Kamu dan Secangkir Kopi


Sembari menunggu Doni yang keluar dari kamar. Jean memutuskan untuk membuatkan Doni segelas kopi. Agar secangkir kopi bisa menemani Doni untuk mengerjakan Pekerjaan kantornya Malam ini.

Jean sungguh telaten, dia meracik segelas kopi hitam dan menyiapkan beberapa camilan untuk Doni. Jean juga tidak lupa membuatkan segelas susu panas untuk dirinya sendiri.

Saat ini Doni sedang duduk di Ruang Televisi Apartment miliknya. Laptop yang menyala dan berkas-berkas yang berserakan di atas meja membuat dirinya benar-benar fokus pada pekerjaannya.

Doni bahkan tak sadar, bahwa saat ini Jean sedang mengantarkan minuman dan cemilan untuknya.

“ehemm...” suara Jean yang memberikan signal bahwa dia sudah berada di hadapan Doni.

“Jean..” balas Doni yang kaget melihat Jean yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.

“Boleh aku duduk Mas...” ucap Jean.

“Iya, boleh...” balas Doni yang kemudian merapikan sedikit bagian tempat duduknya yang berantakan itu.

“Ini buat kamu Mas, biar kuat ngerjain laporannya...” ucap Jean sambil meletakkan minuman dan camilan diatas meja.

“Astaga, kamu gak perlu repot-repot Jean...” balas Doni yang kemudian membantu Jean meletakkan minuman.

“gakpapa kok Mas, anggap aja ini hadiah dariku, karena kamu telah mengizinkanku tinggal disini...” sambung Jean.

“Makasih Jean...” ucap Doni.

“Kamu lagi ngerjain laporan apa itu Mas ?” tanya Jean.

“Ini, aku lagi selesain laporan hasil pembahasan proyek minggu lalu...” jawab Doni.

“Pasti ribet banget kamu Mas...” ucap Jean.

“Lumayan...” balas Doni sambil fokus pada pekerjaannya.


Doni sangat serius mengerjakan laporannya itu, tangan-tangan yang lincah menyentuh tombol keyboard dengan cepat. Serta mata yang fokus melihat kertas lembaran putih yang berwarna itu.

Jean sangat serius memperhatikan Doni bekerja, di dalam hatinya dia merasakan getaran aneh. Getaran yang tak biasa dia rasakan pada suaminya.

“Kamu kenapa Jean, kok jadi melamun gitu...” sambung Doni.

“Aku gak ngelamun Mas...” balas Jean.

“Terus ?” tanya Doni.

“Aku cuma kagum sama keuletan yang kamu miliki Mas...” jawab Jean.

“Kamu ini ada-ada aja, namanya kerja ya harus rajin Jean. Gak mungkin kan kerja sambil bermalas-malasan...” balas Doni.

“Iyaaa, juga sih. hehe...” suara kekehan keluar dari mulut Jean.


Jean bingung bagaimana mengawali obrolan malam ini, dia ingin berbicara dengan Doni. Tapi dia tidak tau harus berbicara apa, sampai tiba-tiba.

“Mas. Aku mau tanya boleh...” ucap Jean.

“Tanya apa Jean...” balas Doni.

“Mas, emang suka sendirian di rumah ?” tanya Jean.

“Bukan suka Jean, lebih tepatnya harus menerima kesendirian...” jawab Doni.

“Kok gitu sih, emang kamu gak bareng istri kamu...” ucap Jean.

“Gak, Aku gak pernah habisin waktu sama dia di rumah. Dia itu orang yang sibuk, setiap dia pulang kerja kalau bukan aku yang sudah istirahat duluan, Palingan juga dia yang istirahat...” balas Doni.

“Hah, emang Mas sama Istri Mas, gak suka ngobrol gitu. saling cerita tentang keseharian kalian gitu...” ucap Jean yang kaget saat mendengar pernyataan dari Doni.

“Gak pernah, sesekali aku ingin mengajaknya ngobrol. Tetapi dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku malah takut mengganggunya...” balas Doni.

“Hubungan Mas sama istri Mas rumit juga ternyata yaa..” timpal Jean.

“Rumit dan tidaknya itu tergantung dari kedua belah pihak Jean...” sambung Doni.

“Aku mengerti. Maaf ya Mas, aku sudah lancang tanya tentang hubungan kalian berdua...” ucap Jean yang merasa bersalah.

“Gakpapa Jean, Aku gak masalah...” balas Doni.


Jean kemudian menyalakan televisi untuk menonton. Doni hanya bisa tersenyum melihat Jean yang tengah asyik menonton itu.

Sambil bekerja Doni tidak lupa untuk meminum kopi dan memakan camilan yang sudah Jean sediakan untuknya.

Jean juga sudah habis meminum susu yang di buatnya, dia juga saat ini sedang fokus menikmati film yang ada di televisi.

Jam terus berdetak dan Doni masih sibuk mengerjakan pekerjaannya, sampai otot badannya merasakan sedikit ketegangan. Dia mencoba meregangkan tubuhnya sedikit dengan cara menggerakan badannya.

Saat dia menggerakkan badannya, dia melihat Jean yang sudah terlelap tidur di sampingnya, dengan posisi setengah duduk dan tangan sebagai penahan kepalanya.

Doni yang tak tega melihat Jean tertidur dalam kondisi seperti itu, lalu buru-buru memperbaiki posisi tidur Jean. Doni membaringkan tubuh Jean di sofa agar dia bisa tidur dengan nyaman.

Karena Jean merasa ada pergerakan, dia mencoba membuka matanya sedikit akibat merasakan kantuk yang begitu dalam.

“Mas...” ucap Jean.

“Jean, tidur di kamar ya..” balas Doni sambil mengelus rambut Jean.

“gak mau, aku mau disini aja sama Mas...” ucap Jean sambil menarik tangan Doni agar berada dalam pelukannya.

Jean tidak melanjutkan obrolan mereka lagi, karena rasa ngantuk yang datang menghampiri dirinya. Dia benar-benar tertidur lelap, padahal biasanya dia mengalami kesulitan untuk tidur.


Doni hanya menatap Jean yang masih mendekap tangannya itu dengan erat, akhirnya Doni perlahan-lahan menarik selimut yang kebetulan dia sengaja bawa dari kamarnya untuk Jean.

Doni lalu menutupi tubuh Jean agar tidak kedinginan, Jean yang merasakan rasa nyaman itu semakin erat memeluk tangan Doni.

Bahkan dalam keadaan terlelap pun, Jean masih bisa menarik tubuh Doni agar berdekatan dengan tubuhnya.

Tak ada pilihan lain, akhirnya Doni menggeser tubuh Jean sedikit. Agar dia bisa berbaring di sebelah Jean.

Ukuran sofa yang tidak telalu besar, tetapi cukup bisa dipakai berbaring untuk dua orang, walau harus berdempatan sedikit.

Supaya Doni tidak jatuh, dia menggunakan lengannya sebagai bantalan untuk Jean. Dan memeluk Jean dengan erat, karena Jean merasakan rasa hangat. Akhirnya Jean juga membalas pelukan itu.

Beruntung pekerjaan Doni telah selesai, jadi dia bisa tertidur dengan tenang malam ini.

Sebelum tertidur Doni menatap wajah cantik milik Jean, dia merasakan seperti adanya sengatan dalam dirinya. Debaran jantung itu kembali dia rasakan.

“Jangan pernah sedih Jean, Aku gak suka lihat kamu sedih apalagi nangis. Jean kalau aku suka sama kamu apa boleh...” gumam Doni dengan nada yang pelan.

Setelah mengucapkan hal yang Doni inginkan, dia lalu kembali mendekap tubuh Jean dengan erat sambil mengelus rambut Jean. Doni seperti tidak ingin kehilangan sosok yang berharga.

Malam ini Apartment milik Doni menjadi saksi bisu atas apa yang mereka lakukan kembali.

Bagai sepasang suami dan istri mereka berdua tertidur dalam keadaan terlelap dan saling berpelukan satu sama lain.