He Forgot Me ; (26)
Jaehyun mengehela nafas panjang, bukan nya mendapatkan penjelasan dari sang Ayah, justru dia malah semakin menjadi sangat bingung.
Jaehyun saat ini tengah berada diluar ruangan sang ayah, dengan debaran jantung yang berdetak tak beraturan. Membuatnya semakin takut untuk menemui Johnny kini.
Jaehyun sendiri masih belum tanggap mengenai penjelasan dari Tuan Jung.
Melalui chat pribadi antara orang tua dan anak, pikiran dan hatinya semakin kacau. Mana kala pesan singkat dari Johnny suh yang mengingatkan tentang waktu.
Jaehyun mencoba kembali untuk tetap tenang, merapikan dasi yang sedikit berantakan. Dan Jas yang sedikit merosot,
“Tenang Jae, semuanya bakalan baik-baik aja. Gue cuma perlu masuk ke dalam, terus dengerin penjelasan dari dia”
Rapalan mantra kalimat penguatan serta rasa percaya diri keluar dari mulutnya, hanya kalimat tersebut yang bisa menenangkan dia walau sedikit. Tapi setidaknya, Jaehyun tidak akan nampak terlihat bodoh di depan Johnny.
“Bisa, lo pasti bisa”
Jaehyun berjalan mendekat ke arah pintu
“SHIT GUE NGGAK BISA”
Umpat Jaehyun yang tidak jadi mendorong pintu ruangan Tuan Jung.
Jaehyun membalikkan badannya, dia benar-benar tidak tau hal apa yang akan nanti menjadi pembahasan mereka berdua ketika berada di dalam.
Jaehyun tak ingin Johnny kembali menegurnya, aura jiwa dominan dari Johnny mampu mematahkan jiwanya.
Jaehyun sepertinya ingin kabur, belum sempat berjalan beberapa langkah. Pintu ruangan kembali terbuka.
“JUNG JAEHYUN”
Sahut Johnny yang menahan rasa kesalnya di depan pintu.
“Jo”
“Masuk, sebelum saya menarikmu untuk masuk”
Johnny bertitah tanpa merasakan perasaan bersalah, Johnny berani memerintah Jaehyun di perusahaan milik keluarga Jaehyun sendiri.
Jaehyun memutar kembali badan -nya, badan yang semula nampak tegap kembali merosot.
Jaehyun nampak tertunduk lesuh, bukan seperti ini yang diinginkan oleh Jaehyun. Jaehyun hanya ingin melihat Johnny sebentar, sambil mendengar percakapan Tuan Jung dengan Johnny.
Berjalan tanpa melihat ke arah pintu karena sedang merasakan ketakutan, membuat Jaehyun menubrukkan kepalanya dengan dada bidang milik Johnny.
Johnny sedari tadi masih berdiri di depan pintu dan belum masuk ke dalam, dia masih menunggu Jaehyun.
“awww”
Jaehyun mengeluh kesakitan, sebab kepalanya terpentok dada Johnny. sedangkan Johnny menggunakan jari telunjuk kanannya. Untuk mendongakkan wajah Jaehyun agar menatap ke arahnya.
Jaehyun kini menatap wajah Johnny secara dekat, seperti tak ada ruang yang membatasi untuk Johnny dan Jaehyun saling memandangi satu sama lain.
Desiran debaran Jantung semakin tak karuan dirasakan oleh Jaehyun, wajah tegas namun tampan serta berkarisma membuat Jaehyun sejenak sesaat terdiam.
Alih-alih memikirkan pertanyaan yang akan di lontarkan Johnny ketika di dalam, membuat Jaehyun menjadi lupa, sebab melihat wajah Johnny secara dekat.
Jaehyun begitu merindukan Johnny, entah mengapa sejak pertolongan dari Johnny malam itu. Membuat Jaehyun terkadang suka berpikir keras untuk memikirkan Johnny yang belum tentu memikirkan dirinya.
Tinggi yang tidak terlalu jauh, namun posisi ukuran tinggi Jaehyun masih dibawah Johnny membuat mereka berdua nampak terlihat mesra.
Beberapa detik menatap Johnny membuat pikiran Jaehyun seketika hilang arah, Johnny kemudian berbisik secara seduktif pada salah satu telinga Jaehyun.
“Jika kau berdiam diri terus diluar, bagaimana bisa kita menyelesaikan urusan kita. Satu lagi, matamu akan lompat keluar jika kau tak berkedip saat melihatku bukan begitu Jung Jaehyun”
Jaehyun kaget ketika mendengar ucapan Johnny, ia pun kembali tersadar.
Dengan secara spontan Jaehyun segera memundurkan tubuhnya dari Johnny, karena panik merasa tertangkap basah. Membuatnya hampir jatuh tersungkur ke belakang.
Namun dengan cepat Johnny segera menahan Jaehyun, pinggul ramping -nya di rangkul oleh Johnny.
“Jo”
“Dasar ceroboh, kau membuang waktuku saja”
Ketus Johnny yang masih menahan Jaehyun dengan tangannya.
Merasa malu, Jaehyun dengan cepat kembali berdiri dengan posisi semula.
Jaehyun sendiri bahkan menggaruk tengkuknya sebab merasa malu, Johnny hanya membalas Jaehyun dengan smirk khas miliknya.
“Cepat masuk”
Johnny kembali berjalan masuk diikuti Jaehyun dari bagian belakang.
Johnny dan Jaehyun kini telah duduk.
Johnny duduk di kursi yang hanya bermuatkan satu orang, sedangkan Jaehyun duduk pada kursi yang bisa membuat beberapa.
Posisi mereka berdua bersebelahan dan tentunya memudahkan mereka untuk dapat berdiskusi secara dekat.
“Ayo mulai”
Johnny memulai dengan ucapan nada rendahnya, namun terkesan seperti memerintah Jaehyun.
Jaehyun hanya mampu melihat laporan yang ada di meja, dengan kembali penuh kebingungan.
Beberapa detik tatapannya cukup membuat atensi Johnny kembali naik.
“Apalagi Jung Jaehyun”
Benar-benar bingung, Jaehyun hanya mampu terdiam. Dia takut membuka mulutnya, sebab ia tidak berani mendengar amukan dari Johnny.
“Jangan bilang kamu tidak mengerti apa yang akan kita bahas hari ini!”
“mm—”
“Jadi itu sebabnya, kau memilih diam di luar sana dari tadi JUNG JAEHYUN”
Jaehyun memasang wajah yang takut, mendengar Johnny menyebut namanya dengan penuh penekanan membuatnya kembali semakin takut.
Bibir yang semula biasa saja, pun kembali mengerucut.
Takut? jelas, Jaehyun sangat takut dan bahkan tidak berani untuk melihat ekspersi Johnny yang saat ini berada di hadapannya.
Johnny menghela nafas panjang, dia lalu memilih berdiri dari kursi yang ia duduki.
Johnny kembali mengancing Jas pada kancing bagian tengah.
“I'm such a fool to spend time here”
Johnny lalu mengambil laporan perencanaan, kemudian berjalan meninggalkan Jaehyun di dalam ruangan sendirian.
Pintu ruangan pun menjadi korban kekesalan dari Johnny Suh.
Seketika Jaehyun lalu menutup matanya, mendengar suara keras dari pintu. Kesabaran dari Johnny Suh telah habis, dia benar-benar sangat kesal dengan sikap dari Jung Jaehyun.
Jaehyun memberanikan dirinya untuk membuka matanya, dia pun mencoba menggerakkan kepalanya untuk melihat kembali ke arah pintu.
Benar saja, bayangan Johnny telah menghilang. Johnny telah pergi meninggalkan perusahaan milik Jaehyun.