Chapter 23
Liam melajukan mobilnya untuk segera menjemput Levin yang masih berada di wilayah sekolah mereka.
Levin sedang menanti kedatangan Liam, dia agak sedikit kesal dan takut pada Liam. Karena sejak kedatangannya ke rumah Liam, dia benar-benar menampakkan raut wajah yang tak suka pada Levin.
“Hmmm... kenapa ya Liam itu masih gak suka sama kehadiran aku.” gumam Levin.
Saat ini Levin sedang menunggu Liam di sebuah minimarket yang buka 1x24 jam. Levin sedang duduk sambil termenung, ia sedang berpikir bagaimana cara agar saudara angkatnya itu menyukai dirinya.
Levin tidak akan pernah merasa nyaman berada di dalam rumah, jika masih ada salah satu anggota yang tidak menyukai kehadirannya.
Mobil putih sport dengan edisi pengeluaran terbatas, sudah terparkir di depan mini market tersebut. Liam segera turun menghampiri Levin yang sedang termenung itu.
Liam langsung duduk di hadapan Levin dan mengambil sebotol minuman yang berada di hadapannya itu.
Dan langsung meminumnya, tanpa bertanya terlebih dahulu. Minuman itu bekas Levin, ia tidak meminum habis minumannya.
glekk glekkk gleekk
“aahh, gila haus banget gue.” ucap Liam sambil membersihkan mulutnya.
“Liam, minumannya kok di minum?” tanya Levin.
“kenapa, gak suka? gue gak nyangka ya, selain budeg lu juga pelit.” jawab Liam dengan ketus.
“Kamu ngomong apa Liam.” balas Levin
“hadeh, gimana mau denger. Alatnya aja di lepas begitu.” sambung Liam.
Sejak tadi Levin memang melepas Hearing aids yang ia gunakan, telinganya kadang merasakan sakit jika menggunakan itu terlalu lama.
Dia juga lebih senang melepaskan alat itu, agar tidak mendengar mulut jahat orang-orang kepadanya. Levin terkadang bersyukur dengan kondisi yang ia miliki, di saat tertentu, kekuarangannya itu bisa membantunya.
Liam yang sudah lelah berdebat itupun, mengambil Hearing Aids di tangan Levin. Liam lalu memasangkan pada kedua telinga Levin. Levin hanya melihat sikap mendadak dari perbuatan Liam kepadanya itu.
“udah denger kan? sekarang kita pulang ke rumah. Papa sama Mama udah nungguin kita dari tadi.” ucap Liam.
Levin hanya diam, dia masih bingung melihat sikap Liam saat ini. Levin juga sebenarnya masih mendengar samar-samar ucapan Liam, karena baru menggunakan alat bantunya kembali.
Liam lebih memilih menarik tangan Levin dari pada mengajaknya berdebat, jika berdebat dengan Levin hanya emosi saja yang ingin ia keluarkan dari mulutnya.
Liam menggenggam tangan Levin dengan erat, Levin hanya mengikuti Liam dari belakang. Aura yang dimiliki oleh Liam bisa membuat siapa saja takut, dan juga bertekuk lutut saat berhadapan dengannya.
Pintu mobil terbuka, Liam membuka pintu bagian depan agar Levin bisa masuk ke dalam mobil.
Setelah itu Liam menutup kembali pintu mobilnya dan juga segera masuk ke dalam mobilnya.
Levin bingung cara menggunakan sabuk pengaman milik mobil Liam. Liam yang sedang memperhatikannya itu dengan seksama sedikit kesal melihatnya.
“kalau gak tau cara pakainya, tinggal minta tolong. itu lu masih punya mulut kan? ngomong aja susah.” ucap Liam.
“Maaf, aku gak tau caranya.” balas Levin sambil menundukan kepalanya.
Liam kemudian memajukan dirinya, agar bisa membantu memasangkan seat bealt untuk Levin. Liam sibuk memasangkan sabuk pengaman, sedangkan Levin hanya diam dan memperhatikannya.
Setelah selesai memasang seat bealt untuk Levin, Liam kemudian memandangi wajah Levin.
Kini mereka saling beradu pandangan dengan jarak yang bisa di bilang cukup intim. Tinggal sedikit lagi, dan bisa di tebak bunyi suara apa yang akan kalian dengarkan.
Liam masih menatap wajah milik Levin itu dengan serius, Levin takut dengan cara pandangan Liam. Liam yang melihat ekspresi wajah takut Levin itu, kemudian tersenyum sedikit. Liam kemudian mengusap kepala Levin, karena ada kotoran yang jatuh tepat di kepala Levin.
Levin seperti kehabisan nafas, ia masih kaget dan matanya masih menatap dengan serius perbuatan Liam padanya.
“pantesan, Papa sama Mama pengen kamu sekolah disini. lihat ngurus diri sendiri aja gak bisa.” ucap Liam.
Setelah mengatakan itu, Liam kemudian kembali ke posisinya dan menyalakan mobil miliknya. agar mereka segera pulang ke rumah.
[Rumah Kediaman Vincent]
Mereka sudah tiba dengan selamat di rumah, Liam dan Levin langsung masuk ke dalam rumah.
Mobil mereka biarkan begitu saja, karena ada supir yang akan memakirkan mobil milik Liam.
Sepasang suami istri sedang gelisah menunggu kedatangan dua anak kesayangan mereka itu, bukan tanpa alasan mereka tidak khawatir.
Liam dan Levin pulang ke rumah sudah terlalu larut, bahkan sang Ibunda Rebecca dari sore hari seperti orang kebingungan.
Rebecca khawatir karena Levin tidak menjawab telphonenya dan juga tak membalas pesan singkatnya.
Makanya dia sangat cemas, mengingat kondisi Levin juga tidak sama dengan orang normal lainnya.
“Pap, Mam.” teriak Liam
Liam dan Levin berjalan memasuki ruang keluarga mereka. Rebecca lalu berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat ke kedua anaknya.
Rebecca mendekat ke arah Levin dahulu, dan memeluk Levin. Dia benar-benar khawatir sejak dari siang tadi, pikirannya selalu mengingat tentang kondisi Levin.
“kamu gakpapa nak, sayang kamu baik-baik aja kan. Kamu beneran sama Liam ke Mall nak?” ucap Rebecca dengan nada khawatirnya sambil memegang kedua pipi bulat milik Levin.
“Mam Lev bwaik bwaik aja.” balas Levin yang sedikit kesulitan berbicara itu.
“Sayang, lepasin dulu Levinnya, lihat dia susah jawab pertanyaan kamu.” sambung Vincent.
“Maaf ya Nak, habisnya Mama panik. kamu gak jawab chat Mama sama angkat telphone Mama.” ucap Rebecca.
“sorry Mama, tadi hp aku mati.” balas Levin.
“kenapa bisa mati sayang, hp kamu rusak. besok Mama kasih yang baru ya.” ucap Rebecca.
“Aduh Mam, bukan mati karena rusak. Mati karena kehabisan batrei.” timpal levin yang mencoba membatasi pertanyaan Mamanya itu.
“Aduh, Mama udah panik duluan. lagian kamu juga Liam. kenapa gak hubungin Mama atau Papa, kasih tau kalau kalian berdua main di Mall.” ucap Rebecca.
Levin kaget mendengar pernyataan Rebecca, bagaimana bisa Liam berbohong kepada kedua orang tuanya.
Jelas-jelas Liam pergi meninggalkannya sendirian di sekolah, kenapa bisa dia berkata bahwa pergi main bersama seharian.
“Liam, kamu gak bohong kan sama Papa dan Mama. kalian berdua beneran ke Mall kan?” ucap Vincent yang masih curiga.
“iya Papa, tanya aja Levin kalau gak percaya.” sambung Liam m, yang kemudian mendekat ke arah Levin dan merangkul bahunya.
“iya Papa, Aku sama Liam seharian main di Mall. Liam nemenin aku cari buku tambahan buat belajar, terus juga tadi kita keliling Mall. Kita pulang telat, karena aku sempat kesasar bentar di Mall Mama. terus handphone aku kan Lowbet, makanya aku sama Liam saling cari gitu di dalam Mall. Untungnya ketemu deh, kalau gak aku bisa tidur di Mall.” ucap Levin dengan lancar.
Liam terpesona dengan jawaban yang keluar dari mulut Levin, Dia bahkan lupa memberitahukan rencananya. Tapi Levin pandai membaca situasi yang terjadi di rumahnya.
“kalau gitu sekarang kalian berdua ke kamar masing-masing. terus bersih-bersih, selesai itu langsung tidur yaa.” sambung Rebecca.
“iya Ma, kita ke kamar dulu.” ucap Liam.
“buruan, kalian pasti capek.” sambung Vincent.
Liam yang masih merangkul tubuh Levin itu, kemudian berjalan menarik Levin dengan posisi yang masih sama menuju ke kamar masing-masing.
Levin hanya diam dan berpura-pura bahwa mereka sedang bersama seharian. Di dalam isi kepalanya, ia benar-benar ingin menghajar Liam. Tapi dia menepis itu semua dengan cepat, karena Liam yang sudah bersedia menjemputnya di sekolah.
