berdiri di kantor polisi terkejut saat Jonas datang menghampirinya. >Jonas kebetulan mampir ke kantor, untuk membawakan laporan kasus yang tim mereka tangani. Saat tiba di kantor dia melihat wanita tersebut yang sibuk menatap kedalam kantor. > Jonas sangat cepat membaca situasi, dia mengerti. Bahwa wanita yang tengah berdiri di hadapannya ini sedang tidak baik-baik saja. Jonas mencoba menggali dengan memberikan beberapa pertanyaan sederhana kepada korban, saat mendengar keterangan dari korban. > Jonas tentu sangat kaget, saat mengetahui usia wanita tersebut. Korban masih sangat muda, dia berumur 17 tahun. Jonas sendiri yang mengarahkan kepada gadis remaja itu, untuk mencari alat bukti. Supaya pelaku bisa langsung di tangkap. Mereka bahkan bertukar nomor ponsel agar nanti Jonas bisa membantu dia. > Korban berhasil mengambil bukti cctv yang dia rekam menggunakan ponselnya, belum sempat memberikan bukti kepada Jonas. > Dia sudah lebih dulu tertangkap oleh Pelaku, diam-diam pelaku sering mengikuti korban untuk melihat pergerakan korban. > Pelaku ingin memastikan, apakah korban akan mengadukannya kepada kepolisian atau tidak, dan ternyata benar. Pelaku sendiri yang mengatur siasat untuk menjebak korban, supaya bisa dia singkirkan. > Korban yang tertangkap pun, langsung menelan memori card handphone miliknya ke dalam tubuh. Dia masih sempat mengirimkan pesan, untuk meminta tolong kepada Jonas. > Jonas datang terlambat. Pelaku telah lebih dulu berhasil membunuh korban, dan meninggalkan korban di rumah pelaku. > Jonas menyesali perbuatannya yang telah mengajari korban, seharusnya Jonas sendiri yang turun tangan untuk membantu korban. Tetapi karena kesibukannya saat itu, dia membiarkan korban untuk bekerja sendirian. > Jonas sendirilah yang memutuskan untuk mengambil kasus pemerkosaan tersebut, sebagai bentuk rasa penyesalan-nya terhadap korban. Dia ingin supaya pelaku kejahatan bisa membusuk di dalam penjara untuk selama-lamanya. #[Penjelasan Selesai]

“Apa tim kalian sudah malas bekerja? sampai alat bukti yang seharusnya kami dapat, jadi hilang begitu saja.” tutur Jonas yang sedang menahan amarahnya.

“Dasar bodoh, gue gak peduli. kalau sampai barang buktinya gak kalian temuin besok. Lo semua bakalan tanggung akibatnya.” ucap Yohan yang masih kesal.

Seorang lelaki muncul dengan dua orang yang mengikutinya dari belakang. Dia memberikan tepukan pada tangannya. Jonas, Teo, Yohan dan semua orang yang berada di ruangan pun terkejut saat melihat kedatangan orang-orang itu.

“Kau dan tim-mu benar-benar menyebalkan Jonas.” ucap Steven.

“Jika kalian ingin sambutan hangat dari kami. maka jangan pernah untuk bersikap menyebalkan Steven.” balas Jonas.

Dialah Steven ketua tim forensik, dia tiba di ruangan dengan Erlan dan Garvin. Mereka bertiga setim dan juga sahabatan.

Steven menarik jaket jeans milik Jonas, dan mengisi alat bukti ke dalam kantong saku Jonas.

“Ini alat bukti yang kalian cari, jadi kalian semua bisa berhenti untuk mengacak ruangan kami.” ucap Steven sambil menatap tajam Jonas.

“Perhatikan langkahmu Stev, jangan terlalu lancang mencampuri urusan kami. lakukan saja tugas kalian, dan jangan pernah mengambil tugas kami.” balas Jonas sambil membalas mengeluarkan tatapan tajam elangnya untuk Steven.

Jonas lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan tim forensik, disusul dengan Teo, Yohan dan beberapa anak buahnya, untuk kembali ke ruangan mereka.