Dimana?


Bagai tersambar petir pada pagi hari, membuat Jaehyun dan Haechan memutuskan untuk segera berangkat ke Seoul. Jaehyun menggunakan pesawat khusus agar bisa dengan cepat untuk tiba di kota Seoul.

Dia harus segera melihat Jo dan Mark. Selama beberapa belas jam ia terus menangis, begitu juga dengan putra kecilnya Haechan Jung. Saat sedang menikmati tidurnya di pagi hari, seseorang menghubungi Haechan.

Orang tersebut adalah suruhan Haechan, diam-diam Haechan membayar mahal seseorang untuk mengikuti semua aktivitas Jo dan Mark, selama mereka berada di kota Seoul tanpa diketahui oleh mereka berdua.


Hal tersebut semata-mata karena Haechan hanya ingin mengetahui keberadaan orang-orang yang ia sayangi itu, tanpa perlu mengganggu kegiatan mereka. Jika Haechan sudah terlalu merasakan kerinduan, dengan terpaksa dia akan langsung menghubungi salah satu diantara mereka.

Seseorang tersebut adalah Hwang. Hwang merupakan orang suruhan dari Haechan, ketika sedang melaksanakan tugas, dia memberitahukan kepada Haechan bahwa Jo mengalami kecelakaan.

Haechan yang tadinya sedang tertidur, langsung terburu-buru berlarian dari kamar tidur milik Jaehyun untuk segera memberitahukan berita buruk tersebut.

Jaehyun hampir saja pingsan, jika sang anak tidak segera menangkapnya. Sebelum dia mendapatkan kabar buruk dari Haechan, Jo sudah lebih dulu mengabari istrinya yaitu Jaehyun Suh/Jung.

Mereka berdua bahkan sudah sepakat untuk berterus terang kepada Mark, siapa sosok yang selama ini menemani keluarga mereka.


Tanpa memikirkan waktu istirahat sebelumnya, Jaehyun dan Haechan memilih langsung segera menuju ke rumah sakit.

Mark mendapati kabar bahwa Papi dan Adiknya saat ini sedang berada di Seoul, mendengar hal tersebut membuat Mark memilih untuk menyusul mereka semua.

Hwang masih setia mendampingin salah satu Tuannya itu, melihat kedatangan Haechan dan Jaehyun membuat Hwang berjalan lalu memberikan hormat kepada mereka.


“Selamat datang Tuan Besar dan Tuan Muda..” ucap Hwang

“Dimana Suamiku?..” tanya Jaehyun yang sedang dirangkul oleh Haechan.

Hwang lalu berjalan memberikan isyarat kepada mereka, untuk mengikutinya. Jaehyun dan Haechan berjalan mengikuti Hwang dari belakang.

Hwang mengantarkan mereka ke salah satu ruang ICU dimana Jo sedang dirawat, Haechan tak sanggup masuk ke dalam ruangan. Berbeda dengan Jaehyun yang memilih untuk segera masuk meski menggunakan baju khusus.


Jaehyun masuk berusaha menutup kedua mulutnya menggunakan telapak tangannya, sebisa mungkin ia tak ingin mengeluarkan suaranya dengan suara tangisan.

Hatinya benar-benar hancur saat melihat suaminya Jo terbujur lemah dengan alat-alat medis yang terpasang di semua badannya. Bahkan wajah Jo tertutupi balutan perban, yang membungkus luka bakar di sekujur tubuhnya.

Jaehyun perlahan-lahan mendekat, ia bahkan kini berlutut disamping tempat tidur dimana Jo kini tengah berbaring. Jaehyun memegangi tangan yang tak berdaya itu,

“Mas, kenapa bisa jadi seperti ini..” ucapan kalimat pertama yang dilontarkan dari mulut Jaehyun.

“Kamu bilang akan kembali padaku, tapi mana Mas!. Bukan seperti ini yang aku inginkan..” keluh Jaehyun dengan kondisi berlinang air mata.


[Flashback]

Jo dan Luke keduanya telah kehabisan seluruh tenaga, Luke meski ia memiliki anak buah. Namun dia sangat pandai dalam bertarung, Jo berusaha menetralisir keadaannya kembali. Mereka berdua sama-sama terluka parah.

“Dasar sialan, kuat juga kau rupanya..” ucap Jo.

“Jangan bermimpi untuk bisa mengalahkanku..” balas Luke yang meludah ke samping.

Jo kini telah kuat, ia kembali berdiri dari posisinya dan ingin membunuh Luke, Luke tentu tak mampu bergerak sebab ia benar-benar kehabisan kekuatan.

Jo kemudian mengambil pistol yang terlempar sebelumnya saat mereka melakukan pertarungan, dia pun menginjak dada Luke dengan kuat.

“BANGSAT, SAKIT SIALAN..” teriak Luke dengan keras.

“BAJINGAN SEPERTIMU TAK PANTAS HIDUP..” ucap Jo.

Saat ingin menarik pelatuk pada bagian pistol, lagi-lagi Luke kembali tertawa saat menyaksikan Jo yang ingin segera membunuhnya.

“Bodoh, jadi begini caramu menyingkirkan seluruh pengganggu putramu!” seru Luke.

Mendengar ucapan dari Luke membuat Jo kembali menjadi terkejut.

“Tidak perlu kaget Tuan Johnny Suh, aku tau semuanya tentang kisah menyedihkan dari keluarga kalian..” ledek Luke.

“BANGSAT..” teriak Jo lalu menendang dada Luke dengan keras.

“Kau bahkan tidak bisa mengontrol dirimu sendiri..” ucap Luke sambil memegangi dadanya yang sedang kesakitan itu.

“Diam sebelum kau kubunuh keparat..” balas Jo dengan suara yang meninggi.

“Maka bunuhlah aku, dan saat itu juga kau akan menyaksikan kematian dari putra kandungmu sendiri..” ancam Luke kepada Johnny.


Jo kemudian mengangkat tubuh Luke dan langsung melemparnya ke arah dinding dengan sangat keras, tak sampai disitu Jo mencengkram erat bagian leher Luke.

“BAJINGAN KEPARAT SEPERTIMU, JANGAN PERNAH MENCOBA UNTUK MENYENTUH PUTRAKU..” geram Jo pada Luke.

“Lepaskan atau perusahaan putramu akan aku ledakan saat ini juga..” ucap Luke yang terbata-bata.

Mendengar hal tersebut, membuat Jo kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari leher Luke yang tengah dicekik olehnya.

“Katakan padaku apa yang sudah kau lakukan sebelum pistol ini menembus otakmu..” ancam Jo dengan serius.

Luke lalu menjelaskan semuanya, bagaimana dia bekerja dengan cara kotornya kepada Jo.

Jo saat ini sedang berada dalam permainan yang dibuat oleh Luke, Luke benar-benar iblis. Dia memasang seluruh bom di perusahaan J.Cor.

Mendengar hal tersebut membuat Jo menjadi panik seketika. Jo mencoba untuk segera menghubungi putra sulungnya Mark.

“Kau tak akan bisa menyuruhnya pergi dari sana..” ucap Luke.

Jo yang sedang menghubungi Mark melalui ponsel, kemudian dia melempar ponsel miliknya tersebut. Dan beralih memukuli Luke secara membabi buta,

“KEPARAT SIALAN, APA YANG KAU LAKUKAN..” teriak Jo dengan lantang.


“Jika kau ingin putramu selamat, cepat tanda tangani berkas yang ada di meja kerjaku..” tawar Luke.

Jo melepaskan Luke ia beralih melihat perjanjian yang ada. Itu adalah sebuah kertas kosong.

“APA MAKSUDMU SIALAN..” geram Jo.

“Tanda tangani lembar kosong itu dan anakmu akan selamat. Ingat kau tak memiliki banyak waktu, jam 12.00 nanti perusahaan kalian akan meledak.” tutur Luke.

Tanpa berpikir panjang Jo lalu menandatangani itu semua, ia lebih memilih Mark selamat. Dari pada bahaya yang akan menimpa keluarga kecil mereka,

“Pergilah, kau harus bisa mematikan kode yang sudah ku atur agar bom tersebut semuanya tidak bisa meledak..” ucap Luke.

Jo pun segera berlarian untuk kembali ke kantor, sebab dia sudah mendapatkan kode dari Luke untuk mematikan bom yang akan benar-benar meledak tersebut di perusahaan J.COR.

Jo menggunakan salah satu mobil yang ada di Mansion tersebut. Sebab mobilnya rusak saat bertarung dengan pengawal milik Luke.


Ketika Jo sedang berada dalam perjalanan pun, ia masih terus berupaya untuk menghubungi Mark, “ANGKAT NAK..” ujar Jo yang masih ketakutan sambil mengendarai mobil tersebut.

Tak kunjung mendapatkan jawaban dari panggilan putrannya membuat Jo menjadi frustasi lalu melempar ponselnya ke kursi penumpang yang berada di sampingnya.

“BANGSAT, SIAL.. SIAL” teriak Jo sambil memukul kemudi mobil.

Jo merasakan ketakutan, dia benar-benar takut untuk kembali kehilangan putranya kedua kali. Dia menambah kecepatan mobilnya, ia ingin segera sampai untuk menyelamatkan putra sulungnya. Ketika dalam kondisi ketakutan, Jaehyun menghubunginya. Johnny dan Jaehyun adalah pasangan suami istri.

Melihat nama cintanya tertera di layar membuatnya tak sanggup untuk menjawab panggilan tersebut, dia tak sanggup membayangkan bagaimana harus menjelaskan kepada istrinya yaitu Jaehyun. Jika anak mereka berdua sedang dalam bahaya, Jaehyun selalu meminta kepada Jo untuk menjaga putra mereka, sebab mereka hampir kehilangan Mark Jung/Suh. Jo mencoba mengontrol keadaannya, sebisa mungkin dia tidak ingin Jaehyun mengetahui bahwa Mark dalam kondisi bahaya.

Jo memutuskan untuk kembali menghubungi istrinya, panggilan tersebut pun tersambung;


“Mas, kamu kemana aja. Dari tadi aku nelfon loh..” suara keluh Jaehyun yang terdengar dari lubang speaker.

“I'm sorry, Mon cheri. Tadi Mas sibuk banget, kamu kenapa hubungin Mas..” ucap Jo melalu ponselnya.

“I'm miss you, aku rindu kalian. Kakak nggak jawab telfon sama chat dari aku..” balas Jaehyun yang sedang mengadu sambil membuat sarapan di pagi hari.

“I miss you too Mon cheri, Mark sedang sibuk sayang. Makanya dia nggak sempat jawab panggilan dari kamu..” sambung Jo sebisa mungkin.

“Kalau anak kita sibuk, terus kamu kenapa nggak sibuk Mas?” tanya Jaehyun kembali.

“Mas juga sibuk, tapi kalau untuk kamu Mas bakalan selalu ada..” jawab Jo.


Jaehyun terkekeh mendengar ucapan manis dari lelaki yang ia cintai itu, “Masih aja gombal kamu tuh..” ucap Jaehyun yang sedang sibuk mengaduk teh di cangkir.

“Sayang, Haechan dimana?” tanya Jo.

“Adek masih tidur mas, kenapa..” balas Jaehyun.

“Nggak papa sayang..” timpal Jo.

Sesaat Jo terdiam sebentar, begitupun dengan Jaehyun.

“Mas, aku udah buat keputusan. Nanti saat kalian berdua kembali. Kita harus obrolin semuanya sama Mark..” ucap Jaehyun.

Johnny bisa mendengar dengan baik ucapan dari istrinya, Jo menarik nafas dalamnya.

“Kamu jangan terburu-buru sayang, Mas takut kalau kondisi kesehatan dia kembali memburuk..” balas Jo.

“Mas, tapi selama ini anak kita baik-baik aja. Kakak nggak pernah kesakitan atau apapun..” keluh Jaehyun.

“Tapi sayang, Mas nggak pengen kalau sesuatu yang buruk menimpa dia..” celah Jo.

“Mas ingin keluarga kita hidup misah selamanya kayak gini terus, terutama seperti orang asing. Kamu, aku, Mark, Haechan. Dan lebih sedihnya lagi, kamu jadi pengawal untuk putra kandung kamu sendiri Mas. Begitu mau kamu..” seru Jaehyun yang mulai terdengar kesal.


“Bukan seperti itu sayang, Mas cuma takut kesehatannya jadi terganggu..” balas Jo.

“Mas, Haechan juga butuh kamu di samping dia. Kamu nggak kasian apa lihat adek yang setiap hari mau ketemu sama kamu aja, kesulitan. Aku bahkan harus pisah ranjang sama kamu. Demi kebaikan anak kita, Mas udah cukup. Aku mohon..” ucap Jaehyun dengan suara sedihnya.

“Mas minta maaf sayang, karena Mas keluarga kita jadi berantakan. Karna keegoisan Mas yang mentingin kondisi kesehatan Mark, buat kamu kekurangan kasih sayang dan perhatian dari Mas..” balas Jo.

Jaehyun menangis ketika mendengar permintaan maaf dari suaminya, Jo terlalu banyak berkorban disini. Jo selalu melakukan berbagai macam cara, agar putra sulungnya dengan Jaehyun yaitu Mark dalam kondisi baik-baik saja.

“Sayang, Jaehyun..” ucap Jo yang mencoba menenangkan istrinya.

“hmm- Mas..” balas Jaehyun yang tak mampu mengeluarkan kata-kata.

“Mas minta maaf, andai Mas nggak ceroboh waktu itu. Kakak nggak bakalan mungkin celaka..” sambung Jo.

“Tapi itu bukan salah Mas, Mas hanya dijebak..” timpal Jaehyun.

“Mas ngerti, sekarang kamu dengerin Mas baik-baik. Setelah urusan disini selesai. Mas janji bakalan ngejelasin semua sama anak kita, Mas juga minta maaf buat kamu selalu tersiksa atas keputusan Mas ini..” ucap Jo.

“Mas, aku sayang sama kamu. Aku ingin keluarga kita utuh seperti dulu, aku ingin kita kumpul lagi bersama, aku rindu dengerin kakak manggil kamu Daddynya. Aku benci dengar anak kamu panggil kamu dengan sebutan pengawal. Aku sakit hati Mas, hati aku sakit..” balas Jaehyun sambil berlinang air mata.

“I'm sorry Mon Cheri..” ucap Jo dengan meneteskan air matanya.

Hati mereka benar-benar sakit, mereka harus merasakan kesakitan yang sebenarnya tak ingin mereka rasakan. Namun hanya karena sebuah keadaan.