Chapter 196
Levin saat ini sedang gelisah dengan pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya, kini di dalam kamar dia sedang berlalu-lalang sambil berpikir. Dia memikirkan berbagai macam cara, agar saat Liam tiba di rumah Kelvin. Liam tidak membuat keributan.
Levin cukup paham dengan sikap Liam yang suka memaksa itu, dia tau bahwa apapun yang Liam inginkan pasti akan ia lakukan. Entah bagaimanapun caranya.
Ketika Kelvin masuk ke dalam kamar, dia melihat Levin yang tengah sibuk berjalan mengitari dalam kamar. Kelvin merasakan kebingungan saat melihat aksi Levin.
“Levin.” ucap Kelvin
“mmmm.” balas Levin dalam keadaan kaget dan bingung.
“Kamu kenapa mondar-mandir kek gitu?” tanya Kelvin.
“gak tuh, aku biasa aja.” jawab Levin.
“Kamu gak pandai bohong Levin, gerakan kamu itu jelas banget.” sambung Kelvin.
“gak, perasaan kamu aja.” timpal Levin.
“Levin.” ucap Kelvin.
Kelvin berusaha bertanya, agar dirinya bisa tahu penyebab Levin bisa sampai begitu.
Belum sempat mereka berbicara, suara dari salah satu Maid terdengar jelas dari luar pintu kamar.
Tok Tok Tok [Bunyi Ketukan Pintu]
Mendengar suara dari pemilik rumah, Maid lalu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam untuk memberitahukan kedatangan Liam yang sedang menunggu.
“Permisi Tuan Muda, ada yang ingin mencari Tuan Levin.” ucap Maid.
“iya, aku akan segera turun ke bawah.” sahut Levin.
Dengan cepat Levin lalu menarik tangan Kelvin, agar Kelvin bisa menemaninya saat ini untuk bertemu dengan Liam.
Kelvin semakin bingung, karena Levin belum menjawab pertanyaan yang ia tanyakan. Tapi Levin sudah lebih dulu menarik tangan Kelvin. Akhirnya Kelvin terpaksa mengikuti Levin dari belakang.
Liam telah tiba di kediaman milik Kelvin, saat ini dia sedang melihat-lihat ruangan tamu besar dan megah bergaya modern.
“Mau sampai kapan kamu berdiri terus Liam.” ucap Levin sambil menatap Liam.
Levin masih menggenggam erat tangan Kelvin, kini Kelvin mulai paham apa yang menyebabkan Kekasihnya Levin, seperti orang kebingungan sejak tadi.
Kelvin lalu ingat, bahwa hari ini Liam akan mengunjungi Levin di rumahnya.
Levin berjalan mendekat ke arah Liam tanpa memperdulikan tatapan tajam Liam kepada Levin dan Kelvin yang sedang berpegangan tangan itu.
“Duduklah Liam.” ucap Levin.
Liam lalu mengambil posisi untuk duduk di kursi sofa nyaman milik Kelvin, saat ini posisi mereka saling berhadapan.
Sedangkan Levin dan Kelvin duduk menghadap ke arah Liam.
“Ini buat lu.” balas Liam sambil mendorong sebuah bingkisan yang dia bawa.
“Apa itu?” sambung Levin.
“Yang jelas gue gak ngasih lu racun, lu lihat aja sendiri.” timpal Liam dengan nada sinis saat melihat Levin dan Kelvin.
Levin lalu mengambil bingkisan tersebut, dan melihatnya. setelah itu dia berdehem.
“ehem.” ucap Levin.
“Levin, kamu gak boleh gitu.” balas Kelvin yang menegur Levin dengan lembut.
“Kenapa sih, kan cuma batuk doang. tenggorokan aku seret tau sayang.” sambung Levin.
Levin di tegur oleh Kelvin bukan tanpa alasan, ketika menerima bingkisan dari Liam.
Wajahnya begitu masam, nampak Levin memberikan raut wajah yang tak suka, ketika Liam menyodori sebuah bingkisan yang dia bawa.
Teguran dari Kelvin membuat Levin sedikit kesal, Levin yang sedang kesal itu lalu melepaskan genggaman tangannya dari Kelvin.
Kelvin tentunya tidak membiarkan hal itu terjadi begitu saja, dia malah kembali menarik tangan Levin dan menggenggam semakin erat.
“cih, apa-apan mereka. Mereka mau pamer ke gue ya.” gumam Liam dengan kesal di dalam hati.
“Liam, sekarang buruan video call Mama, kasih tau kalau kamu udah ada disini.” perintah Levin.
“Mama masih sibuk, gue hubungin dari tadi tapi gak di angkat.” ucap Liam.
“yaudah, kamu tunggu aja disini. kalau Mama udah nerima panggilan kamu, kabarin aku.” balas Levin.
“Lu mau kemana Levin?, lu mau ninggalin gue sendirian. gue gak mau sendirian, lu harus nemenin gue disini.” sambung Liam dengan nada tingginya.
“Turunkan nada suaramu Liam, ini bukan rumah kamu. ini rumah orang, jangan buat masalah disini.” timpal Levin dengan nada ketusnya.
“Kalau gitu, lu ikut gue balik ke rumah sekarang.” ajak Liam.
“Ngapain? kamu gak usah aneh-aneh. Mama udah ijinin aku disini dulu, sampai Mama balik dari Australia.” tolak Levin.
“Lu sampe segitunya, gak suka lihat gue banget ya.! segala pake nungguin Mama, bilang aja lu mau berduaan sama dia.” ucap Liam sambil menunjuk Kelvin.
“Mau aku berduaan, atau gak. itu urusan aku, kamu gak berhak buat ngatur.” balas Levin.
“Gue berhak ngatur lu.” sambung Liam.
“Kamu pikir kamu siapa Liam? kamu bukan siapa-siapa aku, jadi gak usah larang-larang aku.” timpal Levin.
Levin dan Liam kini sedang melakukan perdebatan hebat, Levin sudah merasa sangat kesal saat mendengar ucapan dari Liam yang ingin membatasi pertemuannya dengan kekasihnya.
“GUE SODARA LU JADI GUE BERHAK BUAT NGELARANG LU.” ucap Liam
“KITA BUKAN SAUDARA, KAMU SENDIRI YANG BILANG KE AKU. KALAU AKU GAK USAH CAMPURIN URUSAN KAMU, GAK USAH NGATUR KAMU. SEKARANG LIHAT SENDIRI SIAPA YANG NGATUR?.” balas Levin.
“LU BARU SEBULAN PACARAN AMA DIA AJA UDAH KURANG AJAR. LU DI AJARIN APA SAMA DIA?” tanya Liam.
Liam geram saat melihat sikap Levin yang mulai banyak berubah, dia jadi teringat.
Ketika pertama kali Levin datang ke rumahnya, Levin selalu bergantung padanya. Semua itu terjadi saat Liam dan Levin mulai akrab.
Kelvin tidak ingin mencampuri urusan dua orang bersaudara angkat itu, dirinya hanya ingin menyimak perdebatan yang sedang terjadi diantara Liam dan Levin.
Melihat perdebatan mereka semakin memanas, maka Kelvin memutuskan untuk mengehentikan itu semua.
“Levin, Liam. Cukup, kalian berdua bukan anak kecil lagi, omongin masalah kalian secara baik-baik.” ucap Kelvin.
Liam dan Levin diam sejenak, dia masih kesal karena Liam berusaha menyerang Kelvin. Kelvin kemudian berdiri dari tempat duduknya.
“Omongin semuanya baik-baik Levin, aku tinggal dulu.” ucap Kelvin sambil mencium pucuk kepala Levin.
Kelvin beranjak pergi dari ruangan, dia harus membiarkan mereka berdua untuk berbicara, tanpa ada dirinya.
Levin mencoba mengontrol emosinya kembali, dia berusaha memberikan Liam kesempatan untuk berbicara.
“Gue minta maaf, semua salah gue. gue-” ucap Liam sambil menundukkan pandangannya.
Levin hanya berdiam saja sambil menatap Liam. Levin ingin mendengar apa yang akan di ucapkan oleh Liam.
“Gue bodoh, selama ini udah jahat sama lu, gue gegabah. gue terlalu banyak buat salah sama lu. gue udah jahat, suka ngata-ngatain lu. gue udah jahat banget sama lu Levin. gue bener-bener minta maaf.” sambung Liam.
“Aku gak ngerti sama jalan pikiran kamu Liam, hari ini kamu minta maaf, terus besoknya kamu ngejahatin aku lagi. Aku bener-bener bingung sama kamu. mau kamu itu apa, apa karena aku cacat makanya kamu bisa semena-mena sama aku gitu.! ucap Levin yang menahan rasa sesak di dadanya.
Liam berdiri dan bersimpuh di hadapan Levin yang sedang duduk, ia menatap lekat wajahnya Levin sambil menggenggam tangannya.
“Aku beneran sungguh-sungguh minta maaf, aku akuin kalau aku benar-benar jahat sama kamu. tap- tapi aku punya alasan Levin. sekali lagi aku minta maaf.” balas Liam.
“Tapi, bukan berarti kamu harus hina dan caci maki aku, aku manusia Liam. aku punya hati, kamu pernah ngebayangin gak, kalau kamu di posisi aku. gimana kalau kamu yang punya kekurangan, terus aku hina kamu. aku permainin kamu seenaknya, kamu bisa terima itu semua. BISA GAK.?” sambung Levin dengan buliran air mata yang membasahi pipinya.
Liam terdiam, dia tidak tau harus melakukan apa. Dia rasa memang dirinya benar-benar sudah sangat keterlaluan.
“Aku pikir kamu itu BEDA LIAM dari yang lain, kamu gak sama kek yang lain. tapi APA? kamu sama aja kek orang-orang di luaran sana, yang suka mencaci orang-orang yang memiliki kekurangan seperti kami. Aku dan mereka kami sem- sem- semua gak pernah buat jahat sama k- kalian, tap-tap-” lidah Levin tersekat dia tak mampu mengucapkan bait kalimat yang ingin dia keluarkan.
Levin gagal menahan rasa sakit di hatinya, bayangan cacian muncul dalam ingatannya kembali. Bagaimana bisa, seseorang yang hampir ia cintai itu menyakitinya.
Liam tak mampu berkata, dia sama halnya dengan Levin. dirinya menyadari segala ucapan jahatnya kepada Levin.
Levin hanya bisa menangis, dia merasa lelah. dirinya seperti di permainkan oleh perasaannya sendiri.
Rasa sakit di hatinya untuk Liam memang ada. Tetapi di sisi lain, hatinya tak mampu untuk berjauhan dan bahkan membenci Liam begitu terlalu lama.
Liam memeluk Levin, hanya itu yang bisa dia lakukan. Levin tak membalas pelukan itu, Levin hanya menangisi kesesalan dalam hidupnya.
“Aku benar-benar tulus minta maaf sama kamu, mungkin ini udah terlambat. Tapi aku harus bilang ini sama kamu, Ak- Ak- Ak- Aku menyukaimu Levin, aku sangat menyukaimu. Aku cinta sama kamu, lebih dari saudara Levin. Aku jahat sama kamu, itu semua karena aku terpaksa. keadaan yang memaksaku untuk melakukannya Levin, Aku gak bisa jauh dari kamu, aku bohong kalau selama ini aku baik-baik aja. Aku gak bisa Levin, aku gak bisa terus-terusan jauh dari kamu. Aku cemburu waktu ngelihat kamu deketan sama Kelvin. Aku gak bisa bohongin perasaan aku, apa lagi sekarang kamu udah pacaran sama dia. Aku gak tau harus ngapain Levin, Aku bener-bener minta maaf, maaf atas segala perbuatanku.” tutur Liam dengan tulus.
Mendengar pernyataan dari Liam membuat Levin begitu amat sangat terkejut. jadi selama ini diam-diam Liam menaruh perasaan untuk Levin.
Liam merupakan seorang remaja yang masih sangat labil, terkadang ada hal-hal yang tidak ia mengerti. caranya untuk melindungi seseorang yang dia cintai terkadang salah.
Levin melepaskan pelukan itu, dirinya kini mulai menatap wajah Liam. Mereka saling menatap satu sama lain dengan wajah yang saling berdekatan.
Levin menatap dalam tatapan mata Liam, dia ingin melihat apakah pernyataan itu sungguh-sungguh atau sekedar hanya bualan saja. Supaya Liam bisa mendapatkan maaf darinya.
“Aku bener-bener sayang sama kamu Levin, aku gak tau sejak kapan perasaan ini muncul. sekali lagi aku minta maaf. Kamu gak perlu maafin aku, karena aku emang keterlaluan sama kamu. sekali lagi aku minta maaf. Aku pulang dulu ke rumah.” ucap Liam.
Setelah mengucapkan kalimatnya, Liam mencium bibir Levin. ciuman itu menggambarkan rasa cinta dan sekaligus perasaan rasa penyesalan telah membiarkan orang yang ia cintai harus pergi dengan orang lain.
Levin tak membalas ciuman singkat yang diberikan Liam padanya. Liam pergi meninggalkan Levin, hanya ada tatapan kosong yang menatap kepergian lelaki itu.
