Chapter 30
Di Cafe Neo saat ini Alexi, Wiley, Levin, Theo dan Yoshi sudah berkumpul. Theo dan Yoshi hanya mengikuti kekasih mereka untuk mengerjakan tugas, bukan tanpa alasan.
Theo sangat protective dengan sang kekasih, akibat dari Alexi yang hampir pernah celaka itu. Yoshi tentunya melakukan hal yang sama, dia sengaja selalu mengikuti pacarnya agar bisa melindungi orang yang ia cintai itu.
Karena Alexi dan Wiley sahabat bagai kepompong yang selalu menghabiskan waktu bersama.
Kalau bukan karena Wiley yang memberitahu kejadian Alexi yang hampir di goda itu. Mungkin saat ini mereka semua sedang tidak bersama.
Alexi, Wiley, Levin, Theo dan Yoshi mereka semua duduk di satu meja besar di ujung pojok, kenapa mereka memilih di bagian situ.
Agar mereka bisa bekerja dengan tenang, tanpa perlu khawatir dengan tatapan pengunjung serta penggemar mereka.
Alexi, Wiley, Theo dan Yoshi memiliki banyak penggemar, banyak yang menyukai mereka.
Bahkan jarang orang membenci mereka, mereka tidak bisa di benci. karena mereka memiliki kehidupan dan wajah yang sempurna. Banyak orang yang menginginkan agar bisa berada di posisi mereka.
Alexi, Wiley dan Levin mereka sangat serius mengerjakan tugas mereka, tanpa memikirkan Theo dan Yoshi yang saat ini sedang sibuk memandangi ketiga orang tersebut.
Theo dan Yoshi seperti orang tolol, maklum mereka tidak pernah mengerjakan tugas yang diberikan guru selama ini.
Mereka dengan Liam lebih memilih menggunakan joki agar tugas mereka selesai dengan sempurna tanpa ada kesalahan.
“eh, cari dulu ini jurnalnya, baru kita gabungin sama pembahasan yang ini.” ucap Alexi sambil menunjuk Laptop yang berada di hadapan Levin.
“ih, ini nyambung gak sih, sama pembahasan kita, coba kalian lihat ini dulu.” balas Wiley sambil menyodorkan laptop miliknya pada Levin dan Alexi.
“Bagian atasnya nyambung, tapi bagian bawahnya. gak deh.” ucap Levin.
“Aku cari ulang deh.” balas Wiley.
“semangat Wil.” sambung Alexi
Saat ini mereka bertiga sedang berkutat dengan salah satu mata pelajaran yang mereka pelajari. Biologi, mungkin terdengar mudah bagi sebagian orang.
Tetapi tugas yang diberikan dari guru pengampuh mata pelajaran tersebut, kepada mereka yaitu membuat sebuah Mind Mapping tentang sistem reproduksi manusia. Dan harus berdasarkan sumber yang relevan, guru tersebut tidak ingin mereka asal-asalan saja membuatnya.
Alexi dan Wiley benar-benar di buat frustasi oleh sang guru. Selain karena guru mereka terkenal dengan galak, ia juga tidak akan segan-segan menyuruh mereka mengulangi pembuatan tugas. Apabila tugas itu tidak sesuai dengan keingannya.
Guru mereka sebenarnya bukan galak, tetapi sangat disiplin. ia sungguh tak pandang bulu dalam memberikan sanksi sekalipun itu anak pemilik sekolah.
Liam contohnya, anak pemilik yayasan sekolah yang mereka tempati saat ini.
Liam di hukum karena pernah kedapatan menyuruh orang lain untuk membuat tugasnya, di saat sang guru sudah masuk ke dalam kelas. Dan yang membantu Liam berteriak memanggilnya dengan keras bahwa tugas yang ia kerjakan telah selesai.
Liam di buat pusing oleh anak itu, sang guru memberikan hukuman yang lebih berat, dimana dia harus menjelaskan seluruh materi yang sudah sang guru ajarkan kepada mereka.
Beruntung Liam terberkati dari gen cerdas milik sang ibu, jadi dia tidak perlu takut untuk menjelaskan semua itu kembali.
Hanya membutuhkan waktu tiga hari saja untuk mempelajari kembali dan ia mampu menjelaskan bahkan lebih sempurna dari sang guru.
Setelah menghabiskan beberapa jam untuk menyelasaikan tugas mereka, akhirnya tugas itu selesai juga.
Berkat kekompakkan mereka dalam mengerjakan tugas, mereka dengan cepat bisa menyelesaikan tugas itu.
“akhirnya selesai juga.” ucap Alexi yang kemudian menyadarkan tubuhnya pada meja.
“duh kasihan, pacar aku sini aku pijitin.” balas Theo sambil memijat punggung Alexi.
“sumpah mau nangis aja aku, badan aku. jari aku, semuanya mau rontok.” sambung Wiley.
“ududu, kacian pacar aku, sini sini aku kasih hadiah pelukan.” ucap Yoshi yang kemudian memeluk Wiley.
Levin hanya bisa menatap ke empat orang tersebut, yang sedang bermesraan di hadapannya. Dia menyaksikan secara langsung kemesraan yang Alexi, Theo, Yoshi dan Wiley lakukan.
Buluk kuduk Levin hanya bisa berdiri, melihat keromantisan sahabat-sahabatnya itu bersama dengan kekasih mereka. Levin agak sedikit menyesal, karena sudah mengijinkan pacar mereka untuk ikut bersama.
Bukan karena dia cemburu atau iri, keintiman mereka membuatnya sedikit kurang nyaman, bagaimana tidak.
Theo tak segan-segan memberikan ciuman pada seluruh wajah kekasihnya itu, sedangkan Yoshi memeluk dan mengendus-ngendus aroma tubuh pacarnya.
Levin akhirnya memutuskan untuk mengecheck kembali tugas mereka, dari pada harus melihat mereka semua bermesraan.
Seseorang tiba-tiba masuk, dan duduk di samping bangku kosong sebelah Levin. Orang itu adalah Liam.
Liam datang bukan tanpa ada maksud tujuan, dia sengaja kesini agar bisa menjemput dan menemani Levin.
Dia sudah tau kelakuan dua sahabatnya itu, jika bersama dengan kekasih mereka. Mereka bisa suka lupa diri.
brakkk
Bunyi gebrakan meja sengaja Liam buat, agar Theo dan Yoshi berhenti melakukan aksi gila mereka.
“setan, gue kaget bangsat.” ucap Yoshi dengan ketus.
“makanya, jangan mesra-mesraan disini dong. ini kan tempat umum.” balas Liam.
“lagian ngapain lu disini, gue pikir udah balik ke rumah lu.” sambung Theo.
“suka-suka gue dong, mau jalan kemana aja.” ucap Liam.
“siki-siki giyi ding, miyi jilin kimini aja. alah ngeles aja lu kek bajai, bilang aja mau ketemu sama Levin.” balas Yoshi.
“yah, Levin mau balik ke rumah yaa.” ucap Wiley dengan nada sedihnya.
“iya nih, pasti mau lanjut kerja di rumah Liam kan.” balas Alexi dengan nada suara yang tak kalah sedih.
“Aku balik duluan, semuanya.” ucap Levin sambil merapikan barang bawaannya.
“mau ngapain, emang lu gak pengen ngumpul bareng sama sahabat lu.” timpal Liam sambil menahan tangan Levin yang sedang sibuk mengemasi barang-barang miliknya.
“duh ileh, yang katanya babu. tapi diam-diam repot samperin kesini.” ledek Theo sambil menatap Yoshi.
“sape tuh Theo.” sambung Yoshi yang tak kalah meledek.
“lu berdua jangan ampe gue tabok sama buku-buku ini ya.” ucap Liam dengan nada kesalnya.
“udah jangan pada berantem.” balas Levin yang memisahkan pertikaian antar sahabat itu.
“tau tu, suka banget saling ganggu.” sambung Wiley.
Liam, Theo dan Yoshi tunduk mendegar perintah mereka berdua, seperti terhipnotis oleh aura mereka.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menambah pesanan makan dan minuman mereka, karena saat ini Liam sudah ikut bergabung dengan mereka.
Makanan dan Minuman sudah tersedia di atas meja, banyaknya pesanan itu. membuat mereka harus terpaksa menghabiskan pesanan mereka semua. Mereka makan sambio mengobrol satu sama lain.
“Eh, Liam gue mau tanya?” tanya Alexi.
“tanya apaan.” jawab Liam.
“udah berapa lama Levin kerja di rumah lu.” ucap Alexi.
“eh iya bener, gue jadi penasaran. jawab dong Liam.” sambung Wiley.
Liam kemudian menatap mereka semua dan setelah itu juga menatap Levin.
“siapa bilang dia pembantu gue?” ucap Liam.
“HAH” teriakan serempak dari mereka berempat.
“gak usah kaget, dia ini sodara gue. Awas aja ada yang cepuin identitasnya, gue sambit lu semua pake kolor supreme gue.” ucap Liam sambil merangkul punggung Levin.
Levin yang sedang meminum minumannya, tersedak akibat mendengar ucapan dari Liam. Liam dalam sekejap bisa berubah-ubah sifatnya.
“Levin, minumnya yang bener. kesedak kan lu.” ucap Liam sambil menepuk pelan-pelan punggung Levin.
“WAH SETAN, JADI LU BOHONGIN KITA BERDUA YA.”_ balas Yoshi dengan nada suara yang tak terima.
“JAHAT LU SAMA SODARA SENDIRI.” sambung Theo.
Pletaakkk
Bunyi kepala terdengar jelas, bunyi itu berasal dari Alexi. Dia geram dengan perbuatan Liam terhadap sahabatnya.
Alexi tidak habis pikir, bagaimana Liam bisa tega menyuruh Levin untuk mengatakan pada mereka, kalau Levin itu pembantu yang bekerja di rumahnya.
Liam pasrah, dia juga tidak bisa membalas perbuatan Alexi. Dia hanya menerima pukulan keras yang mendarat di kepalanya itu.
“Aww, sakit kelapa gue Alexi.” protes Liam sambil memegangi kepalanya.
“Lexi, sakit loh itu.” ucap Levin sambil melihat kepala Liam yang kena hantaman Alexi itu.
“Biarin aja Levin, makanya jadi orang jangan ngeselin.” balas Alexi.
“Vin lihat, teman kamu itu jahat loh. masa dia mukulin saudara kamu. Marahin Levin.” sambung Liam yang sedang mencoba meminta pertolongan itu.
“badan doang gede, kena pukulan dikit. langsung loyo.” ejek Yoshi.
“eh setan, coba sini lu rasain pukulan uke modelan Alexi.” ucap Liam.
“berantem aja terus, itu di luar ada lapangan sekalian gelut kalian berdua.” balas Wiley.
“adudu, pinternya pacar Theo. udah bisa mukulin orang ya, gak sia-sia belajar bela diri sama aku.” ucap Theo yang merasa bangga melihat kekasihnya itu memukul sahabatnya.
“emang sinting lu berdua, cocok kalau pacaran.” balas Liam yang masih sakit hati.
Alexi kini kembali duduk di samping kekasihnya, Yoshi dan Wiley menyaksikan Liam yang masih berusaha mengadu pada Levin.
Levin pusing dengan tingkah aneh Liam, kadang rewel, kadang manja, kadang ucapannya jahat. Moodnya Liam suka berubah-ubah tergantung siatuasi yang dia rasakan, seperti saat ini.
Levin hanya bisa meniup-niup kepala Liam, agar dia berhenti mengeluh. Kepalanya pusing melihat tingkah laku mereka semua seharian.
Liam sendiri menyandarkan kepalanya pada pundak Levin, dia masih berusaha agar Levin membalas perbuatan Alexi padanya.
Theo dan Yoshi hanya bisa tertawa melihat tingkah bodoh sahabatnya itu, mereka memang dari awal tidak pernah percaya dengan ucapan Liam. Seperti sekarang, Liam bahkan tidak malu menampakan setengah wujudnya pada mereka semua.
Sebenarnya Liam tidak sadar dengan perbuatannya pada Levin, jika ia sadar dengan dirinya saat ini. mungkin Liam akan menyumpahi dirinya sendiri.
Kesibukan mereka terganggu, saat seseorang datang dengan sengaja menumpahkan minum ke kepalanya Levin.
Minuman itu membahasi baju milik Levin, Liam yang juga merasakan basah itu kemudian bangkit dan menampar Pricilia. Kekasihnya itu.
Plaakkkkk
Bunyi tamparan itu terdengar jelas, bahkan semua teman-teman mereka dan beberapa pengujung kaget melihat insiden yang sedang terjadi.
“Liam, kamu apa-apaan sih nampar aku. Demi si TULI ini.” ucap Pricilia dengan nada sarkasnya.
“BODOH, KAU TIDAK LIHAT PERBUATANMU ITU. AKU JUGA KENA MINUMANNYA BRENGSEK.” balas Liam dengan nada tinggi.
“Tap-tapi aku.” sambung Pricilia
“DASAR PEMBAWA SIAL.” ucap Liam.
Liam lalu membawa Levin pulang ke rumah, sungguh dia sangat geram dengan perbuatan Pricilia. Dia harus segera kembali ke rumahnya, agar bisa mendinginkan pikirannya.
Liam benar-benar kesal saat ini, jika Pricilia bukan seorang wanita. Mungkin pukulan detik ini juga akan dia rasakan.
Theo, Alexi, Wiley dan Yoshi di tinggal begitu saja. Tanpa ada ucapan, mereka tau betul. Jika Liam sedang marah, jangan ada yang mencoba mendekatinya atau bahkan berbicara dengannya.
Di dalam mobil pun, Levin hanya diam saja. Dia sangat takut melihat Liam saat ini, sudah di bilang kan suasana hati Liam mudah berubah-ubah.
Sebelum kembali ke rumah, Liam memakaikan jaket miliknya pada Levin agar menutupi bajunya yang kotor itu. Jika tidak, Rebecca dan Vincent akan mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai ke rumah.
