Chapter 2
Hari ini adalah hari Weekend waktu dimana orang-orang bisa beristirahat sejenak, sambil melepaskan segala kepenatan yang mereka lalui dalam beberapa hari kemarin.
Sama halnya dengan seorang anak laki-laki yang memiliki ukuran tubuh yang tinggi serta badan proporsional dan memiliki wajah yang tampan.
Dialah Liam anak tunggal laki-laki dari Viccent dan Rebecca, Putra kesayangan sekaligus penerus dari VR Company.
Karena Liam anak satu-satunya dalam keluarga, makanya dia sangat di manja oleh kedua orang tuanya. Apapun akan mereka berikan dan lakukan, asal sang anak kesayangan mereka itu bisa merasa bahagia.
Liam saat ini sedang menunggu kedatangan kedua orang tuanya di rumah kediaman milik mereka.
Rumah bernuasa modern dengan halaman yang luas serta memiliki fasilitas yang lengkap bisa membuat siapa saja yang datang kesana berdecak kagum.
Bisa di tebak, bahwa Liam termasuk dari kalangan golongan atas. Apapun bisa dengan mudah ia dapatkan, jika dia mau.
[Ruang Keluarga]
Liam saat ini sedang berada di Ruang Keluarga, ruangan itu di buat khusus untuk mereka. Dan hanya orang-orang yang mereka kenal dekat saja, yang boleh bergabung di ruangan itu.
Mereka memiliki banyak ruangan di rumah, tetapi entah kenapa Ibunya Liam yaitu Rebecca lebih memilih salah satu ruangan yang mereka miliki itu. Sebagai tempat untuk mereka gunakan, agar bisa berbincang dan berbagi aktifitas keseharian mereka.
“Tuan muda, ini minuman anda.” ucap salah satu Maid yang sedang bertugas.
Liam kemudian mengambil segelas jus buah peach itu, dan meminumnya. Liam sangat suka dengan buah peach, setiap hari ia akan meminta pelayan untuk membuatkan segelas jus buah peach untuknya. Selain buah peach ia juga sangat suka dengan kopi.
Liam sedang berbaring santai di sofa yang besar dan empuk, ia memainkan handphone genggam miliknya. sambil melihat-lihat isi social media yang dia miliki.
Entah sudah berapa lama ia memainkan handphonenya itu, kini rasa ngantuk mulai menghampirinya.
Akhirnya Liam tertidur sambil menunggu kedatangan kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Liam baru tiba saat suasana menjelang sore hari, mereka sengaja mengambil keberangkatan siang hari, agar bisa istirahat lebih lama. Sebelum mereka menaiki pesawat dan kembali ke rumah.
Tiba di rumah, seluruh pelayan yang melihat kedatangan sang pemilik rumah langsung menyambut mereka, dengan senyuman dan juga ucapan selamat datang.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya.” ucap serempak para Maid yang berbaris di depan pintu, sambil memberikan hormat dengan membungkukan setengah badan.
Vincent dan Rebecca hanya tersenyum kepada mereka, sebagai ungkapan balasan sambutan dari para Maid mereka.
Para Maid yang sudah mengerti dengan tugas masing-masing kemudian bergerak, mengambil barang-barang yang dibawa oleh Vincent dan Rebecca.
Ada Maid yang juga bertugas menyiapkan makan malam untuk mereka semua, saat masuk ke dalam rumah.
Salah satu Maid menyampaikan kepada mereka, bahwa Tuan Muda Liam saat ini sedang tertidur menunggu kedatangan mereka.
Vincent dan Rebecca membiarkan Liam untuk tidur terlebih dahulu, dan mereka bergegas untuk membersihkan diri mereka. Sebelum bertemu dengan sang putra tercinta.
[Ruang Keluarga]
Vincent dan Rebecca sedang berdiri menatap bayi besar mereka yang sedang tertidur nyenyak itu. Liam saat ini masih tidur lelap, entah apa yang sudah ia lakukan sepanjang hari.
Tidurnya benar-benar nyenyak saat ini, bahkan tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
“lihat anak ini, apa dia sedang simulasi mati.” ucap Vincent.
Pletaakkkk
Bunyi jitakan terdengar jelas di ruangan itu, Rebecca memukul kepala suaminya. akibat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Vincent.
“Aww, sssh... Mam sakit, kok Papa di pukul.” Protes Vincent
“makanya punya mulut di jaga, jangan suka sembarangan ngatain anak sendiri.” balas Rebecca dengan wajah yang agak masam.
“kan Papa becanda Mam.” ucap Vincent sambil memesang wajah memelas.
Rebecca mulai berjalan mendekati anaknya, ia berniat untuk membangunkan Liam yang sedang tertidur pulas itu.
“sayang, Liam. bangun nak.” ucap Rebecca dengan lembut sambil menggerakkan tubuh Liam dengan pelan.
Liam yang merasakan adanya pergerakkan, mulai membuka matanya perlahan-lahan.
Dan saat Liam melihat sosok yang membangunkannya itu ia langsung kaget dan bangun dari tempat tidurnya.
“Mamaaaa.” teriakan menggelegar dari Liam sambil memeluk erat Rebecca.
“iya sayang, ini Mama sama Papa udah pulang.” sambil membalas pelukan Liam dang mengusap punggung sang anak.
Vincent berjalan mendekat ke arah Rebecca dan Liam, dia hanya tersenyum melihat aksi manis dari ibu dan anak itu.
“Mama aja gitu yang di peluk, Papa enggak?” ucap Vincent.
“Papa.” balas Liam yang langsung melepas pelukan sang ibunda dan kembali memeluk sang ayah tercinta.
“i'm miss u my son.” sambung Liam yang membalas pelukan sang anak.
“Liam kangen Papa, akhirnya Papa sama Mama pulang juga.” ucap Liam.
“iya, Papa sama Mama juga kangen sama kamu nak.” balas Rebecca.
Kini mereka sudah selesai melepaskan kerinduan satu sama lain. Begitulah Liam, saat bersama dengan kedua orang tuanya dia bisa menjadi anak yang sangat Manja.
Meski memiliki tubuh yang besar, ia tidak perduli, bagi dirinya selagi ia masih memiliki kedua orang tua, Liam akan memeluk mereka selalu setiap hari dan bermanja pada kedua orang tuanya.
Vincent, Rebecca dan Liam ketiga orang ini, sudah duduk di sofa empuk dan mahal yang berada di ruangan kesukaan mereka.
“Papa sama Mama kan udah balik, sekarang mana oleh-oleh Liam yang kalian janjiin.” ucap Liam.
“oh ya ampun, Papa sampai lupa.” balas Vincent.
“Papa.” sambung Liam sambil memasang wajah cemberut.
Rebecca lalu memberikan kode kepada para Maid untuk membawa hadiah yang di inginkan Liam.
Para Maid yang paham itu, lalu pergi mengambil hadiah yang sudah di siapkan Vincent dan Rebecca.
Saat ini Maid sedang berjalan dengan sosok yang mengikutinya dari belakang, menuju ke ruang keluarga.
Maid dan Sosok itu berdiri di hadapan mereka semua, setelah mengantarkan sosok itu. Maid lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Pap, Mam, Liam kan minta hadiah. Mana hadiahnya?” tanya Liam.
“itu hadiahnya.” jawab Vincent sambil menunjuk sosok yang sedang berdiri di hadapan mereka.
“sayang, sini. ayo mendekat kemari.” ucap rebecca sambil menggerakan tangannya memanggil sosok itu.
Liam saat ini masih belum memahami kondisi yang terjadi, ia hanya menatap sosok itu dengan penuh keheranan.
“Liam, kenalin ini namanya Levin.” ucap Rebecca yang sedang memperkenalkan Levin pada Liam.
Liam menatap intens orang di depannya itu, bahkan dia memberikan gestur tubuh yang menandakan tak menyukai kehadiran sosok Levin.
“Ayo dong Liam, kenalan sama Levin.” ucap Vincent.
Liam kemudian mengulurkan tangannya secara terpaksa, agar bisa berjabat tangan dengan Levin. Karena ia di perintah oleh Vincent.
Levin tentunya membalas dengan mengulurkan tangannya, sambil berjabat tangan dan memberikan senyuman manis untuk Liam.
Liam kemudian melepaskan tangannya dengan cepat, karena ia benar-benar kesal dan bingung saat ini.
“Liam, mulai hari ini dan selamanya Levin akan tinggal bersama kita. Karena dia telah resmi menjadi saudara kamu.” ucap Rebecca dengan semangat.
“HAH SAUDARA.” balas Liam yang masih kaget itu.
“Aduh nak, kuping Papa bisa budeg dengerin kamu teriak.” ucap Vinccent.
“kok, Papa sama Mama gak ngomongin hal sepenting ini ke Aku sih.” sambung Liam.
“ini kejutan sekaligus oleh-oleh buat kamu nak.” balas Vincent sambil tersenyum.
“ok, fine. Makasih Papa sama Mama udah perduli sama Liam. Tapi aku gak butuh saudara.” ucap Liam.
“sayang, kamu jangan gitu. Levin ini anak yang baik, Mama yakin dia bisa jadi saudara yang menyenangkan buat kamu.” sambung Rebecca sambil menahan Liam yang sudah berdiri dari posisi duduknya.
Liam murka ia benar-benar tak menyukai kehadiran Levin di rumahnya.
Liam berpikir bahwa posisinya saat ini akan tergantikan dengan kehadiran Levin di antara keluarganya.
“siapa nama lu tadi, vin. Levin, makasih tapi gue gak butuh saudara. mending lu pergi aja deh.” ucap Liam dengan ketus.
Levin hanya diam, ia tidak bergerak dari posisinya. Levin hanya menatap wajah Liam dan tak mengatakan apapun.
“LU BUDEG YA, GUE BILANG GAK BUTUH SAUDARA. MENDING LU PERGI DARI RUMAH GUE.” ucap Liam dengan nada tingginya.
“Liam, cukup. kamu gak boleh berkata seperti itu nak.” protes Vincent.
“Liam kesel Pap, aku udah nyuruh dia pergi. tapi kenapa masih diam aja disini.” balas Liam.
“sayang, dengerin Mama. Levin itu gak maksud buat kamu marah. Levin itu tuna rungu sayang, jadi dia gak bakalan denger ucapan kamu.” sambung Rebecca.
“What, tuna rungu. Papa sama Mama makin gak bener, ngapain ajak dia kesini sih. terus juga kenapa dia harus jadi saudara aku.” ucap Liam sambil menatap lirik tajam ke arah Levin.
Levin takut, dia hanya menundukkan pandangannya sambil meremas baju piyama yang ia kenakan itu.
Levin kemudian memundurkan badannya menjauh dari mereka semua, ia sungguh tidak nyaman saat ini. Meski Liam tak mendengar ucapan mereka, dia bisa memahami ucapan melalui pergerakan mulut mereka.
Rebecca lalu berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Levin, ia tahu saat ini Levin mengerti kondisi yang dia lihat saat ini.
“tenanglah sayang, kamu aman disini.” ucap Rebecca.
Levin hanya mengangguk sebagai balasan ia mengerti dengan perlakuan yang Rebecca berikan padanya.
“Liam dengerin Papa, Levin itu membutuhkan kita. Makanya Papa sama Mama ajak di ke rumah dan jadiin dia saudara kamu, kamu juga bisa bantuin dia. Levin gak punya keluarga, sekarang dia jadi keluarga kita.” ucap Vincent yang mulai berdiri dari posisi duduknya.
“Tapi Pa, Liam gak mau punya saudara, apalagi saudaranya modelan kek dia. udah gak banget deh Pa.” balas Liam.
“Liam, kamu jangan gitu sayang. Mama sama Papa sayang banget sama Levin, makanya Papa sama Mama mau dia tinggal bareng sama kita.” sambung Rebecca sambil menggenggam tangan Levin.
Liam hanya diam, ia tidak tau lagi harus melakukan apa. memberikan protes kepada kedua orang tuanya juga percuma saja, karena seperti yang Liam lihat saat ini kedua orang taunya sangat menyukai keberadaan Levin.
“mulai besok, Levin akan bersekolah di sekolahan kamu Liam.” ucap Vincent.
“Apa lagi ini Papa, emang Papa gak bisa sekolahin dia di tempat lain. Masih banyak sekolah di luar sana, kenapa harus di sekolahan aku coba.” suara protes kembali terdengar dari mulut Liam.
“Liam, denger ya. Papa sama Mama sengaja nyekolahin dia di sekolah kamu, biar kamu gampang jagain Levin. Kamu juga harus melindungi saudara kamu ini.” ucap Rebecca.
“Terserah Papa sama Mama deh, Aku udah gak peduli.” balas Liam.
Liam yang geram mendegar ucapan kedua orang tuanya itu, langsung pergi menuju ke kamarnya meninggalkan mereka.
Dia benar-benar kesal saat ini, jika ia masih berada bersama mereka, mungkin perdebatan mereka akan semakin panjang.
Levin hanya bisa menunduk, dia tahu bahwa Liam sangat membenci kehadirannya saat ini, dari sikap dan gerakan bibirnya ia tahu bahwa Liam sangat tidak menyukainya datang ke rumah mereka.
Levin tidak menggunakan alat bantu pendengarannya, karena saat Maid memanggilnya ia baru selesai berpakaian. Levin baru selesai membersihkan tubuhnya.
Vincent dan Rebecca mencoba memberikan pengertian pada Levin bahwa tindakan Liam itu hanya sementara, karena dia hanya cemburu dengan kehadiran Levin.
Mereka kemudian mengajak Levin untuk makan bersama, agar suasana hati Levin membaik. Vincent dan Rebecca tidak ingin Levin sedih, dan meminta untuk kembali.
Rebecca bahkan merangkul tubuh Levin dengan erat sambil berjalan menuju ke ruang makan.
Rebecca begitu menyayangi Levin, dia bahkan mencium pucuk kepala Levin sebagai ungkapan kasih sayang.
Rebecca tidak ingin jauh dari Levin, apapun akan ia lakukan asal Levin bersama dengan keluarganya.
Malam ini Vincent dan Rebecca menghabiskan waktu bersama Levin, tanpa kehadiran sosok Liam di antara mereka.
