Chapter 207


Levin panik saat mendapatkan kabar tentang Liam yang kini sedang sakit, Levin dengan cepat mengisi beberapa barang penting miliknya ke dalam Tas.

Taksi yang sudah dia pesan, telah tiba di halaman rumah Kelvin. Levin bahkan lupa agar memberitahukan kepada Kelvin, bahwa dirinya harus segera kembali ke rumah.

Di dalam Taksi Levin hanya bisa memikirkan tentang kondisi Liam, dia mengingat kembali kejadian saat pertemuan mereka kemarin.

Ungkapan cinta dari Liam dan juga sekaligus rasa penyesalan membuat dirinya tanpa sadar meneteskan sedikit air mata.

Levin masih masih mencoba untuk memikirkan kondisi keadaan Liam, meski Liam sering menyakitinya dengan beberapa ucapan jahat.

Tanpa sadar, taksi yang ia gunakan kini telah tiba di halaman rumah mereka. dengan cepat Levin segera turun dan dia tidak lupa untuk membayar taksi tersebut.

Kenapa Levin tidak meminta bantuan Kelvin saja untuk mengantarkannya ke rumah, kenapa harus taksi?. Levin tidak suka merepotkan orang lain demi kepentingan urusannya.

Menurut Levin selagi dia mampu untuk melakukannya sendiri, maka akan Levin lakukan.

Bagaimana dengan supir pribadi yang dia miliki?. untuk ke rumah Kelvin memerlukan waktu, Levin tidak bisa menunggu lama. Dia harus melihat kondisi keadaan Liam.


Butler Vector atau Kepala Pelayan Vector adalah orang yang telah lama mengabdikan dirinya kepada Keluarga Vincent dan Rebecca.

Vector mengabdi kepada keluarga Anderson, selama puluhan tahun lamanya.

Vector tidak memiliki sanak keluarga, makanya dia lebih memilih untuk bersama dengan keluarga Liam.

Anderson adalah nama Kakek dari Liam. Ayah dari Vincent, mereka jarang sekali menggunakan nama Anderson pada belakang nama mereka. Kecuali ada hal-hal penting atau hal yang mendesak saja.

Anderson atau Kakek Liam ini dulunya begitu terkenal, dia begitu disegani dan dicintai oleh seluruh masyarakat. Terutama masyarakat dari kalangan bawah.

Anderson terkenal karena memiliki kepribadian yang sangat baik dan dermawan, dirinya lebih senang membantu orang dari kalangan bawah dari pada kalangan atas.

Makanya tidak heran, jika orang-orang dari kalangan atas, ada yang membenci Anderson, itu karena mereka tak mendapatkan bantuan pertolongan darinya.

Menurut Anderson orang-orang dari kalangan atas masih mampu untuk mengatasi masalah mereka.

Mereka itu masih memiliki koneksi, yang bisa menyelesaikan persoalan mereka. Berbeda halnya dengan orang-orang dari kalangan bawah.

Anderson melakukan itu semua, karena dulu dirinya ketika masih anak-anak, hidupnya sangat susah.

Untuk makan pun Anderson harus membanting tulang, mengerjakan berbagai macam pekerjaan. asal dirinya bisa menghasilkan uang.

Supaya bisa membeli makan dirinya dan keluarganya. Anderson kecil ini sangat pekerja keras, makanya dia bisa bekehidupan lebih baik saat menjelang kedewasaan.


Levin berlari menuju ke kamar tidur Liam, dia bahkan mengabaikan beberapa sapaan dari para Maid yang sedang bertugas.

Levin membuka pintu kamar Liam dengan nafas yang tersengal.

“Liam.” ucap Levin.

Butler Vector dan Dokter kaget saat melihat kedatangan Levin, Vector memberikan isyarat kepada Dokter yang telah selesai memeriksa Liam untuk pergi dari kamar.

Dokter lalu pergi, sedangkan Levin berjalan mendekat ke arah mereka.

“Paman Vector, apa yang terjadi padanya?” ucap Levin dengan tatapan wajah sendu.

“Tuan Muda Liam jatuh sakit, semalam saat kepulangannya dari Club dia terus-terusan menjerit.” jawab Vector.

“Jadi semalam dia mabuk.” ucap Levin.

“iya Tuan Levin.” balas Vector.

“Apa kata dokter, apa Liam baik-baik saja Paman Vector?.” sambung Levin yang masih merasa khawatir.

“Kondisinya buruk, dia harus meminum obat yang dosisnya lebih dari biasanya.” timpal Vecktor.

“Jadi selama ini dia sakit?.” tanya Levin.

“iya Tuan Levin, hanya saja. sakitnya ini sudah lama tidak kambuh, saya jadi bingung, kenapa bisa penyakitnya kembali lagi. Apa anda tau sesuatu Tuan Levin.” jawab Vector.

“Aku gak tau Paman, seharusnya Paman Vector yang lebih mengerti. bukankah kalian sangat dekat selama ini.” ucap Levin.

“Apa dia melakukan sesuatu Tuan Levin?” tanya Vector.

“Aku gak tau.” jawab Levin.


Levin bersedih saat melihat kondisi Liam yang sedang terbaring lemah. Hatinya sakit, saat melihat kondisi Liam sekarang.

Levin berjalan mendekati Liam yang sedang terbaring sambil tertidur itu, Levin menatap Liam dengan tatapan sendu dan wajah sedih.

“Kau kenapa Liam, ada apa denganmu. kenapa bisa jadi seperti ini.” gumam Levin di dalam hati.

Liam memang tertidur, tetapi wajahnya peluh dengan keringat yang bercucuran, nampak kegelisahan tergambar jelas di raut mukanya.

“Liam, kamu kenapa Liam? kenapa bisa kek gini.” ucap Levin.

Sebelum Levin tiba, dokter tadi telah memberikan suntikan obat penenang, karena obat minumnya tidak bisa berfungsi dengan baik.

Levin mengusap keringat yang berada di pelipis Liam, raut wajah cemas dan sedih Levin bisa terlihat.

“Liam, apa karena Aku. kamu jadi begini.” ucap Levin.

Tak ada jawaban yang menemani pembicaraan itu, Liam masih dengan kondisi yang sama.

A1-BA9104-4163-4978-9-A7-E-2627-B69-D7933

Levin mengenggam tangan Liam lalu mengusap secara lembut.

“Aku maafin semua kesalahan kamu Liam, tapi kamu harus cepat sembuh. Aku gak suka lihat kamu kek gini.” ucap Levin.

Sentuhan itu bagaikan obat, Liam yang sedari tadi gelisah. kini mulai tenang. wajahnya kini kembali damai.

“Liam, aku disini. ayo cepat sembuh, aku yakin kamu bisa sembuh Liam. kamu anak yang kuat. ayo Liam.” ucap Levin.


Levin hanya bisa memberikan ucapan ketenangan untuk Liam, agar kondisinya cepat membaik. Levin ingat pesan dari Rebecca bahwa saat Liam sakit harus ada seseorang yang menemaninya.

Levin tertidur di samping Liam, dengan posisi duduk di kursi dan kepalanya yang berbaring di tempat tidur.

Levin memilih untuk tetap stay di dalam kamar Liam, dia bahkan melewati jam makan siang hanya untuk bisa melihat Liam sadar kembali.

Walau mereka bertengkar, Levin masih memperdulikan Liam, dia masih selalu memikirkan keadaan Liam secara diam-diam.

Terkadang Levin penasaran apa yang di lakukan Liam saat tidak bersama dengan dirinya.