pasangan yang saling setia serta mencintai satu sama lain, menerima suka dan duka, sampai maut memisahkan kalian. Dan melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri.
Doni : Saya Doni Adelio siap menjadi suami dari Jean Adelard, menerimanya dengan setulus hati, dalam keadaan suka dan duka, mencintai dia selamanya, menjadi pasangan yang setia. Dan akan menjadi pemimpin yang baik untuknya dan keluarga kecil kami.
Jean : Saya Jean Adelard siap menjadi istri dari Doni Adelio, menerimanya dengan setulus hati, dalam keadaan suka dan duka, mencintai dia selamanya, menjadi pasangan yang setia. Dan akan mengabdikan seluruh jiwa raga saya untuk melayani dia dan keluarga kecil kami.
Pendeta : kini kalian berdua telah sah, menjadi sepasang suami istri di hadapan Tuhan dan juga secara hukum. Silahkan saling mencium satu sama lain.
Doni dan Jean kini berciuman sebagai bentuk ungkapan dari rasa bahagia hari ini, dan juga sebagai bukti dari ucapan janji suci mereka.
“Aku mencintaimu istriku...” ucap Doni.
“Aku juga mencintaimu suamiku...” balas Jean.
Mereka kemudian melanjutkan ciuman mereka kembali, di iringi dengan tepuk tangan meriah dari tamu undangan dan juga para saksi.
Hari ini menjadi hari bahagia mereka berdua, mereka telah menjadi sepasang suami dan istri. Kini saatnya mereka melanjutkan kehidupan keluarga kecil mereka.
Doni kecelakaan disebabkan karena dia sibuk mempersiapkan acara mereka hari ini, sebenarnya dia masih bisa menunda pernikahan mereka dahulu.
Tetapi Doni tidak sanggup jika tak ada ikatan di antara dirinya dan juga Jean. Rasa cintanya yang besar, membuat dirinya tidak bisa berlama-lama membiarkan Jean begitu saja.
Jean sendiri sebenarnya tidak mengetahui tentang acara pernikahan mereka, yang sudah disiapkan oleh Doni. Ia juga masih kaget dengan kejadian yang mendadak ini.
Apapun yang terjadi kini mereka berdua tidak bisa di pisahkan lagi oleh siapapun. Doni dan Jean cinta mereka berdua semakin kuat.