Harapan



Haechan datang ke rumah sakit dengan membawa sebuket bunga Daffodil yang berada di tangannya, bunga Daffodil memiliki makna tentang harapan. Sesuai dengan makna yang di lambangkan bunga, Haechan tentu berharap semoga bunga tersebut menjadi harapan untuknya. Agar salah satu harapannya bisa terwujud, yaitu melihat Jaehyun segera siuman.

Haechan memberanikan diri berjalan sendirian, ia menuju ke salah satu ruangan vip dimana Jaehyun saat ini sedang di rawat. Johnny meminta agar semua peralatan Jaehyun di pindahkan ke ruangan vip tersebut, sebab Johnny tidak ingin melihat Jaehyun yang mendapatkan perawatan di ruangan icu. Karena Johnny memiliki rasa trauma, sejak melihat ibunda dari Mark dan Haechan melewati masa-masa sulitnya disana.

Ruangan vip di atur sedemikian rupa, guna untuk membantu proses pemulihan Jaehyun, kamar yang di tempati Jaehyun begitu luas. Peralatan canggih yang dimiliki rumah sakit berada di dalam kamar Jaehyun, ia melakukan permintaan khusus kepada pihak rumah sakit, supaya bisa memindahkan alat-alat untuk ada di dalam kamar. Bahkan Johnny langsung membeli setengah saham yang ada di rumah sakit tersebut, demi memberikan pelayanan terbaik untuk istrinya.

Haehan mendorong pintu kamar rawat inap Jaehyun, lantai dimana Jaehyun dirawat tak dibiarkan sembarangan orang untuk masuk ke dalamnya. Dokter yang di minta untuk menangani Jaehyun pun, tak sembarangan oleh Johnny. Bahkan beberapa ahli ternama Johnny datangkan dari amerika, khusus untuk merawat Jaehyun seorang.

Dokter, suster, dan beberapa petugas yang bertugas menangani kasus Jaehyun tahu betul. Seberapa sayangnya Johnny kepada Jaehyun, dia bahkan rela menemani Jaehyun di rumah sakit sambil melakukan p-ekerjaannya disana. Sekali lagi, semua itu ia lakukan demi Jaehyun. Ada sedikit perbedaan perlakuan yang bisa dilihat, ketika Jaehyun dan mendiang mantan istrinya sakit.

Johnny enggan untuk pergi meninggalkan Jaehyun, barang sedetik-pun. Johnny terlalu takut kehilangan sosok Jaehyun darinya, menurut Johnny. Jaehyun sangat berarti di dalam hidupnya.

Haechan berjalan mengambil bunga yang telah kering di vas, dan mengganti dengan buket bunga yang ia bawa malam ini untuk Jaehyun.

“Bunganya udah layu, aku ganti sama yang baru uncle. Lihat cantik bukan”


Haechan saat ini sedang melakukan percakapan dengan Jaehyun yang terbaring lemah, sambil menggunakan alat-alat yang kini sedang terpasang di badan Jaehyun. Bisa dilihat oleh Haechan beberapa alat yang digunakan, alat bantuan pernafasan, alat pemantau tanda-tanda vital, dan juga beberapa alat lainnya kini sedang digunakan Jaehyun.

Rasa sedih tentu pasti dirasakan Haechan, mana kala ia harus melihat sosok malaikat pelindungnya terbaring dan tak berdaya diatas kasur. Haechan pun memilih duduk di samping Jaehyun, sembari membasuh wajah Jaehyun menggunakan kain yang telah dibasahi sedikit dengan air hangat.

“Daddy bilang, uncle jeje gak bisa tidur kalo gak bersih-bersih dulu. Katanya daddy uncle gak suka banget, uncle kok sama kayak aku dan bunda. Suka gak bisa tidur kalo belum bersih-bersih”

Tutur Haechan sembari menyeka dengan lembut permukaan tangan Jaehyun, ini adalah pertama kalinya bagi Haechan bisa berbicara secara langsung dengan Jaehyun. Sebab selama ini, komunikasi mereka lebih banyak lewat chat. Itupun Haechan menjawab yang menurutnya perlu untuk di jawab,

“Uncle kenapa betah banget tidur lama-lama disini, uncle jeje gak ngerasa sumpek yah!, aku aja gak pernah suka tau di rumah sakit”


Lagi-lagi Haechan mengeluh, ucapan demi ucapan yang keluar dari mulutnya mengalir begitu saja. Padahal malam ini adalah pertama kali baginya untuk melihat Jaehyun setelah melakukan operasi, saat kembali ke rumah dan mendengar ungkapan fakta lain dari Mark. Membuat Haechan semakin sedih, lalu jatuh sakit selama beberapa hari.

Johnny dan Mark tentu mengerti, Haechan dalam keadaan kondisi terpuruk. Meski begitu, ia masih terus memantau perkembangan Jaehyun lewat Johnny ataupun Mark. Hanya mereka berdua, sumber informasi baginya untuk bisa mengetahui keadaan Jaehyun.

“Cantik, uncle jeje cantik seperti bunda. Maafin aku yang selama ini udah jahatin uncle, maaf karna aku gak pernah ngebiarin uncle buat dekat sama aku.”

Haechan menatap Jaehyun dengan tatapan sedih, di hati kecilnya ia begitu merasa bersalah.

Haechan merasa sangat jahat kepada Jaehyun, karena telah membenci sosok penolongnya. Haechan berdiri lalu merapikan selimut untuk menutupi kembali Jaehyun, Haechan melakukan semuanya secara tulus.

Dia berdiri untuk mengecheck keadaan ruangan, Haechan kembali ingin memastikan kondisi ruangan baik-baik saja saat di tempati Jaehyun. Ia berjalan mendekati Jendela, sambil memperhatikan semuanya. Saat merasa semuanya aman, dia ingin kembali mendekat ke arah Jaehyun, tetapi sebelum dia mendekat. Matanya tertuju pada sebuah buku memo yang berada di atas meja ruangan, dia penasaran lalu mengambil buku tersebut.

Ketika Haechan membuka, hal pertama kali yang ia lihat adalah foto Johnny, Mark dan Haechan yang melekat pada bagian halaman awal. Ada jejak tinta hitam, yang bertuliskan kalimat. My family, my everything, my half world

Haechan tersontak kaget, ia membuka setiap halaman lalu membaca isi yang ada di dalamnya. Semua adalah kegiatan yang pernah dilakukan Jaehyun untuk mereka, buku itu adalah buku yang kesekian kalinya yang dimiliki Jaehyun. Sudah banyak hal ia tuangkan pada lembaran buku memo yang ia punya, dan ini adalah buku selanjutnya yang akan dia isi kembali.


14 feb 2022 – Hari ini adalah ulang tahunku, hari dimana aku akan merasa sangat sedih. Kepergian Liana di hari ini, membuatku tak ingin merayakan hari ulang tahunku untuk selamanya. Pagi ini, aku, mas, dan kakak berkunjung ke rumah bundanya anak-anak. Adek gak ikut, karna dia masih tidur, aku gak suka kalau tidur nyenyaknya ada yang ganggu. Mas Johnny hampir menampar adek, aku hampir membenci suamiku sendiri. Aku benci jika ada yang menjahati putra kecilku, meski ia suamiku.


22 feb 2022 – Mas Johnny selalu marah kalau adek bersikap kasar padaku, padahal aku gak pernah marah atau menaruh dendam pada putraku. Aku mengerti perasaan anakku, sulit baginya untuk menerima kehadiranku.


24 feb 2022 – Mas Johnny maksa aku supaya gak nyiapin sarapan buat adek lagi, karna dia gak mau makan sarapan yang aku buat. Aku benci banget larangan dia, buat minta aku gak perduliin anak aku. Putra kecilku pasti kelaparan, bundanya selalu bilang kalau adek sangat suka dengan makanan. Mas benar-benar keterlaluan, kenapa ancaman darinya selalu ingin mengusir anak kandungnya, dasar lelaki pemarah. -_–''


01 march 2022 – Adek minta izin ke rumah bundanya, aku juga ingin kesana berdua dengannya. Selama ini aku pergi sendirian, kalau gak ditemenin sama kakak atau mas. Kadang kita bertiga juga pergi bersama.


02 march 2022 – Astaga, bagaimana bisa aku lupa. Kalau hari ini adek akan mengadakan ujian sekolah, pantas dia pergi ke rumah bundanya. Kegiatan yang selalu dia lakuin, sebelum memulai ujian, orang tua macam apa aku, bisa-bisanya melupakan hari penting putra kecilku. Aku akan membuatkan dia makanan yang banyak.


03 march 2022 – Aku sedih, adek gak mau makan sarapan buatanku. Katanya dia gak bisa kalau makan sebelum ujian. Takut sakit perut, gak masalah. Asalkan dia sehat, tapi aku khawatir. Bagaimana kalau putraku jatuh sakit :(


04 march 2022 – Hari ini aku sengaja ngebersihin kamar adek, supaya kalau nanti dia pulang sekolah. Dia jadi betah di kamarnya, adek gak suka kamarnya berantakan. Apalagi kotor, dia bakalan gak nyaman. Ini hari kedua dia ujian, sebagai hadiahnya aku akan membersihkan kamarnya setiap hari.


Lembaran terakhir membuatnya menjatuhkan buku yang saat ini sedang dibaca olehnya, Haechan tidak dapat menyangka. Alasan Jaehyun celaka karena selalu menaiki tangga setiap hari untuk membersihkan kamarnya, Haechan masih menjadi alasan Jaehyun untuk tetap celaka.

Haechan berjalan mendekat ke arah Jaehyun, lagi-lagi fakta kecil membuatnya menjadi kembali merasakan perasaan rasa bersalah.

“Aku jahat banget, gara-gara a- a- akk”

Tercekat, lidah Haechan benar-benar susah untuk di gerakan. Dia menangis sambil menggenggam erat tangan Jaehyun, serta berkali-kali mencium tangan lentik Jaehyun.

“Papi, papi, papi tolong bangun. Maafin aku, bukan. Papi maafin adek, papi jaehyun buka matanya. Papi kenapa masih mau baik sama aku. Adek udah jahat selama ini sama papi, adek selalu nyusahin papi. Dari dulu adek selalu nyusahin. Bunda kenapa bisa nemuin orang sebaik papi, pap- papi hiks. Papi kenapa mau jadi papi aku, papi bangun. Adek mohon papi bangun, maaf adek udah nyia-nyiain kasih sayang dari papi. Papi jangan tinggalin adek, adek udah gak punya bunda, papi jangan pergi. Adek mohon papi harus bertahan, kita mulai semuanya dari awal lagi papi. Adek mohon buka mata papi, adek butuh papi”

Haechan berbicara sambil menangis meratapi nasib tragis yang menimpa Jaehyun, dirinya bahkan memanggil Jaehyun berulang kali dengan sebutan papi. Hal yang selama ini ingin di dengar secara langsung oleh Jaehyun, Jaehyun juga ingin merasakan cinta dari putra sambungnya itu.

Buku yang dibaca oleh Haechan, semuanya berisikan cerita tentang Haechan. Haechan menjadi topik utama pada buku memo tersebut, Haechan hanya bisa mengutuki dirinya sambil menangis. Tak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain mengharapkan sebuah keajaiban datang kepada Jaehyun.

“Papi bangun please don't leave me alone pi, papi wake up. Adek tau papi dengerin adek kan, ayo papi. Buka mata papi, adek mohon. Papi”

Haechan sedih, dia masih saja terus menangis. Dia benar-benar meraskaan kehilangan. Bahkan menurutnya menangis saat ini pun percuma, karena tangisannya tidak bisa merubah keadaan.


Berulang kali Haechan menangis sambil tertunduk, membuatnya menjadi kehabisan tenaga. Suasana malam ini begitu hening, sampai tiba-tiba panggilan kecil dari Jaehyun menyadarkannya.

“Adek”

Samar-samar Haechan bisa mendengar panggilan kecil tersebut, Haechan mendongakkan wajahnya lalu mendekat melihat Jaehyun secara dekat, sambil mendengar kembali. Apakah ia sedang mengalami sebuah delusi atau tidak.

“A a adek”

“Papi, ini beneran kan papi sadar, papi makasih. Makasih udah mau ngabulin keinginan adek”

Haechan berbicara sambil berlinang air mata, Jaehyun masih menutup matanya. Dia telah memberikan respon kepada Haechan, masa-masa kritis telah berhasil dia lewati berkat dorongan semangat anak bungsunya. Haechan menyeka air mata Jaehyun yang mengalir keluar.

“Jangan nangis, adek udah disini. Adek bakalan selalu ada sama papi. Adek sayang sama papi. Makasih selama ini udah ngerawat dan ngejagain adek, sekarang gantian yah!, biarin adek jagain papi sekaligus ngebalas semua kebaikan malaikat pelindung adek. Jangan pernah pergi ninggalin adek sendirian lagi, adek gak pengen papi pergi. Cukup bunda aja yang pergi, adek gak mau ditinggal lagi”

Haechan berbicara sambil membelai rambut Jaehyun, setelah mengucapkan semua perasaannya. Dia mencium kening Jaehyun sebagai bentuk rasa sayang sekaligus penerimaan. Bahwa mulai detik ini juga, dia benar-benar menerima Jaehyun sebagai papinya. Dan juga pengganti Bundanya, Haechan memanggil dokter dan suster. Setelah itu menghubungi keluarganya.

Johnny yang masih berada di kantor, dan mark yang sedang berada di rumah. Langsung segera pergi menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Jaehyun.

Saat tiba di rumah sakit, Johnny dan Mark bisa melihat dokter yang masih sibuk menangani Jaehyun, dan juga Haechan yang masih terjaga menemani Jaehyun sambil menggenggam tangan Jaehyun.

“Dok, gimana kondisi istri saya?”

“Dia telah berhasil melewati masa kritisnya, dia telah sadar. Namun masih memerlukan proses, respon yang diberikannya juga sangat baik, jika terus seperti ini istri anda akan segera pulih kembali”

Johnny membahas kondisi Jaehyun dengan beberapa dokter, sedang-kan Mark dan Haechan saat ini sedang memperhatikan Jaehyun yang sedang tertidur. Setelah memberikan respon kepada Haechan bahwa ia telah sadar.,

“Kak, papi berhasil lewatin masa kritisnya”

“Iya adek, gue tau kalo papi kita kuat”

Dokter yang telah menjelaskan kondisi Jaehyun pun pergi untuk meninggalkan mereka semua, Johnny tentu merasa senang setelah mengetahui perkembangan terbaru dari Jaehyun. Ia pun berjalan mendekati kedua putranya, Haechan sendiri masih tak ingin melepaskan genggaman tangannya dari Jaehyun.

“Sayang, aku tau kamu pasti bisa. Makasih kamu udah mau kembali buat aku”

Ucap Johnny sambil berbisik di telinga Jaehyun, Johnny mencium kening istrinya. Perasaan Johnny bercampur aduk malam ini, senang dan terharu benar-benar ia rasakan. Johnny berhasil memberikan perawatan terbaik, sehingga Jaehyun bisa bertahan sampai detik ini.

“Adek, makasih karna kedatangan kamu malam ini. Istri daddy jadi kembali”

“Nggak dad, semua karna keinginan papi sendiri. Papi memang kuat makanya papi bisa bertahan”

“Adek yang di omongin daddy bener, papi selama ini cuma nungguin lo buat jengukin dia”

“Kak”


Haechan kembali dibuat kebingungan dengan ucapan dari Johnny dan Mark, dia masih belum mengerti arah pembicaraan mereka semua.

“Papi cuma nungguin kamu kesini, setiap kali daddy ceritain tentang kamu, papi bakalan ngasih respon lewat air mata”

“Jadi maksud daddy, papi selama ini nunggu aku buat dijengukin?”

“Iya adek, lo yang paling dicari selama ini. Waktu daddy cerita kakak nggak percaya. Terus kakak coba, ternyata bener. Setiap kita ajak ngobrol tentang lo, pasti papi bakalan ngasih respon”

“Terus kenapa daddy sama kakak nggak ngasih tau aku?”

“Kamu sakit adek, daddy nggak ingin nambahin beban pikiran kamu. Daddy ingin kamu beneran pulih dulu, setelah itu boleh jengukin papi”

Haechan benar-benar tidak menyangka, sampai di detik terakhir pun yang Jaehyun masih cari adalah Haechan. Setelah selesai operasi di hari pertama, Jaehyun tidak memberikan respon sama sekali. Tetapi di saat hari kedua dimana Johnny selesai menghubungi Haechan lalu setelah itu memberitahukan kepada Jaehyun, Jaehyun memberikan tanda-tanda bahwa ia sadar tetapi belum sepenuhnya. Dari situlah Johnny setiap hari membahas tentang Haechan, agar dapat melihat respon gerakan dari Jaehyun.

Haechan kembali menangis, rasa sesal kembali menghampirinya. Jika saja sejak awal ia datang lebih cepat untuk melihat Jaehyun, mungkin saat ini Jaehyun sudah sepenuhnya sadar.

“Papi, hikss”

“Jangan nangis, papi paling nggak suka dengerin lo nangis adek”

“Papi, adek minta maaf terlambat datang kesini. Adek janji nggak akan pergi ninggalin papi”

Johnny beralih memeluk putra bungsunya, Johnny tentu ikut merasakan perasaan sedih juga.

“Sudah yah, jangan nangis lagi. Kita jagain papi bersama ya nak”

Johnny memberikan penguatan kepada Haechan, ia tahu betul sifat dari anaknya. Haechan ini terlalu rapuh, rasa kasih sayangnya terhadap keluarga sangatlah besar. Mark pun mendekat, mereka bertiga kemudian saling berpelukan untuk memberikan penguatan.

Malam ini adalah malam yang paling terindah sekaligus terberat buat Jaehyun, setelah sekian tahun penantiannya. Haechan akhirnya bisa menerima kehadirannya untuk mengisi hari-hari keluarga kecil mereka, bukan hal yang mudah untuk Jaehyun bertahan sampai saat ini.

Sering kali mendapatkan penolakan keras dari Haechan, serta ucapan yang menyinggung perasaannya lantas tak membuatnya berputus asa. Jaehyun benar-benar tulus menyayangi Haechan.