Chapter 39
Liam murka saat mendapatkan kabar informasi bahwa Pricilia dan kedua temannya yang menjadi dalang utama, ucapan jahat di BASE SEKOLAH milik mereka.
Liam bahkan tidak perduli dengan Theo dan Yoshi yang sejak tadi memanggilnya, sebelum dia keluar dari kelasnya.
Liam ingin bertemu dengan Pricilia, dia ingin mendengar langsung jawaban kekasihnya itu.
Kelas Pricilia saat ini sedang ribut, seluruh siswa-siswi di kelasnya nampak terlihat santai, dan bermain kesana-kemari.
Mereka sedang berbahagia, karena salah satu guru mereka yang sedang sakit itu. tidak bisa masuk mengisi jam mata pelajaran di kelas mereka.
Liam berdiri di depan pintu, sambil memandangi Pricilia, Tiara dan Nina. ketiga orang yang saat ini ingin ia temui.
“sayang, sini.” ucap Pricilia dengan semangat sambil melambaikan tangannya.
Semua anak-anak di dalam kelas kaget, dan mulai diam. Mereka tau saat ini penguasa sekolah sedang menemui kekasihnya.
“ciye yang udah baikan.” ucap Tiara sambil menggoda Pricilia.
“ciye ciyee, akhirnya. congrats Pric.” balas Nina.
“babe kamu ngapain kesini?” tanya Pricilia.
“sayang, kamu gak suka aku kesini.” jawab Liam.
“bukan gitu, aku kan malu. di samperin sama kamu di kelas.” sambung Pricilia.
Pricilia bangkit dari tempat duduknya dan mengandeng tangan pacarnya, Liam hanya melihat aksi dari Pricilia.
Liam sebenarnya ingin menanyakan langsung, tetapi ia sedang bingung bagaimana cara memulai aksinya itu.
“Aku minta maaf, beberapa hari kemarin aku kasar sama kamu. Aku udah egois sama kamu, maaf ya sayang. pasti tamparan aku yang di cafe waktu itu kuat banget.” ucap Liam.
“it's okay, babe. aku tau kamu gak mungkin bakalan jahatin aku. gara-gara si CACAT TULI bodoh itu.” balas Pricilia.
“Aku minta maaf sayang, aku nyesel banget udah jahatin kamu.” sambung Liam.
Liam memeluk Pricilia, ia harus bisa berakting senatural mungkin. Liam ingin menampar keras mulut Pricilia, saat ia mengeluarkan kalimat hinaan untuk Levin.
Pricilia tentunya membalas pelukan sang kekasih, dia bahkan sangat bersemangat saat ini.
“gakpapa sayang, bukan salah kamu. itu salah si TULI. nanti aku balas perbuatannya, kamu gak usah sedih gitu. aku bakalan bikin dia sengsara.” ucap Pricilia.
“bener kata Pricil, liam lu tenang aja. kita bakal bales perbuatan si TULI itu kok.” balas Tiara.
“hina dia di base belum seberapa, mending kita kerjain langsung.” timpal Nina.
Saat mendengar kalimat yang sedari tadi ia tunggu, emosi Liam benar-benar tidak bisa di kendalikan. Dia langsung mendorong keras tubuh Pricilia.
Untungnya Pricilia jatuh sambil terduduk di kursi, mereka semua kaget saat melihat sikap Liam.
“BANGSAT, SIALAN. JADI BENAR, KALIAN YANG MENGIRIMKAN UCAPAN SAMPAH ITU.” teriak Liam dengan nada tingginya.
“LIAM KAMU APA-APAAN SIH, KENAPA AKU DI DORONG.” balas Pricilia yang tak kalah heboh.
“PRICILIA, MULAI HARI INI KITA PUTUS. KAMU SAMA AKU UDAH GAK PUNYA HUBUNGAN APA-APA LAGI, DAN KALIAN SEMUA DENGERIN GUE. JIKA ADA YANG BERANI MENYENTUH LEVIN SEDIKIT SAJA, BAKALAN BERHADAPAN LANGSUNG SAMA GUE.” sambung Liam.
“babe, aku gak mau putus sama kamu sayang. jangan putusin aku yaa, aku janji gak bakalan gangguin dia lagi.” ucap Pricilia.
“gue gak perduli, lu mau nerima keputusan gue atau nggak.” balas Liam.
Anak-anak yang berada di dalam kelas, seketika di buat tercengang. Mereka baru pernah melihat Liam membela seseorang secara mati-matian.
“DAN BUAT LU BERDUA, JALANG GAK TAU DIRI. KALAU LU SEMUA INGIN SEKOLAH DENGAN AMAN DISINI, JANGAN BERANI GANGGUIN LEVIN ATAU KIRIMIN UCAPAN SAMPAH ITU.” ancaman kembali di ucapkan Liam pada Tiara dan Nina.
Tiara dan Nina tidak percaya, saat ini mereka berdua saling menggenggam tangan satu dan yang lain.
Mereka sangat ketakutan, mereka tau betul jika Liam sudah berkata seperti itu maka semua akan dia lakukan.
“kamu gak usah ancem sahabat aku dong.” protes Pricilia.
“kenapa? lu bertiga aja bisa jahatin Levin. kenapa gue gak boleh. lu siapa? ANJING.” balas Liam dengan nada sarkasnya.
“ak- aku.” sambung Pricilia dengan terbata-bata.
Liam geram, dia menendang kuris dan meja kosong di depan Pricilia, Tiara dan Nina. Liam bahkan membanting beberapa barang yang ada di hadapan mereka.
Pricilia, Tiara dan Nina mereka semua ketakutan, Liam tidak pandang bulu dalam mengeluarkan emosinya.
Walau itu perempuan sekalipun, bagi Liam siapa yang mengusik kehidupannya itu artinya mencari masalah dengan dirinya.
“INI PERINGATAN TERAKHIR UNTUK LU BERTIGA, KALAU LU SEMUA MASIH BERANI GANGGUIN LEVIN. PERUSAHAAN ORANG TUA KALIAN GUE BIKIN BANGKRUT DALAM HITUNGAN JAM. BIAR LU BERTIGA MELARAT DAN JADI GEMBEL.” ucap Liam yang sedang memberikan ancaman.
Liam langsung berjalan meninggalkan ruang kelas Pricilia dengan penuh emosi. Dia bahkan membanting pintu kelas itu dengan sangat kuat.
Liam tidak tau kenapa bisa dia melakukan hal gila semacam itu, ada rasa sakit di dalam hatinya saat mendengar orang-orang mengejek dan mengatai buruk tentang Levin. Hatinya tidak menerima perbuatan buruk orang lain.
Liam pergi dan menenangkan dirinya di rooftop milik sekolah, ia lebih memilih disitu dari pada harus melihat orang lain. Karena saat ini emosinya sedang meluap-luap.
