3 [Lost]


Jovan kembali berjalan masuk ke dalam kamar, dia kebingungan dan tak bisa berfikir apa-apa. Tanpa sadar ia juga membawa kopi yang berada di dalam cangkir masuk ke dalam kamar, Jovan meletakkan secangkir kopi hitam itu di samping tempat tidurnya.

Saat hendak meletakkan minumannya, matanya tertuju pada sebuah kantong kecil bersandar dibawah meja kecilnya. Jovan segera mengambil kantong kecil itu lalu membukanya, sebuah kotak kecil berada di dalamnya. Jovan yang matanya masih sembam akibat menangis, lalu memilih untuk membuka kotak kecil tersebut.

Air mata Jovan kembali menetes saat melihat isi kotak yang ada di dalamnya, hasil usg dan selembar surat dari Jey untuknya.

[Little Jovan/Jey]

Halo mas jovan, aku nggak bisa nyembunyiin lagi terlalu lama. Aku juga nggak sabar mau ngasih tau sama kamu, maaf yah. Ini seharusnya mau aku kasih lihat nanti pas aku balik, tapi dengerin kamu semalam ngigau manggil bayi.

Aku jadi nggak tega buat nutupin kehamilan aku, aku juga udah urus semuanya. Ini penerbangan terakhir aku, aku beneran udah mutusin buat nggak jadi pilot lagi. Selain karena kamu, aku juga nggak pengen anak kita sedih punya mami yang sibuk. Aku nggak pengen mas, anak kita masih seukuran kacang.

Aku masih belum percaya waktu pergi ke dokter buat ngecheck, aku pikir aku cuma sakit biasa aja. Aku malah dikasih tau lagi hamil anak kamu, dulu awal-awal aku mikirnya bisa nggak aku hamil. Tuhan ngabulin keinginan aku, aku hamil anak kamu mas. Anak kita deh, bukan anak kamu aja, tunggu kami pulang daddy.

We love you ❤️ Jey & baby


Jovan memeluk hasil usg beserta surat dari Jey dengan erat, ia bahkan tak henti-hentinya menjerit. Sakit, benar-benar sakit untuk Jovan harus melihat kepergian orang-orang yang ia cintai.

Istri dan calon anaknya telah pergi meninggalkan dia sendirian, Jovan bahkan berulang kali memukul-mukul dadanya, menangis seperti kesetanan dan menjerit.

Ia berteriak dengan sangat kencang, membanting-banting dirinya.

“Jey pulang sayang, sayang pulang. Kamu kenapa pergi, pulang sayang. Mas mohon kembali Jey” teriak Jovan yang masih menangis.

Jovan masih terus menangis sambil bersandar di tempat tidur, ia masih menangisi kepergian Jey dan calon buah hati mereka berdua. Dia bahkan berulang kali mencium hasil usg dari Jey.

Semalam setelah Jovan kembali ke apartment, dia membersihkan dirinya. Lalu memilih berbaring di samping Jey, ia tidur sambil memeluk Jey dengan erat. Entah apa yang ia rasakan, yang pasti Jovan sangat ingin bersama dengan istrinya.

Andai Jovan tahu bahwa Jey akan pergi meninggalkan dia secepat ini, mungkin dia memilih untuk tak akan pernah pergi meninggalkan Jey sendirian. Dan bahkan, ia bisa saja melarang Jey melakukan penerbangan di hari ini. Tapi semua sia-sia, Jey sudah pergi meninggalkannya saat kini.

Semalam saat Jovan telah terlelap tidur, Jey pun kembali bangun. Ia kaget, dan merasa haus. Jey memilih untuk minum, saat kembali ke kamar dan ingin melanjutkan tidurnya. Dia mendengar Jovan menyebut tentang bayi, dia tahu Jovan sedang bermimpi.

Mendengar hal itu, membuat Jey menyentuh perutnya yang masih rata itu. Dia pun memilih untuk membuat kejutannya kepada Jovan, dia beranjak dari tempat tidur lalu menyiapkan semua, dia menuliskan perasaan bahagianya kalau keluarga mereka akan segera memiliki anak. Bahagia tentu juga dirasakan oleh Jey, selain karena akan menjadi istri seutuhnya untuk Jovan, sebentar lagi dia akan menjadi ibu untuk calon buah hati mereka.

Saat sedang mengurus pemberhentiannya dari tempatnya bekerja, Jey tak tahu kalau dirinya sedang berbadan dua. Sebelum menghabiskan waktunya seminggu dengan Jovan, hal itulah yang membuat Jey semakin semangat untuk berhenti dari pekerjaan menjadi seorang pilot. Sebenarnya saat bersama dengan Jovan, hatinya ingin sekali memberitahukan kabar kehamilannya kepada Jovan.

Akan tetapi niat itu ia urungkan, kala mendapatkan kabar bahwa dia harus melakukan kewajiban terakhirnya. Akhirnya ia memilih untuk membungkam, jika pada hari sebelumnya Jey lebih dulu memberitahukan kondisi kehamilannya. Jovan pasti akan langsung memintanya untuk tidak pergi saat itu juga.

Selesai mempersiapkan kejutan untuk Jovan, membuat Jey jadi tak bisa untuk tidur kembali. dia lalu memilih untuk melihat Jovan yang sedang tertidur di sampingnya, Jey mengusap lembut wajah Jovan, sesekali ia mencium lembut bibir Jovan. Jey merasa begitu bersalah selama ini, membiarkan Jovan lebih banyak mengalah untuk dia.

Jovan sendiri bisa merasakan sentuhan dari Jey, meski matanya tidak terbuka. Pelukan beserta ciuman sebelum Jey pergi, masih bisa dirasakan dengan baik oleh Jovan.