Arena
Jordi melaju dengan sangat kencang tanpa memperdulikan kondisi dirinya yang melintasi jalanan dengan kecepatan penuh, Timothy telah mengirimkan lokasi tempat dimana arena pertandingan balap liar akan di mulai.
Lain halnya dengan Jevear, dia sibuk berteriak saat melihat para peserta yang sibuk beradu balap, Jevear begitu senang saat tiba di Seoul. Dia merasa begitu bebas, senang tanpa pengawasan.
Berbeda ketika dia berada di Sydney bersama dengan Katy, hidup dengan aturan membuatnya sesekali harus melakukan kecurangan.
Sang nenek tentu memiliki aturan tersendiri, demi untuk melindungi cucu semata wayangnya. Berbagai macam hal berupa larangan harus diberikan oleh Katy, hal tersebut tentu membuat Jevear merasa terkadang kesal, sehingga membuat dirinya melakukan kenakalan yang secara diam-diam dilakukan olehnya.
Jevear telah membohongi Ian sahabatnya, jika dirinya akan pergi menghadiri undangan dari salah satu sahabat neneknya. Membuat Ian tentu saja percaya, sebab Ian yakin bahwa Jevear akan hadir demi memenuhi keinginan dari sang nenek Jevear yang ingin memperkenalkan Jevear dengan Jordi cucu dari sahabatnya yaitu Elisabeth.
Jordi kini telah tiba, matanya bergerak menelusuri suasana malam yang penuh dengan keramaian tersebut. Dia mencari dimana keberadaan Jevear, dengan cekatan matanya mencari sosok itu.
Jevear bergelayutan manja dengan beberapa stranger yang sempat membantunya saat sore hari, Jevear tidak takut ketika bersama dengan mereka. Sebab selama ini, di Sydney diam-diam Jevear senang berbaur dengan stranger yang ia temui.
Tak jarang mereka melakukan ons membuat Jevear mabuk kepayang, semenjak mengenal seks Jevear jadi semangat bercinta dengan lelaki atau wanita manapun, dia benar-benar bahagia.
Ketika membahas soal ranjang, bagi dirinya hal tersebut adalah surga baginya. Sempat bercumbu dengan beberapa wanita, membuatnya tidak terlalu bersemangat. Berbeda saat ia bercinta bersama dengan pria, setelah merasakan sensasi bercumbu bersama pria-pria membuatnya memutuskan hanya akan bercinta dengan pria tidak dengan wanita.
Stranger yang menolong Jevear pun mengendus lehernya, membuat Jevear terkadang mengeluarkan suara desahan. Bokongnya sesekali di remat, melihat tindakan Jevear dari kejauhan membuat Jordi menjadi murka, ia pun bergerak dengan cepat mendekati mereka.
Saat sedang menikmati endusan beserta remasan bokong dari stranger, tiba-tiba Jevear berteriak. Membuat sebagian dari mereka melihat ke arah mereka semua.
“Berengsek, lepasin tangan gue” keluh Jevear yang berteriak menahan kesakitan saat tangannya di tarik oleh Jordi.
“Anjing lo siapa?” tanya lelaki tersebut yang merasa terusik dengan kedatangan Jordi.
Pria asing tersebut berdiri, lalu memegangi tangan Jevear.
“Lepasin dia” tegur pria asing itu.
“Lepas, sebelum gue marah” ancam Jevear.
Jordi melihat tangan Jevear yang sedang ia genggam itu, lalu beralih menatap sinis Jevear.
Stranger tersebut dengan lancang, langsung menarik Jevear kemudian merengkuh pinggulnya.
“Lo, jangan pernah macam-macam di tempat gue, kalo lo ingin selamat. Mending buruan deh lo pergi dari sini” ancam lelaki tersebut.
“Lo denger kan apa yang dia omongin, mending pergi deh. Sebelum mereka hajar lo sampai mampus disini” ledek Jevear.
Kekehan serta tatapan ledekan dari mereka semua sukses membuat atensi dari Jordi terpancing.
“Jevear, gue hitung sampai 3. Tinggalin tempat ini atau lo gue seret” balas Jordi.
Kekehan Jevear berubah menjadi tatapan sinis, dia benar-benar kesal melihat sosok yang sedang berdiri di hadapannya dengan ucapan ancaman.
“Lo aja yang pergi, gue nggak kenal lo. Sok kenal banget” ketus Jevear
“Kamu kenal dia babe?” ucap lelaki itu.
“No, aku nggak kenal dia. Yang aku tau aku cuma kenal kamu” tutur Jevear yang berbicara dengan nada menggoda.
Stranger tersebut mengecup bibir Jevear, tanpa aba-aba Jordi langsung maju mendekat menarik Jevear kemudian mendorong pria tersebut sampai ia terjatuh.
“ANJING BERANI BANGET LO” teriak salah satu rekannya.
Seseorang dari belakang ingin menghajar Jordi, belum sempat melayangkan pukulannya. Pistol Jordi lebih dulu berada tepat pada jidat pria tersebut, membuat semua orang benar-benar tegang.
“Sekali lagi lo gerak, peluru ini tembus kepala lo” ancam Jordi dengan serius.
Jevear bergetar, ia ketakutan. Dia bingung melihat sosok yang terus memaksanya sejak tadi.
Stranger yang terjatuh memberikan kode untuk segera mengepung Jordi, namun Jordi sangat pintar membaca situasi. Orang-orang yang mengepungnya seketika menunduk, saat Jordi menembakkan peluru ke langit:
Suasana yang ramai serta dentuman musik yang memenuhi malam, mendadak sunyi senyap seketika.
“Siapapun yang ganggu tunangan gue, peluru ini nggak bakalan segang-segan buat tembus ke kepala kalian” ancam Jordi.
Setelah memberikan ancaman, Jordi kembali melihat Jevear. Mendengar bunyi tembakan membuat ia tak berani melihat Jordi, matanya terpejam serta tubuhnya gemetar. Jordi menggenggam tangan Jevear lalu mengajaknya pergi dari sana.