Chapter 47


Liam dan Levin pulang sekolah bersama sesuai dengan permintaan Liam pada Levin, sebenarnya tanpa di minta pun. Levin akan tetap pulang bersama dengan Liam.

Dalam perjalanan pun tidak seperti hari-hari biasanya, Liam orang yang terkesan dingin dan kaku itu kini berusaha, mulai membuka dirinya kepada saudara angkatnya itu.

Liam bernyanyi tanpa merasakan rasa malu di hadapan Levin, ia bahkan dengan percaya diri menyanyikan lagu kesukaannya yang berjudul I'm Yours dari salah satu penyanyi ternama yang ia gemari itu Jazon Mraz

Levin hanya memandangi Liam yang sedang asyik menyanyi sambil menyetir mobil mahal miliknya itu.

Liam seperti merasakan adanya kebebasan di dalam dirinya saat bernanyi, cara itu seperti menggambarkan kondisi isi hatinya melalui sebuah lagu.


Potongan lagu yang di nyanyikan Liam ;

Look into your heart and you'll find love Listen to the music of the moment people dance and sing We're just one big family And it's our godforsaken right to beloved loved loved~~~~

I've been spending way too long checking my tongue in the mirror And bending over backwards just to try to see it clearer But my breath fogged up the glass And so I drew a new face and I laughed I guess what I've been saying is there ain't no better reason To rid yourself of vanities and just go with the seasons It's what we aim to do Our name is our virtue


Liam menyanyikan lagu itu sambil memberikan senyuman terindah yang tidak pernah ia berikan kepada orang lain, selain kedua orang tuanya.

Levin terbius pesona yang Liam miliki saat ini, telinganya bahkan memberikan sinyal bahwa dirinya sedang tersipu malu, saat ia memandangi wajah tampan Liam yang penuh dengan senyuman itu.

Liam hanya asyik menyibukkan dirinya dengan menyanyikan semua lagu yang ia putar melalui salah satu handphone genggam miliknya.

Karena terlalu mendalami nyanyiannya, tanpa sadar Liam menggenggam tangan Levin. Tanpa memperhatikan wajah Levin yang sudah memerah itu.

Kini mereka sudah tiba di rumah, Liam langsung keluar dari mobil tanpa berbicara dengan Levin.

Liam pergi menuju ke kamarnya untuk istirahat. Hari ini begitu melelahkan baginya, selain menghadapi mantan kekasihnya yang menyebalkan itu, dia juga harus belajar seharian. Liam butuh tidur untuk kembali mengisi tenaganya kembali.

Lain halnya dengan Levin yang masih diam di dalam mobil, dia masih menatap kepergian Liam yang masuk ke dalam rumah, setelah sadar dia mengikuti Liam dan mulai masuk menuju ke kamarnya.

Ketika Levin berada di dalam kamarnya, ia hanya diam dan merenung kejadian seharian ini. Bagaimana sikap Liam yang berubah-ubah, sudah di bilang bukan Liam ini anak yang Moodyan.

Saat hatinya senang maka ia akan berbahagia seperti sedang jatuh cinta, saat hatinya kesal. Dia akan meluapkan seluruh amarahnya.

“dasar Liam aneh, kenapa juga kelakuannya seharian buat aku merinding. hiks! sudahlah lebih aku tidur saja, dari pada mengingat tingkah random dari Liam.” gumam Levin sambil menutup matanya.

Levin beristirahat tanpa mengganti baju seragam sekolah, sepertinya Levin juga sama dengan Liam yang merasa begitu kelelahan akibat beraktivitas seharian.


Suasana malam telah tiba, Levin telah memasakan makanan yang sesuai dengan janjinya pada Liam. Jika tidak, Liam akan mengekori dirinya sambil merengek meminta untuk di masakkan makanan.

Liam sendiri saat ini menunggu Levin membawa makanan di dalam kamarnya, karena ia malas untuk makan di ruang makan. Badannya terlalu malas untuk ia gerakkan.

Levin sudah membawa makanan masuk ke dalam kamar, tenanglah mereka tidak melakukan apapun. Hanya makan dan mengerjakan tugas dari guru.

“Liam, ini makanan kamu.” ucap Levin.

“Makasih.” balas Liam sambil tersenyum.

Liam bangkit dari tempat tidurnya, menuju ke meja belajar yang ada di dalam kamar, kamar Liam sangat luas dan besar serta memiliki fasilitas yang lengkap di dalam kamarnya.

Levin kemudian mendekati Liam, dan mulai menarik kursi agar ia bisa duduk. Levin membuka buku yang ada di atas meja, dan mulai mengerjakan tugas milik Liam.

Liam memakan masakan Levin dengan tenang tanpa mengganggu konsenstrasi Levin.

F24-B5-D53-65-CE-4299-871-B-7-B81-C8288-B0-E

Liam memakan sepiring nasi goreng seafood buatan Levin dengan sangat lahap, sambil memanatap lurus ke arah Levin. yang tengah sibuk membuatkan tugas yang guru berikan pada Liam.

Tugas yang diberikan guru adalah hitungan, bagaimana seorang Liam tidak menjadi rewel seharian. Liam benci dengan hitungan, makanya dia terus-terusan mengganggu saudara angkatnya itu seharian.

Liam melakukan dengan cara menggoda Levin, serta memberikan banyak emotikon pada setiap pesan yang dia kirimkan untuk Levin.

Tak terasa tugas itu telah selesai di kerjakan oleh Levin, kini Levin saat ini sedang tertidur di meja belajar milik Liam.

Lelah, satu kata yang bisa terlihat jelas saat memandangi wajah cantik Levin. Bagaimana banyaknya tenaga yang harus di keluarkan oleh Levin, untuk menyelesaikan beberapa macam soal dan cara penyelesaian agar bisa menemukan jawaban benar.

Liam yang sedang sibuk memainkan game di handphonenya, kini mulai sadar. Dia melihat dan memandangi Levin yang sedang tertidur lelap.

Liam kemudian mengangkat Levin yang memiliki ukuran tubuh sedikit lebih kecil darinya, dengan posisi brides maid lalu memindahkan ke kasur empuk miliknya.

Liam harus tau menunjukan cara membalas rasa terima kasih bukan. Setidaknya harus membalas jasa kebaikan yang Levin lakukan untuknya seharian.

Tak lupa Liam merapikan tempat tidur dan menutupi tubuh Levin dengan selimut tebal hangat miliknya.

“cantik.” gumam Liam tanpa sadar.

Liam lalu keluar membawa piring bekas makanannya ke dapur, walau ia sedikit mager bukan berarti dia harus melihat kamarnya kotor dan berantakan.

Dia sangat menyukai kebersihan kamarnya, maka tak heran jika ia meninggalkan Levin yang sedang tertidur nyenyak di dalam kamar pribadinya.