Chapter 121
Levin berusaha tenang, dia segera mengganti baju tidur miliknya. Dia memanggil salah satu Maid yang masih bertugas, Levin menyuruh Maid agar segera memberitahukan kepada supir pribadinya untuk menyiapkan mobil. Supaya bisa mengantarnya ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, Levin keluar dari kamarnya dan menuju ke lantai bawah. Dia harus segera tiba untuk melihat kondisi Kelvin dan Liam. Levin bahkan lupa kalau dirinya juga saat ini sedang sakit.
Pintu mobil di buka oleh salah satu Maid, Levin masuk ke dalam mobil. Setelah itu supir pribadinya lalu menginjakkan pedal gas mobil dan melajukan mobil.
[Tiba di Rumah sakit]
Tidak membutuhkan waktu lama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, kondisi jalanan yang sedang sepi dan kosong. Membuat mobil itu melaju tanpa ada hambatan, kini mobil yang membawa Levin sudah terparkir di halaman rumah sakit.
Levin lalu turun, setelah itu dia memberi perintah kepada supirnya untuk kembali ke rumah. dan tidak boleh mengatakan apapun kepada orang tuanya.
Levin berjalan menuju ruang UGD, dia menarik nafasnya dalam-dalam. Levin sedikit pusing saat melihat kondisi rumah sakit.
Yoshi, Theo dan Liam mereka bertiga saat ini sedang berdiri di depan pintu UGD. Mereka tidak bisa masuk ke dalam UGD, karena dokter sedang menangani luka yang di alami Kelvin.
Levin berjalan mendekati mereka bertiga. Dia bisa melihat Yoshi, Theo dan Liam yang sedang menunggu Kelvin disana.
“Theo, gimana kondisi Kelvin?” tanya Levin.
“Kelvin masih di rawat sama dokter, tadi dokter cuma ngasih tau kakinya patah waktu tiba disini.” jawab Theo.
“Levin, kok lu gak bilang ke gue mau kesini. tau gitu, tadi gue aja yang jemput lu.” ucap Yoshi.
“Ngapain lu kelayapan disini, jangan bikin susah orang. bukannya istirahat, malah gak jelas keliaran malem-malem.” timpal Liam dengan nada sinis.
“LU GAK USAH KETERLALUAN LIAM.” ucap Yoshi.
“Kenapa? lu mau ngebelain orang cacat ini! lu lihat aja, dia aja hidupnya nyusahin. udah tau malem, bukannya istirahat di rumah, malah ngotot keluar malem-malem. mau jadi super hero gitu.” balas Liam sambil menatap Levin dengan tatapan remeh.
Plakkkk
Bunyi tamparan keras di rasakan Liam, Levin menampar pipi Liam dengan kuat. Dia emosi saat mendengar ucapan kasar yang keluar dari mulut Liam.
Yoshi dan Theo bahkan tidak menghentikan pertengkaran yang sedang mereka berdua lakukan.
“Brengsek, Aku tau aku cacat. Aku tau, aku gak sempurna. Kalau kamu gak puas hina aku, hina aja Liam. Asal jangan sentuh Kelvin, gara-gara kamu Kelvin kecelakaan. Kamu penyebabnya, kamu itu sumber masalah Liam. kamu gak tau diri, kamu mending pergi dari sini sebelum aku laporin perbuatan buruk kamu ke orang tua kamu.” ucap Levin sambil berusaha tidak meninggikan suaranya.
“Theo, mending lu bawa dia pergi aja dari sini.” balas Yoshi sambil mendorong tubuh Liam.
“Liam, mending lu pulang aja. dari pada lu makin buat kacau suasana rumah sakit.” ucap Theo.
“Gak usah pegang gue Theo, gue bisa sendiri. lagian siapa juga yang sudi berlama-lama disini sama orang cacat modelan kek dia. udah cacat gak tau diri lagi.” sambung Liam sambil menahan pipi bekas tamparan Levin.
Liam pergi meninggalkan rumah sakit, dan berjalan keluar dalam keadaan marah.
Tindakan telah selesai di lakukan, Dokter kemudian memindahkan Kelvin ke ruang rawat inap.
“kita balik duluan Levin, besok kita bakalan ke sini lagi.” ucap Theo.
“iya, lu kalau butuh apa-apa kabarin kita aja. maaf juga udah ngerepotin lu malem-malem.” balas Yoshi.
“Makasih udah mau ngabarin Aku, makasih juga udah mau nemenin Kelvin. kalian berdua hati-hati pulangnya.” sambung Levin.
“iya.” ucap serempak Theo dan Yoshi.
Theo dan Yoshi meninggalkan ruang rawat inap VVIP yang di tempati Kelvin saat ini. Tinggal Levin dan Kelvin di dalam ruangan itu.
Suasana kamar yang besar dan Luas serta di lengkapi beberapa fasilitas super lengkap, membuat suasana itu semakin terasa.
Levin menarik kursi, agar bisa duduk berdekatan dengan Kelvin. Saat ini kondisi Levin sedang kesal dan juga sedih saat melihat Kelvin yang terbaring lemah di tempat tidur.
Levin menatap wajah tedu milik Kelvin yang sedang tidur terlelap itu, ada sedikit bulir air mata yang menetes keluar dari kelopak mata cantik milik Levin.
“Maaf, gara-gara Liam kamu jadi kek gini.” ucap Levin sambil menundukan kepalanya.
Tak ada suara yang membalas percakapan itu, hanya keheningan yang menyelimuti suasana ruangan.
“Kelvin, bangun. jangan biarin aku sendirian. hiks- hiks! ayo bangun. aku gak punya siapa-siapa, aku cuma punya kamu.” suara isakan tangisan keluar dari mulut Levin.
“Aku gak bisa lihat, kam-kamu kek gini. kamu gak boleh sakit, ayo bangun. Aku masih belum ngajarin banyak pelajaran sekolah buat kamu, ayo bangun.” ucap Levin.
Levin menutup wajahnya yang penuh dengan air mata itu, menggunakan kedua telapak tangannya.
Levin benar-benar sedih, padahal dia sudah menghabiskan air mata yang begitu banyak saat Liam menghina habis-habisan dirinya dengan sebutan cacat.
Kelvin terbangun, saat mendengar suara tangisan yang dia kenali itu. Ia langsung bangun dan duduk.
“Levin, berhenti nangisnya. aku baik-baik aja kok.” ucap Kelvin sambil membuka kedua telapak tangan Levin.
“hiks! hiks! hiks! Kel- Kelvin hiks!” ucap Levin yang masih menutup matanya.
Levin memeluk Kelvin dengan erat, dia takut kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Kelvin.
Hal yang dilakukan Levin sontak membuat Kelvin cukup kaget, tidak biasanya Levin menyentuh dia terlebih dahulu.
“Udah, berhenti nangisnya. Aku gakpapa, kamu tenang aja. Kaki aku cuma terkilir doang kok.” ucap Kelvin sambil mengelus punggung Levin.
“Maaf, kamu jangan sakit lagi. Aku gak suka lihat kamu terluka, nanti siapa lagi yang bakalan gangguin aku.” balas Levin yang masih mendekap erat Kelvin.
“Sini aku bilangin.” sambung Kelvin lalu melepaskan pelukan hangat itu.
“Ap- apa?” tanya Levin
“Berhenti nangisnya, kamu lihat. aku masih hidup kan, jadi aku masih bisa isengin kamu.” jawab Kelvin.
“Ya, tapi gimana? kaki kamu aja sakit, gimana mau gangguin aku coba.” protes Levin sambil sesegukan.
“Aduh, gemes banget sih calon pacar.” ucap Kelvin sambil menjepit pipi Levin menggunakan kedua telapak tangannya.
“Pwin, swakit, lepwasin Pwin.” balas Levin dengan sedikit kesulitan.
“Maaf, makanya jangan gemes-gemes. Kalau aku makin suka sama kamu gimana, kamu mau tanggung jawab.” sambung Kelvin
“iya. Mau.” timpal Levin sambil memegang kedua pipinya yang sakit itu.
“LEVIN.” panggil Kelvin.
“Apa.” ucap Levin.
“Kamu beneran mau jadi pacar Aku, pacar beneran bukan pacar main-main loh.” ucap Kelvin
“iya, mau.” balas Levin yang masih sibuk memegang kedua pipinya.
“Levin, aku gak lagi becanda. Aku serius ngajak kamu pacaran.” ucap Kelvin yang kini mulai memegang tangan Levin dengan serius.
“Aku juga gak lagi bercanda Kelvin, Aku kan udah bilang. Aku mau jadi pacar kamu.” balas Levin dengan tatapan seriusnya.
“Levin kamu serius?” tanya Kelvin yang masih belum percaya.
“Iya, Pacarnya Levin. Levin serius mau jadi Pacar Kelvin.” jawab Levin sambil memegang tangan Kelvin.
Kelvin langsung mendekap tubuh Levin, akhirnya penantiannya terjawab sudah. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Diam-diam Levin juga sudah menaruh hati kepada Kelvin. Awalnya Levin berpikir itu hanya perasaaan biasa saja, tetapi saat jauh sebentar dari Kelvin dirinya tidak bisa. Ada keresahan yang mengganggu dirinya, saat tak mendapatkan gangguan dari orang yang di sukainya itu.
“Makasih, udah mau nerima aku buat jadi pacar kamu.” ucap Kelvin.
“iya, makasih juga udah mau suka sama orang yang punya kekurangan ini.” balas Levin sambil mengusap punggung sang kekasih.
“Kamu gak boleh ngomong kek gitu, kamu itu sempurna. Pacar Kelvin sempurna.” sambung Kelvin.
“Iya.” timpal Levin.
Kini keduanya berbaring bersama di tempat tidur besar milik Kelvin, lengan besar dan kekar milik Kelvin menjadi bantalan untuk kepala Levin.
Walau sedikit kesulitan karena kondisi kaki sebelah kiri Levin yang cedera, tidak membuat suasana yang penuh cinta kasih itu terganggu.
“Levin sayang.” ucap Kelvin.
“Apa, Kelvin sayang.” balas Levin sambil menggoda kekasihnya itu.
“Aduh, jadi gini rasanya. di panggil sayang sama orang yang aku suka.” sambung Kelvin.
“Gak usah lebay, mending kita tidur aja. Aku ngantuk. hoaamm” ucap Levin sambil menguap.
Levin lalu membalikan badannya yang terlentang itu, agar bisa memeluk kekasihnya.
Kini mereka berdua saling berhadapan, tatapan mereka sangat dekat. Tak ada jarak yang membatasi pandangan indah itu.
“Good night, pacarnya Kelvin.” ucap Kelvin sambil mengusap rambut lembut milik Levin.
“Selamat tidur juga, pacarnya Levin.” balas Levin dengan mata yang mulai sayup itu.
Kelvin dan Levin menghabiskan waktu bersama di rumah sakit malam ini. Entah ini kebetulan atau memang takdir, kini Kelvin dan Levin resmi berpacaran.
Kecelakaan akibat pertandingan mendadak bersama dengan Liam, bisa membuat Kelvin begitu sangat bahagia malam ini.
Liam datang ke tempat balapan itu, karena ingin membuat perhitungan dengan Kelvin. Menurutnya Kelvin telah lancang berani merebut kedua sahabatnya Theo dan Yoshi.
Ia tidak bisa menerima saat melihat postingan Theo dan Yoshi yang lebih memilih menghabiskan waktu mereka malam ini dengan Kelvin, dari pada bersamanya.
Hal itulah yang memicu, kenapa bisa dia menantang Kelvin. Kelvin sebenarnya tidak mau, tetapi Liam terus memancing Kelvin dengan mengatai Levin cacat.
Perbuatan Liam tidak bisa di terima oleh Kelvin saat mendengar orang yang ia sayangi di hina habis-habisan oleh Liam.
Theo dan Yoshi sudah berusaha melerai perdebatan mereka, tetapi karena mereka berdua sama-sama tersulut emosi.
Terjadilah balapan di antara mereka berdua, sebenarnya Kelvin yang seharusnya menjadi pemenang dalam pertandingan tersebut.
Tetapi entah kenapa Liam malah menendang motor milik Kelvin secara tiba-tiba.
Kaki Kelvin terkilir, untungnya tulang kaki milik Kelvin tidak sampai patah.
Hanya saja membutuhkan waktu beberapa minggu agar bisa kembali pulih.
