Bulan
Jevear pergi bersama dengan Jordi, menerima tawaran ajakan dari Jordi menurut Jevear tak ada salahnya, apalagi jika Jevear mengingat kebaikan dari Jordi kemarin. Yang sibuk merawat dirinya yang jatuh sakit.
Jordi menggunakan motor kesayan- gannya untuk membonceng Jevear, mereka berdua melintasi jalanan yang sepi di malam hari.
“Jeve pegangan” teriak Jordi
Jevear yang tadinya santai, seketika langsung memeluk Jordi saat Jordi mulai menambah kecepatan laju motornya.
Jevear bahkan memeluk Jordi dengan erat dari pinggangnya, Jordi melihat wajah Jevear dari kaca motor seketika ia menjadi tersenyum.
Jordi mengajak Jevear keluar rumah, entah kemana arah tujuan mereka. Yang pasti Jordi hanya ingin menghibur Jevear, setelah lama berputar-putar mengelilingi jalanan yang kosong itu.
Jordi perlahan mulai menepikan kendaraan miliknya, motornya berhenti tepat di atas sebuah jembatan, Jevear memperhatikan sekitar. Saat melihat ke langit, bulan purnama yang terang membuatnya terkesima.
Jevear pun segera turun dari atas motor, ia berjalan sedikit mendekat. Jevear memperhatikan dengan seksama, Jordi pun menurunkan standar motornya. Jordi berjalan mendekati Jevear yang masih tak berhenti mengagumi cahaya bulan.
Jordi melihat ke arah langit, kemilauan bintang-bintang dan terangnya bulan membuat mereka sungguh terpana.
“Lo tau nggak kenapa gue nggak berhenti lihatin bulan diatas” ucap Jevear yang masih menperhatikan bulan.
“Kenapa?” tanya Jordi.
“Kalo gue lihat bulan, gue jadi ingat orang tua gue. Mereka persis seperti bulan” ucap Jevear.
Jordi pun kembali memandangi Jevear di sampingnya, kini ia mengerti kenapa Jevear terus-menerus tak berhenti menatap bulan.
“lu kangen sama mereka ya?” tanya Jordi kembali.
“Tentu, tapi tuhan udah ambil dua bulan kesayangan gue” jawab Jevear lalu dengan cepat menyeka kelopak matanya yang hampir menetaskan air mata.
“Nangis aja kalo lu emang mau nangis” ungkap Jordi.
“Siapa yang nangis, orang gue kelilipan doang” balas Jevear.
Jevear berpura-pura seakan-akan dirinya sedang baik-baik saja, nyata air mata tak sanggup ia bendung.
Kerinduannya pada orang-orang disekitarnya turut menemani heningnya malam ini, Jordi mengerti sosok tengil dan banyak tingkah di hadapannya ini sangatlah penyayang keluarga.
“Jeve” panggil Jordi.
Suara panggilan dengan nada lembut itu sukses memecahkan tangisan Jevear malam ini, diapun tak sanggup. Ia tak dapat mengikari kerinduan yang hadir di dalam hatinya. Merindukan orang tua yang telah tiada, serta nenek keluarga satu-satunya yang ia punya membuatnya menitihkan air mata.
Jordi mendengar isakan tangis itu, semula jarak yang terbentang di antara mereka tanpa sadar sudah tidak ada lagi.
Sekali lagi Jevear menangis di dalam pelukan Jordi, Jordi sang manusia dingin dengan orang lain.
Diam-diam memberi perhatian lebih kepada Jevear, sosok orang pertama yang sukses membuat ia berpikir setiap malam untuk membantu Katy agar supaya merubah perilaku kegilaan dari Jevear.
Mendengar tak ada suara yang keluar dari bibir itu, Jordi pun segera melepas pelukannya.
Jevear yang telah merasakan kelegaan kembali mengusap air matanya yang tersisa, Jordi masih menatap tingkah laku Jevear dan tanpa sadar matanya tertuju pada bibir yang berbentuk tipis milik Jevear.
Jevear yang awalnya sedang sibuk mengusap matanya tak sengaja menatap Jordi yang sibuk melihatnya.
“Jordi” panggil Jeve dengan lembut.
Jordi pun sadar dari keterlamunannya, dan kembali melihat Jevear.
“Kenapa Jeve?” tanya Jordi.
“Mm., makasih” jawab Jevear yang malu-malu.
Melihat tingkah lucu Jevear seketika Jordi melakukan tindakan spontanitas, yaitu dengan mengacak rambut Jevear.
Perlakuan sekejap itu membuat jantung Jevear sedikit berdegup kencang, Jevear tidak marah atas tindakan yang dilakukan Jordi.
Dengan cepat Jevear bahkan berjinjit sedikit dan langsung mengecup pipi kiri Jordi, yang membuat Jordi langsung menjadi batu seketika.
“Sorry” ucap Jevear yang langsung menundukan pandangannya.
Jordi yang terdiam itu masih melihat Jevear, lalu Jordi mendongakan wajah Jevear ke arahnya menggunakan tangannya.
Dan tanpa berpikir panjang ia pun mencium bibir lembut Jevear, bukannya menghindar justru Jevear malah menanggapi ciuman itu.
Tautan di antara bibir mereka bisa dirasakan oleh masing-masing, Jordi melumat bibir Jevear, dengan tenang mereka saling berciuman di bawah terangnya sinar rembulan.