Chapter 90


Kelvin, Levin, Theo, Alexi, Yoshi dan Wiley ke enam orang tersebut. saat ini sedang kumpul bersama di salah satu cafe tempat Theo, Yoshi dan Liam sering kumpul. Cafe Roxi tempat yang sering mereka bertiga kunjungi.

Kelvin, Levin, Alexi dan Wiley mereka berempat berkumpul bukan karena tanpa alasan, saat ini mereka kumpul bersama. untuk mengerjakan salah satu tugas kelompok yang di berikan oleh guru mereka di sekolah.

Tugas kali ini adalah tentang sejarah, dimana seluruh siswa-siswi di kelas. harus mempresentasikan tentang sejarah yang ada di negara mereka.

Kelvin, karena dia besar di Luar negeri. Ia tidak terlalu mengetahui tentang budaya di negara asalnya, makanya itu. Sang guru tersebut membuat dia untuk sekelompok dengan Levin dan kedua sahabatnya.

Padahal anak-anak yang lain di dalam kelas, ingin sekelompok bersama dengan Kelvin. Tetapi atas dasar permintaan Kelvin dia bisa menjadi sekelompok dengan Levin.


Theo dan Yoshi mereka berdua memberikan tatapan sinis untuk Kelvin, karena mereka berdua tidak ingin Kelvin bersama dengan kekasih mereka masing-masing.

Bukankah kecemburuan itu hal biasa yang di alami setiap pasangan!, dalam menjalin sebuah hubungan? tetapi perlu di ingat. jika terlalu banyak hal kecemburuan yang seseorang lakukan, mungkin pasanganmu akan merasa bosan.

“kalian berdua, ngapain natap Kelvin kek gitu.” ucap Alexi

“tau tu, terpesona ya kalian berdua.” balas Wiley.

“biasa aja tuh.” sambung Yoshi.

“ya kan kita berdua punya mata, emang gak boleh gitu natap dia.” ucap Theo.

Tatapan Theo dan Yoshi kepada Kelvin menggambarkan keadaan bahwa, mereka sangat tidak menyukai kehadirannya.

Rasa cinta mereka kepada kekasih masing-masing membuat mereka berdua semakin takut untuk kehilangan orang yang mereka cintai dan sayangi.

“udah, jangan berantem. mending kalian berdua kenalan sama Kelvin aja” ucap Levin yang melerai perdebatan mereka.

“gue Kelvin, teman sekelas mereka.” balas Kelvin sambil mengulurkan tangannya pada Theo dan Yoshi.

“gue Theo, pacaranya Alexi.” sambung Theo dengan nada sinisnya.

“gue Yosh, pacarnya Wiley.” timpal Yoshi dengan nada sinisnya.

Kelvin merasa sedikit kurang nyaman berada di dekat mereka berdua, karena ia tahu bahwa Theo dan Yoshi tidak menyukai kehadirannya.

“Kamu gak usah tanggepin mereka berdua Kelvin, mereka emang suka sensian gitu sama orang baru.” ucap Levin.

“maafin pacar gue Kelvin, dia baik kok orangnya. cuma takut gue berpaling aja, padahal mah enggak. gue udah cinta mati sama dia.” balas Alexi.

“gue juga, pacar gue kadang emang ngeselin. tapi dia baik kok. cuma dia takut kesaing aja mungkin ama lu. padahal kan gue udah bucin sama dia.” timpal Wiley.

“bi. aku gak nyangka kamu bisa ngomong gitu ke dia.” ucap Theo yang terpesona mendengar ucapan Alexi.

“sayang, nikah aja yuk.” sambung Yoshi sambil menatap Wiley.

Theo dan Yoshi yang gemas mendengar jawaban kekasih mereka, lalu memeluk pacar-pacar mereka. Pelukan itu juga di balas oleh Alexi dan Wiley.

Levin pusing melihat mereka berempat, menurutnya ini adalah pertemuan pertama mereka dengan Kelvin.

Tetapi mereka tidak malu-malu untuk langsung menunjukan sifat asli mereka, dengan pasangan masing-masing di hadapan Kelvin.

“hadeh, baru juga mau belajar. main pelukan aja nih! Kelvin udah yuk. buruan kita lanjut ngerjain tugas aja, setelah ini kita mau lanjut belajar kan.” ucap Levin.

“udah santai aja Levin, Aku gak masalah kok. Aku tau mereka cemburu sama aku. ayo kita lanjut buat tugasnya.” balas Kelvin sambil berbisik di telinga Levin.


Mereka kemudian melanjutkan tugas kelompok mereka dengan sangat serius, bahkan karena sangat terlalu serius. Kelvin dan Levin sampai tidak sadar, jarak mereka sangat begitu dekat.

Kedekatan mereka berdua saat ini, membuat Alexi dan Wiley sangat gemas. bahkan mereka berdua saling membalas chat dengan senyuman serta padangan tatapan suka kepada Levin dan Kelvin.

Theo dan Yoshi tentunya sudah hafal dengan tingkah pacar mereka. Jadi mereka bisa menebak dengan mudah, apa yang saat ini Alexi dan Wiley bahas.

Di lain sisi, muncul Liam dan Pricilia yang berjalan memasuki Cafe tersebut. sambil bergandeng tangan serta Liam yang merangkul mesra Pricilia.

Karena kondisi cafe yang sedang sepi serta ucapan selamat datang dari salah satu pegawai, membuat Levin dan kawan-kawannya kaget saat melihat kedatangan kedua orang itu.

“Anjir ngapain mereka berdua disini.” ucap Alexi dengan nada kesalnya.

“tau, kek gak ada tempat lain aja. heh pasti ini kalian berdua yang ngasih tau dia kan?” tanya Wiley dengan menatap tajam Yoshi dan Theo.

“kita gak ngasih tau dia kok” jawab Yoshi.

“lagian, ngapain juga ngasih tau kalian ke dia, gak penting banget.” ucap Theo sambil meminum minumannya.

“Alexi, Wiley. dengerin. kita kesini buat ngerjain tugas, bukan mau lihat atau mikir, siapa orang yang dateng ke cafe ini.” sambung Levin.

“lanjut kerja lagi yuk.” ajak Kelvin pada mereka semua.


Levin kembali fokus dan serius, dia tidak ingin memikirkan hal-hal yang mengganggu konsentrasinya. Akhirnya kedua sahabatnya itu lebih memilih mengikuti saran Kelvin dan Levin.

Alexi dan Wiley memutuskan untuk melanjutkan bagian pekerjaan, yang ditugaskan Levin dan Kelvin kepada mereka berdua.

Pricilia yang melihat keberadaan mereka semua itu merasa menang di dalam hatinya, dia mulai memilih tempat duduk yang berdekatan dengan mereka semua. Agar dia bisa memanas-manasi Alexi, Wiley dan Levin.

“sayang, kita duduk bagian situ aja yuk.” ucap Pricilia.

“kamu mau di situ?” tanya Liam.

“iya.” jawab Pricilia.

“ya udah, kita duduk situ.” sambung Liam lalu menarik tangan Pricilia.


Posisi Liam dan Pricilia saat ini berdekatan dengan Levin dan teman-temannya, sebenarnya tidak terlalu berdekatan. Masih ada satu meja lagi yang menjadi space untuk mereka semua.

Levin tidak perduli dengan kehadiran saudaranya itu, dia masih berkutat dengan tugas yang di berikan guru padanya.

Levin itu anak yang pandai dan juga rajin, dia sangat bersungguh-sungguh dalam mengerjakan apa yang ia kerjakan.

Bahkan Levin tidak menggubris setiap ucapan keluhan yang keluar dari mulut, kedua temannya yang emosi itu. saat melihat tingkah laku Pricilia dan Liam di hadapan mereka semua.

Yoshi dan Theo berusaha untuk menenangkan kekasih masing-masing, agar keributan di cafe itu tidak terjadi.

Mereka paham betul watak dari Alexi dan Wiley, jika mereka tidak suka. mereka secara blak-blakan akan berkata tidak suka di hadapan orang itu secara langsung.

Karena terlalu lama menggunakan Hearing Aidnya, telinga Levin mengeluarkan sedikit darah. mungkin itu efek samping dari penggunaan yang terlalu lama.

Padahal tidak biasanya seperti ini, karena Kelvin duduk bersebalahan dengan Levin. dia bisa melihat telinga yang ada bercak sedikit darah itu, pada bagian Hearing Aid.

Kelvin lalu melepaskan Hearing Aid sebelah kanan Levin, dan mengambil tisu yang tersedia di atas meja, serta membersihkan darah yang keluar pada bagian telinga Levin.


“kenapa Kelvin?” tanya Levin.

“ini. ada darah yang keluar dari kuping kamu.” jawab Kelvin sambil menunjukan tisu yang sudah ada bercak darah.

“makasih.” ucap Levin sambil memberikan senyuman.

Kelvin bahkan memberhentikan kegiatan mereka sesaat, karena melihat kondisi yang di alami Levin.

Alexi, Theo, Yoshi, Wiley di buat terpanah oleh tindakan Kelvin. Kelvin begitu perhatian dengan Levin, mereka berempat seperti terbius dengan kisah romantis yang tercipta mendadak itu.

Liam dan Pricilia mereka duduk di meja yang memuat kapasitas untuk dua orang, makanya mereka berdua duduk dengan posisi saling berhadapan.

Sedangkan Levin dan kelompoknya duduk dengan meja yang memuat untuk enam orang. Theo dengan Lexi duduk bersebelahan, Yoshi dan Wiley juga. Dan tentunya Levin dan Kelvin yang duduk bersebelahan.

Liam menatap mereka semua, dia melihat teman-temannya itu. dan saudara angkatnya bersama dengan orang baru, yang bisa di katakan cukup mesra untuk ukuran orang baru berkenalan.

“sayang, buka mulutnya. ini cake kesukaan kamu loh.” ucap Pricilia sambil memberikan kue pada Liam.

Liam kaget dan melihat Pricilia yang sedang berusaha menyuapinya dengan memberika sepotong kue kesukaannya di cafe tersebut. Liam lalu membuka mulutnya dan memakan kue itu.

Liam mengunyah kue kesukaannya.

“enak kan?” tanya Pricilia dengan wajah sumringahnya.

“iya enak.” jawab Liam sambil memberikan senyuman untuk Pricilia.

“Aku udah yakin kamu pasti suka.” ucap Pricilia.

“iya, kamu emang tau apapun yang aku suka.” balas Liam.

“aduh, makannya kok blepotan gitu. sini deketan, biar aku bersihin.” sambung Pricilia.

Liam lalu mendekatkan wajahnya pada Pricilia, Pricilia menggunakan jarinya untuk membersihkan noda cream. yang ada pada pinggiran mulut kekasihnya itu.

Liam yang melihat cream di tangan Pricilia lalu menjilati tangan tersebut, Pricilia tersipu malu dan bahkan membuat suara rengekan manja, yang bisa di dengar oleh Levin dan seluruh teman-temannya.

“SAYANG, GELI TAU.” rengek Pricilia.

“kan udah biasa sayang.” balas Liam sambil mengusap rambut Pricilia.

Alexi dan Wiley sudah benar-benar tidak kuat menahan ledakan emosi yang ada di dalam diri mereka.

“HADUH, BERISIK BANGET SIH. PENGUNJUNG LAIN. GAK TAU DIRI BANGET, DIA PIKIR INI TEMPAT PRIBADINYA APA.” ucap Alexi dengan nada sindirannya.

“TAU TU, MEREKA PIKIR INI TEMPAT PRIBADI MEREKA KALI. MANA SUARANYA CEMPRENG GITU LAGI.” sambung Wiley dengan nada tingginya.

Pricilia yang sadar dirinya saat ini sedang di sindir oleh kedua sahabat Levin itu, mulai membalikan badannya. dan menghadap ke arah mereka berdua.

“Heh, kalau gak seneng. cabut aja dari sini. lagian ini juga bukan tempat lu berdua kali.” ucap Pricilia.

“Dih anjing, siapa lu? TAI.” balas Alexi.

“Heh, wajah dempul. kalau lu mau teriak. di hutan sana, TOLOL. lu pikir gak ganggu kita yang lagi ngerjain tugas apa?” sambung Wiley.

“Lu berdua yang TOLOL, ngapain kerja tugas di tempat umum. ini tempat orang berisik, kerja sana di perpustakaan.” timpal Pricilia.

“Lu yang GOBLOK, tangan baru di jilat dikit. lagaknya udah kek di jilat meki.” ucapan Alexi sambil memberikan kekehan mengejek pada Pricilia.

Wiley dan Alexi menertawai Pricilia, karena dia tidak sanggup membalas ucapan yang di keluarkan oleh Alexi.

Pricilia tersulut emosi, dia berdiri di tempat duduknya, dan berteriak kepada mereka.

“ANJING LU BERDUA, MAJU LU SINI. DASAR HOMO MENJIJIKAN.” teriak Pricilia.

“EH BANGSAT, GUE JUGA HOMO MILIH-MILIH TAI. KALAUPUN GUE STRAIGHT, NAJIS BANGET GUE MILIH PELACUR KEK LU.” balas Alexi dengan lantang.

“KURANG AJAR LU. HEH PEREK, LU GAK TAU DIRI BANGET BANGSAT. KITA DIEMIN MALAH NGELUNJAK.” sambung Wiley dengan nada tingginya.

Alexi dan Wiley bediri mendekati Pricilia, mereka bahkan tidak perduli dengan Liam yang saat ini tengah melihat pertengkaran hebat mereka. Yang mereka inginkan adalah menjambak rambut serta mulut Pricilia.


Aksi Dorong-dorongan pun terjadi, Liam yang tadinya duduk diam, kini berdiri untuk memisahkan perkelahian mereka.

Theo dan Yoshi juga berusaha untuk menenangkan kedua sahabat bagai kempompong, yang sedang tersulut emosi itu.

Alexi, Wiley dan Pricilia mereka tidak ada yang ingin mengalah, mereka masih semangat saling mendorong dan mengatai satu sama lain.

Levin tersulut emosi, dia geram melihat sikap mereka semua yang tidak bisa menjaga etika kesopanan, saat berada di tempat umum.

Levin yang saat ini sedang duduk diam bersama Kelvin pun, kemudian berdiri dari tempat duduknya.

“BERHENTI SEMUANYA.” teriakan keras keluar dari mulut Levin.

semua orang diam saat mendengar teriakan yang keluar dari mulut Levin, mereka kaget dan tidak percaya.

“Kalau kalian mau berantem, jangan disini. sana di lapangan, kalian kek gak punya etika. Kalau mau buat rusuh jangan di tempat orang lain, bukan kalian aja yang rugi tapi Pemilik dan pengunjung seperti aku juga bisa rugi, melihat tingkah bodoh dan memalukan seperti kalian.” ucap Levin tanpa memandangi mereka semua.

“Levin.” balas Kelvin dengan nada Lembut.

“Kelvin ayo kita pulang, biar tugasnya aku lanjut sendirian di rumah. dari pada aku disini yang ada makin pusing, udah sakit kepala tambah sakit dengerin mereka berantem.” sambung Levin.

Kelvin mengikuti perintah Levin, dia bergegas dengan sangat cepat untuk memasukan seluruh tugas. yang sudah di kerjakan mereka setengah itu ke dalam tasnya.

Levin sudah lebih dulu keluar dari cafe, meninggalkan mereka semua. Dia bahkan tak berpamitan dengan sahabat-sahabatnya itu, dia berjalan lurus keluar menuju ke arah mobil milik Kelvin yang sedang terparkir.

Tak lama setelah itu, Kelvin tiba. lalu membuka pintu mobilnya agar Levin bisa masuk, setelah itu dia membunyikan mesin mobil dan menginjak gas mobilnya untuk mengantarkan Levin kembali ke rumah.