3



Jef masih menunggu dokter Rian di mansion mewah Jonathan, meski dia kesal dengan aturan serta kekangan dari Jonathan. Semua tak lantas, membuat dirinya untuk pergi dari sana.

Bukan Jef tidak ingin pergi, semua upaya yang dia lakukan itu terlihat percuma. Rencana kaburnya dari penjara mewah itu hanya sia-sia, seperti kata Jonathan.

Jonathan tak melepaskan Jef begitu saja, setiap kali Jef akan kabur.

Jonathan bersama orang-orangnya akan menangkap dia, dan lagi pula Jonathan begitu licik.

Jonathan telah memasang chip khusus di tubuh Jef, supaya bisa mengetahui semua pergerakan Jef.

Apa yang bisa kau lakukan, jika pelacak dipasang tepat di dalam tubuhmu. Selama Jef mengikuti aturan dari Jonathan, semuanya akan baik-baik saja.

Rian pun telah tiba di mansion, Rian menjemput Jef dengan mobilnya.

. .

Rian membawa Jef keluar rumah sebentar, Rian tau jika Jef mungkin akan gila jika terus berada di rumah yang Jef anggap itu penjara.

Jef sendiri selalu memanfaatkan Rian, agar dia bisa keluar rumah. Namun, jangan berpikir Jef dapat bisa kabur, percuma.

Setidaknya Jef masih merasakan aroma dunia luar, sebab jika dia ingin pergi sendiri pun. Jonathan tak akan memberinya izin,

“Jef, kamu tidak lupa membawa obatmu kan?”

Jef tak menjawab pertanyaan dari Rian, dia langsung membuka tas yang dia bawa.

Rian bisa melihat obat-obatan milik Jef, membuat Rian mengangguk. Jef kembali segera menutup tasnya.

“Kau ingin kemana?” “Terserah, asal saya tidak ada di rumah sialan itu.”

Rian menarik nafas dalamnya, jika bersama dengan Jef. Rian harus ekstra sabar, Rian juga melihat beberapa mobil mengikuti mereka dari belakang. Itu adalah orang suruhan dari Jonathan, Jonathan mengawasi Jef dengan ketat.

“Bagaimana kalau kita ke taman?” “Di penjara juga ada taman dokter Rian.”

Penjara yang dimaksud Jef adalah mansion mewah Jonathan, yang memiliki taman luas.

“Bagaimana kita ke tempat makan saja, saya tau restoran enak disekitaran sini.”

“Chef di penjara juga bisa memasak makanan apapun.”

Jawab Jef dengan santai, membuat Rian lalu menginjakkan rem mobilnya.

. .

Rian harus sabar, saat berhadapan dengan Jef. Rian pun menoleh pada Jef,

“Lalu, kau ingin kemana?” “Pantai.”

Hanya satu kata yang keluar dari mulut Jef, dia ingin ke pantai. Rian melihat jam tangannya, dia harus memastikan sebelum jam 7 mereka sudah harus kembali.

Rian tau ada satu pantai, yang tidak terlalu jauh. Mereka berdua bisa kesana, dan juga Rian rasa pantai cocok untuk orang-orang seperti Jef. Yang menginginkan suasana ketenangan, tak ingin membuang waktu.

Rian segera bergegas membawa Jef ke pantai, lokasi dimana Jef ingin kesana. Beberapa puluh menit mereka menempuh perjalanan, pantai ini berada sedikit dari luar kota.

Selama di dalam perjalanan, Jef dan Rian tidak berbincang apapun. Hanya ada ketenangan menemani perjalanan mereka menuju ke pantai.

Tibalah mereka di pantai, Jef pun langsung turun. Tanpa berucap satu kata pada Rian. Dia senang melihat pantai, Jef merasa seperti sedang mengalami kebebasan.

: .

Rian pun mengikuti dari belakang, memastikan semuanya aman.

Saat berjalan ingin mendekati air laut, pandangan Jef tiba-tiba saja teralihkan dengan sosok wanita yang berjalan lebih dulu ke arah air laut.

Jef yang terkejut pun berusaha mendekati wanita tersebut,

“Nona apa yang kau lakukan?”

Sosok wanita itu tak menjawab, dia terus berjalan dan berjalan semakin dalam. Membuat Jef jadi panik, lalu bergerak masuk ke dalam air.

“Nona, apa kau gila?”

Jef mencoba menahan tangan wanita itu, dia berusaha mencegat wanita tersebut.

“Jef keluar dari sana.”

Teriak Rian dengan keras, Jef pun menoleh pada Rian.

“Dokter rian, kesini. Nona ini ingin bunuh diri.”

Jef berteriak melambaikan tangan, dan saat melihat sosok yang ada di depannya sudah menghilang.

. .

Jef panik dan langsung menyelam, Rian menyuruh semua bodyguard untuk turun ke dalam air.

“CEPAT CARI DIA.”

Semuanya segera turun dan masuk ke dalam air untuk menyelamatkan Jef.

Jef ditemukan dan di angkat ke darat, Rian mencoba untuk menengkan Jef.

“Dokter, dimana Nona tadi, kita harus mencarinya dokter Rian.” “Tidak Jef, kau tidak perlu mencari wanita itu.”

Jef terlihat marah, badannya basah. Dia ingin kembali menolong wanita itu, namun nyatanya dia di hadang oleh semua orang.

“Minggir, kalian ingin dia mati hah!” “JEF SADAR, WANITA ITU NGGAK ADA. ITU HANYA DELUSIMU.”

Rian mencoba menyadarian Jef, Jef seketika memandangi Rian. Rian memberikan suntikan penenang pada Jef, Jef saat ini mengalami delusi.

Dengan cepat obat pemberian dari Rian, bekerja. Dan membuat Jef kembali tenang.

“Jef.”

Jef kembali tersadar, membuat dia keheranan saat melihat bajunya yang sudah basah.

“Ada apa ini, kenapa baju saya basah dokter rian?” “Tadi kamu masuk ke dalam air, makanya basah. Ayo kita kembali.”

Rian mengajak Jef untuk pergi, mereka harus pergi.

Rian tak ingin mengambil resiko lain, Jef pun menurut saja. Sebelum kembali ke rumah, Rian mengajak Jef untuk membeli pakaian baru.