<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>secretaaaaaa</title>
    <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Fri, 18 Sep 2026 10:49:19 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>3</title>
      <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/3?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Jef masih menunggu dokter Rian di mansion mewah Jonathan, meski dia kesal dengan aturan serta kekangan dari Jonathan. Semua tak lantas, membuat dirinya untuk pergi dari sana. &#xA;&#xA;Bukan Jef tidak ingin pergi, semua upaya yang dia lakukan itu terlihat percuma. Rencana kaburnya dari penjara mewah itu hanya sia-sia, seperti kata Jonathan. &#xA;&#xA;Jonathan tak melepaskan Jef begitu saja, setiap kali Jef akan kabur. &#xA;&#xA;Jonathan bersama orang-orangnya akan menangkap dia, dan lagi pula Jonathan begitu licik. &#xA;&#xA;Jonathan telah memasang chip khusus di tubuh Jef, supaya bisa mengetahui semua pergerakan Jef. &#xA;&#xA;Apa yang bisa kau lakukan, jika pelacak dipasang tepat di dalam tubuhmu. Selama Jef mengikuti aturan dari Jonathan, semuanya akan baik-baik saja.&#xA;&#xA;Rian pun telah tiba di mansion, Rian menjemput Jef dengan mobilnya. &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Rian membawa Jef keluar rumah sebentar, Rian tau jika Jef mungkin akan gila jika terus berada di rumah yang Jef anggap itu penjara.&#xA;&#xA;Jef sendiri selalu memanfaatkan Rian, agar dia bisa keluar rumah. Namun, jangan berpikir Jef dapat bisa kabur, percuma. &#xA;&#xA;Setidaknya Jef masih merasakan aroma dunia luar, sebab jika dia ingin pergi sendiri pun. Jonathan tak akan memberinya izin, &#xA;&#xA;&#34;Jef, kamu tidak lupa membawa obatmu kan?&#34;&#xA;&#xA;Jef tak menjawab pertanyaan dari Rian, dia langsung membuka tas yang dia bawa. &#xA;&#xA;Rian bisa melihat obat-obatan milik Jef, membuat Rian mengangguk. Jef kembali segera menutup tasnya.&#xA;&#xA;&#34;Kau ingin kemana?&#34;&#xA;&#34;Terserah, asal saya tidak ada di rumah sialan itu.&#34;&#xA;&#xA;Rian menarik nafas dalamnya, jika bersama dengan Jef. Rian harus ekstra sabar, Rian juga melihat beberapa mobil mengikuti mereka dari belakang. Itu adalah orang suruhan dari Jonathan, Jonathan mengawasi Jef dengan ketat.&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana kalau kita ke taman?&#34;&#xA;&#34;Di penjara juga ada taman dokter Rian.&#34;&#xA;&#xA;Penjara yang dimaksud Jef adalah mansion mewah Jonathan, yang memiliki taman luas. &#xA;&#xA;&#34;Bagaimana kita ke tempat makan saja, saya tau restoran enak disekitaran sini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Chef di penjara juga bisa memasak makanan apapun.&#34;&#xA;&#xA;Jawab Jef dengan santai, membuat Rian lalu menginjakkan rem mobilnya. &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Rian harus sabar, saat berhadapan dengan Jef. Rian pun menoleh pada Jef,&#xA;&#xA;&#34;Lalu, kau ingin kemana?&#34;&#xA;&#34;Pantai.&#34;&#xA;&#xA;Hanya satu kata yang keluar dari mulut Jef, dia ingin ke pantai. Rian melihat jam tangannya, dia harus memastikan sebelum jam 7 mereka sudah harus kembali. &#xA;&#xA;Rian tau ada satu pantai, yang tidak terlalu jauh. Mereka berdua bisa kesana, dan juga Rian rasa pantai cocok untuk orang-orang seperti Jef. Yang menginginkan suasana ketenangan, tak ingin membuang waktu. &#xA;&#xA;Rian segera bergegas membawa Jef ke pantai, lokasi dimana Jef ingin kesana. Beberapa puluh menit mereka menempuh perjalanan, pantai ini berada sedikit dari luar kota. &#xA;&#xA;Selama di dalam perjalanan, Jef dan Rian tidak berbincang apapun. Hanya ada ketenangan menemani perjalanan mereka menuju ke pantai.&#xA;&#xA;Tibalah mereka di pantai, Jef pun langsung turun. Tanpa berucap satu kata pada Rian. Dia senang melihat pantai, Jef merasa seperti sedang mengalami kebebasan.&#xA;&#xA;:&#xA;.&#xA;&#xA;Rian pun mengikuti dari belakang, memastikan semuanya aman. &#xA;&#xA;Saat berjalan ingin mendekati air laut, pandangan Jef tiba-tiba saja teralihkan dengan sosok wanita yang berjalan lebih dulu ke arah air laut.&#xA;&#xA;Jef yang terkejut pun berusaha mendekati wanita tersebut, &#xA;&#xA;&#34;Nona apa yang kau lakukan?&#34;&#xA;&#xA;Sosok wanita itu tak menjawab, dia terus berjalan dan berjalan semakin dalam. Membuat Jef jadi panik, lalu bergerak masuk ke dalam air.&#xA;&#xA;&#34;Nona, apa kau gila?&#34;&#xA;&#xA;Jef mencoba menahan tangan wanita itu, dia berusaha mencegat wanita tersebut. &#xA;&#xA;&#34;Jef keluar dari sana.&#34;&#xA;&#xA;Teriak Rian dengan keras, Jef pun menoleh pada Rian.&#xA;&#xA;&#34;Dokter rian, kesini. Nona ini ingin bunuh diri.&#34;&#xA;&#xA;Jef berteriak melambaikan tangan, dan saat melihat sosok yang ada di depannya sudah menghilang. &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Jef panik dan langsung menyelam, Rian menyuruh semua bodyguard untuk turun ke dalam air.&#xA;&#xA;&#34;CEPAT CARI DIA.&#34;&#xA;&#xA;Semuanya segera turun dan masuk ke dalam air untuk menyelamatkan Jef.&#xA;&#xA;Jef ditemukan dan di angkat ke darat, Rian mencoba untuk menengkan Jef.&#xA;&#xA;&#34;Dokter, dimana Nona tadi, kita harus mencarinya dokter Rian.&#34;&#xA;&#34;Tidak Jef, kau tidak perlu mencari wanita itu.&#34;&#xA;&#xA;Jef terlihat marah, badannya basah. Dia ingin kembali menolong wanita itu, namun nyatanya dia di hadang oleh semua orang.&#xA;&#xA;&#34;Minggir, kalian ingin dia mati hah!&#34;&#xA;&#34;JEF SADAR, WANITA ITU NGGAK ADA. ITU HANYA DELUSIMU.&#34;&#xA;&#xA;Rian mencoba menyadarian Jef, Jef seketika memandangi Rian. Rian memberikan suntikan penenang pada Jef, Jef saat ini mengalami delusi. &#xA;&#xA;Dengan cepat obat pemberian dari Rian, bekerja. Dan membuat Jef kembali tenang. &#xA;&#xA;&#34;Jef.&#34;&#xA;&#xA;Jef kembali tersadar, membuat dia keheranan saat melihat bajunya yang sudah basah.&#xA;&#xA;&#34;Ada apa ini, kenapa baju saya basah dokter rian?&#34;&#xA;&#34;Tadi kamu masuk ke dalam air, makanya basah. Ayo kita kembali.&#34;&#xA;&#xA;Rian mengajak Jef untuk pergi, mereka harus pergi. &#xA;&#xA;Rian tak ingin mengambil resiko lain, Jef pun menurut saja. Sebelum kembali ke rumah, Rian mengajak Jef untuk membeli pakaian baru. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>



<hr/>

<p>Jef masih menunggu dokter Rian di mansion mewah Jonathan, meski dia kesal dengan aturan serta kekangan dari Jonathan. Semua tak lantas, membuat dirinya untuk pergi dari sana.</p>

<p>Bukan Jef tidak ingin pergi, semua upaya yang dia lakukan itu terlihat percuma. Rencana kaburnya dari penjara mewah itu hanya sia-sia, seperti kata Jonathan.</p>

<p>Jonathan tak melepaskan Jef begitu saja, setiap kali Jef akan kabur.</p>

<p>Jonathan bersama orang-orangnya akan menangkap dia, dan lagi pula Jonathan begitu licik.</p>

<p>Jonathan telah memasang chip khusus di tubuh Jef, supaya bisa mengetahui semua pergerakan Jef.</p>

<p>Apa yang bisa kau lakukan, jika pelacak dipasang tepat di dalam tubuhmu. Selama Jef mengikuti aturan dari Jonathan, semuanya akan baik-baik saja.</p>

<p>Rian pun telah tiba di mansion, Rian menjemput Jef dengan mobilnya.</p>

<p>.
.</p>

<p>Rian membawa Jef keluar rumah sebentar, Rian tau jika Jef mungkin akan gila jika terus berada di rumah yang Jef anggap itu penjara.</p>

<p>Jef sendiri selalu memanfaatkan Rian, agar dia bisa keluar rumah. Namun, jangan berpikir Jef dapat bisa kabur, percuma.</p>

<p>Setidaknya Jef masih merasakan aroma dunia luar, sebab jika dia ingin pergi sendiri pun. Jonathan tak akan memberinya izin,</p>

<p>“Jef, kamu tidak lupa membawa obatmu kan?”</p>

<p>Jef tak menjawab pertanyaan dari Rian, dia langsung membuka tas yang dia bawa.</p>

<p>Rian bisa melihat obat-obatan milik Jef, membuat Rian mengangguk. Jef kembali segera menutup tasnya.</p>

<p>“Kau ingin kemana?”
“Terserah, asal saya tidak ada di rumah sialan itu.”</p>

<p>Rian menarik nafas dalamnya, jika bersama dengan Jef. Rian harus ekstra sabar, Rian juga melihat beberapa mobil mengikuti mereka dari belakang. Itu adalah orang suruhan dari Jonathan, Jonathan mengawasi Jef dengan ketat.</p>

<p>“Bagaimana kalau kita ke taman?”
“Di penjara juga ada taman dokter Rian.”</p>

<p>Penjara yang dimaksud Jef adalah mansion mewah Jonathan, yang memiliki taman luas.</p>

<p>“Bagaimana kita ke tempat makan saja, saya tau restoran enak disekitaran sini.”</p>

<p>“Chef di penjara juga bisa memasak makanan apapun.”</p>

<p>Jawab Jef dengan santai, membuat Rian lalu menginjakkan rem mobilnya.</p>

<p>.
.</p>

<p>Rian harus sabar, saat berhadapan dengan Jef. Rian pun menoleh pada Jef,</p>

<p>“Lalu, kau ingin kemana?”
“Pantai.”</p>

<p>Hanya satu kata yang keluar dari mulut Jef, dia ingin ke pantai. Rian melihat jam tangannya, dia harus memastikan sebelum jam 7 mereka sudah harus kembali.</p>

<p>Rian tau ada satu pantai, yang tidak terlalu jauh. Mereka berdua bisa kesana, dan juga Rian rasa pantai cocok untuk orang-orang seperti Jef. Yang menginginkan suasana ketenangan, tak ingin membuang waktu.</p>

<p>Rian segera bergegas membawa Jef ke pantai, lokasi dimana Jef ingin kesana. Beberapa puluh menit mereka menempuh perjalanan, pantai ini berada sedikit dari luar kota.</p>

<p>Selama di dalam perjalanan, Jef dan Rian tidak berbincang apapun. Hanya ada ketenangan menemani perjalanan mereka menuju ke pantai.</p>

<p>Tibalah mereka di pantai, Jef pun langsung turun. Tanpa berucap satu kata pada Rian. Dia senang melihat pantai, Jef merasa seperti sedang mengalami kebebasan.</p>

<p>:
.</p>

<p>Rian pun mengikuti dari belakang, memastikan semuanya aman.</p>

<p>Saat berjalan ingin mendekati air laut, pandangan Jef tiba-tiba saja teralihkan dengan sosok wanita yang berjalan lebih dulu ke arah air laut.</p>

<p>Jef yang terkejut pun berusaha mendekati wanita tersebut,</p>

<p>“Nona apa yang kau lakukan?”</p>

<p>Sosok wanita itu tak menjawab, dia terus berjalan dan berjalan semakin dalam. Membuat Jef jadi panik, lalu bergerak masuk ke dalam air.</p>

<p>“Nona, apa kau gila?”</p>

<p>Jef mencoba menahan tangan wanita itu, dia berusaha mencegat wanita tersebut.</p>

<p>“Jef keluar dari sana.”</p>

<p>Teriak Rian dengan keras, Jef pun menoleh pada Rian.</p>

<p>“Dokter rian, kesini. Nona ini ingin bunuh diri.”</p>

<p>Jef berteriak melambaikan tangan, dan saat melihat sosok yang ada di depannya sudah menghilang.</p>

<p>.
.</p>

<p>Jef panik dan langsung menyelam, Rian menyuruh semua bodyguard untuk turun ke dalam air.</p>

<p>“CEPAT CARI DIA.”</p>

<p>Semuanya segera turun dan masuk ke dalam air untuk menyelamatkan Jef.</p>

<p>Jef ditemukan dan di angkat ke darat, Rian mencoba untuk menengkan Jef.</p>

<p>“Dokter, dimana Nona tadi, kita harus mencarinya dokter Rian.”
“Tidak Jef, kau tidak perlu mencari wanita itu.”</p>

<p>Jef terlihat marah, badannya basah. Dia ingin kembali menolong wanita itu, namun nyatanya dia di hadang oleh semua orang.</p>

<p>“Minggir, kalian ingin dia mati hah!”
“JEF SADAR, WANITA ITU NGGAK ADA. ITU HANYA DELUSIMU.”</p>

<p>Rian mencoba menyadarian Jef, Jef seketika memandangi Rian. Rian memberikan suntikan penenang pada Jef, Jef saat ini mengalami delusi.</p>

<p>Dengan cepat obat pemberian dari Rian, bekerja. Dan membuat Jef kembali tenang.</p>

<p>“Jef.”</p>

<p>Jef kembali tersadar, membuat dia keheranan saat melihat bajunya yang sudah basah.</p>

<p>“Ada apa ini, kenapa baju saya basah dokter rian?”
“Tadi kamu masuk ke dalam air, makanya basah. Ayo kita kembali.”</p>

<p>Rian mengajak Jef untuk pergi, mereka harus pergi.</p>

<p>Rian tak ingin mengambil resiko lain, Jef pun menurut saja. Sebelum kembali ke rumah, Rian mengajak Jef untuk membeli pakaian baru.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://secretaaaaaa.writeas.com/3</guid>
      <pubDate>Fri, 15 Sep 2023 21:17:52 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>2 </title>
      <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/2?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Jonathan berjalan dengan langkah tegas, semua para karyawan membungkuk memberi hormat kepada pemilik perusahaan. Tempat mereka berkerja, &#xA;&#xA;Jonathan tak perduli dengan sapaan dari mereka, dia terus melangkah sembari menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak.&#xA;&#xA;Ingatkan bahwa semua pekerjanya hanya mampu membungkuk, dan tak ada yang berani menyapa. Sebab raut wajah Jonathan sangat buruk, dan penampilannya menyeramkan.&#xA;&#xA;Jonathan masuk dan langsung membanting pintu ruangan dengan keras, dia bahkan tidak perduli jika pintu ruangan miliknya akan lepas.&#xA;&#xA;Jonathan melangkah dan duduk di kursi pribadinya, dia kembali menarik dasi yang mengikat di lehernya. &#xA;&#xA;Belum juga redah amarahnya, bunyi telfon yang berbunyi seketika menambah suasana amarah yang akan meluap.&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Brakhhh&#xA;&#xA;Jonathan membanting telfon yang ada di meja, padahal telfon tersebut hanya benda mati yang kebetulan memiliki fungsi.&#xA;&#xA;&#34;Sial.&#34; &#xA;&#xA;Jonathan masih belum menerima, tindakan ataupun ucapan dari Jef.&#xA;&#xA;Jef sangat berbeda, Jef mungkin tidak bisa melawan secara fisik pada Jonathan. &#xA;&#xA;Akan tetapi, Jef masih mampu melawan dengan kata. Ataupun sikap, yang membuat Jonathan bisa dengan cepat menjadi marah.&#xA;&#xA;Sekertaris yang bertugas pun, tak mampu untuk melangkah masuk. Dia dapat mendengar teriakan ataupun suara barang yang jatuh ke lantai.&#xA;&#xA;Dua orang yang sedari tadi menunggu, akhirnya memutuskan untuk masuk saja.&#xA;&#xA;Ceklekk&#xA;&#xA;&#34;MAU APA KALIAN?&#34;&#xA;&#xA;Ucapan Jonathan terhenti mana kala dia melihat sosok dua orang yang berdiri tepat di depan pintu ruangannya.&#xA;&#xA;&#34;lo kenapa lagi deh?.&#34;&#xA;&#xA;Pungkas salah satu sahabatnya, mereka berdua nampak berjalan santai ke sofa. Lalu segera duduk.&#xA;&#xA;Yuda dan Tyo dua orang ini adalah sahabat terdekat Jonathan, masing-masing dari mereka memiliki bisnis yang terlihat ataupun tidak terlihat.&#xA;&#xA;&#34;Pasti gara-gara dia lagi kan!&#34; Seru Tyo, yang sepertinya sudah hafal dengan gelagat dari Jonathan.&#xA;&#xA;Jonathan yang tak ingin menanggapi, segera membuka laptop kerja miliknya. &#xA;&#xA;&#34;Jo, lo ngga ada niatan mau ngelepasin dia aja?.&#34;&#xA;&#xA;Yuda bertanya, namun pertanyaan darinya mengundang tatapan tajam dari Jonathan.&#xA;&#xA;&#34;Mending lo pergi dari sini.&#34;&#xA;&#xA;Tyo segera melerai, sebelum terjadi pertikaian antara dua sahabat itu. Tyo bahkan menyikut tubuh Yuda agar berhenti mengeluarkan kata yang dapat membuat emosi Jonathan kembali meledak.&#xA;&#xA;&#34;Hmm, Jon mending kita bahas bisnis baru kita.&#34;&#xA;&#xA;Jonathan lalu segera berdiri, dia pun mendekati kedua sahabatnya itu. Sebab mereka akan membahas perencanaan bisnis gelap mereka hari ini.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>



<hr/>

<p>Jonathan berjalan dengan langkah tegas, semua para karyawan membungkuk memberi hormat kepada pemilik perusahaan. Tempat mereka berkerja,</p>

<p>Jonathan tak perduli dengan sapaan dari mereka, dia terus melangkah sembari menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak.</p>

<p>Ingatkan bahwa semua pekerjanya hanya mampu membungkuk, dan tak ada yang berani menyapa. Sebab raut wajah Jonathan sangat buruk, dan penampilannya menyeramkan.</p>

<p>Jonathan masuk dan langsung membanting pintu ruangan dengan keras, dia bahkan tidak perduli jika pintu ruangan miliknya akan lepas.</p>

<p>Jonathan melangkah dan duduk di kursi pribadinya, dia kembali menarik dasi yang mengikat di lehernya.</p>

<p>Belum juga redah amarahnya, bunyi telfon yang berbunyi seketika menambah suasana amarah yang akan meluap.</p>

<p>.
.</p>

<h3 id="brakhhh">Brakhhh</h3>

<p>Jonathan membanting telfon yang ada di meja, padahal telfon tersebut hanya benda mati yang kebetulan memiliki fungsi.</p>

<p>“Sial.”</p>

<p>Jonathan masih belum menerima, tindakan ataupun ucapan dari Jef.</p>

<p>Jef sangat berbeda, Jef mungkin tidak bisa melawan secara fisik pada Jonathan.</p>

<p>Akan tetapi, Jef masih mampu melawan dengan kata. Ataupun sikap, yang membuat Jonathan bisa dengan cepat menjadi marah.</p>

<p>Sekertaris yang bertugas pun, tak mampu untuk melangkah masuk. Dia dapat mendengar teriakan ataupun suara barang yang jatuh ke lantai.</p>

<p>Dua orang yang sedari tadi menunggu, akhirnya memutuskan untuk masuk saja.</p>

<h3 id="ceklekk">Ceklekk</h3>

<p>“MAU APA KALIAN?”</p>

<p>Ucapan Jonathan terhenti mana kala dia melihat sosok dua orang yang berdiri tepat di depan pintu ruangannya.</p>

<p>“lo kenapa lagi deh?.”</p>

<p>Pungkas salah satu sahabatnya, mereka berdua nampak berjalan santai ke sofa. Lalu segera duduk.</p>

<p>Yuda dan Tyo dua orang ini adalah sahabat terdekat Jonathan, masing-masing dari mereka memiliki bisnis yang terlihat ataupun tidak terlihat.</p>

<p>“Pasti gara-gara dia lagi kan!” Seru Tyo, yang sepertinya sudah hafal dengan gelagat dari Jonathan.</p>

<p>Jonathan yang tak ingin menanggapi, segera membuka laptop kerja miliknya.</p>

<p>“Jo, lo ngga ada niatan mau ngelepasin dia aja?.”</p>

<p>Yuda bertanya, namun pertanyaan darinya mengundang tatapan tajam dari Jonathan.</p>

<p>“Mending lo pergi dari sini.”</p>

<p>Tyo segera melerai, sebelum terjadi pertikaian antara dua sahabat itu. Tyo bahkan menyikut tubuh Yuda agar berhenti mengeluarkan kata yang dapat membuat emosi Jonathan kembali meledak.</p>

<p>“Hmm, Jon mending kita bahas bisnis baru kita.”</p>

<p>Jonathan lalu segera berdiri, dia pun mendekati kedua sahabatnya itu. Sebab mereka akan membahas perencanaan bisnis gelap mereka hari ini.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://secretaaaaaa.writeas.com/2</guid>
      <pubDate>Fri, 15 Sep 2023 21:09:32 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>1</title>
      <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Jef harus menahan amarahnya di pagi hari, Jef yang belum tidur sejak semalam. Karena suara kebisingan yang dia rasakan terus berputar di dalam kepalanya.&#xA;&#xA;Membuat sosok mungil itu tak bisa untuk tertidur, inilah resiko yang harus diterima. &#xA;&#xA;Sudah seminggu ini, Jef tidak mengkonsumsi obat-obatan miliknya, yang telah diresepkan khusus oleh dokter Rian kepadanya.&#xA;&#xA;Jef bergerak melangkah turun kebawah, jika Jonathan sudah memberi perintah padanya. Maka mustahil, Jef mampu menolak.&#xA;&#xA;Jonathan merupakan pemilik mansion mewah, tempat saat ini Jef bernaung kini. &#xA;&#xA;Rumah yang besar, memiliki banyak kamar dan tentunya fasilitas sukses membuat rumah tersebut &#xA;semakin terlihat mewah.&#xA;&#xA;Jef berjalan melewati para pelayan yang sibuk melakukan kegiatan mereka masing-masing, Jef harus menemui Jonathan di pagi hari ini.&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Jef berjalan dengan tenang menuju ke ruang makan, Jef bisa memandangi Jonatahan yang sedang duduk tepat di posisi yang tertinggi.&#xA;&#xA;&#34;Duduk..&#34;&#xA;&#xA;Jonathan memberikan perintah pada Jef, Jef sendiri lalu menarik kursi yang paling terdekat. Belum sempat mendaratkan pantatnya, Jonathan kembali membuka suara.&#xA;&#xA;&#34;Siapa bilang kau duduk disitu? duduk disini.&#34;&#xA;&#xA;Jonathan menunjuk salah satu kursi yang berdekatan dengannya, tidak mungkin Jonathan akan memulai percakapan dengan Jef. Jika posisi duduk mereka berdua saja, sangat berjauhan. &#xA;&#xA;Jef pun bergerak, kursinya segera di tarik oleh salah satu pelayan di antara beberapa pelayan yang bertugas di ruang makan.&#xA;&#xA;Jonathan masih dengan tatapan dinginnya, tanpa memandangi Jef.&#xA;&#xA;Jef sepertinya terlihat biasa saja, sebab dia sudah terbiasa dengan tatapan yang dia lihat sehari-hari. &#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Jonathan memulai makan paginya, dia mengiris potongan daging menggunakan pisau tajam, yang kini sedang digenggaminya.&#xA;&#xA;Jef pun mengikuti Jonathan sarapan, roti lapis yang setiap pagi dia makan. &#xA;&#xA;Jef mulai potongi agar menjadi beberapa bagian kecil, perlahan potongan kecil roti lapis dia masukan ke dalam mulutnya.&#xA;&#xA;&#34;Saya sudah katakan, agar kamu terus minum obat kamu. Kenapa tidak kamu lakukan?.&#34;&#xA;&#xA;Jonathan berbicara pada Jef sambil mengunyah makanan, dan tanpa dia melihat ke arah Jef. yang kini juga terlihat sibuk mengunyah&#xA;&#xA;&#34;Obatnya saya selalu minum.&#34;&#xA;&#34;Jika obatnya kamu minum, kenapa semalam kamu seperti orang gila!.&#34;&#xA;&#xA;Jonathan menekan ucapannya pada Jef, lalu dia meletakkan garpu dan pisau kembali. &#xA;&#xA;&#34;Saya memang gila, karena saya gila makanya lebih baik tuan bebaskan orang gila ini.&#34;&#xA;&#xA;Jef berbicara sambil bersmirk tanpa melihat pada Jonathan yang terlihat menahan amarahnya.&#xA;&#xA;&#34;Saya maafkan kamu kali ini, jika kamu masih mengulangi hal yang sama. Maka jangan salahkan saya, jika hal kasar akan saya lakukan.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Baguslah, dengan begitu saya lebih mudah untuk mati.&#34;&#xA;&#xA;Jef kembali memasukan potongan roti kecil ke dalam mulutnya, berbeda dengan Jonathan yang langsung melempar gelas minum.&#xA;&#xA;.&#xA;.&#xA;&#xA;Jonathan geram melihat aksi Jef yang mencelah omongannya, dia berdiri dengan kasar dari tempat duduknya. &#xA;&#xA;Kuris mahal pun ikut terjatuh, Jonathan pun mendekat. &#xA;&#xA;Jonathan mencondongkan posisi nya sedikit, Jonathan lalu kembali membuka mulutnya.&#xA;&#xA;&#34;Jika kamu melewatkan obatmu sekali saja, maka setiap maid yang ada disini akan saya hukum.&#34;&#xA;&#xA;Tubuh Jef tiba-tiba saja menegang, dia sangat membenci situasi seperti ini. Jef menelan makanannya secara kasar.&#xA;&#xA;Jonathan kembali berdiri dengan posisi tegak, dia lalu memandangi semua pekerja yang ada di ruang makan.&#xA;&#xA;&#34;Pastikan agar dia tidak pernah melewatkan untuk meminum obatnya, jika ada yang terlewat maka kalian sendiri yang akan mendapatkan hukuman dariku.&#34;&#xA;&#xA;Jonathan segera melangkah pergi dari ruang makan, berbeda dengan Jef yang masih saja terdiam. dan beberapa wajah maid yang mulai panik mendengar titah sang bos besar. &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>



<hr/>

<p>Jef harus menahan amarahnya di pagi hari, Jef yang belum tidur sejak semalam. Karena suara kebisingan yang dia rasakan terus berputar di dalam kepalanya.</p>

<p>Membuat sosok mungil itu tak bisa untuk tertidur, inilah resiko yang harus diterima.</p>

<p>Sudah seminggu ini, Jef tidak mengkonsumsi obat-obatan miliknya, yang telah diresepkan khusus oleh dokter Rian kepadanya.</p>

<p>Jef bergerak melangkah turun kebawah, jika Jonathan sudah memberi perintah padanya. Maka mustahil, Jef mampu menolak.</p>

<p>Jonathan merupakan pemilik mansion mewah, tempat saat ini Jef bernaung kini.</p>

<p>Rumah yang besar, memiliki banyak kamar dan tentunya fasilitas sukses membuat rumah tersebut
semakin terlihat mewah.</p>

<p>Jef berjalan melewati para pelayan yang sibuk melakukan kegiatan mereka masing-masing, Jef harus menemui Jonathan di pagi hari ini.</p>

<p>.
.</p>

<p>Jef berjalan dengan tenang menuju ke ruang makan, Jef bisa memandangi Jonatahan yang sedang duduk tepat di posisi yang tertinggi.</p>

<p>“Duduk..”</p>

<p>Jonathan memberikan perintah pada Jef, Jef sendiri lalu menarik kursi yang paling terdekat. Belum sempat mendaratkan pantatnya, Jonathan kembali membuka suara.</p>

<p>“Siapa bilang kau duduk disitu? duduk disini.”</p>

<p>Jonathan menunjuk salah satu kursi yang berdekatan dengannya, tidak mungkin Jonathan akan memulai percakapan dengan Jef. Jika posisi duduk mereka berdua saja, sangat berjauhan.</p>

<p>Jef pun bergerak, kursinya segera di tarik oleh salah satu pelayan di antara beberapa pelayan yang bertugas di ruang makan.</p>

<p>Jonathan masih dengan tatapan dinginnya, tanpa memandangi Jef.</p>

<p>Jef sepertinya terlihat biasa saja, sebab dia sudah terbiasa dengan tatapan yang dia lihat sehari-hari.</p>

<p>.
.</p>

<p>Jonathan memulai makan paginya, dia mengiris potongan daging menggunakan pisau tajam, yang kini sedang digenggaminya.</p>

<p>Jef pun mengikuti Jonathan sarapan, roti lapis yang setiap pagi dia makan.</p>

<p>Jef mulai potongi agar menjadi beberapa bagian kecil, perlahan potongan kecil roti lapis dia masukan ke dalam mulutnya.</p>

<p>“Saya sudah katakan, agar kamu terus minum obat kamu. Kenapa tidak kamu lakukan?.”</p>

<p>Jonathan berbicara pada Jef sambil mengunyah makanan, dan tanpa dia melihat ke arah Jef. yang kini juga terlihat sibuk mengunyah</p>

<p>“Obatnya saya selalu minum.”
“Jika obatnya kamu minum, kenapa semalam kamu seperti orang gila!.”</p>

<p>Jonathan menekan ucapannya pada Jef, lalu dia meletakkan garpu dan pisau kembali.</p>

<p>“Saya memang gila, karena saya gila makanya lebih baik tuan bebaskan orang gila ini.”</p>

<p>Jef berbicara sambil bersmirk tanpa melihat pada Jonathan yang terlihat menahan amarahnya.</p>

<p>“Saya maafkan kamu kali ini, jika kamu masih mengulangi hal yang sama. Maka jangan salahkan saya, jika hal kasar akan saya lakukan.”</p>

<p>“Baguslah, dengan begitu saya lebih mudah untuk mati.”</p>

<p>Jef kembali memasukan potongan roti kecil ke dalam mulutnya, berbeda dengan Jonathan yang langsung melempar gelas minum.</p>

<p>.
.</p>

<p>Jonathan geram melihat aksi Jef yang mencelah omongannya, dia berdiri dengan kasar dari tempat duduknya.</p>

<p>Kuris mahal pun ikut terjatuh, Jonathan pun mendekat.</p>

<p>Jonathan mencondongkan posisi nya sedikit, Jonathan lalu kembali membuka mulutnya.</p>

<p>“Jika kamu melewatkan obatmu sekali saja, maka setiap maid yang ada disini akan saya hukum.”</p>

<p>Tubuh Jef tiba-tiba saja menegang, dia sangat membenci situasi seperti ini. Jef menelan makanannya secara kasar.</p>

<p>Jonathan kembali berdiri dengan posisi tegak, dia lalu memandangi semua pekerja yang ada di ruang makan.</p>

<p>“Pastikan agar dia tidak pernah melewatkan untuk meminum obatnya, jika ada yang terlewat maka kalian sendiri yang akan mendapatkan hukuman dariku.”</p>

<p>Jonathan segera melangkah pergi dari ruang makan, berbeda dengan Jef yang masih saja terdiam. dan beberapa wajah maid yang mulai panik mendengar titah sang bos besar.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://secretaaaaaa.writeas.com/1</guid>
      <pubDate>Fri, 15 Sep 2023 20:56:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Insiden</title>
      <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/insiden?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Jacelyn telah membereskan semua barang-barangnya. &#xA;&#xA;Jacelyn telahberpamitan dengan sahabat-sahabatnya, sebelum dia pergi ke parkiran.&#xA;&#xA;Jacelyn berjalan dengan semangat, untuk menemui kedua orang tuanya.&#xA;&#xA;Johnny Suh dan Jaehyun hari ini bersama-sama pergi ke sekolah untuk menjemput Jacelyn. &#xA;&#xA;Dari kejauhan, Jacelyn bisa melihat mobil mewah milik daddy nya. Dia segera berlari mendekati mobil yang terparkir agak berjauhan, dari parkiran siswa.&#xA;&#xA;Jacelyn berdiri di depan mobil, dia mengetuk kaca mobil. Jaehyun menurunkan kaca mobil, lalu tersenyum pada Jacelyn.&#xA;&#xA;&#34;Adek kenapa lari?&#34;&#xA;&#34;Kalo adek jatuh gimana sayang?&#34;&#xA;&#xA;Johnny menimpali ucapan Jaehyun, Jacelyn hanya membalas dengan senyuman. Dia senang, dapat melihat kedua orang tuanya yang datang menjemputnya di sekolah.&#xA;&#xA;---&#xA;&#34;Masuk dulu sayang, ayok.&#34; &#xA;&#xA;Pinta Jaehyun dengan lembut pada putrinya, Jacelyn segera membuka pintu mobil belakang dan langsung duduk.&#xA;&#xA;&#34;Adek seat beltnya nak.&#34; &#xA;&#xA;Johnny menegur sambil melihat kaca spion mobil, Johnny harus memastikan bahwa putri mereka dalam kondisi aman. &#xA;&#xA;Jaehyun segera berbalik, dia melihat Jacelyn yang sedang memakai sabuk pengaman. &#xA;&#xA;&#34;udah nak?&#34;&#xA;&#34;iya ibun.&#34;&#xA;&#xA;Jacelyn berbicara sembari mengangguk, melihat semuanya aman. &#xA;&#xA;Johnny pun segera menyalakan mobilnya kembali, dia dengan santai menginjakkan pedal gas mobilnya.&#xA;&#xA;Di dalam perjalanan, Jaehyun mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya. &#xA;&#xA;&#34;ini buat adek.&#34;&#xA;&#xA;Jaehyun menyodorkan sekotak bekal kecil, Jacelyn menerima dengan antusias. &#xA;&#xA;&#34;cookies.&#34;&#xA;&#34;iya sayang, tadi sebelum kesini ibun buatin untuk kamu.&#34;&#xA;&#xA;Jacelyn mendekat, dia memeluk Jaehyun yang sedang duduk di kursi depan. &#xA;&#xA;&#34;makasih ibun.&#34;&#xA;&#34;sama-sama sayang.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;Jaehyun suh kerap kali membuat berbagai macam masakan, entah itu kue ering atau apapun. &#xA;&#xA;Menurut Jaehyun jika selama itu merupakan kesukaan keluarga kecilnya, maka akan dia buatkan.&#xA;&#xA;&#34;daddy mau?&#34;&#xA;&#xA;Jacelyn menawarkan cookies lembut pada Johnny yang masih menyetir. &#xA;&#xA;&#34;boleh kalau putri daddy kasih.&#34;&#xA;&#xA;Jacelyn menyuapkan satu potong cookies ke dalam mulut Johnny, melihat tindakan manis dari anak kesayangan mereka. &#xA;&#xA;Johnny segera membuka mulutnya, dia menerima suapan dari tangan mungil putrinya.&#xA;&#xA;&#34;Thank you sayang.&#34;&#xA;&#xA;Ucap Johnny sambil tangan kirinya mengusap lembut kepala Jacelyn yang sedang menyandarkan kepalanya di kursi Jaehyun. Sedangkan tangan kanannya, sibuk memengangi kemudi. &#xA;&#xA;Jaehyun terharu melihat interaksi manis antara ayah dan anak perempuan mereka, Johnny Suh begitu tulus menyayangi dia dan juga ketiga anak-anak mereka.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Selama perjalanan, mereka sibuk mengisi dengan bercengkrama. Sampai akhirnya, mobil mereka tiba di salah satu restoran mewah. &#xA;&#xA;Tempat dimana Johnny Suh akan melakukan pertemuan bersama dengan rekan bisnis barunya.&#xA;&#xA;&#34;disini dad?&#34;&#xA;&#34;iya, ayo turun sayang.&#34;&#xA;&#xA;Jaehyun segera melepaskan seat beltnya begitupun juga dengan Johnny dan Jacelyn.&#xA;&#xA;Mereka bertiga segera berjalan masuk, mobil diambil alih oleh pegawai restoran yang bertugas memarkirkan mobil tamu.&#xA;&#xA;&#34;Selamat sore Mr. Thom.&#34; &#xA;&#34;Selamat sore Mr. John.&#34;&#xA;&#xA;Johnny dan Thom saling berjabat tangan, tidak lupa Johnny juga memperkenalkan Jaehyun dan Jacelyn pada Thom. Kolega baru bisnisnya, &#xA;&#xA;&#34;Saya juga ingin memperkenalkan putra saya, sebentar lagi dia akan datang.&#34;&#xA;&#xA;Thom kembali melihat arloji yang ia kenakan, saat sedang duduk bersama dan sambil menunggu. &#xA;&#xA;Tiba-tiba saja seorang anak remaja berjalan masuk melangkah ke dalam restoran.&#xA;&#xA;&#34;Papa.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;Jacelyn seperti merasa tak asing ketika mendengar suara yang ia dengarkan. &#xA;&#xA;Membuat Jacelyn segera berbalik, dan betapa terkejutnya dia melihat sosok lelaki yang berdiri tepat di belakangannya.&#xA;&#xA;&#34;ELO.&#34;&#xA;&#xA;Ucap Jacelyn dengan lantang, saat melihat sosok yang kini melihat padanya.&#xA;&#xA;&#34;Kalian udah saling kenal Anton?&#34;&#xA;&#xA;Johnny melihat pada Jaehyun yang duduk tepat disamping Jacelyn. &#xA;&#xA;Jaehyun mencoba menenangkan Jaeclyn, Anton yang cuek itu segera membungkuk memberi hormat. Dan langsung duduk tepat di samping Thom. &#xA;&#xA;&#34;Adek kenal sama anaknya Mr. Thom?&#34;&#xA;&#xA;Jacelyn menatap sinis, lalu kembali ingin membuka suara. Belum sempat berbicara Anton segera memotong obrolan mereka.&#xA;&#xA;&#34;Saya baru pindah ke sekolah anak anda nyonya, makanya dia bisa berisik seperti tadi.&#34;&#xA;&#xA;Anton menyindir halus Jacelyn, membuat Jacelyn memanyunkan wajahnya dengan kesal. &#xA;&#xA;Jacelyn bahkan melotot pada Anton yang tak perduli dengan aksi Jacelyn. &#xA;&#xA;---&#xA;Johnny juga telah mengobrol dengan Thom, meski sesekali Johnny melirik Jacelyn yang nampak kesal pada Anton.&#xA;&#xA;Jaehyun menyantap makanan, sambil sesekali ikut masuk dalam obrolan Johnny dan Thom.&#xA;&#xA;Anton siswa pindahan dari amerika yang dingin, ketika di kantin Jacelyn tak sengaja menabrak Anton. &#xA;&#xA;Bukannya mereka berdua saling meminta maaf, justru Anton malah mencueki Jacelyn. Membuat Jacelyn murka, dan akhirnya melakukan perdebatan.&#xA;&#xA;Para sahabat yang semula tak tahu sebab sedang sibuk mengantri membeli makanan, tiba-tiba saja mendekat lalu membantu Jacelyn.&#xA; &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>



<hr/>

<p>Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Jacelyn telah membereskan semua barang-barangnya.</p>

<p>Jacelyn telahberpamitan dengan sahabat-sahabatnya, sebelum dia pergi ke parkiran.</p>

<p>Jacelyn berjalan dengan semangat, untuk menemui kedua orang tuanya.</p>

<p>Johnny Suh dan Jaehyun hari ini bersama-sama pergi ke sekolah untuk menjemput Jacelyn.</p>

<p>Dari kejauhan, Jacelyn bisa melihat mobil mewah milik daddy nya. Dia segera berlari mendekati mobil yang terparkir agak berjauhan, dari parkiran siswa.</p>

<p>Jacelyn berdiri di depan mobil, dia mengetuk kaca mobil. Jaehyun menurunkan kaca mobil, lalu tersenyum pada Jacelyn.</p>

<p><em>“Adek kenapa lari?”</em>
<em>“Kalo adek jatuh gimana sayang?”</em></p>

<p>Johnny menimpali ucapan Jaehyun, Jacelyn hanya membalas dengan senyuman. Dia senang, dapat melihat kedua orang tuanya yang datang menjemputnya di sekolah.</p>

<hr/>

<p><em>“Masuk dulu sayang, ayok.”</em></p>

<p>Pinta Jaehyun dengan lembut pada putrinya, Jacelyn segera membuka pintu mobil belakang dan langsung duduk.</p>

<p><em>“Adek seat beltnya nak.”</em></p>

<p>Johnny menegur sambil melihat kaca spion mobil, Johnny harus memastikan bahwa putri mereka dalam kondisi aman.</p>

<p>Jaehyun segera berbalik, dia melihat Jacelyn yang sedang memakai sabuk pengaman.</p>

<p><em>“udah nak?”</em>
<em>“iya ibun.”</em></p>

<p>Jacelyn berbicara sembari mengangguk, melihat semuanya aman.</p>

<p>Johnny pun segera menyalakan mobilnya kembali, dia dengan santai menginjakkan pedal gas mobilnya.</p>

<p>Di dalam perjalanan, Jaehyun mengeluarkan sesuatu dari dalam tas miliknya.</p>

<p><em>“ini buat adek.”</em></p>

<p>Jaehyun menyodorkan sekotak bekal kecil, Jacelyn menerima dengan antusias.</p>

<p><em>“cookies.”</em>
<em>“iya sayang, tadi sebelum kesini ibun buatin untuk kamu.”</em></p>

<p>Jacelyn mendekat, dia memeluk Jaehyun yang sedang duduk di kursi depan.</p>

<p><em>“makasih ibun.”</em>
<em>“sama-sama sayang.”</em></p>

<hr/>

<p>Jaehyun suh kerap kali membuat berbagai macam masakan, entah itu kue ering atau apapun.</p>

<p>Menurut Jaehyun jika selama itu merupakan kesukaan keluarga kecilnya, maka akan dia buatkan.</p>

<p><em>“daddy mau?”</em></p>

<p>Jacelyn menawarkan cookies lembut pada Johnny yang masih menyetir.</p>

<p><em>“boleh kalau putri daddy kasih.”</em></p>

<p>Jacelyn menyuapkan satu potong cookies ke dalam mulut Johnny, melihat tindakan manis dari anak kesayangan mereka.</p>

<p>Johnny segera membuka mulutnya, dia menerima suapan dari tangan mungil putrinya.</p>

<p><em>“Thank you sayang.”</em></p>

<p>Ucap Johnny sambil tangan kirinya mengusap lembut kepala Jacelyn yang sedang menyandarkan kepalanya di kursi Jaehyun. Sedangkan tangan kanannya, sibuk memengangi kemudi.</p>

<p>Jaehyun terharu melihat interaksi manis antara ayah dan anak perempuan mereka, Johnny Suh begitu tulus menyayangi dia dan juga ketiga anak-anak mereka.</p>

<hr/>

<p>Selama perjalanan, mereka sibuk mengisi dengan bercengkrama. Sampai akhirnya, mobil mereka tiba di salah satu restoran mewah.</p>

<p>Tempat dimana Johnny Suh akan melakukan pertemuan bersama dengan rekan bisnis barunya.</p>

<p><em>“disini dad?”</em>
<em>“iya, ayo turun sayang.”</em></p>

<p>Jaehyun segera melepaskan seat beltnya begitupun juga dengan Johnny dan Jacelyn.</p>

<p>Mereka bertiga segera berjalan masuk, mobil diambil alih oleh pegawai restoran yang bertugas memarkirkan mobil tamu.</p>

<p><em>“Selamat sore Mr. Thom.”</em>
<em>“Selamat sore Mr. John.”</em></p>

<p>Johnny dan Thom saling berjabat tangan, tidak lupa Johnny juga memperkenalkan Jaehyun dan Jacelyn pada Thom. Kolega baru bisnisnya,</p>

<p><em>“Saya juga ingin memperkenalkan putra saya, sebentar lagi dia akan datang.”</em></p>

<p>Thom kembali melihat arloji yang ia kenakan, saat sedang duduk bersama dan sambil menunggu.</p>

<p>Tiba-tiba saja seorang anak remaja berjalan masuk melangkah ke dalam restoran.</p>

<p><em>“Papa.”</em></p>

<hr/>

<p>Jacelyn seperti merasa tak asing ketika mendengar suara yang ia dengarkan.</p>

<p>Membuat Jacelyn segera berbalik, dan betapa terkejutnya dia melihat sosok lelaki yang berdiri tepat di belakangannya.</p>

<p><em>“ELO.”</em></p>

<p>Ucap Jacelyn dengan lantang, saat melihat sosok yang kini melihat padanya.</p>

<p><em>“Kalian udah saling kenal Anton?”</em></p>

<p>Johnny melihat pada Jaehyun yang duduk tepat disamping Jacelyn.</p>

<p>Jaehyun mencoba menenangkan Jaeclyn, Anton yang cuek itu segera membungkuk memberi hormat. Dan langsung duduk tepat di samping Thom.</p>

<p><em>“Adek kenal sama anaknya Mr. Thom?”</em></p>

<p>Jacelyn menatap sinis, lalu kembali ingin membuka suara. Belum sempat berbicara Anton segera memotong obrolan mereka.</p>

<p><em>“Saya baru pindah ke sekolah anak anda nyonya, makanya dia bisa berisik seperti tadi.”</em></p>

<p>Anton menyindir halus Jacelyn, membuat Jacelyn memanyunkan wajahnya dengan kesal.</p>

<p>Jacelyn bahkan melotot pada Anton yang tak perduli dengan aksi Jacelyn.</p>

<hr/>

<p>Johnny juga telah mengobrol dengan Thom, meski sesekali Johnny melirik Jacelyn yang nampak kesal pada Anton.</p>

<p>Jaehyun menyantap makanan, sambil sesekali ikut masuk dalam obrolan Johnny dan Thom.</p>

<p>Anton siswa pindahan dari amerika yang dingin, ketika di kantin Jacelyn tak sengaja menabrak Anton.</p>

<p>Bukannya mereka berdua saling meminta maaf, justru Anton malah mencueki Jacelyn. Membuat Jacelyn murka, dan akhirnya melakukan perdebatan.</p>

<p>Para sahabat yang semula tak tahu sebab sedang sibuk mengantri membeli makanan, tiba-tiba saja mendekat lalu membantu Jacelyn.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://secretaaaaaa.writeas.com/insiden</guid>
      <pubDate>Thu, 07 Sep 2023 23:03:47 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kantor</title>
      <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/kantor?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;&#xA;Mark Suh, Haechan Suh dan Jacelyn Suh ketiga bersaudara itu telah tiba di kantor J Crop. &#xA;&#xA;Yaitu Tempat dimana Johnny Suh bekerja, Jacelyn Suh merupakan si bungsu di dalam keluarga.&#xA;&#xA;Jacelyn berjalan bersama dengan kedua kakaknya, untuk menaiki lift kantor menuju ke lantai terakhir. Ruangan dimana Johnny bekerja, pintu lift terbuka. &#xA;&#xA;Seorang  receptionist yang bertugas khusus di depan ruangan pribadi Johnny, sudah mengetahui identitas ketiga anak dari pemilik J crop itu memberi hormat, mereka bertiga melangkah bersama untuk masuk ke ruangan.&#xA;&#xA;&#34;Ibun.&#34;&#xA;&#xA;teriak Jacelyn yang lari menubruk dirinya ke dalam pelukan Jaehyun. &#xA;&#xA;Jaehyun Suh lalu memeluk putri kecilnya.&#xA;&#xA;Johnny Suh yang semula sedang duduk serius sambil bekerja di kursi kekuasaannya, segera berdiri. lalu kemudian ia mendekati istri dan juga putri kecil mereka.&#xA;&#xA;&#34;Ibun aja yang dipeluk, daddy nggak nih!&#34;&#xA;&#xA;Johnny memberi aksi protes, sambil kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Mendengar protes dari Johnny, membuat Jacelyn lalu beralih memeluk Johnny.&#xA;&#xA;&#34;Dad, jangan marahin kakak yah..&#34; Suara parau kecil Jacelyn sambil memeluk Johnny.&#xA;&#xA;Johnny membalas pelukan putrinya, lalu dengan tenang berbicara lembut kepada Jacelyn.&#xA;&#xA;&#34;Siapa yang mau marahin kakak kamu, daddy cuma pengen ngobrol aja sayang.&#34;&#xA;&#xA;Johnny menenangkan Jacelyn, dia memberikan kecupan di kening putrinya, sebelumnya Johnny sudah diberitahu oleh si sulung Mark. &#xA;&#xA;Bahwa sejak perjalanan menjemput Haechan, Jacelyn Suh tidak henti-hentinya menangis. &#xA;&#xA;Jacelyn sangat takut, jika Johnny akan marah besar kepada Haechan. Meskipun, mereka bertiga masih belum tahu apa yang akan Johnny bicarakan dengan Haechan.&#xA;&#xA;Mark dan Haechan masih berdiri di depan pintu ruangan, melihat aksi daddy dan adik kecil mereka. &#xA;&#xA;&#34;Abang sama kakak nggak mau duduk..&#34;&#xA;&#xA;ucap Jaehyun yang melihat kedua kakak beradik yang masih belum bergerak dari tempat mereka. &#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Mark dan Haechan lalu saling berpandang, kemudian berjalan mendekati Jaehyun yang masih berdiri menyaksikan Johnny dan Jacelyn berpelukan.&#xA;&#xA;Mark dan Haechan mendekat pada Jaehyun lalu secara bergantian untuk memeluk Jaehyun, setelah itu mereka berdua langsung duduk di kursi. &#xA;&#xA;&#34;Adek, udah yah. Daddy nggak marah kakak kamu sayang.&#34; &#xA;&#xA;Johnny masih berusaha untuk menenangkan Jacelyn, Jacelyn sangat menyayangi kedua kakaknya. &#xA;&#xA;Mendengar ucapan Johnny, Jaeclyn mendongakkan wajahnya ke atas melihat sang Daddy. &#xA;&#xA;&#34;Janji, daddy nggak marah sama kakak?&#34;&#xA;&#xA;Jacelyn memberi jari kelingkingnya, ini seperti sebuah perjanjian. &#xA;&#xA;Johnny pun menautkan jari kelingkingnya pada si kecil kesayangan mereka. &#xA;&#xA;&#34;Yes, daddy promise nggak marah sama kakak..&#34;&#xA;&#xA;Setelah itu Jacelyn pun beranjak duduk, dia duduk di antara Mark dan Haechan sambil tangannya merangkul lengan kakak-kakaknya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Johnny suh hanya bisa menghela nafasnya, dia pun segera duduk di dekat Jaehyun.&#xA;&#xA;&#34;Jadi tujuan daddy ngajak kalian bertiga kumpul disini, mau bahas tentang perusahaan. Abang bakalan daddy tugasin di kantor cabang kita.&#34;&#xA;&#xA;Jacelyn terkejut mendengar penuturan dari Johnny, Mark sebenarnya sudah tau. &#xA;&#xA;Namun, Johnny memang sengaja mengumumkan di depan Jacelyn dan Haechan. Agar keduanya tau, bahwa si sulung akan pindah dari rumah.&#xA;&#xA;&#34;daddy, kalo abang pindah nanti adek cuma main sama kakak doang dong.&#34; &#xA;&#xA;Jacelyn lagi-lagi protes, Jacelyn tak sanggup jika harus berpisah dengan kakak tertuanya. Apalagi, selama ini mereka bertiga selalu bersama.&#xA;&#xA;&#34;Adek, abang harus latih dirinya dari sekarang. Supaya nanti, abang bisa lanjutin perusahaan kita nak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tapi ibun, kalo abang pergi adek nggak punya temen main.&#34;&#xA;&#xA;Haechan tau betul kondisi adik kecilnya, Haechan menggenggam tangan kecil Jacelyn.&#xA;&#xA;&#34;Tenang aja dek, kan masih ada kakak. Kita masih bisa main berdua,.&#34;&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Haechan mencoba memberikan pengertian pada Jacelyn, meski dia tau itu sepertinya sulit. &#xA;&#xA;Johnny masih menyimak tingkah putri kecilnya, dia sendiri sudah menduga bahwa kepergian Mark di tempat baru akan bertentangan dengan putri mereka. &#xA;&#xA;Seringnya bersama dengan kedua kakaknya, membuat ikatan batin Jacelyn, Mark dan Haechan menjadi kuat. &#xA;&#xA;Johnny memberi kode pada Jaehyun yang duduk di sampingnya. Jaehyun yang mengerti segera membuka suara.&#xA;&#xA;&#34;adek, ikut sama ibun kebawah sebentar yuk&#34;&#xA;&#xA;Jacelyn kembali memandangi Jaehyun yang duduk di hadapan nya.&#xA;&#xA;&#34;Mau ngapain ibun?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ibun pengen ice cream, tadi ibun lihat ada varian baru. Ibun yakin adek pasti suka.&#34;&#xA;&#xA;Jaehyun mencoba mengalihkan perhatian Jacelyn, mendengar makanan kesukaannya segera Jacelyn berdiri dari tempat duduknya.&#xA;&#xA;&#34;Ayo ibun, adek siap makan es krim.&#34;&#xA;&#xA;Jaehyun segera berdiri, dia pun merangkul putrinya. Dan tak lupa memberikan kode, agar Johnny segera cepat menyelesaikan pembicaraan mereka.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Melihat kepergian Jaehyun dan Jacelyn, Johnny segera kembali membuka percakapan.&#xA;&#xA;&#34;Kak gimana kuliah kamu?&#34;&#xA;&#34;Aman dad, kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanti kalau kamu udah lulus, daddy mau nempatin kamu juga di cabang baru kita.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dad, apa ini nggak kecepetan? maksud kakak. Gimana kalo adek tau!.&#34;&#xA;&#xA;Haechan memberikan aksi protes, dia terkejut mendengar ucapan Johnny. &#xA;&#xA;&#34;Adek nggak perlu sampai tau, kalian tau sendiri adek kalian kayak gimana.&#34;&#xA;&#xA;Johnny Suh tidak suka jika dibantah, sesuatu yang sudah dia atur sebagaimana mestinya haruslah  tetap diikuti. &#xA;&#xA;Terlebih Mark dan Haechan yang akan meneruskan perusahaan keluarga. &#xA;&#xA;Mark hanya bisa menepuk pundak adiknya, dia tahu jika Haechan tak terlalu suka berkecimpung di dunia bisnis. &#xA;&#xA;&#34;Siapa itu injun?&#34;&#xA;&#xA;Johnny menilik pada Haechan, dia dengan serius menatap wajah Haechan. &#xA;&#xA;&#34;Temen aku dad.&#34;&#xA;&#xA;&#34;daddy harap begitu, daddy minta sama kalian berdua. Jangan cuma fokus sama cinta, kalian harus lebih fokus sama perusahaan dan adek kalian. Ngerti?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngerti dad.&#34;&#xA;&#xA;Mark dan Haechan membuka suara, setelah itu Johnny beranjak pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan. &#xA;&#xA;Johnny turun kebawah, untuk ikut bersama Jaehyun dan Jacelyn.&#xA;&#xA;---&#xA;&#34;Bang, lo ngapain diam aja. Harusnya lo protes, lo nggak kasihan sama pacar lo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak bisa dek.&#34;&#xA;&#xA;Hacehan mengacak rambutnya, dia cukup frustasi hari ini. Mark sudah memiliki kekasih, namun hubungan mereka masih di tentang oleh Johnny. &#xA;&#xA;Johnny hanya ingin Mark sukses terlebih dahulu, barulah ia boleh memikirkan percintaannya. Dan lebihnya lagi, Johnny ingin Mark maupun Haechan tetap fokus menjaga adik kecil mereka. &#xA;&#xA;Johnny tidak ingin kehadiran orang lain, di samping Mark dan Haechan membuat Jacelyn tersisihkan. &#xA;&#xA;Sebab Jacelyn pernah mengatakan pada Johnny, Jacelyn cemburu jika ada orang lain yang merebut perhatian kedua kakaknya. Saat Jacelyn kelas 6 sd, membuat Johnny mengganggap ucapan Jacelyn adalah keseriusan. &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>



<hr/>

<p>Mark Suh, Haechan Suh dan Jacelyn Suh ketiga bersaudara itu telah tiba di kantor J Crop.</p>

<p>Yaitu Tempat dimana Johnny Suh bekerja, Jacelyn Suh merupakan si bungsu di dalam keluarga.</p>

<p>Jacelyn berjalan bersama dengan kedua kakaknya, untuk menaiki lift kantor menuju ke lantai terakhir. Ruangan dimana Johnny bekerja, pintu lift terbuka.</p>

<p>Seorang  <em>receptionist</em> yang bertugas khusus di depan ruangan pribadi Johnny, sudah mengetahui identitas ketiga anak dari pemilik J crop itu memberi hormat, mereka bertiga melangkah bersama untuk masuk ke ruangan.</p>

<p><em>“Ibun.”</em></p>

<p>teriak Jacelyn yang lari menubruk dirinya ke dalam pelukan Jaehyun.</p>

<p>Jaehyun Suh lalu memeluk putri kecilnya.</p>

<p>Johnny Suh yang semula sedang duduk serius sambil bekerja di kursi kekuasaannya, segera berdiri. lalu kemudian ia mendekati istri dan juga putri kecil mereka.</p>

<p><em>“Ibun aja yang dipeluk, daddy nggak nih!”</em></p>

<p>Johnny memberi aksi protes, sambil kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Mendengar protes dari Johnny, membuat Jacelyn lalu beralih memeluk Johnny.</p>

<p><em>“Dad, jangan marahin kakak yah..”</em> Suara parau kecil Jacelyn sambil memeluk Johnny.</p>

<p>Johnny membalas pelukan putrinya, lalu dengan tenang berbicara lembut kepada Jacelyn.</p>

<p><em>“Siapa yang mau marahin kakak kamu, daddy cuma pengen ngobrol aja sayang.”</em></p>

<p>Johnny menenangkan Jacelyn, dia memberikan kecupan di kening putrinya, sebelumnya Johnny sudah diberitahu oleh si sulung Mark.</p>

<p>Bahwa sejak perjalanan menjemput Haechan, Jacelyn Suh tidak henti-hentinya menangis.</p>

<p>Jacelyn sangat takut, jika Johnny akan marah besar kepada Haechan. Meskipun, mereka bertiga masih belum tahu apa yang akan Johnny bicarakan dengan Haechan.</p>

<p>Mark dan Haechan masih berdiri di depan pintu ruangan, melihat aksi daddy dan adik kecil mereka.</p>

<p><em>“Abang sama kakak nggak mau duduk..”</em></p>

<p>ucap Jaehyun yang melihat kedua kakak beradik yang masih belum bergerak dari tempat mereka.</p>

<hr/>

<p>Mark dan Haechan lalu saling berpandang, kemudian berjalan mendekati Jaehyun yang masih berdiri menyaksikan Johnny dan Jacelyn berpelukan.</p>

<p>Mark dan Haechan mendekat pada Jaehyun lalu secara bergantian untuk memeluk Jaehyun, setelah itu mereka berdua langsung duduk di kursi.</p>

<p><em>“Adek, udah yah. Daddy nggak marah kakak kamu sayang.”</em></p>

<p>Johnny masih berusaha untuk menenangkan Jacelyn, Jacelyn sangat menyayangi kedua kakaknya.</p>

<p>Mendengar ucapan Johnny, Jaeclyn mendongakkan wajahnya ke atas melihat sang Daddy.</p>

<p><em>“Janji, daddy nggak marah sama kakak?”</em></p>

<p>Jacelyn memberi jari kelingkingnya, ini seperti sebuah perjanjian.</p>

<p>Johnny pun menautkan jari kelingkingnya pada si kecil kesayangan mereka.</p>

<p><em>“Yes, daddy promise nggak marah sama kakak..”</em></p>

<p>Setelah itu Jacelyn pun beranjak duduk, dia duduk di antara Mark dan Haechan sambil tangannya merangkul lengan kakak-kakaknya.</p>

<hr/>

<p>Johnny suh hanya bisa menghela nafasnya, dia pun segera duduk di dekat Jaehyun.</p>

<p><em>“Jadi tujuan daddy ngajak kalian bertiga kumpul disini, mau bahas tentang perusahaan. Abang bakalan daddy tugasin di kantor cabang kita.”</em></p>

<p>Jacelyn terkejut mendengar penuturan dari Johnny, Mark sebenarnya sudah tau.</p>

<p>Namun, Johnny memang sengaja mengumumkan di depan Jacelyn dan Haechan. Agar keduanya tau, bahwa si sulung akan pindah dari rumah.</p>

<p><em>“daddy, kalo abang pindah nanti adek cuma main sama kakak doang dong.”</em></p>

<p>Jacelyn lagi-lagi protes, Jacelyn tak sanggup jika harus berpisah dengan kakak tertuanya. Apalagi, selama ini mereka bertiga selalu bersama.</p>

<p><em>“Adek, abang harus latih dirinya dari sekarang. Supaya nanti, abang bisa lanjutin perusahaan kita nak.”</em></p>

<p><em>“Tapi ibun, kalo abang pergi adek nggak punya temen main.”</em></p>

<p>Haechan tau betul kondisi adik kecilnya, Haechan menggenggam tangan kecil Jacelyn.</p>

<p><em>“Tenang aja dek, kan masih ada kakak. Kita masih bisa main berdua,.”</em></p>

<hr/>

<p>Haechan mencoba memberikan pengertian pada Jacelyn, meski dia tau itu sepertinya sulit.</p>

<p>Johnny masih menyimak tingkah putri kecilnya, dia sendiri sudah menduga bahwa kepergian Mark di tempat baru akan bertentangan dengan putri mereka.</p>

<p>Seringnya bersama dengan kedua kakaknya, membuat ikatan batin Jacelyn, Mark dan Haechan menjadi kuat.</p>

<p>Johnny memberi kode pada Jaehyun yang duduk di sampingnya. Jaehyun yang mengerti segera membuka suara.</p>

<p><em>“adek, ikut sama ibun kebawah sebentar yuk”</em></p>

<p>Jacelyn kembali memandangi Jaehyun yang duduk di hadapan nya.</p>

<p><em>“Mau ngapain ibun?”</em></p>

<p><em>“Ibun pengen ice cream, tadi ibun lihat ada varian baru. Ibun yakin adek pasti suka.”</em></p>

<p>Jaehyun mencoba mengalihkan perhatian Jacelyn, mendengar makanan kesukaannya segera Jacelyn berdiri dari tempat duduknya.</p>

<p><em>“Ayo ibun, adek siap makan es krim.”</em></p>

<p>Jaehyun segera berdiri, dia pun merangkul putrinya. Dan tak lupa memberikan kode, agar Johnny segera cepat menyelesaikan pembicaraan mereka.</p>

<hr/>

<p>Melihat kepergian Jaehyun dan Jacelyn, Johnny segera kembali membuka percakapan.</p>

<p><em>“Kak gimana kuliah kamu?”</em>
<em>“Aman dad, kenapa?”</em></p>

<p><em>“Nanti kalau kamu udah lulus, daddy mau nempatin kamu juga di cabang baru kita.”</em></p>

<p><em>“Dad, apa ini nggak kecepetan? maksud kakak. Gimana kalo adek tau!.”</em></p>

<p>Haechan memberikan aksi protes, dia terkejut mendengar ucapan Johnny.</p>

<p><em>“Adek nggak perlu sampai tau, kalian tau sendiri adek kalian kayak gimana.”</em></p>

<p>Johnny Suh tidak suka jika dibantah, sesuatu yang sudah dia atur sebagaimana mestinya haruslah  tetap diikuti.</p>

<p>Terlebih Mark dan Haechan yang akan meneruskan perusahaan keluarga.</p>

<p>Mark hanya bisa menepuk pundak adiknya, dia tahu jika Haechan tak terlalu suka berkecimpung di dunia bisnis.</p>

<p><em>“Siapa itu injun?”</em></p>

<p>Johnny menilik pada Haechan, dia dengan serius menatap wajah Haechan.</p>

<p><em>“Temen aku dad.”</em></p>

<p><em>“daddy harap begitu, daddy minta sama kalian berdua. Jangan cuma fokus sama cinta, kalian harus lebih fokus sama perusahaan dan adek kalian. Ngerti?”</em></p>

<p><em>“Ngerti dad.”</em></p>

<p>Mark dan Haechan membuka suara, setelah itu Johnny beranjak pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan.</p>

<p>Johnny turun kebawah, untuk ikut bersama Jaehyun dan Jacelyn.</p>

<hr/>

<p><em>“Bang, lo ngapain diam aja. Harusnya lo protes, lo nggak kasihan sama pacar lo.”</em></p>

<p><em>“Gue nggak bisa dek.”</em></p>

<p>Hacehan mengacak rambutnya, dia cukup frustasi hari ini. Mark sudah memiliki kekasih, namun hubungan mereka masih di tentang oleh Johnny.</p>

<p>Johnny hanya ingin Mark sukses terlebih dahulu, barulah ia boleh memikirkan percintaannya. Dan lebihnya lagi, Johnny ingin Mark maupun Haechan tetap fokus menjaga adik kecil mereka.</p>

<p>Johnny tidak ingin kehadiran orang lain, di samping Mark dan Haechan membuat Jacelyn tersisihkan.</p>

<p>Sebab Jacelyn pernah mengatakan pada Johnny, Jacelyn cemburu jika ada orang lain yang merebut perhatian kedua kakaknya. Saat Jacelyn kelas 6 sd, membuat Johnny mengganggap ucapan Jacelyn adalah keseriusan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://secretaaaaaa.writeas.com/kantor</guid>
      <pubDate>Thu, 07 Sep 2023 12:17:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pergi</title>
      <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/pergi?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;Jordi sebisa mungkin pergi untuk menemui Jevear, dia bahkan rela meninggalkan klien pentingnya demi untuk bertemu dengan Jevear.&#xA;&#xA;Berlarian di bandara sendirian, mencari sosok Jevear pun percuma, Jevear telah terbang. Ia sudah terlambat, dan itu membuatnya kesal. &#xA;&#xA;Ia ingin menyusul, namun penerbangan untuk besok semuanya telah di pesan. Ia mengerang kesal, &#xA;&#xA;&#34;Sial, gue kenapa sih&#34; kesal Jordi sambil menghentakan kakinya ke lantai.&#xA;&#xA;Jordi sempat menghubungi Jevear untuk menahannya sebentar, agar bisa pergi bersama melihat Katy. Namun sayang, karna suara panggilan di bandara membuat Jevear tak mendengar apapun. Sehingga dia memilih untuk mematikan ponselnya, selain itu panggilan penerbangannya sudah terdengar.&#xA;&#xA;Jordi akhirnya memilih untuk kembali ke rumah dengan perasaan sedih, entah kenapa Jordi seperti merasa ada bagian penting yang pergi dari dirinya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>



<hr/>

<p>Jordi sebisa mungkin pergi untuk menemui Jevear, dia bahkan rela meninggalkan klien pentingnya demi untuk bertemu dengan Jevear.</p>

<p>Berlarian di bandara sendirian, mencari sosok Jevear pun percuma, Jevear telah terbang. Ia sudah terlambat, dan itu membuatnya kesal.</p>

<p>Ia ingin menyusul, namun penerbangan untuk besok semuanya telah di pesan. Ia mengerang kesal,</p>

<p>“Sial, gue kenapa sih” kesal Jordi sambil menghentakan kakinya ke lantai.</p>

<p>Jordi sempat menghubungi Jevear untuk menahannya sebentar, agar bisa pergi bersama melihat Katy. Namun sayang, karna suara panggilan di bandara membuat Jevear tak mendengar apapun. Sehingga dia memilih untuk mematikan ponselnya, selain itu panggilan penerbangannya sudah terdengar.</p>

<p>Jordi akhirnya memilih untuk kembali ke rumah dengan perasaan sedih, entah kenapa Jordi seperti merasa ada bagian penting yang pergi dari dirinya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://secretaaaaaa.writeas.com/pergi</guid>
      <pubDate>Sun, 02 Apr 2023 17:23:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bulan</title>
      <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/bulan?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;Jevear pergi bersama dengan Jordi, menerima tawaran ajakan dari Jordi menurut Jevear tak ada salahnya, apalagi jika Jevear mengingat kebaikan dari Jordi kemarin. Yang sibuk merawat dirinya yang jatuh sakit.&#xA;&#xA;Jordi menggunakan motor kesayan-&#xA;gannya untuk membonceng Jevear, mereka berdua melintasi jalanan&#xA;yang sepi di malam hari. &#xA;&#xA;&#34;Jeve pegangan&#34; teriak Jordi&#xA;&#xA;Jevear yang tadinya santai, seketika langsung memeluk Jordi saat Jordi mulai menambah kecepatan laju motornya.&#xA;&#xA;Jevear bahkan memeluk Jordi dengan erat dari pinggangnya, Jordi melihat wajah Jevear dari kaca motor seketika ia menjadi tersenyum. &#xA;---&#xA;Jordi mengajak Jevear keluar rumah, entah kemana arah tujuan mereka. Yang pasti Jordi hanya ingin menghibur Jevear, setelah lama berputar-putar mengelilingi jalanan yang kosong itu. &#xA;&#xA;Jordi perlahan mulai menepikan kendaraan miliknya, motornya berhenti tepat di atas sebuah jembatan, Jevear memperhatikan sekitar. Saat melihat ke langit, bulan purnama yang terang membuatnya terkesima. &#xA;&#xA;Jevear pun segera turun dari atas motor, ia berjalan sedikit mendekat. Jevear memperhatikan dengan seksama, Jordi pun menurunkan standar motornya. Jordi berjalan mendekati Jevear yang masih tak berhenti mengagumi cahaya bulan. &#xA;&#xA;Jordi melihat ke arah langit, kemilauan bintang-bintang dan terangnya bulan membuat mereka sungguh terpana. &#xA;&#xA;&#34;Lo tau nggak kenapa gue nggak berhenti lihatin bulan diatas&#34; ucap Jevear yang masih menperhatikan bulan.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa?&#34; tanya Jordi.&#xA;&#xA;&#34;Kalo gue lihat bulan, gue jadi ingat orang tua gue. Mereka persis seperti bulan&#34; ucap Jevear.&#xA;&#xA;Jordi pun kembali memandangi Jevear di sampingnya, kini ia mengerti kenapa Jevear terus-menerus tak berhenti menatap bulan.&#xA;&#xA;&#34;lu kangen sama mereka ya?&#34; tanya Jordi kembali.&#xA;&#xA;&#34;Tentu, tapi tuhan udah ambil dua bulan kesayangan gue&#34; jawab Jevear lalu dengan cepat menyeka kelopak matanya yang hampir menetaskan air mata.&#xA;---&#xA;&#34;Nangis aja kalo lu emang mau nangis&#34; ungkap Jordi.&#xA;&#xA;&#34;Siapa yang nangis, orang gue kelilipan doang&#34; balas Jevear.&#xA;&#xA;Jevear berpura-pura seakan-akan dirinya sedang baik-baik saja, nyata air mata tak sanggup ia bendung. &#xA;&#xA;Kerinduannya pada orang-orang disekitarnya turut menemani heningnya malam ini, Jordi mengerti sosok tengil dan banyak tingkah di hadapannya ini sangatlah penyayang keluarga. &#xA;&#xA;&#34;Jeve&#34; panggil Jordi.&#xA;&#xA;Suara panggilan dengan nada lembut itu sukses memecahkan tangisan Jevear malam ini, diapun tak sanggup. Ia tak dapat mengikari kerinduan yang hadir di dalam hatinya. Merindukan orang tua yang telah tiada, serta nenek keluarga satu-satunya yang ia punya membuatnya menitihkan air mata.&#xA;&#xA;Jordi mendengar isakan tangis itu, semula jarak yang terbentang di antara mereka tanpa sadar sudah tidak ada lagi. &#xA;&#xA;Sekali lagi Jevear menangis di dalam pelukan Jordi, Jordi sang manusia dingin dengan orang lain. &#xA;&#xA;Diam-diam memberi perhatian lebih kepada Jevear, sosok orang pertama yang sukses membuat ia berpikir setiap malam untuk membantu Katy agar supaya merubah perilaku kegilaan dari Jevear.&#xA;&#xA;Mendengar tak ada suara yang keluar dari bibir itu, Jordi pun segera melepas pelukannya. &#xA;&#xA;Jevear yang telah merasakan kelegaan kembali mengusap air matanya yang tersisa, Jordi masih menatap tingkah laku Jevear dan tanpa sadar matanya tertuju pada bibir yang berbentuk tipis milik Jevear.&#xA;&#xA;Jevear yang awalnya sedang sibuk mengusap matanya tak sengaja menatap Jordi yang sibuk melihatnya.&#xA;&#xA;&#34;Jordi&#34; panggil Jeve dengan lembut.&#xA;&#xA;Jordi pun sadar dari keterlamunannya, dan kembali melihat Jevear.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa Jeve?&#34; tanya Jordi.&#xA;&#xA;&#34;Mm., makasih&#34; jawab Jevear yang malu-malu.&#xA;&#xA;Melihat tingkah lucu Jevear seketika Jordi melakukan tindakan spontanitas, yaitu dengan mengacak rambut Jevear. &#xA;&#xA;Perlakuan sekejap itu membuat jantung Jevear sedikit berdegup kencang, Jevear tidak marah atas tindakan yang dilakukan Jordi. &#xA;&#xA;Dengan cepat Jevear bahkan berjinjit sedikit dan langsung mengecup pipi kiri Jordi, yang membuat Jordi langsung menjadi batu seketika. &#xA;&#xA;&#34;Sorry&#34; ucap Jevear yang langsung menundukan pandangannya.&#xA;&#xA;Jordi yang terdiam itu masih melihat Jevear, lalu Jordi mendongakan wajah Jevear ke arahnya menggunakan tangannya. &#xA;&#xA;Dan tanpa berpikir panjang ia pun mencium bibir lembut Jevear, bukannya menghindar justru Jevear malah menanggapi ciuman itu. &#xA;&#xA;Tautan di antara bibir mereka bisa dirasakan oleh masing-masing, Jordi melumat bibir Jevear, dengan tenang mereka saling berciuman di bawah terangnya sinar rembulan.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>



<hr/>

<p>Jevear pergi bersama dengan Jordi, menerima tawaran ajakan dari Jordi menurut Jevear tak ada salahnya, apalagi jika Jevear mengingat kebaikan dari Jordi kemarin. Yang sibuk merawat dirinya yang jatuh sakit.</p>

<p>Jordi menggunakan motor kesayan-
gannya untuk membonceng Jevear, mereka berdua melintasi jalanan
yang sepi di malam hari.</p>

<p>“Jeve pegangan” teriak Jordi</p>

<p>Jevear yang tadinya santai, seketika langsung memeluk Jordi saat Jordi mulai menambah kecepatan laju motornya.</p>

<p>Jevear bahkan memeluk Jordi dengan erat dari pinggangnya, Jordi melihat wajah Jevear dari kaca motor seketika ia menjadi tersenyum.</p>

<hr/>

<p>Jordi mengajak Jevear keluar rumah, entah kemana arah tujuan mereka. Yang pasti Jordi hanya ingin menghibur Jevear, setelah lama berputar-putar mengelilingi jalanan yang kosong itu.</p>

<p>Jordi perlahan mulai menepikan kendaraan miliknya, motornya berhenti tepat di atas sebuah jembatan, Jevear memperhatikan sekitar. Saat melihat ke langit, bulan purnama yang terang membuatnya terkesima.</p>

<p>Jevear pun segera turun dari atas motor, ia berjalan sedikit mendekat. Jevear memperhatikan dengan seksama, Jordi pun menurunkan standar motornya. Jordi berjalan mendekati Jevear yang masih tak berhenti mengagumi cahaya bulan.</p>

<p>Jordi melihat ke arah langit, kemilauan bintang-bintang dan terangnya bulan membuat mereka sungguh terpana.</p>

<p>“Lo tau nggak kenapa gue nggak berhenti lihatin bulan diatas” ucap Jevear yang masih menperhatikan bulan.</p>

<p>“Kenapa?” tanya Jordi.</p>

<p>“Kalo gue lihat bulan, gue jadi ingat orang tua gue. Mereka persis seperti bulan” ucap Jevear.</p>

<p>Jordi pun kembali memandangi Jevear di sampingnya, kini ia mengerti kenapa Jevear terus-menerus tak berhenti menatap bulan.</p>

<p>“lu kangen sama mereka ya?” tanya Jordi kembali.</p>

<p>“Tentu, tapi tuhan udah ambil dua bulan kesayangan gue” jawab Jevear lalu dengan cepat menyeka kelopak matanya yang hampir menetaskan air mata.</p>

<hr/>

<p>“Nangis aja kalo lu emang mau nangis” ungkap Jordi.</p>

<p>“Siapa yang nangis, orang gue kelilipan doang” balas Jevear.</p>

<p>Jevear berpura-pura seakan-akan dirinya sedang baik-baik saja, nyata air mata tak sanggup ia bendung.</p>

<p>Kerinduannya pada orang-orang disekitarnya turut menemani heningnya malam ini, Jordi mengerti sosok tengil dan banyak tingkah di hadapannya ini sangatlah penyayang keluarga.</p>

<p>“Jeve” panggil Jordi.</p>

<p>Suara panggilan dengan nada lembut itu sukses memecahkan tangisan Jevear malam ini, diapun tak sanggup. Ia tak dapat mengikari kerinduan yang hadir di dalam hatinya. Merindukan orang tua yang telah tiada, serta nenek keluarga satu-satunya yang ia punya membuatnya menitihkan air mata.</p>

<p>Jordi mendengar isakan tangis itu, semula jarak yang terbentang di antara mereka tanpa sadar sudah tidak ada lagi.</p>

<p>Sekali lagi Jevear menangis di dalam pelukan Jordi, Jordi sang manusia dingin dengan orang lain.</p>

<p>Diam-diam memberi perhatian lebih kepada Jevear, sosok orang pertama yang sukses membuat ia berpikir setiap malam untuk membantu Katy agar supaya merubah perilaku kegilaan dari Jevear.</p>

<p>Mendengar tak ada suara yang keluar dari bibir itu, Jordi pun segera melepas pelukannya.</p>

<p>Jevear yang telah merasakan kelegaan kembali mengusap air matanya yang tersisa, Jordi masih menatap tingkah laku Jevear dan tanpa sadar matanya tertuju pada bibir yang berbentuk tipis milik Jevear.</p>

<p>Jevear yang awalnya sedang sibuk mengusap matanya tak sengaja menatap Jordi yang sibuk melihatnya.</p>

<p>“Jordi” panggil Jeve dengan lembut.</p>

<p>Jordi pun sadar dari keterlamunannya, dan kembali melihat Jevear.</p>

<p>“Kenapa Jeve?” tanya Jordi.</p>

<p>“Mm., makasih” jawab Jevear yang malu-malu.</p>

<p>Melihat tingkah lucu Jevear seketika Jordi melakukan tindakan spontanitas, yaitu dengan mengacak rambut Jevear.</p>

<p>Perlakuan sekejap itu membuat jantung Jevear sedikit berdegup kencang, Jevear tidak marah atas tindakan yang dilakukan Jordi.</p>

<p>Dengan cepat Jevear bahkan berjinjit sedikit dan langsung mengecup pipi kiri Jordi, yang membuat Jordi langsung menjadi batu seketika.</p>

<p>“Sorry” ucap Jevear yang langsung menundukan pandangannya.</p>

<p>Jordi yang terdiam itu masih melihat Jevear, lalu Jordi mendongakan wajah Jevear ke arahnya menggunakan tangannya.</p>

<p>Dan tanpa berpikir panjang ia pun mencium bibir lembut Jevear, bukannya menghindar justru Jevear malah menanggapi ciuman itu.</p>

<p>Tautan di antara bibir mereka bisa dirasakan oleh masing-masing, Jordi melumat bibir Jevear, dengan tenang mereka saling berciuman di bawah terangnya sinar rembulan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://secretaaaaaa.writeas.com/bulan</guid>
      <pubDate>Sun, 02 Apr 2023 16:24:38 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Dipaksa</title>
      <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/dipaksa?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;Berulang kali Jordi mengetuk pintu kamar Jevear agar ia segera membuka pintunya, namun ketukan dari Jordi tak kunjung di gubris oleh Jevear.&#xA;&#xA;Jevear masih tetap tenang di kamar, dia masih dengan pemikirannya.&#xA;&#xA;&#34;JEVEAR BUKA NGGAK, ATAU GUE DOBRAK BENERAN NIH&#34; ucap Jordi yang masih mengetuk pintu kamar Jevear.&#xA;&#xA;Para maid yang berada di rumah Jordi hanya bisa melihat tingkah laku sang pemilik rumah, mereka tak berani untuk berkomentar atau menegur sang tuan muda. &#xA;&#xA;Sebab tak kunjung dibuka, membuat Jordi terdiam. Jordi begitu penasaran dengan Jevear, beberapa menit kemudian dia mencoba kembali untuk memanggil Jevear.&#xA;&#xA;&#34;Jeve&#34; ucap Jordi dengan lembut.&#xA;&#xA;Jordi mencoba memanggil Jevear secara baik-baik, berulang kali ia terus memanggil Jevear, sampai tiba-tiba...&#xA;&#xA;&#34;Gue bilang gue nggak mau, lo kenapa maksa banget sih jadi orang&#34; ungkap Jevear dengan mata yang berkaca-kaca.&#xA;&#xA;Melihat sorot mata itu dengan kumpulan cairan bening yang tertahan, membuat Jordi mendekat:&#xA;&#xA;Jordi tak banyak bicara, ia pun menempelkan telapak tangannya pada jidat Jevear. Suhu tubuh Jevear sedikit hangat.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa nggak ngasih tau kalo lagi sakit&#34; ucap Jordi.&#xA;&#xA;Jevear mendongak menatap pria yang saat ini mengkhawatirkannya, &#xA;&#xA;&#34;Gue baik-baik aja&#34; balas Jevear lalu kemudian menepis tangan Jordi.&#xA;&#xA;Tepisan itu tak membuat Jordi marah, Jordi segera menelfon dokter pribadi keluarga mereka. Dia menyanyakan beberapa obat, setelah itu Jordi memanggil maid yang sedang bekerja. Agar menyiapkan keperluan yang diberitahukan oleh dokter pribadi keluarganya. &#xA;---&#xA;&#34;Gue nggakpapa Jordi&#34; ucap Jevear.&#xA;&#xA;&#34;Kondisi tubuh lu nggak bisa bohong&#34; balas Jordi.&#xA;&#xA;&#34;Gue nggak sakit, gue nggak selemah itu&#34; Jevear masih terus mengelak, berulang kali tangannya menepis tangan Jordi.&#xA;&#xA;&#34;JEVE&#34; tegas Jordi.&#xA;&#xA;Penolakan yang tadinya diberikan secara terus berulang, seketika membuat Jevear menjadi terdiam. Jevear takut atas sikap Jordi yang meninggikan suara baritone miliknya. &#xA;&#xA;Jevear memilih diam dan mengikuti semua tindakan ataupun arahan dari Jordi. &#xA;&#xA;Jordi merawat Jevear dengan tenang, Jordi bahkan tak berisik. Jevear yang telah meminum obat mulai diliputi rasa kantuk akibat efek samping dari obat yang diberikan oleh Jordi.&#xA;&#xA;Jordi kembali mengecek suhu tubuh Jevear, angka yang ada di termometer semula meninggi kembali menurun. Jordi bisa merasakan kelegaan saat tau kini Jevear dalam kondisi aman.&#xA;&#xA;Jevear menginggau dalam tidurnya, dia terus menerus memanggil sang nenek berulang kali. &#xA;&#xA;&#34;Jadi ini yang buat lu sakit bocah, lu kangen sama oma lu&#34; gumam Jordi sambil mengusap lembut surai halus milik Jevear.&#xA;&#xA;Jevear jatuh sakit disebabkan oleh rasa rindunya pada sang nenek, seminggu tak mendengar suara Katy membuat Jevear berpikir keras sehingga kondisinya mulai melemah. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>



<hr/>

<p>Berulang kali Jordi mengetuk pintu kamar Jevear agar ia segera membuka pintunya, namun ketukan dari Jordi tak kunjung di gubris oleh Jevear.</p>

<p>Jevear masih tetap tenang di kamar, dia masih dengan pemikirannya.</p>

<p>“JEVEAR BUKA NGGAK, ATAU GUE DOBRAK BENERAN NIH” ucap Jordi yang masih mengetuk pintu kamar Jevear.</p>

<p>Para maid yang berada di rumah Jordi hanya bisa melihat tingkah laku sang pemilik rumah, mereka tak berani untuk berkomentar atau menegur sang tuan muda.</p>

<p>Sebab tak kunjung dibuka, membuat Jordi terdiam. Jordi begitu penasaran dengan Jevear, beberapa menit kemudian dia mencoba kembali untuk memanggil Jevear.</p>

<p>“Jeve” ucap Jordi dengan lembut.</p>

<p>Jordi mencoba memanggil Jevear secara baik-baik, berulang kali ia terus memanggil Jevear, sampai tiba-tiba...</p>

<p>“Gue bilang gue nggak mau, lo kenapa maksa banget sih jadi orang” ungkap Jevear dengan mata yang berkaca-kaca.</p>

<p>Melihat sorot mata itu dengan kumpulan cairan bening yang tertahan, membuat Jordi mendekat:</p>

<p>Jordi tak banyak bicara, ia pun menempelkan telapak tangannya pada jidat Jevear. Suhu tubuh Jevear sedikit hangat.</p>

<p>“Kenapa nggak ngasih tau kalo lagi sakit” ucap Jordi.</p>

<p>Jevear mendongak menatap pria yang saat ini mengkhawatirkannya,</p>

<p>“Gue baik-baik aja” balas Jevear lalu kemudian menepis tangan Jordi.</p>

<p>Tepisan itu tak membuat Jordi marah, Jordi segera menelfon dokter pribadi keluarga mereka. Dia menyanyakan beberapa obat, setelah itu Jordi memanggil maid yang sedang bekerja. Agar menyiapkan keperluan yang diberitahukan oleh dokter pribadi keluarganya.</p>

<hr/>

<p>“Gue nggakpapa Jordi” ucap Jevear.</p>

<p>“Kondisi tubuh lu nggak bisa bohong” balas Jordi.</p>

<p>“Gue nggak sakit, gue nggak selemah itu” Jevear masih terus mengelak, berulang kali tangannya menepis tangan Jordi.</p>

<p>“JEVE” tegas Jordi.</p>

<p>Penolakan yang tadinya diberikan secara terus berulang, seketika membuat Jevear menjadi terdiam. Jevear takut atas sikap Jordi yang meninggikan suara baritone miliknya.</p>

<p>Jevear memilih diam dan mengikuti semua tindakan ataupun arahan dari Jordi.</p>

<p>Jordi merawat Jevear dengan tenang, Jordi bahkan tak berisik. Jevear yang telah meminum obat mulai diliputi rasa kantuk akibat efek samping dari obat yang diberikan oleh Jordi.</p>

<p>Jordi kembali mengecek suhu tubuh Jevear, angka yang ada di termometer semula meninggi kembali menurun. Jordi bisa merasakan kelegaan saat tau kini Jevear dalam kondisi aman.</p>

<p>Jevear menginggau dalam tidurnya, dia terus menerus memanggil sang nenek berulang kali.</p>

<p>“Jadi ini yang buat lu sakit bocah, lu kangen sama oma lu” gumam Jordi sambil mengusap lembut surai halus milik Jevear.</p>

<p>Jevear jatuh sakit disebabkan oleh rasa rindunya pada sang nenek, seminggu tak mendengar suara Katy membuat Jevear berpikir keras sehingga kondisinya mulai melemah.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://secretaaaaaa.writeas.com/dipaksa</guid>
      <pubDate>Sun, 02 Apr 2023 07:16:48 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kesal</title>
      <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/kesal-rjlx?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;Jevear kembali kesal, alasan ia kesal karena sang nenek selama seminggu ini sudah jarang menghubunginya. &#xA;&#xA;Biasanya neneknya akan mengabarinya setiap hari, namun akhir-akhir ini berbeda. Membuat Jevear menjadi marah, meski terkadang ia bosan, Jevear tak menampik bahwa suara sosok wanita tua itu kini ia rindukan. &#xA;&#xA;Duduk di pinggir tepi kolam, sambil tangan halusnya memainkan air berkaporit kini Jevear lakukan. &#xA;&#xA;Jevear menyerah, panggilan serta beberapa pesannya di abaikan oleh sang nenek, membuatnya kembali gusar.&#xA;---&#xA;Seseorang dari belakang berjalan mendekat, membuat Jevear yang tengah sibuk menjadi kaget sekejap. &#xA;&#xA;&#34;Oma&#34; panggil Jevear&#xA;&#xA;Elisabeth kembali tersenyum, ia merasa lucu saat menatap tingkah Jevear yang terkejut melihat kedatangannya.&#xA;&#xA;&#34;Oma kok ketawa&#34; protes Jevear.&#xA;&#xA;&#34;Oma lihatin kamu gini, jadi ingat Katy. Dia persis kamu, saat menyendiri suka main air&#34; ujar Elisabeth dengan kelembutan. &#xA;&#xA;Jevear memperbaiki posisinya, ia kemudian mendekati Elisabeth yang memilih duduk pada kursi yang disediakan tepat di sekitar kolam.&#xA;&#xA;&#34;Kamu kenapa cemberut gitu hmm?&#34; tanya Elisabeth.&#xA;&#xA;&#34;Aku kesel, tapi nggak kesel banget. Tapi kesel oma&#34; ucap Jevear.&#xA;&#xA;Elisabeth pun tertawa melihat tingkah lucu, cucu dari sahabat baiknya itu. &#xA;&#xA;&#34;Omaa&#34; protes Jevear yang memegangi lengan tangan Elisabeth dengan manja.&#xA;&#xA;&#34;Maaf sayang&#34; balas Elisabeth sambil mengusap pelan rambut halus Jevear.&#xA;&#xA;&#34;Aku kangen oma aku oma&#34; Jevear kembali sendu.&#xA;&#xA;&#34;Oma tau, kamu kangen banget sama Katy bukan&#34; &#xA;&#xA;Jevear hanya mampu menganggukan kepala, dia benar-benar sangat merindukan Katy sang nenek. &#xA;&#xA;Jevear tidak pernah seperti ini, jika ia bermain dia seperti biasa saja. Dia tak pernah memikirkan neneknya saat dirinya sedang bermain. &#xA;&#xA;Elisabeth yang mengerti akan perasaan Jevear mencoba untuk menghiburnya, meski Jevear nampak terlihat cuek dengan Katy. Sesungguhnya hati kecilnya benar-benar peduli akan sosok orang yang ia cintai. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>



<hr/>

<p>Jevear kembali kesal, alasan ia kesal karena sang nenek selama seminggu ini sudah jarang menghubunginya.</p>

<p>Biasanya neneknya akan mengabarinya setiap hari, namun akhir-akhir ini berbeda. Membuat Jevear menjadi marah, meski terkadang ia bosan, Jevear tak menampik bahwa suara sosok wanita tua itu kini ia rindukan.</p>

<p>Duduk di pinggir tepi kolam, sambil tangan halusnya memainkan air berkaporit kini Jevear lakukan.</p>

<p>Jevear menyerah, panggilan serta beberapa pesannya di abaikan oleh sang nenek, membuatnya kembali gusar.</p>

<hr/>

<p>Seseorang dari belakang berjalan mendekat, membuat Jevear yang tengah sibuk menjadi kaget sekejap.</p>

<p>“Oma” panggil Jevear</p>

<p>Elisabeth kembali tersenyum, ia merasa lucu saat menatap tingkah Jevear yang terkejut melihat kedatangannya.</p>

<p>“Oma kok ketawa” protes Jevear.</p>

<p>“Oma lihatin kamu gini, jadi ingat Katy. Dia persis kamu, saat menyendiri suka main air” ujar Elisabeth dengan kelembutan.</p>

<p>Jevear memperbaiki posisinya, ia kemudian mendekati Elisabeth yang memilih duduk pada kursi yang disediakan tepat di sekitar kolam.</p>

<p>“Kamu kenapa cemberut gitu hmm?” tanya Elisabeth.</p>

<p>“Aku kesel, tapi nggak kesel banget. Tapi kesel oma” ucap Jevear.</p>

<p>Elisabeth pun tertawa melihat tingkah lucu, cucu dari sahabat baiknya itu.</p>

<p>“Omaa” protes Jevear yang memegangi lengan tangan Elisabeth dengan manja.</p>

<p>“Maaf sayang” balas Elisabeth sambil mengusap pelan rambut halus Jevear.</p>

<p>“Aku kangen oma aku oma” Jevear kembali sendu.</p>

<p>“Oma tau, kamu kangen banget sama Katy bukan”</p>

<p>Jevear hanya mampu menganggukan kepala, dia benar-benar sangat merindukan Katy sang nenek.</p>

<p>Jevear tidak pernah seperti ini, jika ia bermain dia seperti biasa saja. Dia tak pernah memikirkan neneknya saat dirinya sedang bermain.</p>

<p>Elisabeth yang mengerti akan perasaan Jevear mencoba untuk menghiburnya, meski Jevear nampak terlihat cuek dengan Katy. Sesungguhnya hati kecilnya benar-benar peduli akan sosok orang yang ia cintai.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://secretaaaaaa.writeas.com/kesal-rjlx</guid>
      <pubDate>Sat, 01 Apr 2023 19:30:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bertemu</title>
      <link>https://secretaaaaaa.writeas.com/bertemu-f149?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;!--more--&#xA;---&#xA;Jevear kini sudah bersama dengan Ian di salah satu mall, mall tersebut dekat dengan kantor dimana Ian bekerja. &#xA;&#xA;&#34;Masih aja marah-marah, udah kali Jev&#34; tegur Ian kepada Jevear.&#xA;&#xA;&#34;Gimana gue nggak marah coba!, itu anak cari perkara mulu sama gue yan&#34; keluh Jevear dengan mulut yang mengerucut.&#xA;&#xA;&#34;Dari pada lo marah-marah terus, mendingan simpan tenaga lo. Ayo kita cari makan&#34; ajak Ian yang mengerti kondisi Jevear sang sahabat.&#xA;&#xA;Mendengar penawaran dari Ian seketika membuat wajah Jevear menjadi sumringah, rasa kesalnya pun mendadak hilang mengingat Ian hari ini akan mengikuti keinginannya. &#xA;---&#xA;Mereka berdua mulai berburu kuliner yang ada, Ian dan Jevear lantas mulai memilih manakah tempat yang akan mereka masuki untuk makan siang bersama.&#xA;&#xA;Melihat-lihat ke arah sekitar tepat sebuah restoran italia menjadi pilihan Jevear.&#xA;&#xA;&#34;Ian, ini aja yuk&#34; ajak Jevear tanpa basa basi kepada Ian.&#xA;&#xA;Ian hanya mengikuti Jevear sambil menarik nafas dalamnya. &#xA;&#xA;Jevear dengan wajah sumringah berbicara dengan pelayan, ia tidak perduli dengan harga menu makanan yang ada di restoran tersebut. &#xA;&#xA;Yang Jevear inginkan hanya makan dan makan, Pelayan pun mengantarkan mereka berdua ke tempat dimana untuk dua orang, tak disangka sosok seseorang membuat atensi Jevear menjadi berubah.&#xA;&#xA;&#34;ELO&#34; ujarnya dengan nada tinggi&#xA;&#xA;Jordi hanya menatap dengan datar Jevear yang sedang berdiri di hadapannya.&#xA;&#xA;&#34;Lo ngikutin gue ya&#34; tuduh Jevear.&#xA;&#xA;Mendengar itu wajah yang semula datar berubah menjadi cekam.&#xA;&#xA;&#34;Gue ngapain ngikutin lu, kayak gue nggak punya kerjaan aja&#34; ketus Jordi.&#xA;---&#xA;Perdebatan sengit mereka tentu membuat masing-masing dari pihak yang menemani Jevear ataupun Jordi sukses menggeleng-gelengkan kepala. &#xA;&#xA;Sahutan demi sahutan di antara mereka tak kunjung usai, sampai dimana Ian yang sudah tidak enak hati segera menarik Jevear agar kembali ke tempat makan mereka. &#xA;&#xA;&#34;Udah anjir, Jeve. Lo mah jangan malu-maluin kita disini dong&#34; ucap Ian yang sedang berkeluh kesah pada sahabatnya.&#xA;&#xA;&#34;Gimana gue nggak marah, masa dia ledekin gue dari tadi, DIA ITU--&#34; belum selesai bicara Ian sudah lebih memilih menutup mulut Jevear dengan roti yang ada di hadapan mereka.&#xA;&#xA;Ian benar-benar tak sanggup melihat aksi anarkis yang dilakukan Jevear, Ian paham betul bagaimana tabiat dari sahabatnya ini. &#xA;&#xA;Jevear tidak pernah ingin mengalah jika berdebat dengan orang lain, apalagi orang yang suka membuatnya kesal.&#xA;&#xA;Karena lapar Jevear memilih untuk berhenti berceloteh, dia menyantap hidangan mahal yang tanpa pikir panjang dia pesankan untuk dirinya dan Ian. &#xA;&#xA;Sambil makan Jevear dan Jordi saling memandang dari kejauhan dengan sinis.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>



<hr/>

<p>Jevear kini sudah bersama dengan Ian di salah satu mall, mall tersebut dekat dengan kantor dimana Ian bekerja.</p>

<p>“Masih aja marah-marah, udah kali Jev” tegur Ian kepada Jevear.</p>

<p>“Gimana gue nggak marah coba!, itu anak cari perkara mulu sama gue yan” keluh Jevear dengan mulut yang mengerucut.</p>

<p>“Dari pada lo marah-marah terus, mendingan simpan tenaga lo. Ayo kita cari makan” ajak Ian yang mengerti kondisi Jevear sang sahabat.</p>

<p>Mendengar penawaran dari Ian seketika membuat wajah Jevear menjadi sumringah, rasa kesalnya pun mendadak hilang mengingat Ian hari ini akan mengikuti keinginannya.</p>

<hr/>

<p>Mereka berdua mulai berburu kuliner yang ada, Ian dan Jevear lantas mulai memilih manakah tempat yang akan mereka masuki untuk makan siang bersama.</p>

<p>Melihat-lihat ke arah sekitar tepat sebuah restoran italia menjadi pilihan Jevear.</p>

<p>“Ian, ini aja yuk” ajak Jevear tanpa basa basi kepada Ian.</p>

<p>Ian hanya mengikuti Jevear sambil menarik nafas dalamnya.</p>

<p>Jevear dengan wajah sumringah berbicara dengan pelayan, ia tidak perduli dengan harga menu makanan yang ada di restoran tersebut.</p>

<p>Yang Jevear inginkan hanya makan dan makan, Pelayan pun mengantarkan mereka berdua ke tempat dimana untuk dua orang, tak disangka sosok seseorang membuat atensi Jevear menjadi berubah.</p>

<p>“ELO” ujarnya dengan nada tinggi</p>

<p>Jordi hanya menatap dengan datar Jevear yang sedang berdiri di hadapannya.</p>

<p>“Lo ngikutin gue ya” tuduh Jevear.</p>

<p>Mendengar itu wajah yang semula datar berubah menjadi cekam.</p>

<p>“Gue ngapain ngikutin lu, kayak gue nggak punya kerjaan aja” ketus Jordi.</p>

<hr/>

<p>Perdebatan sengit mereka tentu membuat masing-masing dari pihak yang menemani Jevear ataupun Jordi sukses menggeleng-gelengkan kepala.</p>

<p>Sahutan demi sahutan di antara mereka tak kunjung usai, sampai dimana Ian yang sudah tidak enak hati segera menarik Jevear agar kembali ke tempat makan mereka.</p>

<p>“Udah anjir, Jeve. Lo mah jangan malu-maluin kita disini dong” ucap Ian yang sedang berkeluh kesah pada sahabatnya.</p>

<p>“Gimana gue nggak marah, masa dia ledekin gue dari tadi, DIA ITU—” belum selesai bicara Ian sudah lebih memilih menutup mulut Jevear dengan roti yang ada di hadapan mereka.</p>

<p>Ian benar-benar tak sanggup melihat aksi anarkis yang dilakukan Jevear, Ian paham betul bagaimana tabiat dari sahabatnya ini.</p>

<p>Jevear tidak pernah ingin mengalah jika berdebat dengan orang lain, apalagi orang yang suka membuatnya kesal.</p>

<p>Karena lapar Jevear memilih untuk berhenti berceloteh, dia menyantap hidangan mahal yang tanpa pikir panjang dia pesankan untuk dirinya dan Ian.</p>

<p>Sambil makan Jevear dan Jordi saling memandang dari kejauhan dengan sinis.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://secretaaaaaa.writeas.com/bertemu-f149</guid>
      <pubDate>Sat, 01 Apr 2023 18:23:28 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>