Chapter 63


Hari ini adalah hari Weekend saatnya Levin beserta kedua sahabatanya pergi untuk melepaskan kepenatan yang dirasakan mereka saat ini.

Levin, Alexi dan Wiley memilih untuk menghabiskan waktu seharian, di salah satu pusat perbelanjaan terkenal dan termahal di kota seoul.

Mereka bertiga berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Alexi, Levin dan Wiley mereka saling bergandengan tangan dengan posisi tinggi yang tidak beraturan.

Alexi dan Wiley sengaja membuat Levin berada di posisi tengah, agar bisa melindungi sahabat mereka itu dari mata dan ucapan jahat orang lain.

Walau sebenarnya tidak ada yang perduli dengan kehadiran mereka saat ini, bagaimana ada yang ingin memperhatikan mereka.

Orang-orang yang mengunjungi pusat perbelanjaan mewah dan mahal itu adalah orang-orang yang berasal dari golongan atas semua.

Mereka lebih tertarik untuk melihat barang-barang yang tersedia di dalam Mall, dari pada harus melihat tiga uke gemas dan cantik yang sedang berjalan itu.

Theo dan Yoshi apa yang mereka berdua lakukan di Mall tersebut! tentunya mereka berjalan di bagian belakang ketiga uke yang lemah lembut itu.

Mereka harus memasang badan agar bisa mencegah ketiga sahabat itu, dari orang-orang yang ingin menjahati mereka serta tatapan orang-orang yang kelaparan. Akibat melihat body mereka.

Sedari tadi sebenarnya mereka bertiga menjadi sorotan beberapa orang yang berkunjung, hanya karena pengaruh dari Theo dan Yoshi. Orang-orang tersebut takut lalu berjalan menjauhi Alexi, Levin dan Wiley.


[Toko Buku]

Levin, meski hari ini adalah hari libur, bagi Levin belajar adalah suatu keharusan yang harus ia lakukan.

Agar dia selalu bisa mengingat kembali, setiap pelajaran yang guru ajarkan kepadanya.

Berbeda dengan kedua sahabatnya itu, Alexi dan Wiley mereka lebih suka bermain dari pada belajar. Menurut mereka, belajar itu hanya cukup di sekolah saja.

Levin sangat suka dengan buku-buku, ketika memasuki Toko Buku dia merasa seperti sedang berada di dunianya.

2-C7-B75-CE-2-F7-B-4-B44-B60-E-BC8073-BCFA2-B

Levin bahkan melepaskan pegangan tangan kedua sahabatnya, agar Levin bisa mencari apa yang dia inginkan.

Theo dan Alexi pergi berjalan-jalan melihat suasana toko buku, mereka ingin mengetahui ada apa saja yang di sediakan toko tersebut.

Sedangkan Wiley dan Yoshi lebih memilih bagian buku resep makanan, karena Wiley ingin mempelajari resep masakan.

Semua orang mulai berpencar dengan mencari kesibukan mereka masing-masing.

Levin berjalan mengitari setiap sudut toko buku, mulai dari rak buku pelajaran sampai bagian novel dia berputar untuk mengelilinginya semua.

Apapun yang dia inginkan akan dia cari semuanya, sampai Levin tak sadar troli tempat menaruh barangnya sudah penuh dengan buku-buku pilihannya.

Ada salah satu buku pelajaran yang menarik perhatiannya, buku itu berisi berbagai macam contoh soal latihan untuk ia pakai belajar di rumah, semua jenis pelajaran ada di dalam buku itu, buku itu adalah sebuah rangkuman.

“Dapat! akhirnya ketemu juga.” ucap Levin dengan mata berbinarnya.


Levin saat ini berdiri dan masih melihat-lihat buku yang lain, munculah seseorang dari arah lain menghampiri Levin.

Dia berdiri pada posisi bagian belakang Levin, orang itu kemudian mengalungkan tangan besar miliknya dan mencoba mencekam bagian lehernya.

“woy, katanya lu gak mau kesini. ini buktinya lu dateng. lu bohongin gue yaaa.” ucap seseorang yang sedang mencekam leher levin menggunakan lengannya.

“uhuk, uhukk. sswakit lepasin.” balas Levin sambil memukul tangan tanpa melihat lelaki itu.

Mendengar suara yang berbeda, orang itu lalu langsung melepaskan leher Levin yang saat ini sedang dia cekam. Levin lalu membalikan badannya untuk melihat orang itu.

Sebenarnya orang tersebut melakukannya tidak kuat dan bersungguh-sungguh, dia hanya iseng saja. ia ingin mengerjai orang yang dia pikir itu adalah sahabatnya. Kini mereka saling menatap satu sama lain.

“eh, Maaf-maaf. gue pikir tadi teman gue. sorry yaa, beneran gue gak maksut buat nyakitin lu.” ucap orang itu.

“uhuk, iya- huk. lain kali jangan gitu lagi Mas. bahaya tau.” balas Levin yang memegang lehernya.

“iy-” belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, satu pukulan keras sudah mendarat di wajahnya.

Levin kaget melihat orang itu terlempar jatuh ke belakang mengenai rak buku yang ada.

Dan yang membuatnya lebih kaget lagi, orang yang memukul lelaki tersebut adalah Liam.

Liam geram saat melihat aksi lelaki itu yang mencekam Levin pada bagian lehernya, padahal orang tersebut tidak sengaja ingin bermaksud memiliki niat jahat.

Liam memberikan beberapa pukulan pada orang tersebut, karena sudah melukai Levin.


buk buk buk

Bunyi pukulan terdengar jelas, Liam emosi. darahnya mendidih, hatinya sakit, saat melihat ada orang yang tanpa sengaja menyakiti orang yang di sayanginya itu.

“BRENGSEK, SETAN LU. NGAPAIN ANJING LU NYEKEK DIA. BANGSAT.” ucap Liam yang sedang marah itu.

“LIAM UDAH, ANAK ORANG BISA MATI.” balas Levin yang berusaha melerai pukulan Liam.

Levin berteriak dengan keras, dia sengaja berteriak agar para pegawai yang bertugas datang menghampiri mereka, untuk memisahkan Liam dan si korban.

Liam masih menghajar orang itu, dia seperti sedang kerasukan roh jahat.

Liam memukul tanpa memberikan ampunan atau belas kasihan pada orang yang di pukulinya itu.

Bahkan ia tak perduli dengan ucapan Levin, yang Liam inginkan adalah meninju orang tersebut yang sudah berani menyakiti Levin.

“LIAM BERHENTI, ATAU AKU LAPOR POLISI.” ucap Levin sambil memeluk Liam.

Hanya itu cara terakhir yang bisa Levin lakukan, selain dengan cara mengancam untuk di laporkan polisi. Levin berpikir dengan cara memeluk bisa menghentikan pergerakan Liam.

Liam berhenti, saat ia merasakan Levin memeluk tubuhnya dengan erat. Liam menatap tangan yang melingkar pada pinggangnya itu, tangan Levin bergetar hebat.

Liam lalu membalikkan tubuhnya, yang dia lihat saat ini adalah, wajah Levin yang sedang ketakutan serta mata yang tertutup dan air mata yang keluar membasahi pipinya.

Petugas akhirnya muncul, dan membantu lelaki tersebut untuk pergi dari sana. Laki-laki itu harus menerima konsekuensi yang telah ia lakukan, meski dia tidak sengaja.

Liam mendekap tubuh Levin yang sedang gemetar itu, Levin takut melihat amarah yang di keluarkan Liam saat ini.

“Maaf.” ucap Liam sambil mencium pucuk kepala milik Levin.

“hiks! hiks! hiks! bodoh kalau anak orang mati gimana. hiks!” balas Levin sambil menangis dan memberikan pukulan kecil pada dada bidang Liam.

“Maaf yaa, kamu pasti kaget.” ucap Liam.

“bukan kaget lagi. hiks! jantung aku mau cop- copot.” balas Levin sambil memeluk Liam.

Liam mengelus-ngelus punggung Levin agar bisa kembali merasakan ketenangan, karena kebodohannya Levin hampir jatuh pingsan saat melihat aksi gila yang dia lakukan.

Levin sangat tidak suka adegan kekerasan, menurutnya jika masih bisa di bicarakan baik-baik.

Maka bicarakan saja, bagi dirinya setiap masalah tidak harus di selesaikan dengan menggunakan cara otot, bisa juga menggunakan otak.

“hiks! hiks! hiks!.” suara Levin yang sedang sesegukan.

Liam kini memeluk pinggul ramping milik Levin menggunakan tangan kirinya, karena tangan kanan sibuk merapikan rambut Levin yang sedang berantakan itu.

Penampilan Levin saat ini sedang acak-acakan, akibat perbuatan yang dilakukan Liam.

Levin masih mengatur keadaan nafasnya, yang masih sesegukan itu. Liam dan Levin saling beradu pandang saat ini, mereka lupa kalau mereka berdua sedang di tempat umum.

“udah jangan nangis lagi, nanti mata kamu makin bengkak.” ucap Liam yang masih fokus merapikan poni milik Levin.

“makanya, jangan ma- ma- marah-marah i-iaam.” balas Levin.

Levin masih berusaha menarik nafasnya dalam-dalam sambil melakukan wrinkle nose pada hidung mungilnya itu.

Liam yang gemas melihat ekpresi Levin di depan matanya itu, langsung menjepit hidung Levin menggunakan dua jari tangan kanannya.


Plakkkk

Pukulan mendarat di bagian kepala Liam, akhirnya Levin berhasil memukul Liam juga. Ia kesal karena saat ini sedang sedih, tetapi Liam masih bisa mencoba menggodanya.

“Aduh, sakit Levin.” ucap Liam sambil memegang kepalanya.

“makanya jangan usil, aku ini lagi nangis, malah kamu gangguin, kalau nafasku habis gimana.” balas Levin sambil memasang wajah cemberut.

“ududu, kasihan. nanti aku kasih nafas baru, maaf ya gembul.” ucap Liam sambil mencubit pipi tembem milik levin, dan kemudian langsung memeluk Levin.

Liam memberikan sebuah pelukan hangatnya, supaya bisa di rasakan oleh Levin. ia juga berharap agar Levin memberikan maaf kepadanya.

Sebenarnya Liam melakukan hal itu secara spontan, karena saat ini Liam merasakan debaran kuat pada jantung miliknya yang bekerja begitu cepat. saat memandangi wajah cantik Levin yang sangat menggemaskan itu secara dekat.

Pelukan hangat serta sentuhan lembut, dia berikan untuk Levin. Liam sengaja membiarkan Levin menyandarkan kepalanya, pada dada bidang miliknya yang nyaman itu.

Levin yang tadinya marah, kini sudah tersenyum kembali dalam dekapan Liam, dia bahkan saat ini sedang salah tingkah karena ulah Liam. Beruntung wajah merahnya saat ini sedang tertutupi dada bidang milik Liam.


“widih, keknya enak tu pelukan, ampe gak bisa lepas gitu Lim.” teriakan Yoshi yang menggoda mereka berdua.

Liam dan Levin kaget, saat mendengar suara dari salah satu sahabat mereka, mereka semua datang mendekat ke arah mereka berdua. Dengan cepat Liam dan Levin melepaskan pelukan manis mereka.

Salah tingkah dan Malu mungkin itu suasana yang bisa di gambarkan kondisi Liam dan Levin saat ini.

“ngapain di lepas, lanjut aja. lanjut, maaf kita udah ganggu kalian berdua.” ucap Theo.

“KATANYA GAK BUCIN SODARA, GAK BAKALAN SUKA SODARA. PREETTT LAWAK BANGET LU.” ledekan yang keluar dari mulut Yoshi.

Karena merasa sedang di goda oleh Yoshi, Liam mengambil salah satu buku yang berada di sekitarnya.

Dan kemudian melepari Yoshi yang sedang berdiri menggodanya dengan wajah penuh ejekan. Untungnya Lemparan itu tidak mengenai kepala Yoshi.

“Levin, pacar lu ngeselin banget sih” ucap Yoshi yang masih terkejut itu.

“Wah, Liam parah ni. hampir aja kepala Yoshi bocor.” sambung Alexi

“Aduh, kasian pacar aku. sakit ya sayang?” tanya Wiley.

“huum, atit yang.” jawab Yoshi yang memasang tampang berpura-pura sakit.

“HEH, GUA SAMBIT JUGA LU YOSH. ITU GAK KENA JUGA. MAU KIBULIN GUA YA LU.” ucap Liam.

“Makanya jangan emosian bapak Liam yang terhormat.” balas Theo.

“gimana gak emosi bi, dia di goda habis-habisan sama Yosh. hahaha”. sambung Alexi sambil tertawa.

Liam kemudian menarik tangan Levin, agar bisa segera menjauh dari Theo dan Yoshi.

Dua temannya yang sedari tadi itu sedang berusaha untuk menggodanya di depan levin.

Jika terlalu lama, mungkin Liam bisa akan terpancing emosinya. Liam itu tidak suka di goda oleh kedua sahabatnya. Karena apa yang keluar dari mulut mereka adalah sebuah fakta.

Liam memilih mengajak Levin untuk jalan berdua mengelilingi Mall dan meninggalkan mereka semua, dia juga tidak khawatir dengan kedua sahabatnya Levin, karena mereka saat ini sedang bersama dengan kekasih masing-masing.

Buku-buku yang harusnya sudah di pilih Levin tadi, terpaksa tidak jadi untuk di bayar. semua ini akibat ulah Liam yang sibuk menghajar orang itu, dan juga tarikan paksanya.

Levin juga senang, akhirnya bisa bermain bersama dengan Liam setelah sekian lama. Ini juga merupakan kegiatan pertama mereka jalan berdua, selain pergi ke sekolah bersama Liam.

Levin memilih Liam dan melupakan buku-buku pilihannya, dia berpikir mungkin memesan secara online akan menjadi pilihan keduanya. Dia juga masih sedikit trauma dengan kejadian yang ia alami tadi.