Aeron dan Allen


Allen yang mendengar kabar bahwa sang anak sedang berada di rumah, lantas buru-buru pulang ke rumahnya.

Meski dia membenci perilaku Anaknya terhadap Aeril, tapi percayalah di dalam lubuk hatinya dia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu.

Allen yang di antar oleh supir pribadinya kini tiba di rumah, dia masuk ke dalam rumah untuk menemui anaknya.

Aeron yang awalnya ingin kembali ke rumahnya, tidak jadi karena di tahan oleh Aeril akibat permintaan dari Allen. yang ingin bertemu dengannya.

Allen langsung menuju ke meja makan, saat muncul dia melihat hanya ada Aeron seorang diri. Tidak ada Marko dan Aeril yang menemaninya, Allen paham betul tentang situasi yang saat ini terjadi.

“Aeron.,” ucap Allen

“Papa..” balas Aeron.

Allen kemudian mengambil posisi duduknya, kini mereka sama-sama berhadapan. tapi, posisi masing-masing sama-sama di bagian kepala meja.

“Kenapa bisa kesini ?” ucap Allen.

“Aku kesini, karena mendengar Harry sakit..” balas Aeron sambil mulai menyendokkan makanan ke dalam mulut.

“Kenapa badanmu terlihat kurus sekali ?” tanya Allen.

“Aku sibuk bekerja, jadi tidak terlalu perduli dengan makan..” jawab Aeron.

“terus Harry bagaimana kondisinya ?” tanya Allen kembali.

“Dia sudah mendingan Papa..” jawab Aeron.

Allen sebenarnya ingin bercerita banyak dengan anaknya, tetapi dia sedikit bingung. bisa di bilang ini pertemuan kembali mereka, setelah beberapa kali kejadian yang kurang menyenangkan menimpa keluarga mereka.

“Papa, gak usah basa-basi., sebenarnya Papa mau ngomongin apa ?” timpal Aeron.

“Kenapa bisa kamu membunuh Anaknya Rey ?” ucap Allen.

“Maksud Papa ?” tanya Aeron.

“Kenapa kamu menyakiti anak orang Aeron..” ucap Allen.

“Aku tidak menyakiti, Aku hanya membela diriku sendiri...” balas Aeron.

“Tapi dia mati, karena ulahmu..” ucap Allen yang kemudian menekan nada suaranya.

“Terus Papa ingin apa, Papa ingin Aku yang mati di tangannya begitu ?” balas ketus Aeron.

“Kamu ngapain pukulin Aeril, apa kamu sudah gila...” ucap Allen kembali dengan nada sedikit emosi.

“Aku gak suka dia dekat dengan orang lain..” balas Aeron.

“Tapi bukan SEPERTI ITU AERON, apa kamu gak bisa berbicara dengan baik..” Allen geram mendengar ucapan dari Aeron.

“Apa yang Papa harapkan dari anak bertempramen sepertiku ?” tanya balik Aeron.

“Kamu benar-benar sakit jiwa..” balas Allen.

“Aku sudah selesai, makananku sudah habis. Aku mau kembali ke kantor..” ucap Aeron lalu pergi berjalan ke luar dari rumah Allen menuju ke mobilnya.

Allen diam termenung di ruang makan, dia tidak menyangka, karena kecemburuan bodoh anaknya itu. bisa mendatangkan mala petaka untuk dirinya sendiri.

Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang dari tadi diam-diam mendengar seluruh pembicaraan mereka.

Marko mendengar seluruh pembahasan antara Allen dan Aeron, dia geram mendengar sikap Aeron yang memukuli Papinya dan menyebabkan orang lain mati terbunuh.