Bertemu



Jevear kini sudah bersama dengan Ian di salah satu mall, mall tersebut dekat dengan kantor dimana Ian bekerja.

“Masih aja marah-marah, udah kali Jev” tegur Ian kepada Jevear.

“Gimana gue nggak marah coba!, itu anak cari perkara mulu sama gue yan” keluh Jevear dengan mulut yang mengerucut.

“Dari pada lo marah-marah terus, mendingan simpan tenaga lo. Ayo kita cari makan” ajak Ian yang mengerti kondisi Jevear sang sahabat.

Mendengar penawaran dari Ian seketika membuat wajah Jevear menjadi sumringah, rasa kesalnya pun mendadak hilang mengingat Ian hari ini akan mengikuti keinginannya.


Mereka berdua mulai berburu kuliner yang ada, Ian dan Jevear lantas mulai memilih manakah tempat yang akan mereka masuki untuk makan siang bersama.

Melihat-lihat ke arah sekitar tepat sebuah restoran italia menjadi pilihan Jevear.

“Ian, ini aja yuk” ajak Jevear tanpa basa basi kepada Ian.

Ian hanya mengikuti Jevear sambil menarik nafas dalamnya.

Jevear dengan wajah sumringah berbicara dengan pelayan, ia tidak perduli dengan harga menu makanan yang ada di restoran tersebut.

Yang Jevear inginkan hanya makan dan makan, Pelayan pun mengantarkan mereka berdua ke tempat dimana untuk dua orang, tak disangka sosok seseorang membuat atensi Jevear menjadi berubah.

“ELO” ujarnya dengan nada tinggi

Jordi hanya menatap dengan datar Jevear yang sedang berdiri di hadapannya.

“Lo ngikutin gue ya” tuduh Jevear.

Mendengar itu wajah yang semula datar berubah menjadi cekam.

“Gue ngapain ngikutin lu, kayak gue nggak punya kerjaan aja” ketus Jordi.


Perdebatan sengit mereka tentu membuat masing-masing dari pihak yang menemani Jevear ataupun Jordi sukses menggeleng-gelengkan kepala.

Sahutan demi sahutan di antara mereka tak kunjung usai, sampai dimana Ian yang sudah tidak enak hati segera menarik Jevear agar kembali ke tempat makan mereka.

“Udah anjir, Jeve. Lo mah jangan malu-maluin kita disini dong” ucap Ian yang sedang berkeluh kesah pada sahabatnya.

“Gimana gue nggak marah, masa dia ledekin gue dari tadi, DIA ITU—” belum selesai bicara Ian sudah lebih memilih menutup mulut Jevear dengan roti yang ada di hadapan mereka.

Ian benar-benar tak sanggup melihat aksi anarkis yang dilakukan Jevear, Ian paham betul bagaimana tabiat dari sahabatnya ini.

Jevear tidak pernah ingin mengalah jika berdebat dengan orang lain, apalagi orang yang suka membuatnya kesal.

Karena lapar Jevear memilih untuk berhenti berceloteh, dia menyantap hidangan mahal yang tanpa pikir panjang dia pesankan untuk dirinya dan Ian.

Sambil makan Jevear dan Jordi saling memandang dari kejauhan dengan sinis.