Dia Kembali
Aeril yang mendapatkan pesan bahwa putranya telah sadar setelah sekian lama merasa bahagia, sungguh dirinya merasakan kebahagiaan yang sangat mendalam saat ini.
Dia kemudian menyuruh Supir Pribadinya untuk segera menuju ke Rumah Sakit, perjalanan ke rumah dia tunda.
Perjalanan itu membutuhkan waktu yang lama, karena saat ini lokasinya jauh dari dari Rumah Sakit.
Sambil menanti kapan dia tiba di Rumah Sakit, di dalam mobil Aeril tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur di dalam hatinya.
Akhirnya perjuangannya beberapa bulan ini membuahkan hasil, tidak salah dia mengambil keputusan untuk kembali ke Negara kelahirannya yaitu Perancis.
[Tiba di Rumah Sakit]
Aeril berlarian masuk ke dalam Rumah Sakit terbesar dan mewah di Perancis, dia tidak perduli dengan tatapan para pengunjung yang melihatnya dengan terpesona dan penuh rasa kagum.
Aeril ini sangat terkenal di Perancis, dia dan keluarganya sangat di segani disini. Banyak orang yang menyukai keluarga mereka.
Bisa di bilang bahwa Keluarga Fran Lavigne tidak memiliki Haters yang ada cuma Lovers
Seluruh Petugas dan Staff Rumah sakit saat ini sedang sibuk, bagaimana tidak. salah satu pasien VVVIP mereka kini telah sadar.
Penjagaan ketat bahkan di siapkan khusus di depan pintu Kamar inap VVVIP tersebut. Beberapa Petugas Keamanaan menghampiri Aeril Lavigne untuk di antarkan langsung ke Ruangan Khusus VVVIP.
Jadi tidak perlu heran kenapa semua orang sibuk seperti itu, Karena Rumah Sakit yang Aeril datangi saat ini adalah milik Keluarganya. Makanya dia di sambut dengan sangat baik.
Aeril berlari melewati koridor, dia bahkan tak perduli dengan setiap pasang mata yang dia terima, dan bahkan bentuk penghormatan kepadanya. Yang dia inginkan saat ini adalah menemui anaknya.
“Fais attention mon fils..” ucap Fran Lavigne.
“Sayang, Aeril hati-hati anakku..” ucap Elis Laurent.
“Papa, Mama dimana anakku, dimana putraku ?” tanya Aeril sambil memegangi tangan ibunya.
“Sayang tenang dulu..” jawab Elis Laurent yang berusaha menenangkan Putra semata wayangnya itu.
“Aeril, benar kata Mama. kamu tenang dulu, Anakmu di dalam. dokter sedang menanganinya, kamu tunggu sebentar.” sambung Fran Lavigne.
“Aeril. Ayo kita duduk dulu sebentar..” ajak Elis Laurent pada Aeril agar duduk sebentar.
Aeril mengikuti perintah kedua orang tuanya, mereka bertiga duduk sambil menunggu beberapa Dokter yang sedang memeriksa anaknya.
Tak membutuhkan waktu lama, dua puluh orang Dokter Spesialis di bidang masing-masing keluar dari Kamar VVVIP itu.
Fran, Elis dan Aeril kemudian berdiri, Aeril pergi meninggalkan kedua orang tuanya dan masuk ke dalam ruangan.
Sedangkan Fran Lavigne dan Elis Laurent mengadakan pertemuan khusus dengan dua puluh orang Dokter Spesialis itu, untuk membahas kesehatan cucu mereka.
Aeril mendorong Pintu Kamar inap tersebut, dia berjalan mendekati tempat tidur.
Aeril bisa melihat dengan jelas Anaknya sedang terbaring dengan beberapa Alat penting di samping kiri kanannya.
Air mata Aeril menetes, sungguh hatinya merasakan pilu. tak pernah terbayangkan olehnya bahwa dia hampir kehilangan salah satu anaknya.
Aeril kemudian duduk di kursi samping tempat tidur pasien. Dia mulai memegangi tangan itu dengan lembut, dan membelai rambut sang putra tercinta.
“Sayang, buka matamu.. Kata Kakek dan Nenek kamu sudah sadar..” ucap Aeril dengan lembut.
“Papi khawatir denganmu, kenapa kamu lama sekali bangun nak. Papi hampir merasakan rasa sakit untuk kedua kalinya..” ucap Aeril yang masih berusaha berbicara dengan anaknya.
Mendengar suara Aeril, mata itu perlahan-lahan mulai di gerakkan agar bisa terbuka. Aeril yang melihat pergerakkan sang anak tentu membuat dirinya senang.
“hah., Pa., hah, pi..” ucap anak itu dengan semua tenaga yang dia miliki.
“iya sayang ini Papi nak, ini Papi..” balas Aeril sambil tersenyum melihat putranya.
“Aku dimana, ini dimana ?” tanya anak itu kembali.
“Kamu di rumah sakit sayang..” jawab Aeril.
“Rumah Sakit ?” tanya dia kembali.
“Iya Jerial, Kamu di rumah sakit sayang..” balas Aeril.
Anak yang baru sadar itu adalah
Jerial Allen Putra ketiga dari Aeron Allen dan Aeril Allen.
Aeril sangat bersyukur anaknya bisa hidup kembali, hanya elusan lembut yang bisa dia berikan serta air mata kebahagiaan yang menetes keluar dari matanya.
“Papi, mana yang lain ?” tanya Jerial.
“Kakek dan Nenek sedang bertemu dengan seluruh dokter yang menanganimu, sedangkan Nail dan Andrew sedang di Belanda..” Jawab Aeril.
“Opa, Kak Marko dan Harry dimana Papi ?” tanya Jerial kembali.
“Maaf sayang, keberadaan mereka Papi gak tau..” jawab Aeril.
“Daddy, dimana dia ?” tanya Jerial.
“Daddymu menghilang sayang, maaf Papi belum bisa nemuin keluarga kita..” jawab Aeril.
“Gakpapa Papi, Jeri ngerti..” balas Jerial.
“Papi harus menghubungi Nail dan Andrew, mereka berdua harus tau kamu sudah sadar..” ucap Aeril yang mencoba berdiri dari tempat duduk.
“Jangan, nanti saja Papi. Jeri masih mau sama Papi disini..” ucap Jerial sambil memegang tangan Aeril.
“Iya Papi mengerti..” balas Aeril lalu duduk kembali di kursinya.
Aeril kemudian menggegam tangan Jerial kembali, dia bahkan mencium tangan Jerial.
Dia merindukan Tangan itu yang selalu menemani dirinya di saat-saat terpuruk, Tangan itu juga yang memberikan kekuatan secara diam-diam padanya.
Dia merindukan anaknya. Aeril bahkan tak ingin meninggalkan Jerial sedikit pun.
“Jeri, Papi mau tanya sama kamu...” ucap Aeril.
“Tanya apa Papi..” balas Jerial.
“Kenapa bisa malam itu kamu di rooftop hotel nak, kenapa juga kamu bisa datang ke Acara Daddy..” Pertanyaan ini sudah sangat lama ingin Aeril tanyakan pada Jerial.
“Ada orang yang memberikanku pesan lewat chat Papi, Dia tau identitasku. Dan dia juga mengancam ingin menyakiti keluarga kita. Makanya Jeri cari Papi..” balas Jerial.
“Orang itu harus menerima balasan dari Papi, dia berani mengusikmu dan juga mengganggu keluarga kita. kamu bahkan hampir mati...” ucap Aeril yang mengepalkan tangannya.
Aeril emosi mendengar penuturuan sang Anak bagaimana bisa, identitas dari Jerial di ketahui oleh orang lain. Selama ini keberadaan Jerial Aeril tutupi dengan Rapat.
Dan bahkan orang itu ingin memanfaatkan keadaan Jerial yang polos untuk mendapatkaan keuntungan pribadi.
Aeril masih mencoba tetap tenang, tetapi dalam pikirannya masih mencari cara. Agar bisa menemukan orang itu.
Dia harus bisa sabar dulu saat ini. Pemulihan Jerial Allen saat ini lebih dia pentingkan. Tapi dia tidak lupa dengan dendamnya yang baru.
Jerial kemudian tidur kembali, Aeril yang sedari tadi terus berada di sampingnya tak pernah meninggalkannya.
Jerial juga bersyukur masih bisa melihat Papinya. walau butuh waktu yang panjang.
Biarkanlah mereka saling melepaskan rindu yang selama ini mereka tahan, Terlalu banyak luka yang mereka alami. Akibat perbuatan orang-orang jahat.