Chapter 110
Kelvin mengajak Levin untuk pergi menghabiskan waktu bersama di Mall, setelah pulang dari sekolah.
Kelvin membawa Levin untuk membeli baju seragam baru, karena baju yang di pakai Levin kotor saat makan siang di kantin sekolah. Padahal Levin punya beberapa pasang seragam di Rumah.
Kelvin dan Levin menghabiskan waktu bersama di Mall, mereka bermain dan makan malam bersama. Banyak hal yang mereka lakukan berdua, selama menghabiskan waktu di Mall.
Kelvin mengantarkan Levin untuk balik ke rumah, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Dan besok, mereka berdua masih sekolah, jadi Kelvin dan Levin harus segera pulang.
Di dalam perjalanan Levin hanya diam saja, dia sedang sibuk memikirkan tentang chat Liam dengannya sedari tadi.
“Kenapa bisa jatuh, kenapa aku ceroboh. Astaga. ada apa lagi ini.” ucap Levin di dalam hati
Kelvin hanya sibuk menyetir, dia membiarkan Levin sibuk dengan pikirannya sendiri.
[Tiba di Rumah]
Mobil sport berwarna hitam, edisi terbatas itu. Kini sudah tiba di halaman depan mansion yang luas dan besar. Levin juga telah sadar dari lamunannya yang panjang.
“Kelvin. Aku turun dulu ya, kamu pulangnya hati-hati, nanti kalau udah sampai rumah kabarin aku, terus kamu gak boleh ngebut-ngebut di jalan. Ingat, kalau sampai langsung mandi, jangan begadang terus langsung istirahat. Makasih juga udah mau temenin aku seharian, makasih juga traktirannya.” ucap Levin dengan satu tarikan nafas
“iya, sekarang kamu turun dulu, terus masuk ke dalam rumah sana.” balas Kelvin sambil tersenyum.
Levin langsung turun dari mobil milik Kelvin, dia melihat dulu sebentar kepergian Kelvin, setelah itu ia bergegas masuk ke dalam rumah.
Levin berjalan masuk ke dalam rumah, saat ingin menuju ke kamarnya. Tangannya di tarik kuat oleh Liam, menuju ke ruang tamu.
Levin kaget saat mendapatkan perlakuan kasar yang di berikan Liam padanya, malam ini suasana rumah juga sepi, karena orang tua mereka masih belum pulang dari kantor.
“Lepasin Liam, tangan aku sakit. Lepasin.” ucap Levin sambil berusaha melepaskan tangannya.
Liam menarik paksa tangan Levin, saat ini dirinya sedang tersulut emosi. Pikirannya kacau, yang dia inginkan saat ini hanya bertanya.
Liam lalu mendorong tubuh Levin, Levin kini terjatuh di sofa, dia mengelus tangannya yang sudah merah itu, akibat tarikan paksa dari Liam.
“Bisa gak sih, bicaranya baik-baik aja. kamu gak usah narik tangan aku kek gitu, sakit tau Liam.” ucap Levin.
“Gue tanya, lebih sakit mana. tangan lu atau perasaan Pricil.” balas Liam.
“Maksud kamu apa? kok bawa-bawa Pricil.” ucap Levin yang masih kaget.
“Ini, lu lihat baik-baik. gue tau lu cukup pinter sama omongan gue.” sambung Liam sambil menunjukan Hearing Aid milik Levin.
“Ini kok bisa ada sama kamu?” tanya Levin yang melihat Hearing Aid yang berada di telapak tangan Liam.
“Lu kenapa nanya balik gue, gue yang harusnya tanya. lu ngapain ada di toilet kantin sekolah.” jawab Liam.
“Kamu mikir aja deh, orang ke toilet mau ngapain. Pertanyaan kamu itu aneh.” balas Levin sambil memalingkan wajahnya.
“Lu kan yang ngirim base tentang gue dengan Pricil yang lagi berduaan di toilet kantin.” ucap Liam.
“Ngapain aku ngirim begituan ke base sekolah, kamu pikir aku gak punya kerjaan.” balas Levin.
“Lu gak usah munafik, lu gak usah berlaga sok polos. gue tau ini semua kerjaan lu.” sambung Liam.
“LIAM CUKUP, KAMU PIKIR AKU SEJAHAT ITU SAMA KALIAN BERDUA.” timpal Levin yang mulai berdiri dari tempat duduknya.
“SIAPA YANG BISA JAMIN LU GAK BAKALAN JAHAT SAMA GUE DAN PRICILIA? SIAPA. GUE PIKIR LU ORANG BAIK LEVIN. TERNYATA LU BENERAN JAHAT, LU SENGAJA KAN MAU HANCURIN HUBUNGAN GUE SAMA PRICILIA, LU JUGA SENGAJA MAU BIKIN SATU SEKOLAH HUJAT DIA.”_ ucap Liam.
“LIAM, AKU AKUIN HEARING AID ITU MILIK AKU, TAPI AKU GAK PERNAH SAMA SEKALI NGIRIM BERITA APAPUN KE BASE SEKOLAH, KOK KAMU MALAH NUDUH AKU.” balas Levin.
“Lu pikir penjara gak bakal penuh, kalau orang jahat ngaku.” ucap Liam dengan kekehan.
“Aku gak habis pikir, dimana otak kamu. kamu jangan gila asal main sembarangan nuduh orang, mana buktinya kalau aku ngirim berita tentang kamu sama pacar kamu itu.” balas Levin dengan nada tak terima.
“ini, alat bantu kamu, ini buktinya. aku lihat sendiri alat ini jatuh, siapa lagi orang cacat yang ada di sekolah kita. selain kamu LEVIN?” ucap Liam.
“hanya karena alat aku yang jatuh di toilet sekolah, kamu nuduh aku yang bukan-bukan. Aku tau aku memang cacat, aku tau aku punya kekurangan, tapi aku gak nyangka hanya karena aku punya kekurangan kamu bisa nuduh aku yang bukan-bukan.” balas Levin sambil menahan rasa sakit serta air matanya.
“gue tau lu masih sakit hati sama ucapan gue waktu itu, yang gangguin lu sama pacar lu. tapi gue gak nyerang atau bahkan ngirim apapun ke base sekolah ngejelekin lu sama pacar lu.” ucap Liam.
“Aku bukan anak kecil Liam, aku gak pernah punya dendam sama kamu. Pikiran kamu picik, kamu kekanak-kanakan. Aku gak nyangka.” balas Levin.
“LU TAU DIRI, LEVIN LU ITU CACAT, SEHARUSNYA LU SADAR DIRI. GAK ADA YANG SUDI MAU PACARAN SAMA LU YANG CACAT DAN BERHATI JAHAT, LU INGET KALAU SAMPAI HUBUNGAN GUE HANCUR SAMA PRICILIA. GUE BAKALAN HANCURIN HUBUNGAN LU SAMA PACAR LU ITU.” sambung Liam.
“IYA AKU CACAT LIAM, TANPA KAMU TERIAK PUN AKU TAU AKU CACAT. AKU SADAR DIRI SAMA KEKURANGAN AKU, UDAH YA CUKUP. AKU CAPEK BERDEBAT SAMA KAMU, AKU PERMISI.” timpal Levin.
Levin lalu berjalan menahan isak tangis yang akan segera meledak keluar dari mulutnya, dia berlari menuju ke kamarnya.
yang Levin butuhkan saat ini adalah kesendirian, dia benar-benar sedih atas tuduhan serta hinaan yang Liam tujukkan padanya.
Benar memang Hearing Aid itu milik Levin, Hearing Aid jatuh pada saat Levin bergegas lari keluar dari toilet kamar mandi.
Setelah Levin keluar, tak lama kemudian Liam juga keluar setelah berhubungan badan dengan Pricilia. Saat berjalan menuju pintu toilet, mata Liam tak sengaja melihat benda milik Levin.
Liam memutuskan untuk mengambil dan menyimpannya, setelah itu dia pergi beristirahat di tempat rahasianya.
Levin bahkan tidak menyadari, saat kehilangan Hearing Aid miliknya.
Untungnya dia masih memiliki salah satu di bagian telinganya, makanya dia masih bisa melanjutkan pelajaran dengan baik.