Chapter 98


Bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa waktu istirahat kini telah tiba. Seluruh siswa-siswi berhamburan keluar dari ruang kelas menuju ke kantin.

Hal yang biasa sering di lakukan siswa-siswi, saat harus kembali mengisi energi mereka.

Kelvin, Levin, Alexi dan Wiley tentunya juga sangat membutuhkan waktu istirahat, untuk mengisi tenaga mereka kembali dengan makanan.


“Kelvin, katanya Levin. lu mau traktir kita makan di kantin ya?” tanya Alexi.

“iya, gue traktir kalian makan sepuasnya di kantin sekolah.” jawab Kelvin.

“yes!! makan-makan enak deh hari ini.” ucap Wiley sambil memberikan gerakan semangatnya.

“tapi, Kelvin. kalau nanti pacar-pacar kita ikut makan gimana?” tanya Alexi.

“ya udah, sekalian aja. semuanya aku traktir. gampang kan!” jawab Kelvin.

“kalau gitu, gue hubungin mereka dulu. biar langsung kita semua ketemu di kantin.” timpal Wiley.

Kelvin memberikan anggukan kepala, sebagai bentuk jawaban yang mengiyakan ucapan dari Wiley.

Wiley dan Alexi kemudian melangkah keluar duluan dari ruang kelas, agar bisa menghubungi kekasih dari masing-masing.

Levin sendiri masih sedang sibuk merapikan buku-buku pelajaran yang dia keluarkan tadi saat jam pelajaran.


“Levin udah beres?” tanya Kelvin sambil menatap Levin yang sedang sibuk merapikan barang-barangnya.

“iya, bentar lagi ini.” jawab Levin sambil serius merapikan buku-buku miliknya.

Levin anak yang penuh dengan kerapian, dia suka merapikan seluruh barang-barangnya sebelum ia tinggalkan. Kini semua buku -buku miliknya telah ia letakkan kembali di dalam tas.

Kelvin hanya bisa tersenyum sambil memperhatikan kesibukan orang yang dia kagumi sekaligus ia sukai itu, setelah melihat Levin telah selesai merapikan barang-barangnya.

Kelvin langsung menggenggam tangan Levin, agar bisa bersama menuju ke kantin sekolah. Karena, pasti Alexi, Wiley, Yoshi dan Theo semuanya telah menunggu kedatangan mereka berdua.

Kelvin memegang tangan itu tanpa ada rasa malu ataupun canggung dengan Levin, dia bahkan menggenggam tangan itu dengan erat. Seperti tak ingin kehilangan moment berharga bersama dengan Levin.

Levin sendiri hanya bisa melihat pergerakan mendadak itu, dia masih belum terbiasa bersentuhan dengan orang lain selain Alexi, Wiley, Orang tua dan juga Liam.

Levin tidak merasa risih, hanya saja belum terbiasa. Dia membiarkan Kelvin memegang tangannya, Levin bahkan kini berjalan berdampingan dengan Kelvin.

Mereka berdua berjalan menuju ke kantin bagai pasangan kekasih, suasana kantin yang sepi, mendadak jadi begitu heboh saat melihat kedatangan mereka berdua.

Kelvin menjadi pusat perhatian semenjak kepindahannya di sekolah High School siswa-siswi manapun akan terpesona melihat ketampanan, kecerdasan, serta kekayaan yang di miliki oleh Kelvin.

Tuhan menciptakan Kelvin dengan sungguh-sungguh, bisa di katakan ia tidak memiliki kecacatan dalam bentuk apapun.

Kelvin terbilang sangat sempurna, semua wanita dan pria menginginkan untuk bersama dengan dirinya. Entah menjadi kekasih ataupun sekedar menjadi temannya.

91721241-BC88-4-A6-D-A5-A6-B2-C85567-A29-B

Levin yang merasa risih karena tatapan anak-anak di kantin, lalu mulai memundurkan sedikit badannya.

Bukan tanpa sebab, ia hanya merasa tidak senang melihat beberapa tatapan jahat yang tak suka melihatnya berjalan bergandengan bersama dengan Kelvin.

Beberapa siswi yang sedang bergosip ;

“ih, si cacat itu. ngapain deketan sama Kelvin. gak tau diri banget.” ucap salah satu siswi

“tau tuh, ngerusak pemandangan aja.” balas salah satu temannya.

“eh, lu pada gak usah ngomongin si Levin. Lu semua tau kan, teman-temannya itu bakalan buat perhitungan sama siapapun yang gangguin dia.” timpal salah satu temannya.

“udah gak usah ngurusin, dari pada berurusan sama teman-temannya. mending kita lihatin aja si Kelvin. Ganteng banget sih!” ucap salah satu temannya


Levin mendengarkan ucapan mereka walau hanya terdengar samar-samar. Levin tahu bahwa dirinya saat ini sedang di gosip oleh siswa-siswi yang tidak menyukai kehadirannya.

Kelvin tak mendengar ucapan jahat dari beberapa orang itu, jika Kelvin tau tentang ucapan jahat mereka.

Mungkin Kelvin akan membuat perhitungan dengan mereka semua, meski yang bergosip itu adalah wanita.

“Levin, kenapa?” tanya Kelvin.

“hmm, gakpapa.” jawab Levin.

Alexi, Theo, Yoshi dan Wiley sudah tiba sejak tadi, mereka juga sudah memilih tempat duduk untuk di gunakan mereka berenam.

Mereka yang melihat kedatangan kedua sahabatnya itu, dengan cepat melambaikan tangan dan juga memberikan sedikit teriakan kecil.

Agar Kelvin dan Levin datang menghampiri mereka semua. Kelvin yang sadar, lalu buru-buru menarik tangan Levin agar menghampiri teman-teman mereka.

Kelvin dan Levin berjalan melewati seluruh siswa-siswi yang sedang makan sambil memandangi mereka berdua, mereka berjalan mendekat ke arah sahabat-sahabat mereka.

Levin menundukkan pandangannya, berbeda deng Kelvin yang tak perduli dengan tatapan kagum atau benci dari orang-orang yang berada di kantin itu.


“Kalian berdua duduk sini aja” ucap Alexi yang telah menyiapkan bangku kosong untuk mereka berdua.

Kelvin dengan cepat menarik kursi kosong itu, agar bisa membiarkan Levin duduk terlebih dahulu.

“Makasih.” ucap Levin sambil memberikan senyuman untuk Kelvin.

“Iya, sama-sama.” balas Kelvin lalu duduk di kursi kosong sebelah Levin.

Alexi dan Wiley tentunya begitu bersemangat saat menyaksikan tindakan yang dilakukan Kelvin kepada Levin.

Mereka berdua sangat merasa gemas saat melihat tingkah malu-malu Levin, karena mendapatkan perlakuan yang istimewa dari Kelvin.

Levin yang sadar dengan tatapan kedua sahabatnya itu, kemudian menundukan pandangannya. Dia tidak berani melihat ke arah Alexi dan Wiley.

“ngapain nunduk Levin? santai aja lagi. kamu gak usah malu sama kita.” goda Alexi sambil menatap Wiley

“iya tau! gak usah nunduk gitu. ciye.., ciye.., yang wajahnya merah.” balas Wiley

Levin di goda habis-habisan oleh kedua temannya, mereka senang karena akhirnya ada orang lain yang menyukai sahabat mereka.

Levin hanya bisa memainkan ujung bajunya. tanpa melihat Alexi, Theo, Yoshi dan Wiley yang saat ini menatapnya.

Kelvin harus bisa menahan rasa gemasnya, saat melihat tingkah laku lucu dan menggemaskan yang dilakukan oleh Levin. Levin hanya bisa memainkan ujung baju seragam miliknya.

Alexi, Theo, Yoshi dan Wiley. Sedari tadi sudah memesan makanan mereka duluan, akibat terlalu lama menunggu Kelvin dan Levin.

Karena Levin malu, dia kemudian memutuskan untuk berdiri agar bisa memesan makanannya, tetapi sebelum beranjak pergi. Tangan itu sudah di tahan kembali oleh Kelvin.

“Kamu mau kemana?” tanya Kelvin.

“Aku mau pesan makanan” jawab Levin.

“gak usah, biar aku aja. kamu tunggu aja disini.” ucap Kelvin

“tapi aku bisa sendiri.” balas Levin.

“jangan bandel! udah duduk aja. menunya yang kamu bilang di chat tadi kan.” sambung Kelvin sambil menarik Levin agar duduk kembali di kursinya.

Levin hanya menggerakan kepala sebagai bentuk jawaban untuk Kelvin, dia hanya mengikuti keinganan Kelvin.

Kelvin lalu kemudian berdiri dan pergi memesan beberapa menu makanan yang ingin di makan Levin.

Kelvin melakukannya dengan senang hati, dia bahagia karena bisa memberikan perhatiannya kepada Levin.

Tanpa perlu meminta,apapun akan Kelvin lakukan agar Levin bisa merasa senang.


Kini tersisa Alexi, Theo, Yoshi, Wiley dan Levin. Mereka berlima sedang menunggu pesanan makanan Kelvin dan Levin.

“Levin, gue mau nanya ama lu.” ucap Yoshi.

“tanya apa Yosh.” balas Levin.

“lu sama Kelvin ada hubungan apa, kok mesra gitu. lu berdua pacaran ya?” tanya Yoshi

Levin belum menjawab pertanyaan Yoshi, tetapi bunyi pukulan sudah terdengar dari Yoshi.

Plakkkkk

Wiley memukul Yoshi pada lengan tangannya.

“aduh, yang sakit tau.” sambung Yoshi

“kamu tuh, udah aku bilangin mulutnya gak usah nyerocos gitu. masih aja.” ucap Wiley.

“Wiley, pacar lu cuma nanya doang. ngapain lu pukulin sih.” sambung Theo.

“ya abisnya, mulutnya itu ngeselin tau, awas aja gara-gara ulahnya. Levin jadi canggung sama Kelvin.” timpal Wiley.

“emang beneran lu lagi deket sama Kelvin?” tanya theo pada Levin yang masih penasaran.

“deket sebagai temen, sama kek kalian. kita gak pacaran.” jawab Levin.

“gak pacaran bi, tapi soon bakalan pacaran. lihatin aja dulu.” sambung Alexi sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Theo.


Kelvin datang membawa banyak makanan dengan di bantu oleh beberapa pegawai, dia memesan makanan untuknya dan Levin, serta memesan kembali makanan untuk Alexi, Theo, Yoshi, dan Wiley.

Kelvin menaruh nampan makanan khusus untuk Levin, ia meletakan makanan untuk Levin.

Bakso, Ayam geprek, Ice cream, dan beberapa menu makanan lainnya sudah tersedia di atas meja.

“ini pesanan kamu, sekarang di makan biar mood kamu kembali ceria lagi.” ucap Kelvin.

“makasih.” balas Levin.

Levin kemudian memakan makanan yang sudah di pesan Kelvin untuknya itu.

“ngalusnya lancar banget bro, tapi gakpapa asal anak orang jangan di sakitin.” ucap Yoshi

“iya, santai aja. Anaknya bakalan gue jagain, aman kok.” balas Kelvin.

“Awas aja dia lu bikin nangis, gue patahin kaki lu.” sambung Theo.

“sebelum kamu patahin bi, aku blender hidup-hidup dia. awas aja nyakitin sahabat aku.” timpal Alexi.

“Kelvin, lu udah kita ijinin pepetin. awas aja nyakitin. Kita gantung lu hidup-hidup.” ucap Wiley.

“Levin teman-teman kamu, nyeremin banget. masa ngancem aku dari tadi.” balas Kelvin yang mengadu pada Levin sambil berbisik.

Levin hanya mendengar keluhan dari Kelvin, tanpa memberikan tanggapan. Dia sangat menikmati makanannya itu, ia bahkan hanya membalas dengan anggukan.

Levin sangat menyukai makan, jika sedang sedih ia akan melampiaskan kesedihannya pada makanan. Dia berpikir cara itu lebih efektif dari pada harus bersedih.

Karena sibuk makan, tanpa sadar bajunya Levin kecipratan kuah bakso.

“yah, kena deh.” keluhan yang keluar dari mulut levin.

“makanya kalau makan pelan-pelan aja, kita gak ada yang pengen rebut makanan kamu.” ucap Kelvin sambil mengambil beberapa tisu, agar bisa membersihkan sedikit noda pada baju Levin.

“udah aku ke toilet aja bentar, kalian semua tunggu sini.” balas Levin.

Dia kemudian berdiri dan pergi menuju toilet yang berada dekat kantin, supaya bisa membersihkan sedikit noda yang ada pada bajunya.


Toilet di sekolah mereka sangat banyak, karena sekolah high school besar dan luas. Makanya pihak sekolah sengaja menyiapkan banyak toilet untuk memudahkan siswa-siswinya agar tidak kesusahan mencari keberadaan toilet.

Levin sudah berada di dalam toilet dekat kantin, toilet itu jarang di pakai karena posisinya sedikit jauh dan agak tersembunyi.

“ish! ceroboh sekali sih. kan bajunya jadi kotor. untung ada jas.” gumam Levin sambil membersihkan bajunya.

Saat dia membersihkan noda di bajunya tiba-tiba dia mendengar suara rintihan seseorang.

“ngghhh., ssshhh, aaah. Li- Liam shhh., sayang aaah..” suara desahan seseorang

“wait baby, sshhh., bentar lagi keluar.” balas Liam

“aaahhh, ah. ngghhh. Liam cepetan, capek nungging. aaaaahh.” ucap wanita itu.

“sshhh, aaah. fuckk. bentar Pric, jangan ganggu dulu.” balas Liam.

“aaaahh, Liam. gak kuat.” teriak Pricilia

Levin tak sengaja mendengar kegiatan panas yang di lakukan Liam dan Pricilia di dalam toilet sekolah. Badannya tiba-tiba kaku, saat mendengar suara itu. Suara yang di kenalinya adalah Liam.

Suara pintu terbuka terdengar, dengan cepat Levin berlari tanpa memberikan suara apapun sama sekali, dia meninggalkan mereka berdua agar tidak ketahuan.