Chapter 133
Walau kesal dengan tingkah laku sang kekasih, Levin harus tetap membantu Kelvin untuk kembali menuju ke kamar yang dia tempati.
Levin membantu Kelvin dengan cara membiarkan Kelvin merangkul pundaknya dengan erat. supaya bisa membantu Kelvin bergerak, walau terlihat sedikit sulit.
Kelvin berusaha untuk tetap berjalan, meski nampak tertatih-tatih. Mereka juga menggunakan Lift yang ada di rumah sakit, agar bisa sampai di lantai kamar rawat inap Kelvin.
Di dalam lift mereka hanya diam, tanpa ada yang bersuara. hanya ada keheningan yang menemani suasana mereka.
Levin diam karena masih merasa kesal dengan Kelvin, sedangkan Kelvin sendiri takut. jika dia bersuara mungkin Levin akan memarahinya kembali.
Levin marah bukan tanpa alasan, dia hanya merasa sedikit kesal. saat ia melihat Kelvin yang berusaha lari mengejarnya. tanpa memperdulikan kondisi kakinya terlebih dahulu.
Levin hanya ingin agar orang yang dia cintai itu bisa segera sembuh. Saat ini hanya mereka berdua yang berada di dalam lift, lift yang mereka gunakan itu sedang kosong.
Tubuh Kelvin dipapah oleh Levin, Levin bahkan merangkul pinggang Kelvin dengan erat, agar Kelvin tidak terjatuh dan supaya bisa keseimbangan tubuhnya aman.
Kini posisi mereka berdua sangat berdekatan dan bahkan terlihat begitu intim.
“Maaf.” ucap Kelvin.
“hmm.” balas Levin.
“Maafin aku Levin, udah buat kamu marah.” sambung Kelvin.
“iya.” timpal Levin tanpa melihat Kelvin.
Kelvin masih mencoba untuk merayu kekasihnya yang sedang marah dengannya itu.
Tatapannya terhadap Levin begitu dalam, dia memperhatikan wajah cantik yang membawa kedamaian itu dengan sangat teliti.
Chupp 💋
Suara kecupan terdengar di dalam Lift, Kelvin mencium pipi gembul Levin.
“KELVIN.” ucap Levin sambil teriak.
“Jangan marah-marah sayang.” balas Kelvin sambil memasang wajah memelasnya.
“Makanya kamu jangan suka buat aku kesel.” ucap Levin sambil menatap kekasihnya.
Chupp 💋
Satu kecupan singkat mendarat di bibir Levin, Kelvin benar-benar sangat gemas melihat tingkah laku kekasihnya itu.
“I Love You.” ucap Kelvin dengan tatapan tulus.
Mereka tiba di lantai 20 tempat kamar rawat inap Kelvin berada, pintu lift pun lalu mulai terbuka.
Kelvin segera berjalan keluar dari lift, ia meninggalkan Levin yang sedang berdiri kaku sambil terdiam itu.
Kelvin berjalan tersenyum, karena dia merasa berhasil mengerjai kekasihnya.
Levin benar-benar terkejut, saat merasakan ciuman singkat dari Kelvin. Tak lama setelah itu Levin langsung sadar.
“KELVIN.” ucap Levin dengan nada kesal.
Levin mulai berjalan keluar dari Lift, lalu mengikuti kekasihnya. saat ini emosinya lebih meningkat.
Levin berjalan mengikuti Kelvin dari belakang, dia ingin membuat perhitungan dengan pujaan hatinya.
Kelvin membuka pintu kamar, saat pintu kamar terbuka. dia kaget ketika melihat Alexi, Theo, Yoshi dan Wiley yang sedari tadi sudah berada di dalam kamar, menunggu kedatangan mereka berdua.
Levin menabrak punggung besar milik Kelvin. Saat Kelvin berhenti melangkah.
“awwhhh.” ucap Levin sambil mengusap jidatnya.
“Hey bro.” teriak Yoshi yang sedang duduk di sofa, sambil memakan cemilan yang di bawa oleh mereka.
“Kalian berdua dari mana aja?” tanya Theo.
“Kita habis ketemuan sama dokter.” jawab Kelvin.
“ALEXI, WILEY.” teriak Levin sambil memunculkan wajahnya di belakang punggung Kelvin.
“LEVIN.” teriakan kompak dari mereka.
Mereka berlari sambil mendekat ke arah Levin, mereka kemudian saling berpelukan bersama.
Padahal Levin, Alexi dan Wiley masih berhubungan melalui chat, mereka juga baru tidak bertemu selama dua hari.
Tetapi tingkah laku mereka, seperti tidak bertemu selama puluhan tahun lamanya. Kehebohan tiga uke tersebut hanya bisa di lihat oleh ketiga para seme.
Levin, Alexi, Wiley ketiganya sudah menjauhkan diri mereka, dari kekasih masing-masing.
Karena saat ini mereka bertiga, ingin melepaskan rasa rindu yang di rasakan antara mereka.
Berbeda dengan Kelvin, Theo dan juga Yoshi. ketiganya kini duduk bersama di sofa, sambil bercerita. Dan membiarkan pacar-pacar mereka untuk menghabiskan waktu bersama.
“Gimana kaki lu?” tanya Theo.
“Kaki gue baik-baik aja, cuma butuh waktu biar bisa sembuh.” jawab Kelvin.
“Hadeh, lu juga sih. ngapain tanggepin omongannya Liam, jadi gini kan akibatnya.” ucap Yoshi sambil menatap kaki Kelvin yang terpasang gips.
“Gue emosi, dengerin bacotannya tentang Levin. gue gak bisa.” balas Kelvin.
“Terus gimana, lu seneng gak? udah bisa pacaran sama Levin.” sambung Theo.
“Senenglah gila, akhirnya. bisa juga gue luluhin es batu.” timpal Kelvin sambil tersenyum menatap Levin yang sedang asyik bercerita.
“jiakkh, selamat bro. PJ jangan lupa.” ucap Yoshi.
“Gampang itu, mau sekarang atau nanti?” tanya Kelvin.
“Nanti aja deh, tunggu lu sembuh dulu. biar kita semua bisa senang-senang bareng.” jawab Theo.
Setelah itu mereka lalu melanjutkan cerita mereka, sedangkan di sisi lain. Alexi dan Wiley sangat serius memberikan beberapa pertanyaan kepada Levin.
“Jadiii, kalian udah resmi pacaran yaaa.” goda Alexi.
“hmm.” ucap Levin.
“kok, hmm. harusnya jawab yang semangat dong Levin.” balas Wiley.
“iyaaa, kita udah resmi pacaran.” sambung Levin.
“Dia nembak kamu beneran di rumah sakit?” tanya Alexi.
“iya di rumah sakit, waktu malam dia kecelakaan.” jawab Levin.
“wow, terus terus terus.., dia bilang apa lagi.” sambung Wiley.
“gak ada, dia cuma bilang mau jadi pacar aku.” timpal Levin.
“gitu doang, dia cuma ngomongin itu aja.” ucap Alexi yang syok.
“iya, kenapa sih Lexi! itu kan biasa.” balas Levin.
“Emang itu biasa Levin, tapi dia juga harus ngasih alesan kenapa dia bisa suka sama kamu. Dia gak perlu ngasih kamu kata-kata romantis atau baca puisi, cukup ngasih tau aja alasannya. kenapa dia bisa suka sama kamu.” sambung Alexi dengan nada kecewanya.
“Bentar dulu Lexi. Mungkin Kelvin masih bingung kali. atau masih syok, gue yakin dia pasti punya alesan kok. cuma dia belum ngungkapin aja.” timpal Wiley.
“Udah, ah. ngapain jadi bahas itu sih, mending kalian berdua ngasih tau ke aku, tentang pelajaran di sekolah. itu lebih bermanfaat di banding kalian mikirin alesan Kelvin suka sama aku.” ucap Levin.
Levin kemudian mengambil buku-buku pelajarannya yang berada di dalam tas, dia sengaja menyuruh supir pribadinya untuk membawa beberapa buku-buku pelajaran miliknya. Agar dia bisa belajar sambil merawat Kelvin yang sedang sakit.
Alexi dan Wiley yang masih sangat penasaran itu, akhirnya mengikuti keinganan Levin.
Mereka lalu memulai menjelaskan beberapa materi pelajaran sekolah yang telah di lewatkan Levin selama beberapa hari itu.
Levin, Alexi dan Wiley. Mereka bertiga, menghabiskan waktu bersama dengan belajar sambil bercerita. Dan juga memakan beberapa camilan yang di bawa oleh Alexi dan Wiley.
Tak terasa waktu jenguk telah usai, mereka semua kemudian berdiri dan pamit untuk meninggalkan Kelvin dan Levin.
“Kita balik dulu ya, nanti kalau kita ada waktu. kita bakalan mampir lagi kesini.” ucap Alexi.
“Padahal aku masih pengen main.” balas Wiley sambil membuat wajah yang cemberut.
“Wiley sayangku, cintaku, duniaku. kita pulang dulu yuk, nanti kita balik lagi ke sini.” sambung Yoshi sambil membujuk kekasihnya itu.
“Kelvin, Levin. kita pulang ya, kalau butuh sesuatu kabarin kita aja.” timpal Theo.
“iya. Thank's juga lu semua udah mau jengukin gue.” ucap Kelvin.
Setelah berpamitan, mereka lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan milik Kelvin. Kini tersisa mereka berdua, hanya ada Kelvin dan Levin.
Tiba-tiba kejadian sesaat yang terjadi di dalam lift tadi terlintas dalam pikiran Levin.
Rasa jengkel di dalam hati Levin kini muncul kembali, dia masih kesal jika mengingat perbuatan Kelvin kepadanya.
“Vin, Levin.” ucap Kelvin sambil membuyarkan lamunan Levin.
“Apa?” balas Levin yang seketika sadar.
“Tolong bantuin, aku mau pindah ke kasur. kaki aku sakit kelamaan duduk.” ucap Kelvin sambil mengerutkan wajahnya.
Levin kembali menuntun Kelvin agar bisa berbaring di tempat tidurnya.
Kelvin duduk di pinggiran tempat tidur, Levin sedang mengatur posisi tempat tidurnya, agar bisa sedikit lebih tinggi.
Setelah di rasa cukup, Kelvin mulai membaringkan dirinya dengan di bantu Levin. Levin hanya ingin agar Kelvin tetap merasa nyaman saat beristirahat.
“Makasih.” ucap Kelvin.
“sama-sama.” balas Levin.
“Masih marah?” tanya Kelvin.
Levin tidak menjawab pertanyaan Kelvin, dia hanya mengambil sebuah Apel berukuran sedang yang berada di atas meja kecil, pada samping tempat tidur milik Kelvin. Levin memilih mengupas buah apel, sambil duduk di sebelah Kelvin.
Levin masih memilih untuk tetap diam, sambil mengupas kulit buah apel tersebut. Menurutnya lebih baik seperti itu, agar rasa kesal di dalam dirinya segera menghilang.
Kelvin menatap wajah Levin dengan sangat serius, senyuman serta kekehan kecil mengembang di wajah Kelvin.
Saat ia memandangi wajah Levin yang sedang sibuk mengupas kulit buah apel. Kelvin melihat Levin masih saja diam dengan wajah sedikit cemberut.
Kelvin lalu menghentikan kegiatan yang sedang dilakukan oleh Levin, Levin yang tadinya mengupas sambil menundukkan pandangannya itu. kini mulai beralih menatap Kelvin.
“Apa lagi?” tanya Levin.
“Maaf yaa.” jawab Kelvin.
“Iya.” ucap Levin dengan nada betenya.
“Maaf, aku udah nyium kamu tanpa ada izin dari kamu Levin.” sambung Kelvin.
Jantung Levin berdebar dengan sangat cepat, saat Kelvin mengucapkan permintaan maaf.
Lihat bagaimana Kelvin dengan mudahnya, bisa mengetahui isi pikirannya saat ini.
Kelvin bahkan tanpa memiliki rasa malu-malu saat mengucapkan hal itu, dengan mudah ia mengeluarkan kalimat tersebut..
Wajah dan Telinga Levin memerah, sungguh dia benar-benar malu. saat dia mengingat kejadian yang terjadi di dalam lift sesaat itu.
“Kamu mau denger, kenapa alasan aku marah.” ucap Levin
“Kenapa?” tanya Kelvin.
“Kamu udah nyuri first kiss aku tau.” ucap Levin dengan cemberut.
“Jadi itu pertama kali buat kamu!” balas Kelvin.
“Iyalah, kamu pikir aku apaan. pacar pertama aku itu kamu, ish mentang-mentang pacar pertama main nyosor aja. Kamu tu kebiasaan apa-apa main langsung aja, gak ngasih aba-aba dulu. ih, kamu tu suka banget bikin aku kesel tau.” sambung Levin dengan kecepatan berbicaranya.
Tanpa berpikir panjang, Kelvin lalu mendekatkan wajahnya, ia menatap Levin yang masih serius berbicara itu sambil memegang dagu Levin.
Kelvin memajukan bibirnya dan memiringkan sedikit kepalanya. Dia memberikan ciuman cintanya kepada Levin.
Levin hanya bisa melotot, karena dia di buat kaget kembali. dengan tingkah laku mendadak Kelvin.
Kelvin mencoba memberikan sedikit pergerakan lumatan pada bibir milik Levin, ia ingin melihat reaksi Levin terlebih dahulu.
Levin yang awalnya kaget kini memejamkan matanya, Levin mencoba membiarkan Kelvin memberikan kesan ciuman pertamanya.
Kelvin menggerakan bibirnya, ia mencium bibir cantik dan tipis milik Levin itu. Levin yang tadinya pasif, mulai mencoba membalas ciuman kekasihnya.
Walau ini adalah ciuman pertama bagi Levin, meski dirinya terkesan kaku. tetapi dia tetap harus mencoba melakukannya.
Kelvin kemudian memegang kepala Levin, agar bisa memperdalam ciuman mereka. Levin hanya bisa meremas baju milik milik Kelvin.
Beberapa menit mereka berciuman. Kelvin mengajarkan kepada Levin bagaimana cara berciuman dengan seseorang, terutama orang itu adalah kekasihnya sendiri.
Levin yang merasakan pegal dengan posisinya itu, kini melepas tautan pada bibir mereka.
Mata mereka kini saling beradu pandang, Levin menatap lekat eajah tampan milik Kelvin.
Kelvin hanya tersenyum tipis saat melihat tingkah Levin di hadapannya.
“Hah, hah! hah! capek.” ucap Levin sambil menarik nafas dalamnya.
“Gimana? kamu udah gak marah lagi kan! ini aku udah kasih ciuman yang gak bikin kamu naik darah lagi loh.” balas Kelvin dengan kekehan.
“Naik darah sih gak, tapi aku kehabisan nafas. KELVIN.” sambung Levin.
Levin tidak menyangka, bahwa dirinya kini bisa merasakan ciuman pertamanya. selama ini ia selalu penasaran siapa yang akan menjadi cinta pertamanya, siapa yang akan menjadi orang pertama first kissnya.
Levin lalu berdiri menuju ke kamar mandi, sungguh dia benar-benar malu dengan kejadian yang mereka berdua lakukan.
Kelvin hanya bisa tertawa melihat tingkah malu yang di tunjukkan Levin kepadanya. Kelvin berharap, hubungan mereka bisa terjalin sampai selamanya.
Hubungan percintaan anak remaja, kadang suka membuat kita geleng-geleng kepala. Banyak hal yang mungkin ingin mereka lakukan, tetapi semua hal belum tentu bisa di benarkan.
Biarkanlah Levin merasakan indahnya cinta pertama yang ia rasakan saat ini, Levin merasa beruntung karena rasa takutnya sirna.
Kini benar-benar ada orang yang tulus yang bisa menerima Levin, meski dia memiliki kekurangan.
Levin hanya belum sadar ada atau tidak, kekurangan yang dia miliki itu bukanlah sebuah halangan untuknya.
Kelvin akan tetap mencintai dan bahkan menyukainya.
Karena yang Kelvin lihat selama ini bukan tentang fisik, melainkan hati cantik dan tulus yang dimiliki oleh Levin.

