He Forgot Me ; (23)



Setelah di jemput oleh Yuta kini mereka pergi bersama untuk menghadiri sebuah acara, ini merupakan hal pertama dilakukan oleh Jaehyun setelah sekian lamanya.

Akhirnya Jaehyun mau menerima ajakan dari orang lain untuk pergi bersama selain sahabat, keluarga dan mantan kekasihnya.

Mobil Bugatti berawarna hitam telah terparkir tepat di salah satu hotel mewah, Yuta turun terlebih dahulu. Kemudian membuka pintu mobil Jaehyun, Jaehyun menerima uluran tangan dari Yuta.

Keluar dengan anggun dari mobil, serta memiliki penampilan yang membuat siapa saja menjadi pangling saat melihat Jaehyun penampilannya malam ini.

“Are you ready queen?” tanya Yuta.

Jaehyun tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Yuta. Jaehyun tesipu malu sambil memperlihatkan gigi indahnya. Jaehyun merangkul lengan Yuta,

“Yes prince” jawab Jaehyun.

Berjalan dengan anggun mereka berdua memasuki hotel, banyaknya tamu undangan membuat siapa saja terpesona melihat mereka berdua, terlebih kepada Jaehyun.

Tuan Jung memberikan izin kepada Yuta untuk membawa Jaehyun pergi malam ini ke acara, bukan tanpa sebab. Hanya saja Tuan Jung ingin anaknya agar tidak terus-menerus menjadi murung, setelah kejadian yang sudah-sudah. Sebagai orang tua, Tuan Jung hanya ingin anaknya kembali menjadi bahagia dan ceria.

Jaehyun juga sudah dekat dengan Yuta, Jaehyun adalah orang yang tau balas budi. dia benar-benar menghargai bantuan dari Yuta yang pernah menyelamatkan hidupnya.

“Clau..” Yuta menyapa Clau yang tengah sibuk menyapa tamu-tamunya.

“Hello boy, I’m miss you..” ujar Clau lalu mencium pipi kanan Yuta.

“Me too, gimana kabar kamu?”

“Good..”


Clau adalah sahabat Yuta, sahabat sekaligus merupakan salah satu rekan bisnisnya. Jaehyun sendiri hanya diam ketika melihat Clau dan Yuta melakukan interaksi. Clau melihat Jaehyun yang datag bersama dengan Yuta.

“Dia siapa Yut?”

“Kenalin dia special somebody..” Yuta merengkuh pinggul Jaehyun lalu memperkenalkan Jaehyun lebih dekat dengan Clau.

“Aku Clau sahabat Yuta..” Clau memperkenalkan dirinya.

“Aku Jaehyun..” Jaehyun juga memperkenalkan dirinya.

“Kamu pacarnya Yuta?”

“Clau..”

“Come’on Yut, aku cuma nanya doang..”

“Calm down Yuta. I’m okay. Aku temennya Yuta sama seperti kamu..”

Jaehyun sedang memberikan penegasan kepada Clau bahwa mereka hanya merupakan teman biasa, sebab karena merasa canggung. Yuta memilih untuk pergi mengambil minuman sebentar.

Yuta mendekat kemudian berbisik kepada Jaehyun “ Aku ambil minuman dulu, kamu tunggu disini..”

Jaehyun mengangguk sebagai tanda bahwa dia mengerti penjelasan dari Yuta, Yuta kini pergi kemudian meninggakan Clau dan Jaehyun bersama, tak berselang beberapa menit kemudian. Seseorang wanita datang menghampiri mereka berdua.


“Clau, beb. Sorry gue telat banget..” ucap sosok wanita tersebut.

“Finally lo datang juga, gue mikirnya lo nggak bakalan jadi datang Nad..”

“Gue nggak mungkin nggak datang di acara penting sahabat gue, congrat's. Ini bunga buat lo..”

Nadya adalah sahabat dekat dari Clau, sama seperti Yuta dan Clau.

“Dia datang kan?” tanya Nadya

“Iya”

“Dimana dia?”

“Lagi ngambil minuman”

“Kalian masih gitu-gitu aja!”

“Ya gitu..”

“Clau gue greget banget sama kalian, lo sama Yuta udah tau saling suka. Tapi kenapa nggak pacaran aja..”

Nadya berseru tanpa memperdulikan Jaehyun yang sedang berada di samping mereka dan mendengarkan pembicaraan mereka.

“Nadya..”

“Ih, kenapa sih. Orang gue omongin fakta..”

Clau memberikan kode kepada Nadya, agar Nadya berhati-hati dalam ucapannya. Sebab Jaehyun sedang bersama dengan mereka saat ini.

“Jaehyun, kenalin ini sahabat gue namanya Nadya..”

Clau memperkenalkan Nadya kepada Jaehyun, Jaehyun memberikan senyuman. Namun balasannya tidak di perdulikan oleh Nadya, Nadya memberikan tatapan sinis. Merasa tak disukai membuat Jaehyun ingin pergi.

“Clau, aku nyusul Yuta dulu”

“Iya, hati-hati Jaehyun”

Jaehyun lalu pergi meninggalkan Clau dan Nadya.

“Clau, gue ambil minuman dulu. Lo tunggu bentar”

“Iya..”


Jaehyun berjalan mencari keberadaan Yuta, ia sama sekali tidak melihat sosok Yuta. Sebab banyaknya orang, dan pencahayaan yang tidak terlalu terang membuatnya kebingungan.

Jaehyun menghubungi Yuta, namun sayang panggilannya tidak di jawab. Dikarenakan Yuta meninggalkan ponselnya di dalam mobil.

Jaehyun akhirnya memilih untuk mengunggu Yuta di bar mini, saat sedang memasan minumannya. Nadya dengan cepat mendekat kearah Jaehyun.

“Gimana rasanya jadi pembunuh!” Nadya mengeluarkan ucapan yang tidak di pahami oleh Jaehyun.

“Nadya..”

“Jawab pertanyaan gue, gimana rasanya jadi seorang pembunuh?” Nadya berbicara sambil menekan ucapannya.

“Maksud kamu, siapa yang pembunuh. Aku nggak ngerti sama ucapan kamu”

“Mingyu”

“Mingyu, kamu siapa?”

“Gue sepupunya Mingyu, dan lo. Lo yang jadi penyebab sepupu gue mati Jaehyun..”

“Gue bukan pembunuh, gue nggak ada hubungannya sama kematian dia..”

“BRENGSEK.., GARA-GARA LO NINGGALIN DIA. HIDUP DIA JADI SEMAKIN HANCUR. SETIAP HARI DIA KONSUMSI OBAT-OBATAN DEMI LUPAIN ELO..” Nadya berbicara dengan nada tinggi sambil menahan kekesalannya.

“Dia yang udah nyakitin aku, aku sama sekali nggak pernah nyakitin dia. Dia yang udah hancurin hidup aku Nadya..” Jaehyun membela dirinya di hadapan Nadya.

Tak menerima ucapan dari Jaehyun, Nadya malah mendorong tubuh Jaehyun. Meski tidak kencang dorongan Nadya kepada Jaehyun, membuat Jaehyun masih dapat sedikit terhempas ke belakang.

Tubuh Jaehyun bahkan mengenai meja bar kecil yang berada di belakangnya.

“Aww, sakit Nad..”

Jaehyun meringis sebab merasakan sakit.

“GUE BENCI BANGET SAMA LO JUNG JAEHYUN, JANGAN HARAP GUE BAKALAN NGEBIARIN LO BAHAGIA. SELAMA GUE MASIH HIDUP GUE BAKALAN BIKIN LO MENDERITA, GARA-GARA LO MINGYU MATI, LO PEMBAWA SIAL, LO PEMBAWA MASALAH, SIAL BANGET SODARA GUE BENERAN SUKA SAMA LO..”

Setelah mengucapkan kalimat buruknya, Nadya berjalan pergi. Nadya merupakan saudara dari Mingyu, meski bukan saudara kandung. Mereka sangat dekat, sebab mereka berdua sama-sama anak tunggal, Nadya merasa seperti memiliki seorang kakak.

Nadya pun mengetahui hubungan antara Mingyu dan Jaehyun, sebaliknya Jaehyun sama sekali tidak pernah mengetahui sosok Nadya ini. Karena Mingyu menyembunyikan sosok Nadya, sejak awal Mingyu hanya mencoba mendekati Jaehyun.

Mingyu hanya penasaran dengan sosok Jaehyun, dulu ketika menjalani hubungan. Mingyu benar-benar tak merasakan rasa cinta kepada Jaehyun sama sekali. Yang ia rasakan hanyalah rasa penasaran meski telah memiliki Jaehyun.

Sejak dulu, Mingyu telah melakukan pergaulan bebas. Lebih terasa ketika Jaehyun benar-benar pergi meninggalkan Mingyu, ketika terakhir kali mereka melakukan perdebatan dan Mingyu hampir bunuh diri namun di selamatkan Jaehyun. Dari situlah perasaannya benar-benar muncul, ia baru menyedari bahwa dia benar-benar mencintai Jaehyun. Makanya selama ini dia tidak pernah benar-benar ingin melepaskan Jaehyun, meski hatinya dulu sempat ingin.

Namun karena Jaehyun yang mudah sekali di manfaatkan, membuat Mingyu tidak ingin melepaskan Jaehyun begitu saja. Jaehyun bahkan bisa menggunakan koneksi ayahnya hanya untuk membantu keluarga Mingyu, jika keluarga Mingyu benar-benar mengalami masalah. Pengaruh Jaehyun cukup besar, membuat Mingyu benar-benar harus memikirkan secara berulang untuk melepaskan Jaehyun darinya.

Selain harta, Mingyu juga dapat menikmati tubuh Jaehyun. Tidak perlu mengeluarkan banyak rayuan. Jaehyun akan melakukannya secara cuma-cuma, hanya karena ia benar-benar mencintai Mingyu dengan tulus. Mingyu bahkan tak ragu untuk mengerjai Jaehyun ketika mereka sedang bercinta, siksaan menurut orang lain namun merupakan sebuah kenikmatan bagi Jaehyun.

Jaehyun benar-benar masuk pada perangkap Mingyu, membuat sang ayah yaitu Tuan Jung yang semula biasa saja, menjadi murka. Sebab mengetahui niat buruk dari Mingyu kepada Jaehyun.

Beberapa kali menawarkan saham secara cuma-cuma kepada Mingyu demi melepaskan Jaehyun darinya, tak membuat Mingyu tergiur begitu saja. Sebab dia masih memiliki maksud lain, sebelum dia benar-benar terjatuh pada pesona Jaehyun.

Mingyu kabur dari rumah sakit setelah mengetahui bahwa Jaehyun akan bertunangan membuat hatinya kesakitan, meski ia memiliki selingkuhan selama ini. Puncaknya kala itu Mingyu juga di cari oleh beberapa gengster yang ia ciptakan masalah. Membuatnya harus benar-benar pergi.

Meski setelah itu, Jaehyun mendapatkan Mingyu dengan wanita lain. Moment itu di manfaatkan Mingyu dengan meneriwa tawaran dari Tuan Jung yang semula selalu di tolak olehnya. Sebab karena kebodohan Mingyu membuat Jaehyun menjadi tau diam-diam ia di selingkuhi oleh Mingyu.

Meski telah mendapatkan sedikit harta dari Tuan Jung membuat Mingyu tak lantas bahagia, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal kala Jaehyun benar-benar tak ada sama sekali. Saat Jaehyun merasakan kesakitan selama berminggu-minggu, membuat Tuan Jung menjadi murka lalu memilih untuk melenyapkan Mingyu yang semula di tahan olehnya.

Dia menyuruh beberapa anak buahnya, untuk menukar barang haram yang di gunakan Mingyu menjadi dosis yang besar, karena tubuhnya baru pertama kali merasakan narkotika jenis baru dengan efek yang besar membuat tubuhnya menjadi kalah dan overdosis kemudian mati.


Jaehyun terus meminum minuman keras yang dibuat secara berulang, rasa paniknya kembali ketika mendengar kalimat kecaman dari Nadya. Memegangi gelas sambil gemetar dengan diiringi dentuman musik kencang membuatnya semakin tak terkendali.

Sampai sosok seseorang mendekatinya kembali.

“Jo..” lirih Jaehyun yang melihat Johnny setengah sadar.

“Tidak baik terus-terusan minum, pulanglah dari sini..”

“Gue bukan pembunuh, gue bukan pembunh. Nggak gue pembunuh, iya, pertama elo kedua mingyu. Iya gue pembunuh..”

Jaehyun bergumam tanpa sadar, dia kini benar-benar menyalahkan dirinya.

“Jaehyun” panggil Johnny

“Jo gue pembunuh kan?”

Johnny mengambil gelas yang dipegang oleh Jaehyun, gela yang berisikan minuman keras ia letakkan kembali di atas meja.

“Jaehyun sebaiknya kamu pulang, saya akan memesan taksi untukmu..”

“GUE PEMBUNUH, GUE PEMBUNUH GUE PEMBUNUH..” teriak Jaehyun yang semakin tidak terkendali.

“Jaehyun..”

Johnny mencoba menyadarkan Jaehyun, saat ini Jaehyun tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Dia semakin memukuli dirinya, membuat Johnny menjadi tidak tega. Johnny masih berusaha menyadarkan Jaehyun yang terus menerus mencaci dan bahkan menghardik dirinya sendiri di depan Johnny.

Melihat Jaehyun yang masih meracau tak jelas sambil menangis, membuat Johnny langsung memeluknya. Sebab Jaehyun semakin diluar kendali, beruntung para tamu tidak terlalu fokus dengan Jaehyun. sebab posisi bar mini yang berada di pojokan.

“Jaehyun, tenang.”

“Nggak gue pembunuh, gue pantas mati..”

Jaehyun meonta-meronta di dalam pelukan Johnny.

“JUNG JAEHYUN..”

Johnny mengguncangkan pundak Jaehyun dengan kencang, membuat Jaehyun yang semula menjerit melihat Johnny dengan tatapan kosong.

“Kamu bukan pembunuh, ingat. Kamu bukan pembunuh..”

“Jo..”

Air mata Jaehyun kembali berlinang, mata itu. Mata yang pernah dilihat oleh Jaehyun, kedua mata mereka saling beradu pandang, Jaehyun kembali menagis dengan terisak membuat Johnny langsung memeluk Jaehyun kembali.

“Kamu bakalan baik-baik aja, okay. Kamu bukan pembunuh..”

Jaehyun terisak di dalam pelukan Johnny, Jaehyun bahkan memeluk Johnny dengan erat Membuat Johnny yang semula memeluk biasa, dengan lembut mengusap punggung yang bergetar itu.