Ke Pantai
Aeril berasama ketiga putranya Marko, Harry dan Jerial pergi menuju Pantai.
Hari ini Marko yang menyetir. Harry dan Jerial duduk di belakang, Sedangkan Aeril duduk di samping.
Mobil mereka melaju dengan cepat menuju salah satu Pantai yang ada di Perancis.
Anak buah Aeril mengikuti mereka secara diam-diam. sesuai dengan Perintahnya, Karena Aeril tidak ingin Anak-anaknya merasa risih melihat keberadaan para pengawal.
Mobil melaju dengan aman sampai ke tempat tujuan, Tiba di Pantai mereka semua lalu turun.
[Di Pantai]
Aeril berjalan mendekati Air laut, sedangkan Marko, Harry dan Jerial hanya melihat Papi mereka dari Kejauhan.
Mereka paham ada rasa rindu mendalam yang saat ini Aeril rasakan. Papi mereka merindukan Sosok Daddy mereka.
Aeril bahkan ke pantai menggunakan baju besar milik suaminya, dia benar-benar rindu dengan mendiang suaminya.
Aeril membentangkan tangannya sambil memejamkan mata, menghirup Aroma air laut dan mendengar bunyi suara ombak. Dia begitu merasakan Kehadiran sosok Aeron saat ini.
Air matanya mengalir, rasa sesak kembali menghampiri dirinya. Dia benar-benar mengharapkan keajaiban Aeron muncul saat ini di depannya.
“Hey, Jelek.. kenapa menangis ?” ucap sosok itu.
“Mas., itu kamu. Mas Aeron..” balas Aeril.
“iya ini Aku, kamu ini. gara-gara kamu menangis Aku harus segera muncul kesini..” ucap Aeron.
“Maaf, Aku merindukanmu..” balas Aeril.
” Si jelek ini. kenapa masih merindukan suamimu yang jahat ini ?” Tanya Aeron.
“ish, yah. meskipun kamu jahat, Aku tetap mencintaimu..” Jawab Aeril dengan ketus.
“Maaf membuatmu menderita..” ucap Aeron sambil menghapus Air mata yang mengalir di pipi Aeril.
“Mas..” ucap Aeril
Sosok itu memeluk Aeril dari Belakang, dia mendekap tubuh Aeril dengan erat. Ciuman di pipi berkali-kali Aeron berikan pada Aeril.
“Kamu hebat, bisa merawat anak-anak kita dengan baik. Aku bangga denganmu. Papa tidak salah memilihmu menjadi Istriku. Aku mencintaimu sayang..” ucap Aeron sambil memeluk Aeril.
“Kalau aku hebat, kenapa kau meninggalkanku sendirian disini., kenapa kamu tidak membawaku saja..” balas Aeril sambil mendekap tangan Aeron dengan erat.
“Jika Aku membawamu sekarang, terus siapa yang akan melihat anak-anak. kamu yakin mereka bertiga bisa kuat ?” tanya Aeron.
“Aku yakin mereka kuat..” jawab Aeril.
“Sayang, dengar. Kamu lihat kan, baru beberapa bulan saja, kamu tinggalkan Marko dan Harry mereka sangat terpuruk. Apalagi kamu pergi meninggalkan mereka selama-lamanya..” sambung Aeron.
” Tapi, Aku gak bisa hidup tanpa kamu. bagaimana bisa Aku mengajari ketiga jagoan kita..” ucap Aeril.
“Kamu bisa, Aku yakin Kamu pasti bisa. ingat bagaimana caramu membesarkan Jerial tanpa Aku tau keberadaannya..” balas Aeron.
“Tapi itu semua berkat bantuan Papa, Mas. Kalau bukan karena Papa, Jeri gak bakalan bisa tumbuh sampai sekarang..” ucap Aeril.
“Sayang, itu semua berkat kamu. kamu yang menyelamatkan anak kita. itu semua karena usaha kamu..” balas Aeron.
“Kalau Aku gak kuat, Aku boleh kan susul kamu. Mereka bertiga punya Kakek, nenek dan Opa. Aku gak punya kamu disini..” ucap Aeril.
“iya, nanti. kalau sudah waktunya. kamu akan aku jemput..” balas Aeron.
“Aku menyayangimu Mas, Aku sayang sama kamu..” sambung Aeril.
“Aku juga lebih mencintai si bodoh ini..” balas Aeron.
Mereka masih berpelukan, sambil memandangi Air laut, merasakan hembusan angin. dan mendengar kicauan burung.
“Mas..” ucap Aeril
“Apa, Aeril..” balas Aeron.
“Kamu udah ketemu, sama anak kita ?” tanya Aeril.
“Sudah, Aku sudah bertemu dengannya. Dia sangat cantik. persis sepertimu, lesung pipinya seperti punya kamu. Dia sangat senang bertemu denganku., kita sering main bersama..” jawab Aeron.
“Oh, ya. Kamu senang bertemu dengan anak kita..” ucap Aeril
“Senang dong, Aku kan tidak kesepian disana. Dia itu cerewet sepertimu, Dia benar-benar copyan darimu. Ingat kan malam itu kamu yang paling bersemangat...” ledek Aeron untuk Aeril.
“Yah, itu semua gara-gara obatmu itu..” balas Aeril yang tak terima Aeron menggodanya.
“Tapi kamu suka kan..” ucap Aeron.
“Mas kamu lihat Tiga jagoanmu itu juga mirip denganmu, bahkan sifat mereka lebih banyak mirip denganmu..” ucap Aeril yang cemburu.
“Tapi sayang, Marko dan Jerial wajah mereka mirip denganmu. kamu gak usah cemburu..” balas Aeron.
“iya, Tapi sifat mereka. Persis denganmu, mereka itu keras kepala sepertimu. yang kalau mau harus mereka dapatkan..” ucap Aeril.
“Ayolah, kan Aku Daddy mereka sayang..” sambung Aeron.
“iya, kau menang tuan keras kepala..” balas Aeril.
Aeron memutar tubuh Aeril menghadap kearahnya, kini mereka berdua saling bertatapan.
Aeron menyentuh wajah itu, dan menghapus bulir air mata yang jatuh membasahi pipi Aeril.
“Aeril, istriku. Aku titip anak-anak denganmu ya, sampai kapanpun kita tetap menjadi keluarga. Aku bersyukur tidak pernah mengabulkan keinginanmu untuk berpisah dariku..” ucap Aeron.
“Mas, kamu jangan pergi dulu. Aku masih kangen tau. kamu gak kangen ya sama Aku. Malam itu kamu bilang cinta sama Aku, kamu bilang sayang sama aku. kamu bilang gak mau jauh dari aku dan anak-anak..” balas Aeril.
“Aku mencintaimu, sampai kapanpun aku sayang kamu. meski dunia kita berbeda, Aku tetap menyayangimu dan anak-anak..” ucap Aeron.
“Mas bisa sebentar dulu disini, Aku masih ingin melihatmu..” balas Aeril.
“Aku ingin, tapi Putri kita sudah memanggilku dari tadi. Kamu ingin dia menangis sayang...” tanya Aeron.
“Gak, Aku gak mau dia sedih..” jawab Aeril.
“Kalau begitu Aku pergi ya, Jaga kesehatanmu baik-baik. Aku mencintaimu..” ucap Aeron.
Aeron lalu mencium lembut bibir Aeril dan setelah itu dia menghilang. Sosok Aeron benar-benar menghilang dan tidak ada.
“Aku juga mencintaimu..” balas Aeril dan setelah itu dia langsung pingsan.
Marko, Harry dan Jerial ketiga anaknya panik saat melihat Aeril pingsan. Mereka berlari mendekati Aeril.
“Papi bangun, Papi..” ucap Marko
“Papi jangan tinggalin kita..” ucap Harry yang panik.
“Papi, kita disini. ayo bangun..” ucap Jerial.
Sepuluh menit Aeril pingsan, kini dia sadar kembali.
“Papi...” ucap Harry
“Daddy kalian mana ?” tanya Aeril.
“Daddy gak ada Papi..” balas Marko
“Papi, itu hanya delusi. sekarang minum obat Papi ya, ini Jeri bawa obat Papi..” ucap Jerial sambil memberikan obat Aeril.
Aeril kemudian mengambil obat itu, dan mulai meminumnya. Untunglah Jerial membawa obat milik Aeril, jadi Aeril bisa tenang.
“kita pulang yuk Papi..” Ajak Harry
“benar kata Adek, ayo kita pulang. biar Papi bisa istirahat.” ucap Marko.
“Papi masih mau disini, Papi masih mau lihat Daddy..” balas Aeril.
“Kalau begitu, kita tunggu Papi disana ya..” ucap Jeri sambil menunjuk salah satu tempat santai yang ada di pantai itu.
Jerial mengajak Marko dan Harry untuk menjauh dari Papi mereka. Jeri hafal dengan penyakit yang di derita Papinya. mereka sama-sama sakit.
Mereka memandangi Aeril dari kejauhan, hanya itu yang bisa mereka lakukan. sungguh mereka tak sanggup melihat kondisi menyedihkan dari Papi mereka.