Kantor Rey


Aeril saat ini sedang berada di luar, dia hanya pergi berjalan-jalan sebentar untuk menenangkan pikirannya. Karena saat ini dia sedang pusing dengan beberapa masalah yang dia hadapi.

Tempat yang Aeril datangi itu bisa di bilang dekat dengan Kantornya Rey, tapi tidak terlalu berdekatan. butuh waktu 20-30 menit menuju ke situ.

Sebelum ke tempat Rey, Aeril membeli beberapa makanan untuk dibawa ke Kantor Rey. agar mereka berdua bisa makan bersama.

Setelah seluruh pesanannya jadi, dia lalu menaiki Taksi menuju kantor Rey, Aeril sudah tahu dimana alamat kantor milik Rey.

Taksi yang membawa Aeril itu kini telah sampai, Aeril membayar biaya perjalanannya dan kemudian turun dari Taksi.

Saat berjalan masuk ke dalam Gedung besar milik Rey, dia bediri di depan receptionist untuk menyampaikan kedatangannya pada Rey.

“Selamat siang Pak. Ada yang bisa kami bantu..” ucap salah satu pegawai yang melayani Aeril.

“Siang, saya ingin bertemu dengan Rey Muller. apa dia ada ?” balas Aeril.

“Apa anda, Pak Aeril ?” tanya Pegawai tersebut.

“Iya benar..” jawab Aeril.

“Pak Rey sudah menunggu anda dari tadi, mari saya antarkan ke ruangannya..” ucap pegawai itu, dan langsung mengajak Aeril ke ruangan Rey.

Aeril dan Pegawai itu kemudian menaiki lift, menuju ke lantai 50. Lantai yang paling akhir di gedung besar itu. Pintu lift terbuka dan mereka langsung keluar berjalan menuju ke ruangan milik Rey.

Pegawai tersebut mendapat informasi dari salah satu temannya yang sedang berjaga disitu, bahwa Rey sedang keluar sebentar dan akan segera balik.

“Pak Aeril, anda silahkan menunggu di dalam. Pak Rey sedang ada pertemuan sebentar dengan beberapa kepala bagian, tapi sebentar lagi akan balik ke ruangannya...” ucap Pegawai yang mengantarkan Aeril itu.

“Iya Terima Kasih..” balas Aeril.

Aeril berjalan masuk ke dalam ruangan milik Rey, Ruangan itu tampak besar dan mewah.

Tidak terlalu banyak ornamen yang menghiasi ruangan, ruangan itu hanya memiliki satu kamar tidur pribadi dan toilet di dalamnya.

Ada satu set Sofa mewah, Kulkas, serta TV berukuran 500 inch di dalam ruangan.

Aeril berjalan mengelilingi ruangan milik Rey, dia memperhatikan semuanya satu persatu. Meja Kerja dan Kursi kebesaran milik Rey yang menarik pemandangannya, untuk melihat secara lebih dekat.

Aeril melihat ada foto Brandon dan Rey diatas meja, dia kemudian memegang foto tersebut. sambil kembali mengingat moment bersama Brandon.

Rey yang sudah selesai melakukan pertemuan singkatnya itu, kini masuk ke dalam ruangannya dan memandangi Aeril yang sedang berdiri menatap foto Rey dan Brandon.

“Aeril..” ucap Rey sambil berjalan mendekati Aeril.

“Mas..,” balas Aeril yang melihat ke arah Rey.

Aeril kemudian meletakkan foto itu kembali di meja Rey. Rey yang melihat Aeril seperti sedang sedih, kemudian memeluknya.

“Jangan sedih lagi, dia sudah bahagia..” ucap Rey sambil memberikan sebuah ciuman pada pucuk kepala Aeril.

Aeril hanya diam kemudian membalikan tubuhnya dalam pelukan Rey. Jujur Aeril sungguh lelah, dia ingin pergi sejauh-jauhnya dan melupakan semua kejadian pahit dalam hidupnya.

“Tenanglah, Aku disini., Kamu gak boleh sedih lagi, Aku selalu ada buat Kamu..” ucap Rey yang mengusap punggung Aeril untuk menenangkannya.

“Iya., Aku tau.., ayo makan..” balas Aeril kemudian melepaskan pelukan itu.

Rey dan Aeril kini duduk di sofa berwarna hitam yang ada di ruangan, Aeril kemudian membuka makanan yang dibawanya. yang saat ini dia ingin lakukan hanyalah makan bersama dengan Rey.

Aeril membawa beberapa makanan khas Jepang untuk mereka makan siang bersama. dia membuka semuanya, dia memberikan sumpit untuk Rey. Aeril melayani Rey seperti seorang suami.

Rey kemudian memakan semua makanan yang dibawa Aeril bersama dengannya. Rey makan sambil memandangi Aeril yang tengah sibuk makan tapi sambil melamun.

“Hey.., kamu kenapa ?” tanya Rey.

“Aku.., Aku gakpapa..” jawab Aeril.

“Jangan bohong, ayo cerita sama Aku..” ucap Rey.

“Aku lelah, Aku mau pisah dengan Mas Aeron. Aku capek..” keluhan penderitaan Aeril kini keluar dari mulutnya.

“Kamu yakin ingin pisah dengannya ?” tanya Rey kembali.

“Iya, Aku ingin sekali. Tapi, dia tidak membiarkanku lepas begitu saja..” jawab Aeril.

Mendengar itu membuat Rey semakin yakin bahwa keputusannya sangat tepat, untuk mengambil Aeril dan menjaganya.

“Aeril kalau aku ajak kamu menikah, apa kamu mau ?” tanya Rey.

“Menikah ?” tanya Aeril.

“iya menikah, biar Aku bisa melindungi kamu darinya...” jawab Rey.

“Aku gak tau Mas..” ucap Aeril.

Rey tau saat ini keputusannya bisa di bilang sangat terlalu cepat, Aeril saja belum bercerai dengan suaminya. tapi, dia sudah berani mengajak Aeril untuk menikah dan hidup bersamanya.

Karena respon dari Aeril yang bingung, Rey kemudian mengajaknya untuk melanjutkan makan, dia mencoba sebisa mungkin untuk bersabar dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.

Setelah makan Aeril langsung pamit pada Rey untuk kembali ke rumahnya, karena dia merasa bahwa sudah cukup berlama-lama di luar rumah.