He Forgot Me ; (16)



Nyonya Jung memanggil Jaehyun, kini saatnya jam makan siang. Semua keluarga menunggunya di ruang makan, sebelumnya Jaehyun memilih istirahat di kamar sebentar. Dia kemudian meminta pada sang ibu, untuk memanggilnya kembali ketika semua makanan telah siap.

Ini benar-benar liburan keluarga, Nyonya Jung tidak membiarkan maid untuk ada ketika mereka sedang berlibur, ia hanya akan memanggil mereka jika dia benar-benar membutuhkan bantuan.

Nyonya Jung sengaja melakukan hal tersebut, agar keintiman keluarga selalu terasa. Sebab keluarga mereka kadang sulit untuk mendapatkan jadwal liburan bersama, beliau benar-benar ingin memanfaatkan keadaan moment bersama suami dan anak-anaknya.

Masuk ke dalam kamar sang bungsu dilakukan oleh Nyonya Jung, dengan lembut ia membangunkan Jaehyun yang tengah berbaring membelakanginya itu..

“Sayang, jae.. bangun nak, kita makan siang dulu yuk..”

Nyonya Jung mengajak Jaehyun untuk keluar dari kamar, supaya menyantap makan siang bersama.

Jaehyun pun membalikkan badannya, lalu menatap sang ibu yang tengah duduk disampingnya.

“Ma, mingyu nggak ada..” ucapan yang keluar dari mulut Jaehyun.

“Sweetie..”

Nyonya Jung dapat melihat air mata yang membasahi pipi putranya, Jaehyun menangis disaksikan oleh Nyonya Jung.

“Nak, sayang. Biarkan karma bekerja dengan seharusnya, itu balasan untuknya karena telah menyakiti kamu yang sudah tulus dengannya. Dia juga telah membuat kamu menderita..” tutur Nyonya Jung sambil menenangkan Jaehyun.

Jaehyun mengusap air matanya.

“Ma, aku tau dia salah. Tapi kenapa dia harus pergi dengan cara seperti itu!”

Jaehyun bertanya-tanya kepada Nyonya Jung.

“Jae, sejak awal itu memang pilihan dia. Dia memang memilih jalannya seperti itu, dan kamu harus tau tentang itu nak..”

“Iya ma, aku tau..”

Jaehyun kembali terisak, meski membenci sang mantan. Tentu ia merasakan kesedihan, mana kala mendapatkan kabar bahwa Mingyu orang yang ia cintai telah tiada.

Melihat kondisi anaknya yang kurang baik, membuat Nyonya Jung tak ingin memaksakan Jaehyun keluar dari kamar. Ia membiarkan Jaehyun menghabiskan waktunya sendirian di dalam kamar.


Nyonya Jung memilih untuk keluar dari kamar, menuju ke ruang makan.

Tuan Jung dan Krys sedang menunggu sejak tadi.

“Loh, Ma adek kemana?”

“Adik kamu nggak laper katanya”

Tuan Jung yang semula tengah sibuk membaca koran, memilih kembali menutup koran yang berada di tangannya.

“Sayang, kamu kenapa nggak maksa dia keluar aja buat makan. Tadi pagi dia cuma makan sereal..” tutur Tuan Jung yang merasa khawatir.

Nyonya Jung memilih duduk dulu, kemudian menjelaskan dengan pelan kepada mereka berdua.

“Mas, biarin sebentar aja. Kalau dia udah enakan, makananya aku bawa nanti ke kamarnya..”

“Ma, what happened with adek?”

“Sayang, kamu jelasinnya jangan setengah-setengah. Mas beneran bingung..”

“Jaehyun sedang menangis di kamarnya, mantan kekasihnya mati karena overdosis sabu. Kalian tau sendiri bukan, walau dia membenci tapi tetap saja Jae akan menangis, biar gimanapun si keparat itu sangat di sayang olehnya..”

Nyonya Jung menjelaskan dengan tenang, dia tahu bahwa Tuan Jung tidak akan pernah tinggal diam, jika putra ataupun anak-anak mereka berada dalam kesulitan.

“Yauda kita makan duluan aja ma, nanti kalau adek nggak keluar dari kamar. Kita masuk ke kamarnya lagi..” tawar Krys.

Sebenarnya ada satu hal yang tidak diketahui oleh Nyonya Jung dan Jaehyun. Kematian dari Mingyu ada campur tangan dari Tuan Jung juga, Krys menangkap radar dari sang ayah ketika melihat gerakan dari Tuan Jung.

Krys mengerti, pasti ini bagian dari rencana ayahnya juga. Ketika Krys melaporkan kejadian buruk yang menimpa Jaehyun, Tuan Jung benar-benar murka.

Kepergian Mingyu dari sisi Jaehyun, tak lain karena penawaran yang menggiurkan dari Tuan Jung kepada Mingyu.

Tuan Jung memberikan sedikit saham, kepada Mingyu. Dengan jaminan harus meninggalkan Jaehyun, Mingyu yang memang pada awalnya hanya meninginkan harta dari Jaehyun. Dengan semangat menerima tawaran tersebut:

Kebusukan Mingyu sejak awal telah diketahui oleh Tuan Jung, hanya saja ucapan darinya tidak berarti apa-apa untuk Jaehyun. Cinta membutakan segalanya dari Jaehyun, Mingyu benar-benar berbisa.

Semua orang yang mendekatinya akan di manfaatkan oleh Mingyu, demi melancarkan aksinya.

Mingyu akan mengeruk harta mereka dengan secara perlahan, demi menambah kekayaan perusahaan orang tuanya.

Targetnya pun bukan main-main, dia bak pemain handal. Kebohogangan darinya di kemas dengan cara yang sangat epik, sebab kebohongannya inilah yang membuat Tuan Jung menjadi murka kepadanya.

Tuan Jung bisa saja melenyapkannya sejak awal, akan tetapi. Dia masih memikirkan kondisi Jaehyun, pengendalian dari Mingyu terhadap Jaehyun benar-benar kuat.

Tuan Jung menyuruh tempat yang menjadi langganan Mingyu dalam memesan sabu, agar menambahkan dosis yang tinggi supaya nyawa Mingyu jadi hilang seketika.