Chapter 55


Bukan Liam namanya, kalau dia tidak bisa melakukan keinginannya. Sebelum bel sekolah berbunyi, dia sudah mengunggu kedatangan Levin di depan gerbang arah keluar sekolah.

Liam bahkan mengempeskan seluruh ban mobil milik Alexi, agar Levin bisa pulang ke rumah dengannya.

Jika tidak memaksa dengan cara seperti itu, Levin pasti tidak akan ingin ikut pulang ke rumah bersamanya. Karena saat ini Levin sedang kesal dengan Liam.

“beres juga, HAH.” ucapan pertama yang keluar dari mulut Liam.

Tidak lama setelah itu semuanya keluar dari sekolah, seluruh siswa-siswi berhamburan keluar. begitu juga dengan Levin, Alexi dan Wiley.

“Akhirnya bebas juga.” ucap Alexi.

“capek banget, aduh. kita pulang yuk.” balas Wiley.

“let's go.” sambung Levin sambil menggandeng kedua tangan sahabatnya itu.

Levin, Alexi dan Wiley mereka bertiga jalan ke tempat parkiran sekolah, sekolah yang luas dan mewah serta memiliki berbagai macam fasilitas untuk seluruh murid. Membuat mereka tak heran, jika harus berjalan sedikit ke arah parkiran.


[Tempat Parkir]

Mereka bertiga sudah sampai di tempat parkir mobil. Levin, Alexi, dan Wiley berjalan sambil bercerita satu sama lain.

“hah, mobil gue.” teriak Alexi.

Teriakan dari Alexi sontak membuat Levin dan Wiley kaget, Alexi bahkan berlari mendekat ke arah mobilnya dan disusul kedua temannya.

“astaga, kok bisa jadi gini.” balas Levin.

“ini gimana kita pulangnya coba, kalau ban mobil kempes semua.” ucap Wiley.

Alexi sebenarnya tidak terlalu perduli dengan mobilnya, dia memiliki banyak mobil mewah di rumahnya. Hanya saja saat ini dia ingin mengantarkan Levin dan Wiley pulang ke rumah mereka.

Alexi kemudian menghubungi sang kekasih tercinta yaitu Theo, untuk segera datang menjemput mereka di sekolah. Wiley juga menghubungi Yoshi untuk menjemputnya, karena dia benar-benar lelah dan ingin pulang.

Theo dan Yoshi mereka berdua bolos sekolah, karena semalam menemanis Liam mabuk di club. Setelah mendapatkan informasi dari pacar-pacar mereka, akhirnya mereka meluncur.

Tak membutuhkan waktu lama, kini Theo dan Yoshi sudah muncul dengan mobil masing-masing.

“bi, mobil kamu kenapa?” tanya Theo

“gak tau, waktu keluar udah kek gini.” jawab Alexi sambil memeluk pacarnya.

“Wil sayang, pulang yuk.” ucap Yoshi.

“ayo yang. capek banget tau, anter aku balik ke rumah.” balas Wiley sambil mempoutkan bibirnya.

Levin hanya melihat Alexi dan Wiley yang bermanja kepada kekasih mereka masing-masing.

Indah bukan, saat seseorang mengalami rasa lelah akibat aktivitas seharian, tenaga mereka diisi kembali oleh sebuah pelukan hangat. Tapi itu tidak berlaku bagi Levin, karena dia merasa pemandangan itu biasa saja.

“Lev, ikut gue sama Theo yuk. kita anterin kamu balik ke rumah.” ucap Alexi

“iya, lu mending ikut kita aja.” balas Theo.

“bener tu, Levin ikut mereka aja. atau kalau kamu mau, ikut sama Aku dan Yosh.” sambung Wiley.

“gue terserah Levin, mau ikut sama siapa aja.” ucap Yosh.

“Kalian balik aja duluan, aku lupa kalau Mama tadi ngechat ngasih tau mau jemput aku. terus, mau nemenin dia dulu.” balas Levin.

“YAH.” ucapan kompak dari kedua sahabatnya.

Sebenarnya Levin berbohong, ia sengaja mengatakan hal seperti itu agar tidak mengikuti salah satu di antara mereka.


Bukan tanpa sebab, Levin memiliki sebuah alasan. Jika dia mengikuti mereka maka bisa di pastikan Levin akan melihat gerakan-gerakan aneh dari kedua sahabatnya dan kekasih mereka.

Levin sudah mulai memahami kebiasaan dari Alexi dan Wiley, jika saat bersama dengan kekasih mereka. Mereka tidak akan malu melakukan hal mesra dengan pacar-pacar mereka di depan Levin.

Maka dari itu, Levin memutuskan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Sudah cukup kepalanya penuh dengan pelajaran, dia tidak ingin otaknya merekam perbuatan aneh mereka semua.

“Aku balik duluan sama Theo ya.” ucap Alexi.

“Aku juga, balik sama Yosh.” balas Wiley.

“kalian semua hati-hati.” sambung Levin.

Alexi, Theo, Yoshi dan Wiley mereka bergegas meninggalkan sekolah. Levin menatap kepergian mereka semua, setelah dia merasa mereka semua sudah pergi jauh.

Levin kemudian berjalan ke halte Bus, dia lebih memilih transportasi umum untuk di gunakannya agar bisa kembali pulang ke rumah.

Levin berjalan sambil melepas Hearing aids miliknya, agar dia merasakan ketenangan.

Levin berjalan sambil menikmati udara yang sejuk, serta menghirup aroma kesejukan. Dia tak sadar bahwa saat ini seseorang mengikutinya dari belakang.

Liam melajukan mobilnya secara pelan-pelan, agar bisa mengikuti Levin dari belakang. Dia bahkan memperhatikan setiap gerak-gerik Levin, dan juga melihat kondisi sekitar. Liam takut ada siswa-siswi lain yang mendekati Levin dan akan mengganggunya.


Levin beruntung, hari ini tidak ada siapapun yang sedang menunggu kedatangan Bus saat ini. Jadi dia bebas dan tak akan perlu merasa risih, karena tatapan orang lain.

Levin duduk sambil menundukkan kepala, dia memainkan sepatunya dengan cara menggesekan sepatu pada tanah, dan juga ia menghentakkan sepatu miliknya sedikit.

Levin terkadang menggigit kecil kukunya, salah satu kebiasaan buruk yang ia lakukan. Levin juga menggigit kulit kukunya jika ia sedang menunggu sesuatu.

Liam langsung turun dari mobilnya, dan menghampiri Levin. Tidak akan ada Bus yang melewati jalur rumah mereka. Jadi percuma saja Levin menunggu sampai berjam-jam.

“ayo pulang.” ucap Liam sambil mengulurkan tangannya.

Levin melihat seseorang sedang mengulurkan tangan, kemudian dia mengangkat kepalanya dan melihat siapa orang tersebut. Dia sedikit kaget, karena orang itu adalah Liam.

Liam menepati janjinya, tetapi saat ini Levin tidak ingin bertemu dengannya. Atau bahkan melihat kehadiran Liam, karena hatinya saat ini merasakan sesuatu yang aneh.

Tetapi dia tidak tau itu apa, yang Levin inginkan hanya tidak ingin melihat Liam dulu, mungkin karena dia kesal melihat foto-foto yang di kirimkan Pricilia padanya.

“ayo pulang, gue kan udah bilang bakalan jemput lu.” ucap Liam.

Levin tidak menggubris perkataan Liam, dia memalingkan wajahnya sambil melihat ke arah kedatangan Bus, yang tidak muncul sedari tadi.

Liam tau kalau saat ini Levin tidak ingin melihatnya, karena perbuatan nya semalam yang tidak memberitahukan kepergiannya kepada Levin.

Karena tak ada pergerakan dari Levin sama sekali, Liam lalu memutuskan untuk menggendong Levin dengan posisi brides maid agar bisa membawa Levin pulang ke rumah.

“Lepasin Liam, aku gak mau pulang sama kamu.” ucap Levin sambil menggerakkan badannya.

“diam, gue mau bawa lu pulang. percuma nunggu disini. gak ada bus yang bakalan lewat.” balas Liam sambil memegang erat tubuh Levin.

Liam tidak perduli dengan ucapan Levin, dia membawa Levin masuk kedalam mobil, dan memasangkan seat bealt untuknya. Setelah itu Liam langsung menacapkan gas mobilnya agar kembali ke rumah.


Mereka sudah tiba di suatu tempat, tempat itu bukan rumah. melainkan tempat yang biasa orang-orang bersantai sejenak, pemandangan kota cantik beserta Danau kecil. membuat lokasi semakin indah jika di lihat secara langsung.

CCAA5427-79-F4-42-CF-BD2-D-B438027-A6-BA3

Banyaknya pasangan muda-mudi menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang mereka sayangi di tempat itu.

Liam sengaja membawa Levin ke tempat itu agar bisa berbicara sebentar dengan Levin, hatinya merasakan kegelisahan saat Levin ingin mencoba menjauh darinya. Mereka berbincang di dalam mobil, tanpa perlu turun.

“kenapa marah? ucapan pertama yang keluar dari mulut Liam.

“ngapain marah.” jawab Levin.

“kenapa menghindar.” ucap Liam.

“aku gak menghindar.” balas Levin

Levin menjawab setiap pertanyaan Liam tanpa memandangi wajah Liam, entahlah dia hanya sedikit kesal karena Liam memaksanya kesini.

“Maaf.” ucap Liam sambil menggenggam tangan Levin.

Perlakuan dari Liam membuat Levin kaget, dia lalu memalingkan wajahnya ke arah Liam.

“kenapa minta maaf?” tanya Levin.

“Maaf udah, buat kamu jengkel. maaf udah buat kamu marah.” jawab Liam.

“ngapain berduaan sama Pricilia di tempatnya?” tanya Levin.

“cuma tidur.” jawab Liam.

“tidur bareng maksud kamu.” sambung Levin.

“hah, tidur bareng gimana. aku sama dia aja beda kamar. gimana mau tidur bareng.” ucap Liam.

“beda kamar, terus foto yang dia kirim itu apa.” balas Levin.

“foto apa. aku gak ngerti Levin.” sambung Liam.

“Liam, aku gak masalah mau kamu tidur bareng sama dia, atau mau ngapain sama dia. itu hak kamu. tapi tolong, Kasih tau Papa sama Mama. kasihan mereka nungguin kamu pulang ke rumah semalaman.” ucap Levin.

“beneran Levin, aku gak tidur bareng sama Pricil. aku tidur di tempat dia karena semalam mabuk, kalau aku pulang ke rumah yang ada. Papa, Mama sama Kamu bakal marahin aku, makanya aku ke tempat dia. Ini kamu lihat, badan aku juga bersih gak ada bekas kissmark atau apapun, lihat ini baik-baik biar kamu percaya kalau aku gak tidur bareng sama dia. ucap Liam.

Liam berbicara sambil membuka baju kaosan atasnya, agar dia bisa meyakinkan Levin dengan semua ucapannya.

Levin terkejut melihat aksi Liam yang membuka baju di hadapannya.

“LIAM” teriak Levin sambil menutup matanya.

“udah lihat kan, apa mau aku buka celana sekalian. biar kamu percaya, terus gak marah lagi sama aku.” ucap Liam.

“iya percaya, sekarang pakai bajunya lagi. CEPETAN.” balas Levin yang masih menutup matanya.

Liam kemudian memakai bajunya kembali, dia sudah mengerti alasan Levin menghindarinya karena perbuatan Pricilia.

Levin kini membuka matanya, karena Liam sudah memakai bajunya kembali.

Levin ingin sekali memukul kepala Liam, karena Liam hampir melakukan aksi gila di hadapannya.


Liam berkata benar, dia memang mabuk dan pergi ke Apartment milik Pricilia. Tetapi dia tidak melakukan apapun dengannya.

Bahkan mereka tidur menggunakan kamar yang berbeda, kebiasaan buruk Liam saat mabuk adalah, dia akan pergi ke tempat orang lain untuk istirahat. Selain itu, dia juga takut kedua orang tuanya memarahinya.

Kenapa bisa dia ke Pricilia, itu karena dia hanya mengingat orang terakhir yang dia hubungi. Kenapa bukan beristirahat di tempat milik Theo atau Yosh saja, untuk dia istirahat. Jawabannya adalah tidak, dia tidak ingin masalahnya di ketahui oleh kedua sahabatnya itu, makanya dia lebih memilih Pricilia.

Untuk masalah foto, itu hanya foto-foto lama mereka berdua, waktu masih berpacaran. Saat itu Pricilia meminta pada Liam untuk berpose dengannya karena dia ingin mengupload foto mereka ke sosial medianya. bisa di bilang itu merupakan foto lama mereka.

“udah gak marah lagi kan?” tanya Liam.

“iya.” jawab Levin.

“udah gak cemburu lagi kan?” tanya Liam.

“gak, ngapain cemburu.” jawab Levin.

“terus kenapa wajah kamu merah semua.” sambung Liam.

“AC mobil buat aku kedinginan.” ucap Levin.

Liam langsung memeluk dan mendekap tubuh Levin saat Levin memberitahukan kepadanya bahwa ia kedinginan. Levin kaget setengah mati, saat mendapatkan pelukan hangat dari Liam.

Wajah Levin merah itu di sebabkan, karena dia malu saat melihat tubuh Liam yang berotot itu. Levin tadi sempat membuka matanya sedikit untuk memastikan, apa benar Liam sudah memakai bajunya atau tidak, dan ternyata Liam sedang menggunakan baju miliknya.

“lepasin Liam, aku sesak napas.” ucap Levin.

“tunggu sebentar, biar kamu gak kedinginan Levin.” balas Liam.

Levin di buat salah tingkah, wajahnya bahkan lebih berkali-kali lipat merah. akibat pelukan hangat yang Liam berikan padanya.

Liam dan Levin sama-sama merasakan getaran aneh di dalam diri mereka, bukannya melepaskan pelukan.

Levin malah membalas pelukan itu, dia seperti merasa ada dorongan kuat. yang memerintahnya agar membalas pelukan itu.

Liam bahkan mengelus punggung Levin dengan lembut, Levin sendiri hanya membenamkan wajahnya pada dada bidang milik Liam. Levin menyukai aroma tubuh Liam.

“jangan diemin aku lagi, aku gak suka. mending kamu pukulin aku aja.” ucap Liam sambil memeluk Levin.

“maaf.” balas Levin.

“Levin.” ucap Liam.

“Apa.” balas Levin.

“jangan tinggalin Liam, Liam sayang sama Levin. jangan pergi ya.” sambung Liam.

“hmmm.” ucap Levin.

Liam tak menerima dengan jawaban yang keluar dari mulut Levin, Dia lalu melepaskan pelukan mereka.

Kemudian menggenggam pipi bulat milik Levin. Levin hanya menatap Liam, dia ingin protes karena merasakan sakit pada pipinya.

“kenapa hmmm, jawab ulang coba.” protes Liam.

“iwwwyah, akwus gag bakal nishggalins Liam.” ucap Levin.


Muachh 💋💋💋

Satu kecupan mendarat di wajah putih itu, Liam mendaratkan sebuah ciuman manis pada hidung merah milik Levin.

Liam gemas melihat wajah yang merah itu, apalagi di tambah dengan jawaban menggemaskan yang keluar dari mulut Levin.

“LIAM.” teriak Levin saat mendapat ciuman gemas dari Liam.

Liam lalu melepaskan kedua tangannya yang memegang pipi bulat kemerahan milik Levin.

“Maaf, aku gemas lihat wajah Levin yang lucu sama merah-merah itu.” ucap Liam.

Levin lalu memundurkan badannya, Liam yang masih sangat gemas. lalu mendaratkan sebuah ciuman pada pipi kanan milik Levin.

Liam lalu buru-buru menyalakan mesin mobilnya, dan mengantarkan Levin untuk kembali ke rumah.

Jantung Levin di buat seperti saat sedang menaiki roller coaster. Liam mungkin berpikir itu hal yang biasa saja, tapi tidak dengan Levin. Itu adalah hal pertama kali dia rasakan seumur hidupnya, setelah ciuman kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Selamat Liam telah berhasil merebut hati Levin yang sedang tidak karuan saat ini, Levin telah menyukai saudara angkatnya sendiri.

Liam pulang dengan hati yang senang dan gembira, karena telah berhasil menjelaskan kondisi yang sebenarnya terjadi semalam. Berbeda dengan Levin yang di buat pusing dengan perasaannya sendiri.