Dipaksa
Berulang kali Jordi mengetuk pintu kamar Jevear agar ia segera membuka pintunya, namun ketukan dari Jordi tak kunjung di gubris oleh Jevear.
Jevear masih tetap tenang di kamar, dia masih dengan pemikirannya.
“JEVEAR BUKA NGGAK, ATAU GUE DOBRAK BENERAN NIH” ucap Jordi yang masih mengetuk pintu kamar Jevear.
Para maid yang berada di rumah Jordi hanya bisa melihat tingkah laku sang pemilik rumah, mereka tak berani untuk berkomentar atau menegur sang tuan muda.
Sebab tak kunjung dibuka, membuat Jordi terdiam. Jordi begitu penasaran dengan Jevear, beberapa menit kemudian dia mencoba kembali untuk memanggil Jevear.
“Jeve” ucap Jordi dengan lembut.
Jordi mencoba memanggil Jevear secara baik-baik, berulang kali ia terus memanggil Jevear, sampai tiba-tiba...
“Gue bilang gue nggak mau, lo kenapa maksa banget sih jadi orang” ungkap Jevear dengan mata yang berkaca-kaca.
Melihat sorot mata itu dengan kumpulan cairan bening yang tertahan, membuat Jordi mendekat:
Jordi tak banyak bicara, ia pun menempelkan telapak tangannya pada jidat Jevear. Suhu tubuh Jevear sedikit hangat.
“Kenapa nggak ngasih tau kalo lagi sakit” ucap Jordi.
Jevear mendongak menatap pria yang saat ini mengkhawatirkannya,
“Gue baik-baik aja” balas Jevear lalu kemudian menepis tangan Jordi.
Tepisan itu tak membuat Jordi marah, Jordi segera menelfon dokter pribadi keluarga mereka. Dia menyanyakan beberapa obat, setelah itu Jordi memanggil maid yang sedang bekerja. Agar menyiapkan keperluan yang diberitahukan oleh dokter pribadi keluarganya.
“Gue nggakpapa Jordi” ucap Jevear.
“Kondisi tubuh lu nggak bisa bohong” balas Jordi.
“Gue nggak sakit, gue nggak selemah itu” Jevear masih terus mengelak, berulang kali tangannya menepis tangan Jordi.
“JEVE” tegas Jordi.
Penolakan yang tadinya diberikan secara terus berulang, seketika membuat Jevear menjadi terdiam. Jevear takut atas sikap Jordi yang meninggikan suara baritone miliknya.
Jevear memilih diam dan mengikuti semua tindakan ataupun arahan dari Jordi.
Jordi merawat Jevear dengan tenang, Jordi bahkan tak berisik. Jevear yang telah meminum obat mulai diliputi rasa kantuk akibat efek samping dari obat yang diberikan oleh Jordi.
Jordi kembali mengecek suhu tubuh Jevear, angka yang ada di termometer semula meninggi kembali menurun. Jordi bisa merasakan kelegaan saat tau kini Jevear dalam kondisi aman.
Jevear menginggau dalam tidurnya, dia terus menerus memanggil sang nenek berulang kali.
“Jadi ini yang buat lu sakit bocah, lu kangen sama oma lu” gumam Jordi sambil mengusap lembut surai halus milik Jevear.
Jevear jatuh sakit disebabkan oleh rasa rindunya pada sang nenek, seminggu tak mendengar suara Katy membuat Jevear berpikir keras sehingga kondisinya mulai melemah.