He Forgot Me ; (27)



Setelah menjemput sahabat satu-satunya, Jaehyun kemudian melanjutkan perjalanannya bersama dengan Jungwoo. Mereka berdua melaju ke tempat main biasa mereka pada hari ini. Sebenarnya tempat yang akan mereka datangi tak lain yaitu tempat pusat perbelanjaan, sudah lama sekali mereka tidak berpergian kesana.

Saat tiba. Jaehyun dan Jungwoo langsung bergegas turun dari mobil, kemudian mereka berjalan kemudian memasuki area pusat perbelanjaan di kawasan pusat perbelanjaan mewah tersebut. Jaehyun dan Jungwoo tak lupa untuk menginjakkan kaki mereka di beberapa toko branded yang menjadi tempat langganan mereka ketika saat berbelanja.

“Selamat datang Tuan”

Para pegawai yang telah mengenal baik Jaehyun dan Jungwoo tentu menyambut mereka dengan hangat, semua mengenali Jaehyun dan Junwoo, mereka berdua di kenal baik dan loyal. Bahkan tak jarang mereka memberikan tip besar kepada pegawai yang melayani mereka dengan pelayanan terbaik.

“Eh woo lo inget nggak?”

“Ingat apa?”

“Waktu tugas pas lagi banyak-banyaknya dulu semester awal, terus kita kesini belanja. Tapi selesai belanja kita nggak langsung pergi”

“Anjir gue ingat banget. Hahahaa, lucu banget. Kesini belanja Cuma buat numpang tugas-tugas laknat itu kan”

“ahahaa, iya. Terus kita dikasih ruangan sendiri sama mereka buat kerja”

“Gimana nggak dikasih ruangan, lo waktu itu belanja udah 900-an lebih nyet”

“Itu mah karna gue lagi kesel aja sama tugas-tugas”

“Tapi nggak segitu juga dong”

“Udah sih, cuma waktu itu doang”

Mereka berdua berbincang sambil menunggu pesanan mereka yang sedang di ambil oleh pegawai, Jaehyun dan Jungwoo tertawa ketika mengingat tingkah konyol mereka kala itu.


Saat dimana mereka masih berkuliah pada semester awal dan banyak sekali mendapatkan tugas, membuat mereka menjadi kesal. Sebab merasakan waktu istirahat yang tak cukup, bukannya pulang dan mengerjakan tugas. Jaehyun malah mengajak Jungwoo ke mall, kemudian tanpa mereka sadari waktu yang mereka habiskan sudah terlalu banyak.

Membuat Jaehyun mengambil inisiatif untuk kembali mengerjakan tugas namun di dalam toko branded, Jungwoo saat itu berpikir jika Jaehyun hanya bercanda saja. Namun nyatanya tidak sama sekali, mereka memang berbelanja, akan tetapi Jaehyun berbelanja sudah sangat banyak.

Sebab karena itulah salah satu manager menawarkan ruangannya untuk dipakai mereka bekerja. Walau pada nyatanya itu tidak boleh dilakukan. Akan tetapi Jaehyun dan keluarga sudah sangat di kenali membuat dia bisa dapat merasakan pelayanan lebih dari pelanggan yang lain. Berkat bantuan dari manager membuat mereka mampu menyelesaikan tugas dengan cepat. Telah selesai berbelanja membuat mereka keluar dari toko brand mewah tersebut.

“Gue laper nih jae”

“Sama, makan dulu yukkk”

“Ayo deh”

Mereka berdua menuju ke salah satu tempat makan kesukaan mereka yang ada di mall, saat berada disana membuat Jaehyun sedikit tersontak kaget.

“Shit”

“Kenapa jae?”

“Nggak”

Yuta berjalan bersama Clau dan Nadya mendekat ke meja Jaehyun dan Jungwoo

“Halo Jae, apa kabar?”

“Baik Yuta”

“Hai Jaehyun”

“Hai Clau”

Jungwoo melihat mereka semua, dan dia tidak terlalu perduli. Berbeda dengan Jaehyun yang merasa kurang nyaman saat melihat kehadiran mereka. Terutama Nadya.

“Kita boleh ikutan gabung nggak Jae?” Yuta bertanya kepada Jaehyun.

“Eh, tanya jungwoo”

Mendengar namanya di sebut Jaehyun membuat Jungwoo berbalik menatapnya, sebenarnya ada gesture atau gerak tubuh yang Jaehyun lakukan kepada Jungwoo supaya menolak. Namun kenyataannya Jungwoo tak mengerti makna dari gerakan tersebut.

“Iya boleh”

“bego banget lo woo” Jaehyun membatin di dalam hati dengan keras.

Yuta ingin duduk berdekatan dengan Jaehyun, namun nyatanya Naday melerai kursi yang telah lebih dulu di Tarik dengan mendudukinya secara langsung.

“Yut, lo deket aja sama Clau sana”

Yuta menggeram dengan nada rendah yang tak bisa di dengar oleh siapapun, Jaehyun sedikit kesal sebab Nadya memilih duduk dekat dengannya. Berbeda dengan Jungwoo yang duduk saling berhadapan dengan Jaehyun.

Meja mereka dapat bermuat enam orang, membuat Jaehyun menyesali keputusannya untuk memilih meja tersebut. Pelayan membawa pesanan mereka, di tambah beberapa pesanan lagi dari Yuta, Nadya, dan Clau.

“Jae, papa sama mama kamu apa kabar?”

“Baik”

“Udah lama aku nggak main ke rumah kamu, nanti aku boleh mampir ke rumah nggak?”

“Boleh”

“Jaehyun aku boleh ikut main ke rumah kamu juga nggak?”

“Boleh Clau, tapi kapan-kapan aja kalian mainnya. Kalo sekarang aku lagi sibuk”

“Sibuk apa?” sahut Nadya

“Sibuk kerja” timpal Jaehyun dengan ketus.

Mereka berbicara sambil melanjutkan makan mereka, meski Jaehyun terasa kurang nyaman. Namun ia berusaha sebaik mungkin agar tidak menampakan rasa ketidaksukaannya.

“Clau, ngapain makan udang” Yuta mengehntikan Clau yang ingin mengambil udang.

“Dikit doang yut”

“No. Jangan bikin alergi kamu kumat”

“Duh romantis banget sih kalian berdua, kenapa nggak jadian aja sih yut, clau”

“Nad”

“Ih beneran kok, tanya aja Jaehyun. Jaehyun Clau sama Yuta cocok kan kalau pacaran?”

Mendapat pertanyaan dari Nadya membuat Jaehyun memandangi Yuta dan Nadya seketika. Jungwoo melihat ke arah Nadya dengan tatapan yang tak biasa.

“Iya cocok, langsung nikah juga malah lebih bagus”

Jaehyun berbicara sambil melanjutkan makanannya, memotong steak sambil mengunyah dengan pelan.

“Uhukk” Yuta tersedak mendengar pernyataan Jaehyun.

“Yut, ini minum dulu” Nadya memberikan minuman kepada Yuta, Yuta langsung menerima dan meminumnya.

“Tuhkan gue bilang juga apa, Jaehyun aja setuju”

Nadya berbicara dengan keras sambil merangkul pundak Jaehyun yang dimana membuat Jaehyun merasa kurang nyaman.

“Nad, lo jangan gituin Jaehyun dong”

“Ih santai aja clau, gue kenal Jaehyun kok. Jaehyun ini hmm pacar. eh apa mantan pacar ya! lo tau kan sepupu gue Kim, nah ini pacarnya”

“HAH JADI LO PACARNYA KIM YANG BANYAK DI CERTAIN ORANG-ORANG ITU”

Jaehyun tertegun mendengar pernyataan dari Clau, Jungwoo mencoba menahan emosinya. Ia tak menduga jika orang yang duduk bersama dengan mereka adalah kerabat dari Kim mantan kekasihnya Jaehyun.


“Jaehyun maaf gue lancang, tapi beneran gue nggak ada maksud nyakitin atau nyinggung perasaan lo” ujar Clau yang merasa bersalah, ketika melihat ekspresi wajah Jaehyun.

Nadya melepaskan rangkulannya dari Jaehyun, dia pun melirik Jaehyun. Jaehyun sendiri mendadak merasa tak enak dengan dirinya sendiri, kepalanya terasa berdenyut. nafasnya memburu namun ia mencoba untuk mengontrolnya kembali.

“Nggak kok Clau im okay”

“Iyalah, waktu Kim meninggal juga dia nggakpapa. Jadi dia kuat kok, santai aja Clau. Sampai sekarang juga dia biasa aja, hidupnya bahagia aja. Sepupu gue aja yang sial mati cepet demi sesuatu yang nggak guna” sindir Nadya dengan halus.

Jaehyun mencoba ingin mengambil minumannya, namun sayang tangannya terlalu tremor untuk memegang segelas air putih yang ada di bagian kanannya. Jungwoo dapat melihat dengan cepat perubahan yang terjadi pada sahabatnya. Yuta sendiri masih belum mengerti sebab ia tak tahu menahu dengan masa lalu Jaehyun.

Melihat suasana dan kondisi yang kurang bagus untuk Jaehyun, membuat Jungwoo dengan cepat mengambil alih. Ia memegang tangan sahabatnya, membuat Jaehyun menatap Jungwoo. Jungwoo memberikan isyarat agar tidak cemas, sebab kecemasan Jaehyun kini datang kembali.

“Jadi kamu nggak ada waktu kematian Kim, pantesan aku nggak kenal kamu Jaehyun. Waktu itu aku datang kesana tapi kamu nggak ada. Emang kamu kemana?”

Jaehyun kembali menatap Clau, Nadya melirik Clau sambil tersenyum tipis. Nadya dan Clau sama saja, mereka akan saling membantu satu sama lain. Jika satu di antara mereka memiliki masalah.


“hmm aku. ak-”

“Jae ayo nggak papa cerita aja, ceritain waktu itu kamu kemana biar mereka tau”

Jaehyun sontak kaget mendengar Jungwoo berucap kepadanya.

“Memangnya kamu kemana Jaehyun?” Yuta kembali bertanya.

Jaehyun terdiam, membuat Jungwo melihat ke arah mereka semua. Jungwoo pun tersenyum lalu menuangkan air ke dalam gelas kecilnya.

“Saat kematian mantan kekasihnya, Jaehyun harus pergi berlibur ke tempat yang jauh”

Jaehyun kembali di buat tercengang, Nadya merasa bahagia. Yuta kaget dan Clau menatap ke arah Nadya.

“See, bahkan saat sodara gue menderita lo nggak ada Jaehyun”

Nafas Jaehyun seperti sesak, perasaan dan ingata-ingatan lainnya kembali berputar di dalam kepalanya.

“Nadya, kayaknya lo salah paham deh. Sodara lo itu yang mutusin dan ninggalin sahabat gue duluan. Dia udah lama menghilang dan pergi ninggalin Jaehyun tanpa alasan yang jelas”

Jungwoo membalas dengan menekan pembicaraannya kepada mereka semua, Yta masih memperhatikan Jaehyun sedari tadi.

“Maksud lo, lo jangan sok tau deh. Gue sepupunya gue tau. Temen lo ini yang hancurin sodara gue. Dia penyebab kematian sodara gue” Nadya mulai kesal mendengar pernyataan dari Jungwoo.

“Maaf, tapi ini faktanya. Dan sahabat gue sendiri berjuang cari tau keadaan sodara lo. Tapi sayang dia harus di panggil Tuhan. Gue turut berduka, satu lagi bukannya itu karena dia sendiri yang milih buat pergi. Karna merasa bersalah udah jahatin Jaehyun, selama ini dia hanya manfaatin sahabat gue yang polos dan baik ini”

Jungwoo berbicara menatap Nadya dengan serius, kemudian kembali menggenggam tangan Jaehyun. Jaehyun meremas tangan Jungwoo memberikan kode bahwa ia sudah tidak kuat.

“Lo nggak tau apa-apa”

Jungwoo berdiri lalu melirik jam tangannya,

“Sayang sekali jam makan siang udah selesai, dan gue harus cabut. Yuk Jae kita pergi”

Jungwoo harus membebaskan Jaehyun dari Nadya sesegara mungkin, Jaehyun pun berdiri tanpa bersuara.

“Satu lagi Nadya, kalo lo mau tau seberengsek apa sodara lo. Nanti gue kasih tau, kabarin gue bakalan gue ceritain semua kebusukan sodara lo”

Jungwoo berbicara sambil menatap remeh kepada Nadya, kemudian menarik Jaehyun untuk pergi. Tak lupa membawa barang-barang belanjaan mereka.