Chapter 150


Levin pergi keluar sebentar dari rumah sakit, untuk pergi menemui Rebecca yang sedang menanti kedatangan Liam dan Pricilia.

Levin keluar tanpa pamit kepada Kelvin, karena saat ini Kelvin sedang tertidur lelap. akibat meminum obat pemberian dari dokter.

Jarak antara rumah sakit dan restoran tempat Rebecca janjian lumayan berdekatan.

Levin hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit agar bisa bertemu dengan Rebecca.

Levin keluar dari rumah sakit dan memberhentikan Taxi, agar dia bisa menuju ke tempat Restoran yang sudah di kirimkan alamat oleh Rebecca.

Rebecca saat ini sedang menanti kedatangan Levin, dia sudah tidak memperdulikan kehadiran Liam dan Pricilia. yang ia inginkan malam ini dia ingin bertemu dengan anak kesayangannya itu.

Taxi pun sudah tiba di salah satu Restoran Mewah bernuansa western, Levin pun turun dan memberikan bayaran kepada supir Taxi. setelah itu dia lalu masuk ke dalam.


59899-D13-5-B8-C-4-EFB-BD4-E-967188351201

Pelayan membuka pintu agar Levin bisa masuk, dia juga mengantarkan Levin ke tempat Rebecca. Karena tadi sesaat, Rebecca menyampaikan kepada salah satu Pelayan bahwa putranya akan datang menemuinya.

“Mama..” teriak Levin sambil berlari kecil.

“Levin.” ucap Rebecca.

Rebecca dan Levin kini saling berpelukan, mereka merindukan satu sama lain.

Rebecca sudah beberapa hari tidak melihat kondisi Levin, ia sangat khawatir dengan anak manisnya itu.

“Mama kangen sama kamu.” ucap Rebecca.

“Levin juga.” balas Levin.

“ayo duduk dulu.” sambung Rebecca.

Levin dan Rebecca kembali duduk di kursi, mereka saling berhadapan. Rebecca masih menggenggam tangan hangat milik Levin.

“kamu kok kurusan nak.” keluh Rebecca saat memandangi wajah Levin.

“ih, gak Mam. aku gak kurus kok, ini karena baru ketemu lagi sama Mama.” ucap Levin.

“iya juga ya, beberapa hari gak ketemu sama kamu. Mama jadi ngerasa aneh tau.” balas Rebecca.

“Maaf, baru sekarang Aku bisa ketemu sama Mama.” sambung Levin.

“it's okey sweety. sekarang kita makan yuk, Mama udah laper banget.” timpal Rebecca.

“iya Mama.” ucap Levin.

Rebecca memberikan kode kepada para pelayan, agar segera membawa seluruh pesanannya.

Makanan yang di pesan Rebecca pun muncul, berbagai macam hidangan dia pesankan khusus untuk Levin seorang.

Steak, Pasta, dan semua menu andalan Restoran itu di keluarkan. Levin hanya bisa terpesona melihat makanan yang tersaji di atas meja, dia sangat menyukai makanan.

Rebecca dan Levin memulai makan malamnya, mereka berdua makan sambil bertukar cerita.

“oh iya. Mama hampir lupa, ceritain dulu tentang pacar kamu. dia sakit apa?” tanya Rebecca.

“dia kecelakaan, terus kakinya bermasalah. dokter bilang dia harus di pantau dulu selama beberapa minggu. ada sedikit pergeseran pada tulang kakinya.” jawab Levin sambil mengunyah daging steak.

“Astaga, dia kok bisa kecelakaan, emangnya dia kenapa.” ucap Rebecca.

“Dia-”

Belum sempat Levin menyelesaikan ucapannya, Liam sudah muncul di hadapan mereka bersama dengan Pricilia.


“Mam, sorry aku telat. tadi macet di jalan.” ucap Liam sambil memberikan bucket bunga Mawar kesukaan Rebecca.

“kalau kalian telat lagi. Mama gak bakalan mau ketemu sama kalian.” balas Rebecca sambil mengambil bunga dari Liam.

“Halo Tante Aku Pricilia, maaf ya kita telat.” ucap Pricilia.

“iya, tapi lain kali jangan gini lagi.” balas Rebecca.

Liam dan Pricilia tidak sadar bahwa Levin saat ini sedang bersama dengan Rebecca. Karena posisi Levin yang membelakangi mereka berdua.

Levin juga tidak terlalu perduli dengan kehadiran mereka, yang ia lakukan hanya memakan makanan yang sudah di pesan Rebecca untuknya.

“Kita duduk dulu yuk Pric.” ucap Liam.

“iya.” balas Pricilia.

Belum sempat duduk, mata Pricilia sudah terbelalak saat melihat sosok Levin yang sedang menikmati makananya.

“TULI NGAPAIN LU DISINI.” ucap Pricilia dengan nada tingginya.

Liam dan Rebecca kaget saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Pricilia, sebenarnya yang lebih kaget itu Rebecca dia tidak menyangka bahwa Pricilia berani menghina Levin di hadapannya langsung.

Liam pusing, dia juga sama kaget saat melihat dan mendengar ucapan Pricilia terhadap Levin.

Levin sendiri hanya sibuk makan, dia tidak menggubris ucapan Pricilia. entahlah mungkin dia sedang tidak berselera.

“gue itu lagi ngomong sama lu, lu budeg atau gimana?. eh gue lupa lu kan emang TULI, dasar cacat.” ucap Pricilia dengan nada remehannya.

Rebecca menatap tajam Pricilia, dia masih ingin mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Pricilia.

“Pricilia kamu kenapa?.” tanya Rebecca.

“ini loh Tante, dia ini anak cacat yang sekolah di sekolahan kami. dia itu suka buat masalah, aku heran kenapa dia bisa ada di tempat sebagus ini.” jawab Pricilia sambil melipat kedua tangannya.

Liam hanya bisa melihat suasana yang tegang itu, dia tidak berani berbicara.

Rebecca yang tak terima dengan ucapan Pricilia seketika langsung berdiri dari tempat duduknya.

Plakkkk

Pricilia di tampar Rebecca. Rebecca sudah tidak bisa membendung rasa amarahnya lagi. Dia sangat marah saat Pricilia berani menghina dan mangatai Levin yang bukan-bukan.

“Tante kenapa nampar aku.” ucap Pricilia.

“Saya tidak menyangka, Mr. Robbert memiliki anak yang tidak punya etika seperti kamu. Kamu sungguh lancang dan tidak tahu malu, kamu berani menghinanya. Kau pikir kau siapa, saya bisa menghancurkan perusahaan orang tua kamu jika sikap kamu masih seperti ini.” balas Rebecca sambil menatap tajam.

“Mama.” ucap Liam.

“Diam kamu Liam, Mama tidak sedang menyuruhmu untuk berbicara. Jadi orang seperti ini yang akan bertunangan denganmu, omong kosong. Aku tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian berdua, jangan pernah bermimpi untuk bertunangan dengannya.” balas Rebecca tanpa menatap Liam.

“Tapi Tante.” sambung Pricilia.

“Nona Pricilia, ingat ini baik-baik. sampai kapanpun jangan pernah kamu bermimpi untuk bisa bergabung dalam keluarga kami, satu hal lagi. Apa kau yakin benar-benar hamil? ayolah jangan bermain-main denganku. Orang seperti kalian juga tidak ingin hamil di usia yang seperti sekarang, apalagi kau dari kalangan atas. jadi apapun bisa kau lakukan dengan mudah. Aku hanya berpikir kamu sedang mencoba memanfaatkan keadaan Liam dengan sengaja membuat dirimu untuk hamil.” timpal Rebecca.

“Tante Aku sudah selesai makan malamnya, terima kasih untuk hidangnnya. Aku permisi dulu.” ucap Levin lalu berdiri dari kursinya.

Levin berjalan keluar dari restoran, dia meninggalkan mereka semua yang sedang melakukan perdebatan panjang.

Levin sangat kesal saat ini, acara makan malamnya bersama Rebecca jadi terusik akibat ulah Pricilia.

Rebecca pergi kembali ke rumah, setelah membalas hinaan Pricilia terhadap putra angkatnya, ia tidak menyangka bahwa Levin bisa di hina oleh orang seperti Pricilia.