Aku Pergi


Mobil mewah kini telah memasuki sebuah kawasan pemakan elit, pintu mobil terbuka. Sepasang suami istri turun dari mobil dengan keadaan tergesa-gesa, kehadiran mereka membuat beberapa para pelayat tercengang. Yang mengenali sosok suami istri tersebut, dialah Johnny Suh dan Jaehyun Suh, tidak banyak orang yang mengetahui identitas asli mereka.

Hanya beberapa tamu undangan saja yang mengenal baik sosok suami istri itu. Bahkan ada pula yang tidak percaya, jika sosok yang terbaring tersebut merupakan anak kandung dari mereka. Karena selama ini tidak ada yang pernah tau tentang kehidupan mereka.

Mereka menyembunyikan identitas keluarga mereka dengan sangat sempurna. Johnny dan Jaehyun dari kejauhan bisa melihat sebuah peti mati mahal dan lahan kosong berukuran peti mati, saling bersebelahan.

Johnny dan Jaehyun berjalan melangkahkan kaki mereka dengan cepat, bahkan melewati Mark Suh yang sedang berdiri tak jauh dari peti mati tersebut.

Saat melihat wujud orang yang di dalam peti, membuat Jaehyun langsung jatuh tersungkur ke tanah. Ia sungguh tak percaya, bahwa sosok yang telah kaku itu adalah putra bungsunya yaitu Haechan Suh.

Johnny sendiri hanya bisa terkejut dan tak percaya, kala melihat putra kecilnya yang sudah tidak bernyawa lagi. Haechan di letakkan di dalam peti dengan menggunakan balutan jas mahal.

Jaehyun hanya bisa merangkak, sambil mendekat ke arah peti mati tersebut. Johnny yang melihat lalu bergerak untuk mendekati istrinya.

“Sayang, nak. Ayo bangun, ini Papi.. kenapa jadi begini nak..”

Ucap jaehyun sambil mengusap wajah yang telah terbujur kaku.

“Mas, suruh adek bangun.., Ayo Mas, bilang ke dia bangun. Kita datang kesini buat jemput dia..”

Jaehyun berucap sambil menatap wajah sang suami, bisa dilihat oleh Johnny. Wajah itu penuh dengan air mata kesedihan.

“Jae.”

“ADEK.., BANGUN, NAK.., HAECHAN SAYANG BANGUN NAK. ANAK PAPI AYO BANGUN, ADEK BANGUN NAK.., AYO SAYANG BUKA MATA KAMU.., ADEK INI ADA PAPI, ADA DADDY.” Jaehyun menjerit histeris, sambil menggerakkan paksa jasad sang anak agar kembali terbangun.

“Jae, jangan kek gini. Kasihan anak kita sayang. Kamu jangan gituin dia, badannya pasti sakit.” ucap Johnny yang berusaha menghentikan perlakuan istrinya kepada Haechan.

“Makanya suruh dia bangun Mas, AKU MAU ANAK AKU HIDUP MAS.. AKU GAK MAU DIA MAT- MAT-”

Jaehyun tak mampu untuk melanjutkan kalimatnya, ia masih belum menyangka bahwa ucapan terakhirnya kini menjadi nyata.

Tuhan mengabulkan permintaan darinya, separuh nyawanya telah diambil oleh Tuhan.

Mark suh hanya bisa menangis sambil menahan rasa sesak di dadanya, saat melihat pertemuan kedua orang tuanya dan adik kecilnya.

Beruntung Mark ditemani oleh sahabat terbaiknya yaitu Lucas. Lucas pun hanya bisa mengusap punggung Mark sambil merangkul pundaknya, agar Mark bisa berdiri dengan kuat.

“HAECHAN SUH, AYO BANGUN. BANGUN SAYANG., JANGAN KEK GINI DONG NAK SAMA PAPI, PAPI MINTA MAAF NAK, PAPI MOHON BANGUN. PAPI GAK MASALAH KALAU HAECHAN MARAHIN PAPI NAK.. TAPI TOLONG KAMU BANGUN SAYANG. BANGUN HAECHAN.”

Jaehyun masih tak ingin menerima, kepergian putra kecilnya. Ia masih berharap kalau ini semua adalah mimpi buruk baginya.

“Jaehyun, sudah. Cukup jae.” ucap Johnny yang berusaha untuk menenangkan istrinya.

“Diam Mas, anak aku gak boleh pergi.” balas Jaehyun yang melepaskan genggaman Johnny di bahunya.

“PAK TOLONG TUTUP LUBANG ITU LAGI. ANAK SAYA GAK SUKA GELAP. TUTUP PAK, DIA GAK AKAN SUKA TIDUR DI TEMPAT GELAP PAK, SAYA MAU BAWA PULANG ANAK SAYA..” pinta Jaehyun kepada para pegawai yang akan membantu mereka untuk menutup galian lubang tersebut.

“Jaehyun, sayang lihat aku. Tatap aku..” Johnny memegang kembali wajah sang istri agar bisa melihatnya.

“Kamu Sayang kan sama adek?” tanya Johnny.

“Mas..” Ucap Jaehyun yang hanya mampu bergumam sambil menangis.

Johnny mengusap helaian rambut halus milik Jaehyun.. “Kita kuburin dia yah, biarin dia tidur disini. Izinin anak kita tidur sayang, kasihan dia kalau kelamaan. Kamu mau ya sayang, tolong demi Haechan. Demi Adek sayang, Mas mohon..” Johnny berucap sambil menangis, ia juga tak kuasa untuk membiarkan anaknya pergi meninggalkan mereka semua untuk selama-lamanya.

Jaehyun melepaskan tangan sang suami dari wajahnya, ia kembali melihat wajah sang anak. Dia mendekat sambil berbisik.

“Anaknya Papi, emang kamu mau pergi yaa sayang.. hmmm..! kalau gitu. Kamu tidur yang nyenyak yaa nak. Maafin Papi, tolong maafin Papi yang selama ini udah bohongin adek sama abang. Papi terpaksa sayang, Papi gak ingin sampai kalian terluka. Papi minta maaf, adek mau kan maafin Papi nak..” Jaehyun berbicara sambil berlinang air mata, dia hanya bisa mengusap surai halus milik Haechan.

Jaehyun lalu memberikan ciuman pada kening putranya, sungguh hatinya tak rela membiarkan Haechan pergi meninggalkan mereka semua. Tetapi garis takdir Haechan telah sampai disini.

“Sayang, anak papi yang tampan. Anak baiknya papi. Sayangnya papi, cintanya papi. Papi bakalan selalu kangenin kamu, nak.., kalau papi kangen adek gimana sayang. Adek baru beberapa bulan ninggalin rumah. Papi pikir adek bakalan hubungin papi, terus minta di jemput. Tapi ternyata enggak ya nak, kamu lebih milih pergi buat selama-lamanya ninggalin kita.” Ucap Jaehyun sambil merapikan penampilan Haechan.

Setelah itu Jaehyun kembali mundur, dia membiarkan Johnny untuk berbicara terakhir kali dengan Haechan. Johnny berusaha kuat, walau hatinya saat ini begitu hancur.

“Adek.., Hey.. kesayangan kita semua, kenapa kamu gak hubungin daddy nak. Setiap malam daddy nungguin panggilan dari kalian. Daddy selalu tunggu kabar kalian buat minta di jemput supaya kembali ke rumah nak, tapi kenapa kek gini.Bukan seperti ini yang daddy mau nak, kenapa gak ngasih tau ke kami. Kalau kamu sakit sayang, ngapain kamu nahan sakit nak? kamu punya daddy sama papi. Daddy dan papi gak akan pernah bisa benci sama adek dan abang. Kita gak pernah benci sama kalian.” ucap Johnny sambil merapikan dasi putranya.

Johnny berusaha tegar, tetapi ia tak juga bisa, tangisan pilu miliknya pun pecah. Gambaran terakhir yang di ingat olehnya, kala dia mengusir Haechan dari rumah. Jika dia bisa menghentikan waktu, mungkin saat itu dia tidak akan membiarkan putra bungsunya melangkahkan kaki untuk pergi meninggalkan rumah mereka.

“Adek maafin daddy nak, daddy gagal buat jagain adek. Daddy gak berhasil jadi orang tua, maafin daddy sayang. Maafin daddy sama papi yang terlambat jujur sama adek, semuanya kita lakuin demi keselamatan kalian. Daddy bodoh, daddy nyesel nak, tapi yang daddy sama papi ingin supaya kalian gak terluka.” ucap Johnny.

Johnny memberikan ciuman terakhir kepada putra bungsunya untuk yang terakhir kali, setelah itu dia merangkul Jaehyun untuk berdiri.

Mark yang tak kuasa melihat pertemuan mereka itupun, berjalan mendekati adiknya untuk terakhir kalinya.

“Adek, Echan abangnya adek, lo seneng gak lihat papi sama daddy ada disini, adek lo bahagia kan? abang udah kabulin keinginan terakhir Echan. Adek, lo pengen kan lihat daddy sama papi untuk terakhir kali, ini udah abang wujudin keinganan terakhir kamu. Echan, lo kok tega ninggalin gue sendirian..! katanya lo suka dengerin gue nyanyi setiap malam buat lo. Kenapa jadi kek gini, kenapa Chan? kenapa lo gak biarin papi sama daddy tau penyakit lo. Kenapa cuma gue yang harus tau. Sakit banget Chan, gue setiap malam harus nahan tangis lihat lo menjerit kesakitan. Maaf yaa., gue gagal jadi abang buat lo Chan, sorry banget, lo jangan benci gue yaa. Abang sayang banget sama kamu. Haechan sayang adek kesayangan Abang, kamu adik abang yang hebat, yang kuat, makasih juga mau berjuang di saat-saat terakhir. Walau sebenarnya gak mungkin, makasih udah selalu jagain keluarga kita, maaf juga kalo selama ini abang gak pernah tau keadaan kamu yang sebenarnya.” ucap Mark. yang berbicara sambil menangis.

“Mark, gue yakin adek lo udah bahagia. Dia juga udah gak kesakitan lagi.” tutur Lucas.

“Luc, lo lihat deh adek gue orang yang paling kuat. Dia lebih kuat dari gue.” balas Mark.

“Iya, gue tau. Sekarang lo ikhlasin dia pergi yaa...” ucap Lucas.

Proses pemakaman pun di mulai, peti kemudian di turunkan kedalam lubang liang lahat, setelah itu lubang pun di tutup menggunakan timbunan tanah. Suara isak tangis terdengar dengan jelas dari keluarga maupun para pelayat yang mengenal baik sosok Haechan.

Selesai proses pemakaman, semua para pelayat mulai meninggalkan San Diego Hills Memorial Park. Yang tersisa hanyalah, Johnny, Jaehyun dan Mark. Hanya ada mereka bertiga, mereka masih duduk mengelilingi makam yang masih basah itu.


Mereka bertiga masih terlihat diam, sembari melihat gundukan tanah di hadapan mereka. Jaehyun membuka obrolannya dengan si sulung Mark.

“Bang, maafin papi ya... Maaf karena perbuatan papi kamu dan adek jadi menderita, maafin papi nak.” ucap Jaehyun sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Haechan Suh di atasnya.

“Kenapa pi, kenapa kalian tega bohongin kita. kenapa?” balas Mark yang masih menatap sendu makam di hadapannya.

“Papi punya alasan nak, semua ini karena orang tua Papi, kakek kalian. Dia yang telah membunuh orang tua dari Daddy kalian. Kakek rakus dengan harta, keluarga Papi gak sekaya keluarga Daddy, makanya kakek begitu sangat terobsesi untuk menguasai seluruh harta dari keluarga Daddy.” sambung Jaehyun.

“Kenapa papi gak laporin mereka ke polisi aja.” timpal Mark.

“Gak semudah itu nak, dunia bisnis sangat kejam. Kalian akan menang jika kalian memiliki uang.” ucap Johnny.

“Terus apa hubungannya dengan kepura-puraan kalian.”

“Tentu ada sayang, dulu saat kalian berdua masih kecil. Papi gak sengaja dengerin ucapan dari kakek kalian. Dia melakukan panggilan telephone, dia menjelaskan kepada seseorang untuk menutupi kasus pembunuhan yang ia lakukan pada Opa kalian. Saat itu Papi sedang ingin menjenguknya di rumah bersama dengan kalian, tapi Papi malah mendapat kejutan besar darinya. Waktu itu Papi di ancam oleh kakek kalian, dia bilang akan membunuh kalian dan Daddy. Jika papi berani berbicara pada publik tentang kejahatan yang dia lakukan.” ucap Jaehyun.

“Jadi karena harta dia ingin membunuh kita, gitu pi..!” balas Mark.

“Iya nak.” sambung Jaehyun.

“Kenapa papi gak cerita aja ke Daddy?” tanya Mark.

“Sudah, papi pernah berusaha buat omongin hal ini ke Daddy kalian, tapi Kakek kamu selalu berusaha untuk menghalangi niat Papi. Daddy kalian juga pernah di buat celaka sama dia, dari situ papi yakin kalau ucapannya enggak mungkin main-main.” jawab Jaehyun.

“Dia benar-benar gila...” ketus Mark.

“Alasan Daddy buat ikutan diam kek Papi, karena trauma kepanjangan yang di alami oleh Papi kalian. Orang tua dari Papi setiap saat memberikan teror untuk Papi kalian tanpa sepengetahuan Daddy, kalian saat itu masih kecil jadi belum mengerti nak. Daddy harus berusaha keras, agar trauma Papi kalian tidak kembali. Makanya Daddy selalu diam, daddy bakalan ngomong kalau hanya berdua sama Papi.” ucap Johnny.

“Jadi karena itu Papi memilih untuk diam?” tanya Mark.

“Iya.” jawab Johnny.

“Tapi Papi, Kakek udah lama mati. Kenapa Papi gak ngomong aja.” Ucap Mark.

“Gak semudah itu sayang, walau orang tua Papi sudah lama mati. Tapi ada keluarga Daddy yang diam-diam mengetahui rahasia keluarga kita.” balas Jaehyun.

“Jadi. Daddy sama Papi di ancam lagi.” ucap Mark.

“Iya Bang, Daddy bisa aja ngelawan. Tapi papi kalian sendiri yang gak mau, dia gak ingin keluarga kita hancur. Makanya dia milih buat diam.” sambung Johnny.

“Daddy, kenapa diam aja. Kenapa gak bergerak.” ucap Mark.

“Sudah Daddy bilang, kalau dunia bisnis itu kejam. Semua cara akan dilakukan orang-orang buat hancurin reputasi keluarga kita.” balas Johnny.

“Lalu sejak kapan penderitaan kita berakhir...” sambung Mark.

“Saat kamu kelas dua smp, Daddy berhasil hancurin mereka semua. Tapi saat itu, rasa trauma dari Papi kalian kambuh lagi. Jadi mau gak mau Daddy harus diam demi kebaikan Papi..” Timpal Johnny.

“Papi sebenarnya ingin ngasih tau kalian, tapi Daddy selalu ngelarang. Alasannya itu trauma Papi, trauma Papi bisa kapan saja muncul kembali. Jika ada moment tertentu yang bisa memicu Papi bakalan ingat masa-masa menyeramkan itu nak...” ucap Jaehyun.

Tanpa berucap lagi Mark berdiri dari tempatnya, dan langsung memeluk Jaehyun. “Maafin abang yang kek anak kecil papi, maaf yah pi. Abang gak tau kalau selama ini papi juga menderita, andai sikap abang dewasa saat itu. Mungkin keluarga kita gak bakalan kek gini.” ucap Mark yang mendekap erat sang Papi.

Johnny mengusap punggung putranya, ia mengerti kalau selama ini Mark hanya salah paham pada mereka.

Mark tidak tau tentang kejadian sesungguhnya, yang selama ini ditutupi oleh Johnny Suh secara mati-matian. Demi keamanan keluarga kecilnya.

Karena mendapatkan banyak teror, mulai dari pengiriman bangkai ke rumah, makanan yang di berikan racun, selalu diikuti oleh orang jahat. Membuat Jaehyun merasa tak aman, hal itulah yang membuat mengapa Jaehyun lebih memilih untuk membisu.

Dia bahkan selalu berpura-pura tak mendengar orang lain, walau sebenarnya dia mendengar. Yang Jaehyun inginkan adalah ketenangan dan rasa aman untuknya dan keluarganya.

Mengenai bahasa isyarat, saat Jaehyun dalam keadaan sakit. Dokter yang menangani kasus penyakit Jaehyun mencoba memberikan beberapa model pengobatan agar jiwa Jaehyun kembali pulih, karena pada saat dibawa ke dokter pun Jaehyun tak berbicara sama sekali, dia hanya diam saja.

Jaehyun mengalami PTSD, akibat ulah dari orang tua kandungnya. Obsesi mereka yang berlebihan membuat Jaehyun harus hidup dalam rasa ketakutan yang panjang.

“Bang, kamu mau balik lagi ke rumah. Tinggal sama Daddy dan Papi?” tanya Johnny.

“Iya, aku mau tinggal lagi sama kalian.” jawab Mark.

“Makasih nak, kamu udah mau ngerawat adek kamu di sisa terakhir hidupnya.” ucap Jaehyun sambil memeluk putra sulungnya.

Hujan mengiringi kebahagiaan sekaligus kesedihan keluarga mereka, butuh waktu yang panjang agar Mark mau kembali mendengar penjelasan dari orang tuanya.

Mark sudah lama pergi dari rumah, saat dia kuliah semester dua. Kala itu ia tak sengaja mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Dimana dia langsung mengambil kesimpulannya sendiri. Sejak saat itu Mark terus mencari perkara, agar ia dibiarkan pergi untuk meninggalkan rumah dan kemewahan miliknya.

Haechan sendiri sebenarnya tak pernah berniat meninggalkan rumahnya, hanya karena penyakit ginjal yang dia derita. Membuatnya terpaksa untuk menyakiti perasaan kedua orang tuanya. Dia tak ingin suatu saat nanti kepergiannya menjadi akhir segalanya untuk kedua orang tuanya. Dia ingin kedua orang tuanya untuk meningat bahwa mereka masih memiliki satu anak laki-laki lagi. Yaitu Mark.